Terikat Dusta

Terikat Dusta
Tied The Knot


__ADS_3

Di part sebelumnya.


"Renata Oktalia, will you marry me ?"


Hening....


Dan setetes air mata pun jatuh membasahi lengan Fabian yang melingkar di perut datar Renata.


Tersadar bahwa wanita yang tengah dipeluknya menangis, dengan lembut Fabian memutar tubuh Renata.


Mengangkat dagu Renata dan menghapus  air mata yang jatuh dengan ibu jarinya.


"Hei, jangan menangis sayang, maaf bila melamar mu  dengan cara yang tidak romantis. Tapi aku bersungguh-sungguh Renata," ucap Fabian hampir berbisik dengan bibir yang bergetar. Merasa dirinya tak percaya dengan apa yang dia lakukan.


"A..aku gak tau harus jawab apa Fabian. Apa ini tidak terlalu cepat ?" Jawab Renata terbata bata


"Ya memang kita belum lama bersama, tapi aku serius dengan ucapan ku Renata.  Bukankah kita saling mencintai ? Kita akan memulai semuanya bersama." Fabian berusaha meyakinkan Renata.


Tak butuh waktu lama untuk berfikir, Renata menganggukan kepalanya "Ya Fabian, aku mau jadi istri kamu." Jawabnya lirih.


Fabian melengkungkan bibirnya tanda bahagia. Membawa tubuh mungil Renata ke pelukannya. "Terima kasih sayang, aku berjanji akan berusaha selalu membuatmu bahagia," ucap Fabian tepat diatas pucuk kepala Renata.


***


Semua berjalan begitu cepat. Kedua orang tua Fabian sangat antusias dengan berita ini. Mereka menginginkan Fabian dan Renata langsung menikah tanpa bertunangan dulu.


Bahkan Fabian dan ibunya telah pergi ke Semarang untuk melamar secara resmi.


Upacara pernikahan dan resepsi akan diadakan di salah satu hotel bintang 5 di daerah Senayan Jakarta. Semua acara dilaksanakan di Jakarta bukan di Semarang karena kesehatan ayah Fabian yang kurang baik.


Acara pernikahan ini diatur oleh sebuah wedding organizer ternama agar berjalan baik dan sempurna. Renata hanya duduk manis tanpa harus mengurus segala persiapan. Tugasnya hanya memilih gaun dan cincin pernikahan saja.


***

__ADS_1


Fabian terduduk di dalam kegelapan apartemennya dengan memegang segelas minuman berwarna merah dan batu es didalamnya. Sesekali menyesap minuman itu dan menikmatinya. Tatapan matanya kosong memandang lampu lampu kota Jakarta dari kejauhan


Besok adalah hari pernikahan nya. Hari bahagia yang ia nantikan. Tapi hatinya diliputi ketakutan. Ia tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan.


"Apa seorang pendosa seperti diriku boleh bahagia?" Ucapnya pada diri sendiri kemudian menyesap minuman di tangannya sampai tandas.


***


Fabian tertegun tak dapat berkata apa apa ketika melihat Renata dalam balutan gaun pengantin berwarna putih yang sempurna membelit tubuh nya yang ramping.


Begitu terpesona dengan kecantikan istrinya membuat Fabian selalu memandangnya dengan penuh puja.


Kini mereka telah sah menjadi suami istri. Dengan cincin yang melingkar di jari manis masing masing pertanda mereka telah terikat.


Terikat dalam cinta.


Itulah yang Renata rasa saat ini, ia berjanji akan menjadi istri yang baik yang mengabdi pada suaminya Fabian. Akan melewati waktu yang baik maupun yang buruk bersama.


Banyak orang penting yang hadir dalam resepsi pernikahan itu. Mulai dari rekan bisnis Fabian, teman teman dekatnya, kolega ayah Fabian bahkan dihadiri beberapa pejabat negara.


Hampir sepanjang acara Fabian selalu memeluk pinggang Renata, atau hanya sekedar menggenggam tangan Renata seolah-olah takut bila ia ditinggalkan. Sikap posesif nya semakin terlihat. Wajahnya pun terlihat sedikit tegang.


Tentu saja Renata bertanya tanya. "Sayang, aku gak akan kemana mana. Apa kamu baik baik saja ?"


"Eh, tentu saja aku baik baik aja. Aku masih gak percaya aja kita udah nikah." Ucapnya seraya mencium punggung tangan Renata.


Orang yang melihat adegan itu mungkin akan merasa iri melihat kemesraan pengantin baru itu.


"Pepet terus," ujar Alex salah satu sahabat Fabian.


Fabian hanya tergelak tertawa.


"Selamat bro, akhirnya married juga." Ucap Stefan, sahabat Fabian yang lain seraya memeluk Fabian.

__ADS_1


Baru kali ini Renata bertemu dengan kedua sahabat suaminya.


"Thanks,udah datang." Jawab Fabian.


"You deserve to be happy." ( Kamu berhak untuk bahagia) ucap Alex pada Fabian seraya memeluk Fabian.


Seketika wajah Fabian yang tampan dalam balutan tuxedo hitam itu terlihat sendu.


Kemudian mereka berbicara tanpa terdengar Renata.


"Oke Renata, senang akhirnya bisa bertemu langsung. Fabian selalu membicarakan mu." Ucap Stefan


"Semoga kalian berbahagia," Alex menimpali.


"Good luck for tonight bro," ucap kedua temannya seraya menepuk-nepuk bahu Fabian dan tertawa. Tak lama mereka pun meninggalkan Fabian dan Renata.


Tak hanya teman Fabian yang datang tetapi teman teman Renata pun datang. Bahkan pak Chandra terlihat menggandeng mesra tangan Rindu sahabatnya.


Renata menutup mulutnya tak percaya. Euforia pernikahannya membuat ia sedikit menjauh dari temannya.


"Kamu berhutang cerita padaku, Rindu." Ucap Renata ketika temannya menghampiri. Rindu tertawa malu sedangkan pak Chandra semakin menunjukkan kemesraan dengan memeluk erat pinggang gadis itu.


Melihat hal itu membuat hati Fabian lega. Jujur saja Fabian masih ada sedikit ketakutan bila pak Chan berdekatan dengan Renata.


Ini merupakan hari paling bahagia dalam hidup Renata. Hari pernikahan nya begitu sempurna.


Orang tua dan keluarga besar serta kerabat pun hadir. Renata mengucap beribu syukur dalam hati.


TBC...


Thank you for reading ❤️❤️❤️


Like n komen ya genks. Love u 😚😚😚

__ADS_1


__ADS_2