
Happy reading ❤️
Wanita itu berdiri dan berlari ke arah Fabian yang terdiam membeku. Memeluknya erat hingga kantong plastik yang berada di tangan Fabian lepas dari genggaman nya.
Tak lama Fabian rasakan kemeja nya menjadi basah karena wanita itu tengah menangis di dadanya.
Tubuhnya bergetar, dadanya naik turun wanita itu tengah menangis hebat.
"Kenapa gak bilang Bi, kenapa gak bilang kamu lagi ada masalah," ucapnya terisak.
"Maafin aku Re, aku gak mau membuka luka mu. Hal yang paling menyakitkan buatku adalah melihat mu terluka," jawab Fabian dengan membalas pelukan itu.
Pelukan yang sangat Fabian rindukan dari wanita yang sangat ia cintai.
Untuk sesaat mereka terus berpelukan seolah-olah saling melepaskan kerinduan.
"Pak, barangnya jatuh itu." Ucap seorang lelaki yang berjalan melalui mereka. Menyadarkan Fabian dan Renata dari pelukan mereka.
Fabian dan Renata pun saling menguraikan pelukan mereka. Padahal sumpah demi apapun Fabian masih menginginkan Renata dalam pelukannya.
"Sorry Bi," ucap Renata seraya menyeka genangan bening yang terus turun dari matanya.
"Aku yang seharusnya minta maaf Re. Ayo masuk," ucap Fabian seraya membuka pintu apartemennya dengan membawa kantong makanan itu.
Renata memasuki apartemen Fabian yang sering ia datangi dulu, malah beberapa kali Fabian dan Renata melarikan diri ke apartemen ini hanya untuk sekedar bercinta ketika mereka masih menikah dulu.
Rasanya hampir semua ruangan pernah mereka tempati untuk bercinta. Kenangan itu membuat pipi Renata merona. Bagaimana mungkin dia memikirkan hal itu dalam keadaan seperti ini.
"Kamu udah lama nunggu ?" Tanya Fabian dengan menyerahkan satu botol minuman dingin yang baru saja ia beli.
"Mungkin sekitar 20 menit. Aku menghubungi ponsel mu tapi mati terus," jawab Renata.
" Kenapa gak langsung masuk Re, kombinasi nya gak aku ganti. Masih tanggal anniversary kita," ucap Fabian sambil menggaruk leher belakangnya yang tak terasa gatal.
"Mmm aku gak berani masuk lah Bi, kalau kamu gak ada," jawab Renata dengan tersenyum hambar menyadari dirinya sudah tak berhak keluar masuk apartemen Fabian seperti dulu.
"Bi, aku tuh dari kemarin gak enak hati. Rasanya ada sesuatu yang gak beres tapi nggak tahu apa. Aku juga gak nonton TV beberapa hari ini karena lagi ada pemeriksaan audit jadi kerjaan kantor aku bawa ke rumah biar gak lembur. Aku tahu dari kak Kirana tadi siang pas kita janjian makan siang. Kak Kirana bilang kamu lagi tersandung masalah sampai di panggil kepolisian. Kenapa kamu gak cerita sama aku Bi ?" Ucap Renata dengan suara bergetar menahan sedih.
Fabian tidak menanggapi dirinya malah asik memandangi mantan istrinya yang sangat ia rindukan itu. Lelah nya hari ini menguap begitu saja karena kedatangan Renata.
"Biiii.... Kamu malah diem aja. Aku lagi kesel juga," ucap Renata dengan mencebikkan bibirnya.
Fabian tersenyum gemas melihat itu.
"Aku ada masalah dengan salah satu pemegang saham di perusahaan ku Re, ada selisih paham sehingga dia memfitnah aku. Kenapa aku gak cerita ma kamu ? Karena dia membawa-bawa masa lalu kelam aku yang pada akhirnya membuat kita berpisah dan aku gak mau membuka cerita yang membuatmu kembali terluka," jawab Fabian yang kini duduk mendekati Renata.
"Pemegang saham itu ayahnya sekretaris kamu ya Bi?"
"Mantan sekretaris Re," Fabian meralatnya.
"Ah iya mantan sekretaris," ucap Renata.
__ADS_1
"Apa bener karena ia ingin kamu menikahi anaknya ?" Tanya Renata takut-takut.
Fabian tersenyum, dadanya menghangat melihat reaksi Renata yang seperti itu.
"Iya Re, tapi gimana bisa aku nikahin dia karena aku belum move on," jawab Fabian dengan tersenyum jahil.
"Ah kamu Bi, bisa aja." Ucap Renata dengan memukul halus lengan Fabian.
"Beneran Re, sumpah." Jawab Fabian dengan menatap sendu wajah Renata.
" Ceritakan semua Bi," ucap Renata berusaha mengalihkan pembicaraan Fabian.
Fabian pun menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi hingga dirinya berurusan dengan polisi dan Renata mendengarkannya dengan penuh perhatian.
"Aku akan bersaksi bila mereka mau Bi. Karena apa yang di beritakan tidak benar sama sekali,"
"Makasih banyak Re, makasih udah mau datang kesini buat lihat keadaan aku. Its mean a lot to me ( ini sangat berarti bagiku)." Ucap Fabian seraya menggenggam tangan Renata.
Untuk sesaat keduanya terdiam membeku saling menatap satu sama lain.
Terpancar kerinduan yang teramat sangat dari mata keduanya namun tak terkatakan.
Fabian memajukan wajahnya perlahan mencoba meraih bibir ranum Renata.
Renata yang menyadari itu memejamkan matanya seolah menyambut sentuhan bibir Fabian yang sebentar lagi akan ia rasakan.
Dapat Renata rasakan hembusan nafas Fabian menerpa wajahnya ketika wajah Fabian semakin mendekat.
Hanya tinggal beberapa senti saja bibir mereka dapat bersentuhan namun suara bel di pintu menyadarkan mereka.
"Siaall," maki Fabian dalam hatinya.
"Bentar Re, aku bukain dulu pintu."
Fabian terus menggerutu karena sedikit lagi dia dapat mencium mantan istrinya itu, sedangkan Renata begitu merasa malu sehingga wajahnya menimbulkan semburat merah.
"Eh lo Kak ? Ngapain kesini?" Ucap Fabian ketika membuka pintu dan mendapati Sakti disana.
"Elu, adek akhlakless. Sama Kakak gak ada baik-baik nya. Gue khawatir ma lo Bi, gue telponin susah makanya gue datang mo nanyain gimana hasilnya tadi," ucap Sakti yang menyerobot masuk dan memberikan Fabian satu kantong berisi makanan siap saji untuk makan malam Fabian.
Sakti begitu terkejut mendapati Renata tengah duduk di sofa sendirian. Ah pantas saja adiknya itu sedikit emosi ketika ia datang. Sakti pun tersenyum geli .
"Apa kabar Re?" Tanya sakti
"Baik Kak,"
"Sengaja maen ke apartemen Bian ?" Sakti kembali bertanya.
"Iya kita lagi reunian," jawab Fabian mendahului Renata.
"Reuni macam apaan ini Bi ?" Tanya Sakti dan membuat Renata semakin merona, teringat beberapa saat lalu dirinya dan Fabian hampir berciuman.
__ADS_1
"Tau nih Bian ada-ada aja," jawab Renata menahan malu.
"Gimana tadi Bi ?" Tanya Sakti.
"Bentar gue siapin makan dulu. Re, kamu dah makan belum? Makan disini aja sekalian gimana? Kebetulan Sakti bawa makan buat se RT" Tawar Fabian yang sedang membuka kantong plastik yang sakti bawa berisikan banyak sekali makanan.
"Gue kira lo gak makan seharian Bi," jawab Sakti terkekeh.
"Sini Bi, aku aja yang siapin. Kamu temenin kak Sakti," ucap Renata seraya berjalan menghampiri Fabian.
"Oke, makasih Re."
"Piring ma yang lain masih di tempat yang dulu Bi ?"
"Iya sayang, gak ada yang berubah sedikitpun," jawab Fabian dengan senyumnya.
Renata kembali tersipu malu.
***
Fabian mengantarkan Renata kembali ke rumahnya, meskipun dalam hatinya menginginkan Renata untuk tinggal.
"Re makasih banget ya," ucap Fabian ketika mengantarkan Renata hingga pintu rumah nya.
"Sama-sama Bi. Kamu mau masuk ? Tapi Celia kayanya udah tidur,"
Fabian melihat jam yang melingkar ditangannya sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.
"Gak usah Re, lain kali aja. Kamu juga harus istirahat kan ?"
"Mmm baiklah kalau begitu aku masuk ya"
Fabian menarik halus tubuh Renata dan mendaratkan sebuah ciuman di dahinya.
"Masuk dan berisitirahat lah," ucap Fabian yang kemudian berpamitan.
Renata menyentuh dahinya yang telah dicium Fabian. Dadanya masih berdebar seperti dahulu setiap berdekatan dengan mantan suaminya itu.
Tiba-tiba perasaanya berubah mellow.
"Bu, tadi ada surat buat ibu," ucap bi Sumi ketika Renata hendak memasuki kamarnya.
Renata menerima surat itu yang ternyata surat panggilan dari kepolisian.
Renata membacanya, ternyata surat pemanggilan sebagai saksi terkait masalah Fabian.
"Aku akan datang, kamu tenang aja Bi. Semoga kesaksian ku bisa menolong mu,"
Gumam Renata.
Tbc...
__ADS_1
Thank you for reading ❤️
Like dan komen ya kakak kakak baik hati 😘😘😘😘