
Happy reading ❤️
"Kak Jamie pertama-tama aku berterima kasih atas segala bantuan yang telah Kakak berikan padaku. Seperti yang Kakak tahu Renata adalah wanita paling penting dalam hidupku. Aku mencintainya sejak awal bertemu hingga sekarang dan itu tidak pernah berubah. Aku memang pernah melakukan kesalahan besar hingga kehilangan dirinya dan tak terlewat sehari pun aku lewati tanpa rasa penyesalan. Aku sudah merasakan pahitnya kehilangan seorang Renata namun sekarang aku tidak akan melakukan hal yang sama. Aku akan mendapatkan Renata kembali dan tak akan pernah melepaskannya lagi." Jelas Fabian panjang lebar dengan nada suara dingin.
"Karena aku berhutang banyak pada Kakak, bukan berarti aku akan menyerah. Renata pernah jadi milikku, kini akan menjadi milikku lagi dan kali ini akan selamanya menjadi milikku. Ketika itu terjadi ku harap Kakak mundur," ucap Fabian tegas.
"Kurasa tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, sudah cukup jelas bagi kita berdua," ucap Fabian seraya berdiri bersiap untuk pergi.
Fabian membanting pintu mobilnya dengan kencang dan kasar sehingga menimbulkan bunyi yang cukup kencang ketika ia memasuki mobilnya.
Memukul-mukul setir mobilnya dengan penuh emosi meluapkan rasa marah yang menggebu dalam hatinya.
"F*ck f*ck f*ck " maki Fabian. "Renata milikku, dia hidupku tak kan ku biarkan seorang pun mengambil nya dariku," lirih Fabian.
Ingin rasanya Fabian menemui Renata saat ini juga dan mengungkapkan isi hatinya namun Fabian harus bertemu pengacara nya karena besok dirinya harus menghadap penyidik lagi.
Dengan berat hati Fabian memilih membatalkan niatnya untuk bertemu Renata.
***
Senin pagi itu Renata terbangun dengan perasaan cemas. Menerka-nerka apa yang telah di bicarakan antara Fabian dan Jamie. Bukannya besar kepala tapi sepertinya dirinya menjadi salah satu topik pembicaraan 2 lelaki itu.
Renata meraba-raba nakas yang berada di sebelah tempat tidurnya untuk mencari benda pipih berwarna gold yang biasa ia gunakan untuk bertukar pesan.
Renata mencoba menyalakannya ketika benda itu sudah ada dalam genggamannya. Setelah menunggu beberapa lama namun tak ada pesan apapun.
Dengan langkah gontai Renata memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk pergi bekerja.
Celia sudah menanti di meja makan dengan setangkup roti coklat di hadapannya. "Morning Mom," ucap Celia ketika Renata memasuki dapur.
"Pagi Sayang," jawabannya seraya mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Celia.
Renata pun mengambil selembar roti gandum dan mengolesi nya dengan selai coklat dan kemudian mendudukkan dirinya dihadapan Celia.
Renata mengedarkan pandangannya menelusuri keadaan dapur, bayangan ciuman panas kembali terlintas dalam ingatan nya membuat Renata berdesir dan menarik nafas dalam.
"Are you oke Mom ?" Tanya Celia melihat ibunya seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ya Mommy baik-baik saja," jawab Renata.
__ADS_1
Tak lama bunyi bel pintu terdengar pertanda ada seseorang di pintu depan. Renata yakin bahwa yang datang adalah kurir yang selalu mengirimkan nya bunga setiap hari Senin.
"Biar aku saja," ucap Renata pada Wulan yang hendak akan membuka pintu.
Wulan pun kembali mengerjakan pekerjaannya dan Renata yang beranjak pergi untuk membuka pintu.
"Selamat pagi Bu, ada kiriman bunga untuk ibu Renata Oktalia. Mohon tanda tangan disini sebagai bukti tanda terima," ucap seorang lelaki dengan jaket hitam bertuliskan "Love Florist".
Renata berkerut alis ketika menerima buket bunga itu, bunga yang tak seperti biasa ia terima.
"Apa ini bunga yang benar?" Tanya Renata terheran. Karena yang biasa ia terima ialah buket bunga mawar putih namun tidak hari ini, yang ia terima adalah buket bunga berukuran lebih kecil dengan bunga berwarna biru keunguan sebagai isinya.
Kurir itu mengecek lagi dan itu memang bunga yang benar.
"Apa Bapak tahu jenis bunga apa ini ?" Tanya Renata pada kurir itu.
"Waah maaf saya kurang tahu Bu. Saya hanya bertugas untuk mengantarkan pesanan tidak tahu jenis-jenis bunga," jawabnya sembari menggaruk leher belakangnya yang tak terasa gatal.
Renata merasa ada yang mengganjal dalam hatinya.
"Pak boleh saya minta alamat tokonya, saya ingin menanyakan jenis bunga ini,"
Dan sang kurir pun memberikan alamat yang dituju kemudian pergi setelah Renata menandatangani bukti penerimaan.
Setelah menghabiskan sarapannya, Renata mengantarkan Celia serta pengasuhnya ke taman kanak-kanak tempat Celia bersekolah dan kemudian menuju kantor nya untuk bekerja. Bersyukur mobilnya telah Fabian perbaiki sehingga dapat digunakan lagi.
Renata menatap sekilas buket bunga biru itu yang ia letakkan di kursi penumpang di sebelahnya dengan penuh tanda tanya. Ya bahkan Renata membawa buket bunga itu ke kantor nya.
***
Jari jemari Renata masih menari lincah diatas keyboard laptop nya sembari sesekali memeriksa kertas-kertas yang berisikan neraca-neraca laporan keuangan.
Namun matanya tak lepas dari buket bunga yang ia letakkan di atas meja kerjanya. Renata menatap bunga itu beberapa saat dan memutuskan siang ini juga akan menyambangi toko bunga itu.
"Bunganya bagus Re," ucap salah satu temannya.
"Iya,kamu tahu gak ini jenis bunga apa ?"
__ADS_1
"Wah aku gak tau Re,"
Pikiran Renata juga bercabang pada Fabian yang kini memenuhi panggilan polisi untuk ke dua kalinya.
Rasa cemas juga khawatir merambat dalam hatinya. Meskipun ia dan Fabian belum berbicara tentang perasaan mereka masing-masing namun dapat Renata rasakan Fabian masih mencintainya, masih memiliki perasaan padanya.
***
Waktu menunjukkan pukul 12 kurang 10 menit ketika Renata meninggalkan ruang kerjanya, meski jam istirahat nya masih 10 menit lagi namun Renata sudah tak sabar untuk mencari tahu tentang bunga itu.
Renata pun memasuki mobilnya dan memacu nya menuju toko bunga itu.
Memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di toko itu. Renata turun dari mobil dengan sebuah buket bunga ditangannya dan bergegas memasuki toko itu.
"Selamat siang, saya mendapatkan buket bunga ini tadi pagi dari toko ini. Bolehkah saya tahu jenis bunga ini dan siapa pengirimnya," ucap Renata ketika ia berhadapan dengan seorang wanita yang tengah merangkai bunga.
Wanita itu menolehkan kepalanya dan mengehentikan pekerjaan nya untuk menemui Renata.
"Bu, maaf untuk mengetahui siapa pengirimnya saya tidak bisa memberi tahu karena yang berwenang melakukan itu sedang ada keperluan. Bila mau menunggu silakan," ucap nya sopan.
"Apa mbak tahu jenis bunga apa ini?" Tanya Renata seraya menyodorkan buket bunga biru keunguan itu.
"Oh ini bunga Forget Me Not, bunga yang melambangkan kesetiaan pada pasangannya, bila menurut legenda bunga ini melambangkan kesetiaan seorang suami untuk istri yang sangat dicintainya." Jelas wanita itu.
"Atau bila dilihat dari namanya seperti nya seseorang sedang tak ingin dilupakan." Lanjutnya lagi.
"Fabian...." Lirih Renata nyaris tak terdengar.
Nama itulah yang pertama kali muncul ketika ia mendengar makna dari bunga itu.
Tbc...
Thank you for reading ❤️
Terimakasih yang sudah like dan komen 😘😘
Terimakasih yang sudah memberikan vote dan hadiah 😘😘😘
Part ini untuk para reader aku yang baik hati ❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Apalah aku tanpa kalian. God bless u all ❤️