
Happy reading ❤️
"Aku sayang banget ma kamu Re, cinta banget ma kamu," bisik Fabian di ceruk leher Renata.
"Aku juga sayang kamu Bi, cinta kamu." Jawab Renata di dalam pelukan Fabian.
Satu rindu lagi terobati...
Kini Fabian dapat mendengar kembali kata cinta dari mulut Renata yang telah lama tak ia dengar.
"Aku harus pulang Re, ini udah makin larut. Kamu juga harus istirahat," ucap Fabian tanpa melepaskan pelukannya.
Berat rasanya bagi Fabian untuk meninggalkan Renata.
"Iya Bi, tunggu sebentar lagi." Jawab Renata yang meletakkan kepalanya dalam dada Fabian. Tempat yang paling membuat nya merasa nyaman, tempat dimana ia merasa begitu dicintai, tempat dimana ia bisa menghirup wangi khas tubuh Fabian yang selalu Renata rindukan.
Fabian mengurai pelukannya, menatap mata Renata dengan penuh damba. Terpaku beberapa saat, dan kemudian membenamkan bibirnya di atas bibir Renata.
Fabian mengulum lembut, menyesapnya perlahan dan penuh penghayatan. Memejamkan matanya, menikmati balasan Renata atas ciumannya.
Ciuman yang menyatakan rasa rindunya.
"Aku beneran harus pulang Re," ucap Fabian ketika tautan bibir mereka terpisah.
Entah berapa kali Fabian mengucapkan itu tapi tak juga beranjak pergi.
Entah berapa kali Renata mendengar itu tapi tak jua melepaskan pergi.
"Iya Bi, tapi gimana mau pulang kalau kamu meluk aku terus," ucap Renata menunjukkan tangan Fabian yang memeluknya posesif.
"Jangan salahin aku, karena kamu juga gak nolak," jawabnya tak mau kalah.
Betapa mereka merindukan saat-saat perdebatan manis seperti ini.
"Bolehkan aku tinggal Re ?" Tanya nya penuh harap.
"Boleh tapi bukan sekarang saatnya," jawab Renata dengan melengkungkan senyumnya.
"Kapan ?"
"Nanti ketika saatnya tiba,"
"Dan ku harap itu tak lama lagi," ucap Fabian penuh harap
"Semoga begitu," jawab Renata.
"Aku pulang ya Re. Besok aku jemput kamu ya? Kita pergi berdua bagaimana?"
"Celia gimana ?"
"Celia sama Mami, kamu gak usah khawatir. Hari Minggu baru kita pergi bertiga,"
"Ya, aku terserah gimana kamu aja Bi,"
__ADS_1
"Oke... Ya Tuhan kenapa berat banget mau ninggalin kamu," ucap Fabian tepat di wajah mantan istrinya itu.
Renata tertawa geli mendengarnya.
"Too much (berlebihan) Bi,"
"Beneran Re," jawab Fabian dengan manjanya dan Fabian pun mengurai pelukannya meski terasa berat.
Renata mengantarkan Fabian hingga pintu dengan jari jemari yang masih terpaut pada Fabian.
Fabian hampir tak melepaskan genggaman tangannya malam ini.
"Aku pulang," ucap Fabian dan mengecup bibir Renata sekilas.
"Hati-hati," jawab Renata dengan senyum yang dipaksakan karena begitu berat melepaskan.
Renata menatap punggung Fabian yang semakin menjauhi nya, menunggu Fabian memasuki mobil dan meninggalkan rumahnya.
***
Renata menatap pantulan dirinya dalam cermin. Memikirkan kembali apa yang telah terjadi. Sungguh ia tak percaya telah kembali bersama dengan lelaki yang menjadi cinta pertamanya.
Tersenyum penuh bahagia, dirinya tengah berada dalam euforia jatuh cinta seperti ketika pertama kali mengalami itu.
Renata membaringkan tubuhnya di atas ranjang, bergelung di dalam selimut dan mengambil benda pipih yang terletak tak jauh darinya.
Berharap mendapatkan pesan dari lelaki yang beberapa waktu lalu meninggalkan rumahnya.
Sesuai dengan apa yang Renata harapkan sebuah pesan telah ada disana.
Senyum terkembang di bibir Renata ketika membaca pesan itu.
Renata : iya Bi. Btw kamu pulang ke mana ?
Fabian : ke rumah Mami. Ini lagi tiduran ma Celia dan Mami juga.
Tak lama Fabian mengirimkan poto selfi dirinya dengan Celia yang telah tertidur diantara Fabian dan ibunya.
Renata melengkungkan senyumnya memandang photo itu.
Renata : ya udah cepet tidur Bi.
Fabian : kamu juga. Love u Re..
Renata : Love you too..
Dan chat pesan pun berakhir.
Renata mematikan daya benda pipih itu dan menyimpannya di nakas sebelah tempat tidur.
Renata memandang kosong langit-langit diatas tempat tidurnya, setelah hampir dua tahun dirinya berjalan melalui badai, kini saatnya ia menikmati indahnya pelangi.
Tak pernah Renata merasa se-ringan ini seolah terlepas dari beban berat yang menghimpit nya.
__ADS_1
Hal yang sama dirasakan Fabian saat ini, setelah berjalan dalam ganasnya badai hidup yang ia jalani bertahun-tahun akhirnya ia terlepas dan saatnya menikmati indahnya cinta tanpa beban apapun.
Seolah lepas dari ikatan yang yang begitu ketat membelit tubuhnya, kini Fabian dapat bernafas dengan bebas.
"Terimakasih Tuhan," lirih Fabian penuh syukur seraya menitikkan air matanya.
***
Siang itu Fabian sudah tiba di rumah Renata dengan celana jeans berwarna navy, kaos polo putih dan sepatu kets putih nampak terlihat begitu tampan meski sederhana.
Bagai remaja yang sedang jatuh cinta, Fabian ingin tampil sempurna di hadapan pujaan hatinya itu.
Renata membukakan pintu karena ia telah lama menanti dan tunggu lelaki yang kini mengisi hatinya kembali.
Tersenyum penuh bahagia ketika ia membuka pintu dan Fabian telah berada disana.
"Sudah siap ?"
"Udah Bi," jawab Renata yang kemudian keluar dari rumahnya untuk menghampiri Fabian.
"Eh kamu mau masuk dulu gak ?"
"Nggak usah, kita pergi sekarang aja. Sabtu begini biasanya macet."
Fabian menatap Renata dengan mata teduhnya.
"Cantik banget Re," ucap Fabian seraya mencium pelipis mantan istrinya itu
"Makasih Bi, tapi kamu berlebihan kayanya," jawab Renata yang kini mengenakan kemeja dress sebatas lutut berwarna hijau emerald dan sandal wedges bertali berwarna nude, riasannya pun natural seperti biasa. Meski begitu Fabian terpesona melihatnya.
Mereka tiba di salah satu mall ternama di daerah Kota Kasablanka. Fabian menautkan jari-jari nya kedalam jari Renata dan menggenggam nya ketika mereka berjalan bersama. Seolah tak ingin lagi melepaskan wanita yang ia cinta.
Kini mereka tengah mengantri tiket untuk menonton film yang di sebuah bioskop yang lumayan dipadati para anak muda dan kebanyakan diantara mereka sedang memadu kasih.
Tak sedikit mata yang memandang Fabian dan Renata karena mereka terlihat begitu mesra meski tak lagi muda.
"Bi, lepas.. pada ngeliatin kita," ucap Renata malu-malu yang mencoba melepaskan belitan tangan Fabian pada pinggang rampingnya.
"Gak bisa Re, udah nempel." Bisik Fabian sembari mengetatkan pelukannya.
"Bi... Aku serius ini,"
"Gak mau Re, biarin aja lah. Iri tanda tak mampu," jawab Fabian terkekeh.
Seperti biasa Renata selalu kalah dengan Fabian yang pemaksa dan akhirnya ia menyerah pasrah.
Fabian yang melihat itu merasa gemas sehingga mendaratkan sekilas ciuman di pipi Renata.
"Bi... Jangan macam-macam deh," ucap Renata kesal.
Tapi Fabian hanya terkekeh menanggapinya. Semakin Renata kesal semakin Fabian ingin menggodanya.
Tanpa mereka sadari sepasang mata penuh benci memandang dari kejauhan.
__ADS_1
Tbc...
Thank you for reading ❤️