Terikat Dusta

Terikat Dusta
Tersadar


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Re..re..na..ta..." Tiba-tiba bibir Fabian bergumam dengan sangat lemah.


Renata terkejut tak percaya.


"Re..re..na..ta..   a..aa..ir," gumamnya lagi sembari berusaha membuka mata.


Dengan panik Renata memijit tombol bantuan untuk memanggil tenaga medis.


"A.. aku disini Fabian," ucapnya seraya menggenggam tangan Fabian. Untuk sekejap Renata melupakan lukanya yang masih menganga dan terasa begitu perih.


Tak lama petugas medis juga dokter Jamie hadir disana, memeriksa Fabian dengan seksama. Renata menunggu di pojok ruangan sembari terus memperhatikan.


"Re...re..nata," Fabian kembali bergumam. Matanya dapat terbuka meskipun masih dengan sangat lemah


"Re..re..na..ta..," ucapnya terus menerus.


"Tenang Fabian, Renata ada disini. Dia tak pernah meninggalkanmu. Kamu harus tenang biar aku bisa memeriksa mu," ucap dokter Jamie menenangkan Fabian.


Dengan gerakan yang sangat lemah dan gelisah Fabian mencari keberadaan Renata. 


"Nyonya, tuan sepertinya mencari anda. Sebaiknya anda mendekat," ucap salah satu perawat yang ikut menangani.


Renata berjalan menghampiri. Kini dirinya telah berdiri tepat di sebelah Fabian terbaring, sedangkan dokter Jamie terus memeriksa Fabian dengan seksama.


Mata Fabian menatap lemah pada Renata. Matanya terus tertuju pada Renata tidak pada yang lain. Tangannya bergerak lemah seolah-olah ingin meraih Renata.


Mau tak mau Renata menyambut tangan lemah itu dan menggenggam nya.


Tangan Fabian terasa begitu dingin, "Tangan ini yang selalu menautkan jari jarinya ke dalam genggamanku," batin Renata. Seketika hati nya terasa ngilu.


Tanpa Renata sadari sepasang mata memperhatikan genggaman tangan mereka. Ya dokter Jamie terus memperhatikan dengan hati yang terasa kacau.


"Come on Jamie, dia istri orang," makinya dalam hati.


"But she is such an angel, hatinya bagai malaikat masih saja mau menemani Fabian, setelah tau apa yang Fabian lakukan dibelakangnya," batin Jamie.


Sedangkan Fabian terus menatapi Renata seolah-olah dia terbangun dari tidur panjangnya hanya untuk bertemu Renata. 


Kesadaran Renata kembali pada tempatnya. Secara refleks renata melepaskan genggaman tangan Fabian dengan sedikit kasar dan berlari kecil keluar ruangan dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Fabian tersentak dan merasakan sakit yang teramat sangat karena penolakan istrinya.


Air mata menetes di sudut mata Fabian.

__ADS_1


"Syukurlah hasilnya bagus Fabian," dokter Jamie berusaha mengalihkan perhatian Fabian.


Fabian menoleh ke arah suara dan mengangguk.


"Akan diadakan observasi lanjutan Fabian, tapi aku yakin kamu akan baik baik saja." Ucap dokter Jamie.


Pintu ruangan terbuka, mami Fabian datang dengan menahan tangisnya.


"Aahh anakku..." Ucapnya seraya berjalan menghampiri dan memberikan kecupan di kening anaknya.


Fabian terlihat menyunggingkan senyumnya.


"Mami selalu berdoa dan yakin kamu akan bangun nak. Mami bersyukur Tuhan mengabulkan doa mami," ucap nya seraya meneteskan air mata.


Fabian menganggukkan kepala nya lemah.


Celia datang dengan baju tidurnya dan mata masih mengantuk. Tadi Hendrik datang ke hotel untuk memberi kabar bahwa Fabian tersadar dalam keadaan Celia sudah tertidur.


" Hi daddy  i miss you," ucapnya lirih.


Mata Fabian berkaca kaca melihat kedatangan putrinya.


"Hi princess," jawab nya dengan lemah.


Celia pun menghambur ke pelukkan Fabian.


"Saya rasa kondisi Fabian baik tante tapi besok akan ada observasi lanjutan," ucap dokter Jamie.


"Terimakasih banyak nak," jawab mami Fabian dengan terisak.


"Aku hanya berusaha tante, Tuhan yang mengabulkan. Baiklah saya pamit dulu nanti ada suster yang selalu berjaga dan memantau perkembangan Fabian selama 24 jam," ucap dokter Jamie seraya berpamitan.


Semua dalam eforia haru bahagia. Bahkan Hendrik sudah mengabari Sakti perihal sadarnya Fabian.


Hanya seorang yang menangis tersedu entah harus merasa bahagia atau kesakitan. Iya dia Renata, yang saat ini sedang menangis di lorong Rumah Sakit yang sepi.


Karena itulah dokter Jamie undur pamit, untuk mencari keberadaan Renata yang sedari tadi mengusik pikirannya.


Dokter Jamie melihat Renata yang menangis tersedu dengan menundukkan kepalanya dan segera menghampiri nya.


"Aku disini untukmu Renata," ucapnya lirih.


Tak disangka Renata langung membenamkan kepalanya ke dada dokter Jamie dan menangis disana. Bisa dokter Jamie rasakan kini kemeja yang ia kenakan telah basah karena air mata.


Tangannya mengusap punggung Renata seolah menyalurkan kekuatan disana.

__ADS_1


"Menangis lah bila itu membuatmu tenang. Aku disini untukmu," ucap nya.


***


Kini Renata merasa lebih tenang, di sebuah bangku Rumah Sakit ia ditemani sang dokter dengan satu cup teh hangat  untuk menenangkan.


"Maafkan aku Jamie, membuat kemeja mu basah," ucap Renata dengan mata yang sembab karena menangis.


"Its oke, aku malah senang kalau kamu mau berbagi sedikit beban mu denganku," ucap dokter Jamie hangat.


"Renata, aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara seperti ini. Tapi yang ku ucapkan sebelumnya bahwa aku peduli padamu. Aku bersungguh-sungguh tentang hal itu. Bukan karena kasihan tapi karena aku kagum padamu," ucap dokter Jamie lirih.


Renata terdiam, dia tahu maksud dokter Jamie. Peduli berarti, laki laki itu ingin memberikan perhatian lebih padanya.


Tentu ada yang diinginkan seorang laki laki bila  ia memberikan perhatian lebih pada seorang wanita.


Tak mungkin hanya sekedar berteman bukan?


.


Untuk saat ini Renata tak mau berfikir apapun. Dia sendiri masih bingung bagaimana harus menghadapi hari ke depannya bersama Fabian.


Tapi dalam pikirannya, perpisahan lah yang terlintas.


Sudah dipastikan dia tak lagi bisa hidup bersama dengan suaminya yang telah berkhianat.


Once a cheater is always a cheater.


Bukankah begitu ? Sekali pengkhianat akan selalu menjadi pengkhianat.


Tapi meskipun begitu Renata juga belum bisa menerima kehadiran laki laki dalam hidupnya.


"Jamie, aku berterima kasih atas semua rasa peduli mu. Aku bersungguh-sungguh. Mari kita berteman, tapi aku tak menjanjikan apapun. Bukan berarti aku akan kembali pada Fabian, hanya saja untuk saat ini aku ingin menyelesaikan masalahku dulu sebelum melangkah ke hidup yang baru," ucap Renata pada Dokter Jamie yang duduk disebelahnya.


"Terimakasih Renata, kamu memberikan kesempatan saja sudah cukup bagiku. Menerimaku sebagai teman pun sudah cukup," ucap dokter Jamie seraya menggenggam tangan Renata.


Tiba tiba suara Celia memecahkan keheningan.


"Mommy dan om dokter sedang apa disini?" Tanya Celia yang arah pandangan matanya tertuju pada genggaman tangan Renata dan Jamie.


Dan tanpa Renata sadari ibu mertuanya pun berada tak jauh dari tempat Celia berdiri dan melihat kedekatan Renata dengan dokter Jamie dengan tatapan menyelidik.


TBC....


Terimakasih yang sudah baca 😘😘😘

__ADS_1


Kalau suka ceritanya jangan lupa like, komen dan vote yaaa..


makasih ❤️❤️❤️


__ADS_2