Terikat Dusta

Terikat Dusta
Menyadari


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Renata membacanya, ternyata surat pemanggilan sebagai saksi terkait masalah Fabian.


"Aku akan datang, kamu tenang aja Bi. Semoga kesaksian ku bisa menolong mu,"


Gumam Renata.


Renata memasuki kamarnya. Membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan piyama tidur. Melihat pantulan dirinya dalam cermin, terbayang lagi hal yang hampir terjadi antara dirinya dan Fabian.


Getaran itu masih ada, perasaan itu tak pernah hilang seluruhnya namun Renata tak mengetahui apakah itu cinta atau hanya sekedar iba ?


Renata akui rasa cemburu masih menyambangi hatinya ketika Fabian dekat dengan wanita lain namun ia pun tak mengerti apakah ini perasaan cinta atau hanya sekedar tak rela ?


Renata menghela nafasnya dan memilih menaiki tempat tidurnya di mana Celia putrinya telah tertidur pulas dengan memeluk boneka beruangnya.


Membelai halus rambut putrinya, Renata memeluk Celia penuh kasih sayang dan memejamkan matanya berusaha untuk melupakan perasaan melow nya.


***


Sebuah notifikasi pesan masuk ketika Renata hendak pergi untuk beristirahat makan siang. Tertera nama Jamie disana.


Telah lama Jamie tak menghubungi nya mungkin karena sibuk dengan kegiatan seminar yang dilaksanakan di Nusa Dua Bali. Renata pun membuka pesan itu.


Jamie : Siang Re, kamu di mana ? Aku di lobby kantor kamu nih. Makan siang bareng yuk ?


Renata tertegun membaca pesan itu. Dirinya merasa enggan untuk pergi namun tak kuasa menolak karena Jamie telah berada disana.


Renata : Kamu udah disini ?


Jamie : iya di bawah. Di lobby


Renata : ok bentar aku turun.


Dengan malas Renata melangkahkan kakinya untuk menemui Jamie.


"Gue makan ma temen gue ya," ucap Renata pada teman ruangannya.


"Dating ( kencan ) Re ?" Goda temannya.


"Nggak, temen doang elah," jawab Renata malas dan kemudian pergi untuk menemui Jamie.


Jamie terduduk di kursi lobi dengan pakaian casualnya hanya menggunakan celana jeans dan kaos hitam polos tak lupa kacamata yang selalu membingkai wajah tampan nya.


Jamie berdiri begitu Renata menghampiri nya, senyuman terukir di bibirnya ketika bertemu wanita yang disukai nya itu.


"Maaf Re, aku ganggu gak ?"


"Its ok, udah jam istirahat kok. Makan di dekat-dekat sini aja ya,"


"Hhmm oke, aku ikut aja,"


***

__ADS_1


"Sibuk banget kemarin ?" Tanya Renata memecah keheningan ketika mereka telah duduk di sebuah tempat makan tak jauh dari kantor Renata.


"Hhmm iya, soalnya aku jadi pembicara, jadi siapin materi ma latihan ngomong," jawab dokter Jamie sembari membuka buku menu.


"Kayanya gak usah belajar pasti udah bisa lah," ucap Renata dengan nada canda untuk mencairkan kekakuan diantara mereka.


"Nggak juga Re, aku beneran belajar ngomong sampai gak bisa hubungin kamu. Soalnya kalo aku hubungin kamu yang ada aku gak bisa konsen," jawabnya dengan mata yang menatap Renata penuh rindu.


Deg ! Renata merasa tidak enak. Sungguh Renata tak mau berbicara soal perasaan. Dirinya masih gamang soal perasaan nya pada Fabian.


Sekarang saja dirinya merasa bersalah pada Fabian karena telah bertemu Jamie.


"Sekarang udah selesai ?" Tanya Renata berusaha mengalihkan arah pembicaraan.


"Huum sebenarnya belum, tapi aku dapat panggilan dari kepolisian untuk menjadi saksi tentang kasus Fabian," jawab dokter Jamie.


"Dan kamu memilih untuk datang kesini ?"


"Aku rasa sudah kewajiban aku memberikan keterangan yang sebenarnya. Fabian berhak mendapatkan keadilan. Lagian udah tinggal penutupan aja kok. Kamu juga dapat surat panggilan Re ?"


"Huum iya aku dapat."


"Kapan ?"


"Besok siang jam 1, kamu kapan Jamie ?"


"Aku besoknya lagi. Semoga besok semua berjalan lancar Re. Aku denger cerita soal Fabian dari Sakti begitu menyedihkan ya. Dan aku turut menyesal kalian berpisah," ucap dokter Jamie tulus.


Renata hanya tersenyum kecut mendengarnya.


"Iya gak apa-apa,"


"Aku bawain Celia oleh-oleh tapi ingin memberikan nya secara langsung. Gimana kalo kita makan malam bersama. Aku mau ajak anakku Collin juga biar disini dia ada teman,"


Renata berpikir beberapa saat, sungguh dirinya merasa enggan namun tak enak. Dan Jamie seperti nya bisa membaca apa yang dipikirkan Renata.


"Cuma makan malam biasa Re, sebentar juga gak apa-apa,"


"Mmm oke boleh, tapi kalau weekend Celia bersama daddy nya,"


"Kapan biasanya Bian jemput ?"


" Sabtu pagi atau jumat malam"


"Kalau begitu besok malam aku jemput kamu gimana?"


"Hmm ya boleh,"


Setelah sepakat untuk janji makan malam bersama Jamie dan Renata pun melanjutkan makan siang mereka tanpa banyak bercerita dan hanya sebentar saja karena Renata beralasan harus segera kembali ke kantornya.


***


Hari dimana Renata untuk menghadap penyidik pun telah tiba. Setelah mendapatkan izin dari kantor nya, Renata pergi ke kantor polisi ditemani pengacara Fabian. Untungnya mereka telah saling mengenal sehingga tidak canggung satu sama lainnya.

__ADS_1


Fabian tak bisa menemani Renata karena ada meeting yang tak bisa ia tinggalkan.


Hanya memberikan pesan agar Renata semangat dan berterimakasih karena Renata bersedia menjadi saksi.


Renata menanti dengan cemas karena ini pertama kalinya ia berurusan dengan hukum meski hanya sebagai saksi.


"Re, nanti jawab pertanyaan dengan sejujurnya aja dengan singkat dan jelas," ucap Johan yang merupakan pengacara Fabian.


"Mmm iya Om. Aku hanya gugup aja ini," ucap Renata dengan kedua tangannya saling meremas menandakan kegugupannya.


"Udah tenang aja Re. Kalau ada yang gak ngerti tanya aja,"


Renata menganggukan kepalanya.


Tak lama Renata pun dipanggil untuk menghadap penyidik dengan ditemani pengacara nya.


Udara terasa lebih dingin bagi Renata ketika memasuki ruangan itu mungkin karena rasa gugupnya yang tak jua reda.


Renata duduk di sebelah pengacaranya berhadapan dengan seorang petugas dari kepolisian.


Awalnya hanya seperti obrolan ringan saja dan itu membuat Renata lebih tenang.


Namun lama kelamaan obrolan itu berubah menjadi pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan rumah tangganya dengan Fabian.


Renata pun membuka kembali kenangan masa lalunya yang telah ia tutup.


Pada intinya penyidik bertanya apakah Fabian memperlakukan Renata dengan tidak baik sehingga mereka berpisah dan


pertanyaan itu diulang berkali-kali dengan cara yang berbeda.


Renata mencoba membuka kembali kenangan lamanya bersama Fabian. Sepanjang Renata ingat tak pernah sekalipun Fabian berlaku kasar dan menyakitinya bahkan Fabian tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakiti hati.


Ketika marah pun Fabian akan memilih untuk diam atau pergi guna menghindari perdebatan namun bukan berarti dia lari dari masalah, Fabian akan kembali berbicara bila kepalanya sudah dingin.


Baru Renata sadari ternyata Fabian selembut itu memperlakukannya.


Rasa sedih menyusup ke dalam celah hati Renata bagaimana ia bisa kehilangan seseorang yang berhati lembut dan tulus mencintainya.


"Mungkin tak semua wanita seberuntung dirinya," pikir Renata dalam benaknya nya.


"Saya tegaskan sekali lagi apa Ibu yakin bahwa sodara Fabian tidak pernah menyakiti Anda secara fisik dan frontal?" Tanya penyidik itu.


"Bila Fabian pernah menyakiti saya seperti itu, tentu saya sudah membencinya bukan masih mencintainya seperti sekarang ini." Jawab Renata yang tanpa ia sadari telah berucap kata cinta.


Fabian memang bersalah karena berdusta pada Renata dan itu sangat membuat Renata kecewa.


Tapi kini Renata sadari ternyata rasa cintanya lebih besar dari rasa kecewanya.


Mungkin sekarang saatnya untuk berdamai dengan masa lalu dan memberikan kesempatan kedua itupun jika Fabian menginginkan hal yang sama.


Tbc...


Thank you for reading ❤️

__ADS_1


Like dan komen ya 😘😘😘


__ADS_2