
Happy reading ❤️
Waktu kembali ke awal mereka bertemu sekitar 10 tahun yang lalu. Sakti masih berusia 26 tahun dan Kirana berusia 23 tahun.
Kirana merupakan anak ke dua dari 3 bersaudara dan merupakan anak perempuan satu-satunya di keluarga itu. Ayah Kirana merupakan teman dekat dari Papinya Sakti semenjak mereka duduk di bangku SMA bahkan mereka melanjutkan ke universitas yang sama.
Saat itu Kirana yang bekerja pada ayahnya telah memiliki seorang kekasih yang merupakan dosennya dulu ketika ia duduk di bangku kuliah namun sayang status sang dosen yang merupakan duda beranak satu membuat hubungan mereka mendapat penentangan. Oleh karena itu Kirana bekerja pada ayahnya agar mudah diawasi.
Sebenarnya ayah Kirana tak akan menentang bila lelaki pilihan Kirana itu memiliki alasan yang baik dalam bercerai namun desas-desus menyebutkan bila lelaki itu bercerai karena kasus perselingkuhan dan KDRT yang membuat keluarga Kirana menentang hubungan mereka.
Pada akhirnya ayah Kirana meminta papi Sakti untuk mendekatkan anak mereka karena sesungguhnya mereka telah saling mengenal. Tentu saja orang tua Sakti menyambut dengan terbuka mengingat Sakti masih lajang saat itu.
Singkat cerita akhirnya mereka pun bertemu dalam jamuan makan siang yang diadakan dikediaman Kirana.
Kirana yang merupakan gadis rumahan menuruti kemauan orangtuanya untuk berkenalan dengan Sakti secara lebih dekat. Pun Sakti karena dirinya sedang tidak memiliki kekasih, ia bersedia untuk dikenalkan lebih dekat dengan Kirana.
Makan siang waktu itu berjalan dengan lancar meski Sakti dan Kirana masih malu-malu, namun ada yang berbeda bagi Sakti. Sepanjang makan siang ia terus memperhatikan Kirana yang entah kenapa ada suatu getaran dalam hatinya. Kirana yang merasa diperhatikan hanya mampu menundukkan kepalanya karena tersipu.
Setelah makan siang berlangsung mereka mengobrol dengan santai. Kirana yang pemalu memilih berdiam diri di dapur berpura-pura ikut membersihkan sisa jamuan makan siang.
Sakti yang menyadari itu memberanikan diri mendatanginya dengan berpura-pura meminta batu es.
"Ki, boleh minta batu es ? Aku pengen minuman dingin," ucap Sakti ketika mendatangi Kirana di dapur.
"Oh tentu. Tunggu sebentar," jawab Kirana malu-malu.
Tak lama Kirana membawa beberapa bongkah batu es dalam sebuah gelas beserta 1 kaleng minuman soda.
"Terimakasih, temenin minum diluar yu? Di dalam obrolan orang tua soal kerjaan melulu jadi malas,"
"Boleh," jawab Kirana malu-malu dan mereka pun memilih duduk di taman belakang yang menghadap kolam renang.
Mereka memang pernah bertemu beberapa kali secara tak sengaja dalam acara yang melibatkan orang tua mereka namun baru Sakti sadari ternyata Kirana memang secantik ini. Kulitnya yang bersih, rambut panjang nya yang hitam, matanya yang bulat dan bibirnya yang ranum membuat Sakti menelan salivanya yang terasa kelat.
"Ki, kamu tahu kan maksud orang tua kita ngadain acara ini ?"
Kirana menganggukkan kepalanya.
"Terus tanggapan kamu gimana ?"
" Aku tak ingin membantah keinginan kedua orangtuaku," jawab Kirana seraya menatap kosong sembarang. Meskipun berat karena telah mencintai lelaki lain tapi bila memilih Sakti akan membahagiakan orang tuanya maka Kirana akan mengalah.
"Bagaimana dengan kekasihmu?"
" Aku sebenarnya sudah menjauh dengannya semenjak ayah tak suka dengan hubungan kami. Tapi dia selalu mendekati sehingga ayah mengira aku masih berhubungan dengannya. Kamu sendiri bagaimana ?"
"Gak ada." Jawab Sakti spontan ya beberapa bulan terakhir Sakti memang single hanya pergi kencan untuk bersenang-senang bukan untuk hubungan serius.
__ADS_1
"Jadi kita setuju kan sama perjodohan ini?" Tanya Sakti penuh harap.
Kirana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tapi kita baru saling kenal dan belum ada perasaan. Apa akan berhasil ?" Tanya Kirana.
"Aku yakin semua akan berjalan baik," jawab Sakti yang seraya menggenggam tangan Kirana dan membuat gadis itu berdebar hebat.
Ada sesuatu dalam diri Sakti yang meyakini Kirana adalah memang tercipta untuknya.
Sakti mendekatkan wajahnya dan mencuri sebuah ciuman dari pipi Kirana meski hanya sekilas namun ciuman itu mampu membuat Kirana tersipu malu.
Merasa tak ada penolakan Sakti memberanikan diri untuk mencium bibir Kirana tanpa mereka sadari keponakan Kirana menyaksikan itu dan berteriak.
"Tante Kirana ciuman dengan om itu !" Sontak membuat semua orang terkejut termasuk Sakti yang kini merona merah menahan malu.
Melihat kedekatan kedua anaknya membuat orang tua mereka merasa senang dan menyepakati untuk melakukan acara pernikahan secepatnya.
***
Semua keperluan pernikahan dilakukan secara cepat. Dimulai dari pemilihan cincin, gaun pengantin hingga hotel dan katering selesai dilakukan dalam waktu satu bulan.
Hingga tibalah hari pernikahan itu yang digelar di salah satu hotel berbintang di Jakarta.
Sakti mengucapkan ikrar ijab kabul nya dengan jelas dan lantang. Kini mereka telah resmi menjadi suami istri.
Banyak sekali tamu yang datang termasuk relasi bisnis kedua belah pihak. Namun ada seorang tamu yang diharapakan tak datang namun ternyata hadir disana.
Lelaki itu terus memandangi Kirana yang kini tengah duduk diatas pelaminan dengan tatapan mata penuh luka, Kirana yang tak menyangka akan kehadirannya merasa salah tingkah apalagi mantan kekasihnya itu terus memperhatikannya dari jauh.
"Kamu gak apa-apa ?" Tanya Sakti yang terheran melihat sikap Kirana.
"Aku gak apa-apa," jawab Kirana dengan sedikit gugup.
"Kamu yakin ?"
"I.. iya, aku cuma gugup aja" jawab Kirana terbata.
Sakti menggenggam tangan Kirana untuk menenangkan.
"Aku ke toilet sebentar boleh ya ?" Bisik Kirana.
Sakti menganggukkan kepalanya.
Kirana pun pergi meninggalkan Sakti dengan ditemani seorang petugas dari wedding organizer.
Kirana sebenarnya pergi untuk menenangkan diri. Tubuhnya gemetar menahan takut, takut bila orangtuanya marah akan kehadiran lelaki itu, juga takut bila suaminya berpikiran buruk tentangnya padahal Kirana tidak meminta lelaki itu datang ke acara pernikahannya.
__ADS_1
"Ya Tuhan bagaimana ini," ucapnya lirih.
Kirana benar-benar merasa cemas. Dirinya begitu takut.
Setelah merasa lebih tenang, Kirana pun keluar namun petugas wedding organizer itu tak ada diluar menuggunya melainkan lelaki itu yang sudah berdiri menanti kehadirannya.
"Aku gak nyangka kamu beneran ninggalin aku Ki," ucap lelaki itu lirih.
"Sudah ku bilang kita tak mungkin terus berhubungan. Aku tak mau durhaka pada orangtuaku,"
"Tapi aku dan anakku sangat menyayangimu,"
"Kurasa kita memang tak berjodoh, semoga kamu bisa dapat yang jauh lebih baik dariku,"
"Tapi aku cuma mau sama kamu Kirana," ucap lelaki itu putus asa.
"Kumohon relakan aku pergi dari hidupmu. Aku sudah menjadi istri orang lain,"
"Apa karena dia jauh lebih kaya dariku ?"
"Kumohon jangan dipersulit mas, kita memang tidak berjodoh. Maaf aku harus kembali pada suamiku," jawab Kirana hendak menghindari lelaki itu.
Namun tangan lelaki itu menahan lengan Kirana dan membawanya dalam pelukan.
Kirana membulatkan matanya tak percaya bahwa mantan kekasihnya itu berbuat nekad seperti ini.
"Lepaskan aku, Mas ! Bagaimana bila ada yang melihat," ucap Kirana berusaha memberontak.
"Biarkan aku seperti ini untuk sesaat, ini akan menjadi terakhir kalinya aku memelukmu" ucapnya lirih menahan tangis.
Kirana yang merasa iba membiarkan lelaki itu memeluk nya. Hingga suara penuh amarah menyadarkan Kirana.
"Lepaskan istriku !"
Hardik Sakti yang segera menarik Kirana dari pelukan lelaki itu dan memberikan satu pukulan di wajahnya.
Lelaki itu terhuyung dan mendapati sudut bibirnya berdarah. "Aku akan merebut kembali milikku," ucapnya dengan senyuman licik.
Sakti kembali menerjang lelaki itu dengan beberapa pukulan dan membuat Kirana berteriak histeris.
"Sudah Mas, sudah !" Kirana berusaha melerai
Sakti yang tengah gelap mata merasa istrinya itu lebih membela mantan kekasihnya dan itu membuat Sakti sakit hati.
"Kamu lebih membela dia huh ?" Teriak Sakti pada Kirana.
"Fine ! Uruslah dia," ucap Sakti seraya meninggalkan istrinya itu.
__ADS_1
TBC...
Thank you for reading ❤️