
kadang kita harus kehilangan seseorang sebelum akhirnya menyadari berarti nya dia dalam hidupmu.
- Renata -
Happy reading ❤️
Acara pun akan segera dimulai. Bisa Renata lihat Sarah selalu berusaha mendekatkan diri pada Fabian dan juga ibunya. Tapi terang-terangan mengabaikan kehadiran dirinya.
Ngilu di hati Renata rasakan melihat pemandangan itu.
"Bi.... aku cemburu." Lirih Renata dengan menahan rasa sakitnya.
"Re, ayo sini jangan diem disitu saja." Ucap mami Fabian.
"Sayang sekali ya orangtuamu tidak bisa datang. Padahal mami kangen ayah ibumu sudah lama tak bertemu. Mami dan Papi sebenarnya sudah ada rencana mau ke Semarang untuk bersilaturahmi pada ayah ibumu. Mami ajak Celia boleh ya Re ?" Tanya mami Fabian.
"Tentu boleh Mi," jawab Renata.
Dapat Sarah lihat bahwa ibu Fabian memperlakukan Renata dengan begitu baik meskipun telah berpisah dari anaknya. Sedikit rasa iri meresap ke dalam hati Sarah.
Fabian menghampiri Renata dan mengambil alih Celia dalam pelukannya.
" Re, ayo acara mau di mulai." Ajak Fabian.
Raut wajah Renata berubah menjadi lebih diam dan itu membuat Fabian bertanya-tanya.
Fabian ingin bertanya namun Renata lebih dulu meninggalkan nya menuju arah taman belakang dimana pesta itu diselenggarakan.
Pesta ulang tahun bertema kuda poni kesukaan Celia itu kini di mulai.
Teman sekelas Celia, para sepupunya, bahkan tetangga hadir disana.
Berbagai macam makanan dan minuman juga telah disediakan. Semua terlihat bahagia.
Renata dan Fabian berdiri di depan para tamu menemani Celia yang tengah duduk dihadapan kuenya yang bertingkat 3
Beberapa kali Fabian mencuri kesempatan dengan memeluk pinggang Renata agar lebih dekat dengannya.
Tentu saja Renata tak dapat menolak karena di hadapan banyak teman Celia. Celia juga terlihat lebih ceria karena kedekatan orang tuanya.
Sarah memandang itu dengan sedikit rasa iri. Fabian yang begitu dingin padanya tapi berubah total bila berada di sebelah mantan istrinya.
Tak hanya Sarah, semua orang juga bisa melihat bagaimana Fabian masih mempunyai rasa pada Renata.
Acara demi acara telah di lalui dengan meriah dan berakhir menjelang sore hari.
Beberapa undangan telah berpamitan pulang namun beberapa saudara dekat Fabian belum beranjak pergi.
Celia tengah asyik membuka kado bersama para sepupunya termasuk kedua anak Sakti.
Kini Renata tengah bercengkrama dengan kakak iparnya Kirana yang merupakan istri Sakti.
"Kak Sakti gak keliatan kemana kak ?" Tanya Renata pada kakak iparnya itu.
"Lagi dinas Re," jawab Kirana dengan sedikit sendu.
__ADS_1
"Dinas kemana kak akhir pekan seperti ini ?" Tanya Renata. Dirinya ingat bagaimana dulu pun Fabian sering dinas diakhir pekan yang ternyata mengunjungi wanita lain. Meskipun Fabian tidak mencintai wanita itu tapi apa yang Fabian lakukan tak dapat dibenarkan.
Sudah hampir 1 tahun semenjak kejadian kecelakaan itu tapi masih menyisakan rasa sakit.
"Katanya ke Sulawesi Re," jawab Kirana.
"Re, aku boleh tanya sesuatu gak ? Sebenernya udah lama ingin tanya tapi aku takut membuatmu membuka kembali luka." Ucap Kirana.
"Tanya apa kak ? Kalau kakak ingin berbagi cerita ayo gak apa-apa. Mungkin nanti aku bisa bantu," jawab Renata.
"Re, maaf..."
" Apa Fabian berubah ketika dia punya wanita yang lain ?"
Deg ! Renata kembali mengingat lukanya yang dulu
"Fabian tak pernah berubah kak, selalu baik. Malah memperlakukan aku seperti ratu. Bila saja kecelakaan itu tak terjadi mungkin aku tak akan pernah tahu ada wanita bernama Lea itu. Meskipun Fabian mengakui tak mencintai nya tapi membohongi ku bukanlah hal yang benar,"
"Iya aku juga benar-benar tak menyangka apa yang telah Fabian lakukan. Tahu gak Re? Papi kan belum memaafkan apa yang telah Fabian lakukan. Apalagi sampai bercerai denganmu. Ini aja ulang tahun Celia, Papi malah memilih untuk berobat ke Singapur."
"Oh begitu kah kak ? Fabian dan mami gak cerita apa-apa. Hanya saja Mami cerita bahwa sekarang jadwal kontrol kesehatan papi sehingga beliau gak bisa hadir,"
"Iya Re, sebenarnya alasan Papi pergi ke Singapura karena belum berbaikan dengan Bian. Mereka masih saling menghindari."
"Re, aku rasa Sakti sedikit berubah. Sering kali pergi di akhir pekan. Ponsel nya pun kadang sulit aku hubungi. Di rumah pun ponsel nya selalu ia bawa kemanapun ia pergi, bahkan kedalam toilet sekali pun. Insting ku sebagai istri merasa ada sesuatu yang tidak benar,"
" Coba kak Kirana bicarakan baik-baik dengan kak Sakti,"
"Jawaban nya selalu sama karena dia banyak pekerjaan," ucap Kirana yang kini mulai meneteskan air matanya.
Karena Renata yang tengah sibuk menemani kakak iparnya membuat Sarah leluasa mendekati Fabian. Ya Sarah belum juga beranjak pergi meskipun pesta telah berakhir.
Fabian pun merasa sedikit jengah karena kehadiran Sarah. Ia takut Renata berpikir yang tidak-tidak.
"Sarah ini sudah mau gelap. Bukannya saya mengusir tapi apa tidak jadi masalah bila gadis seperti kamu pulang malam ? Ayah ibumu gak nyari ?" Tanya Fabian berusaha menyadarkan Sarah agar segera pulang.
" Saya memang mau pulang pak tapi dari tadi taksi online yang saya pesan menolak terus," jawab Sarah beralasan.
"Oh kenapa gak bilang, biar saya minta supir yang antarkan," ucap Fabian.
Tapi sayang sekali keberuntungan belum berpihak pada Fabian. Para supir yang bekerja tengah mengantar saudara Fabian yang lain.
Dengan berat hati Fabian yang harus mengantarkan Sarah pulang karena hari telah berganti malam.
" Mam, aku nganterin Sarah pulang dulu. Dia gak dapat taksi online," ucap Fabian pada ibunya.
" Oh iya, terimakasih sudah datang Sarah." Ucap mami Fabian.
Sarah pun mencium punggung tangan dan kedua pipi mami Fabian. Sikapnya yang sok akrab pun membuat mami Fabian sedikit terkejut.
Renata dan Kirana yang tak jauh dari mereka berada menyaksikan itu semua.
"Siapa itu Re?" Tanya Kirana.
"Sektretaris baru Fabian, Kak," jawab Renata dengan sedikit merasa kesal.
__ADS_1
"Oh, sejak kapan Fabian ganti sekretaris? Lah Indri kemana?" Tanya Kirana lagi.
"Aku gak tau kak," jawab Renata malas yang sebenarnya tak ingin membahas masalah ini.
Fabian datang menghampiri Celia yang berada tak jauh dari Renata.
"Princess, Daddy pergi dulu sebentar. Hari ini princess menginap di tempat Daddy ya,"
"Gak mau, aku mau menginap di tempat oma saja. Sama abang ( anak Sakti) "
"Oh oke, kalau begitu Daddy ikut menginap disini sama princess," ucap Fabian seraya mencium pipi anaknya itu
"Re, aku pergi keluar sebentar. Kamu masih disini kan ?" Tanya Fabian pada Renata.
Renata tahu Fabian akan mengantar kan sekretaris nya yang cantik itu.
"Aku pulang sebentar lagi mungkin," jawab Renata singkat.
"Tunggu aku ya Re," ucap Fabian.
Renata menganggukan kepalanya dan Fabian tersenyum puas.
Fabian pun pergi dengan Sarah yang tak sekalipun dia menyapa Renata. Seolah mengibarkan bendera perang padanya.
***
Waktu telah menunjukkan pukul 21.00 Fabian belum juga kembali. Sudah lebih dari 2 jam Fabian pergi.
Renata menanti dengan berbagai pikiran di kepalanya. "Kenapa harus cemburu Re ? Bian sudah bukan milikmu lagi," ucap Renata dalam hatinya.
Lama menanti akhirnya Renata memutuskan pulang diantar supir ibu mertuanya.
Renata tiba di rumahnya dengan perasaan yang hampa.
Renata menelungkup kan badannya diatas ranjang.
Kenapa perasaannya pada Fabian belum juga hilang padahal dia sendiri yang meminta berpisah.
Kenapa merasakan cemburu padahal Fabian bukan miliknya lagi.
Tak terasa air matanya mengalir.
Mungkin benar kata orang, kadang kita harus kehilangan seseorang sebelum akhirnya menyadari berarti nya dia dalam hidupmu.
Sebuah notifikasi pesan masuk tertera nama Celia's daddy disana.
Fabian : Re, kamu kok udah pulang ? Ini aku baru sampai rumah mami. Maaf terlambat, tadi jalanan macet banget karena malam minggu.
Renata membacanya tanpa membalas pesan itu. Entah kenapa perasaannya begitu kacau.
Fabian pun merasakan hal yang sama. Perasaan nya begitu tak menentu. Pesan yang ia kirim tak berbalas padahal tanda pesan telah berubah biru.
Tbc....
Mohon like dan komen ya 😘😘😘
__ADS_1