Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Akhirnya Berbicara


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Sakti, lihat siapa yang mau ketemu kamu." Ucap maminya ketika pintu itu terbuka.


Sakti menolehkan kepalanya dan terkejut hebat ketika ia melihat siapa yang mendatanginya.


Tak terasa air mata sakti pun jatuh membasahi pipinya.


Seketika Sakti menyimpan laptopnya dan turun dari ranjang untuk menghampiri.


"Papa kangen kalian," ucapnya seraya berdiri dengan bertumpu pada lutut agar ia dapat sejajar dengan kedua anaknya dan mendekap mereka dalam pelukan.


Pelukan yang sangat erat seakan takut kehilangan lagi, namun kedua anaknya tak bergeming tak membalas pelukan itu. Hanya diam membisu tanpa berkata apapun dengan wajah datar mereka.


Sakti mengurai pelukannya dan menatap wajah kedua anaknya. " Apa kalian gak kangen Papa ?" Tanya Sakti dengan suara bergetar menahan tangis.


Keduanya hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab.


Sakti pun mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang sangat ia rindukan, seseorang yang akan ia mohon untuk pengampunan namun tak ada siapapun di sana.


Samar-samar terdengar suara seorang wanita tertawa renyah  sedang berbicara dengan adiknya Fabian.


Semakin lama suara itu terdengar semakin mendekat diiringi suara hentakan sepatu heels yang berbenturan dengan lantai.


Sakti menunggu kemunculan wanita itu  dengan penuh harap dan cemas luar biasa.


Dadanya berdegup lebih kencang dan kedua telapak tangannya telah di basahi keringat, wajahnya pun memucat.


Tak lama muncullah Fabian dan seorang wanita cantik yang ternyata bukan istrinya Kirana. Itu adalah Lia , istri dari kakak iparnya Robby.


Harapan Sakti yang setinggi langit langsung terhempas ke dasar bumi.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang ?" Tanya wanita itu sopan ketika ia telah berada di dekat Sakti.


"Aku sudah lebih baik, Mbak." Jawab Sakti sembari tersenyum.


Sakti masih melihat ke arah tangga berharap seseorang muncul disana untuk menemuinya.


"Kirana enggak ikut," ucap Lia seolah dapat membaca pikiran Sakti.


"Bagaimana kabar Kirana ?"


"Dia baik," jawab Lia singkat seolah-olah tak ingin berbicara tentang Kirana lebih banyak lagi.


Sakti tersenyum kecut.


Dirinya tak puas hanya dengan kata itu 'dia baik' Sakti ingin tahu bagaimana keadaan Kirana.


Apa dia sehat ? Sedang berada di mana? Apa yang sedang dilakukannya ? Masih banyak lagi pertanyaan dalam kepala Sakti, tapi tak mungkin ia melakukan itu karena terlihat dengan jelas kakak iparnya itu sudah membentengi diri untuk berbagi cerita mengenai istrinya Kirana.


Jadi yang bisa Sakti lakukan hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri.


Kini mereka telah berada di ruang keluarga yang tak jauh dari kamar Sakti.


Kedua anaknya lebih memilih bergelayut manja pada om mereka yaitu Fabian. Bahkan Dareel duduk di pangkuan Fabian sembari memainkan ponsel omnya itu, dan Davin bersandar pada pundaknya.


Hati Sakti tentulah sakit melihat itu namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Mereka mau menemuinya saja sudah membuat Sakti bahagia.


Sedangkan Sakti terlibat pembicaraan dengan Lia juga maminya. Dari sekian banyak bahan bicara tak satu kali pun nama Kirana jadi bahan pembicaraan mereka.


Setiap Sakti berusaha untuk mencari tahu tentang istrinya itu, Lia akan  langsung mengalihkannya pada hal yang lain. Sakti tertunduk pasrah.


Hari pun mulai berganti malam, Lia pamit untuk pulang namun Sakti meminta kedua anaknya untuk tetap tinggal.


"Abang ma Dareel nginep aja di sini. Papa kangen kalian," bujuk Sakti.


Kedua anak lelakinya itu saling memandang satu sama lain seolah saling bertanya.


"Papa mohon...,"


"Apa Daddy Bian juga nginep?" Tanya Dareel.

__ADS_1


Sakti mengalihkan pandangannya pada Fabian dan adiknya itu seketika merasa tak enak hati pada Sakti.


"Pasti Dareel kangen Celia ya ?" Tanya Fabian untuk mencairkan suasana.


Dareel menganggukkan kepalanya.


"Kirain kangen sama Daddy Bian." Fabian tertawa canggung.


"Kalau kalian mau menginap, Daddy jemput Celia." Fabian ikut membujuk.


"Iya aku mau menginap kalau ada Celia sama Daddy," Davin terlihat bersemangat.


"Baiklah kalau begitu nanti kita jemput Celia ya,"


Kedua anak itu pun bersorak gembira, dan Lia pun meninggalkan rumah itu seorang diri.


"Makasih Bi," ucap Sakti.


"Coba dekati lagi mereka. Gue yakin mereka akan kembali kaya dulu lagi. Lo harus sabar Kak," ucap Fabian.


Sakti tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Malam itu Celia pun ikut menginap, sedikit demi sedikit sikap kedua anaknya mulai mencair. Dengan sabar Sakti terus berusaha mendekatkan diri pada kedua anaknya yang telah terpisah lebih dari satu bulan itu.


Dareel pun mulai bermanja-manja walaupun tak semanja dulu, bahkan ia kini tengah memainkan game di ponsel Sakti.


Sebuah panggilan telepon masuk ketika Dareel tengah asik bermain game. Tertera nama Vanya disana.


"Papa, Vanya menelpon." Ucap Dareel sembari menyerahkan benda pipih itu pada Sakti.


Seketika mata Sakti membulat karena terkejut dan Fabian langsung memperhatikannya.


"Gak usah diangkat, biarin aja." Jawab Sakti sembari menekan tombol menolak panggilan itu.


"Apa Vanya itu tante-tante yang Papa peluk waktu di mall ?" Tanyanya polos


Davin menyikut tubuh adiknya itu agar berhenti bicara.


"Papa gak pernah pergi ke mall dengan seorang wanita selain Mama apalagi sampai memeluknya," jawab Sakti.


"Udah ih. Kata mama gak boleh ngomongin itu lagi, itu urusan orang dewasa. Mama aja udah gak mau tahu urusan Papa, apalagi kita yang masih kecil begini" jawab Davin dengan wajah galaknya.


Sakti begitu syok luar biasa, "apa ini yang membuat kedua anaknya menjauh ? Kirana melihatnya? Bila iya, maka sejak awal Kirana tahu bahwa aku berselingkuh. Pantas saja ia sangat benci padaku," pikir Sakti


"Ayo kita main monopoli !" Fabian mencoba mengalihkan perhatian keduanya dan mereka pun bersorak menuruti Fabian.


"Lo bener-bener harus bisa ambil sikap," ucap Fabian seraya menepuk pundak kakaknya itu.


***


Waktu terus berlalu...


Setelah pertemuan itu, kini Sakti dapat berhubungan dengan kedua anaknya walaupun hanya sebatas panggilan telepon atau video. Namun tidak dengan Kirana, istrinya itu masih tak mau berbicara padanya.


Seperti saat ini Sakti sedang melakukan panggilan video dengan Dareel.


Dareel meletakkan ponselnya diatas meja makan dan ia melakukan panggilan video itu sembari memakan semangkuk es krim. Beberapa kali Sakti tertawa melihat bibir anaknya belepotan es krim.


Sakti tersentak ketika seorang wanita yang sangat ia rindukan berjalan dan tertangkap kamera ponselnya.


Kirana yang  mengenakan kaos putih yang begitu ketat dan celana pendek hanya sejengkal tangan memasuki dapur tanpa menyadari bahwa seseorang tengah memperhatikannya melalui layar ponsel.


Mata Sakti tak dapat beralih dari Kirana yang sedang memotong-motong buah semangka. Ia terlihat semakin mempesona dengan tampilan barunya. Rambut panjangnya Kirana cat dengan warna coklat, dan tubuhnya yang lebih berisi terlihat semakin menarik di mata Sakti.


"Mama mengganti warna rambut?" Tanya Sakti pada Dareel.


"Iya," jawabnya singkat.


"Bisa tolong dekatkan ponsel nya biar papa bisa lihat mama lebih jelas? Papa kangen banget." Ucap Sakti dan Dareel pun menuruti nya.


Merasa diperhatikan, Kirana menolehkan wajahnya pada Dareel dan terlihat Sakti sedang memandanginya melalui ayar ponsel.

__ADS_1


Kirana berjalan mendekati anaknya dan tanpa paksaan meraih ponsel itu dari Dareel dan membalik kameranya ke arah meja agar Sakti tak dapat melihat dirinya.


"Terima telponnya di ruang tengah aja ya sayang, Mama mau potong buah dulu buat bang Davin," ucap Kirana agar anaknya itu meninggalkan dapur.


Sakti sadar Kirana tak ingin dirinya terlihat olehnya. Hati Sakti terasa begitu nyeri.


Dareel pun menurutinya, terlihat dari ponsel nya yang menunjukkan anak itu sedang berjalan.


Tak tahan lagi akhirnya Sakti meminta Dareel untuk memberikan ponsel itu pada Kirana.


"Sayang, tolong berikan ponselnya pada mama. Katakan ada hal penting yang ingin papa sampaikan,"


Dareel pun menuruti dan berjalan kembali menuju dapur.


"Ma, papa mau ngomong katanya penting."


"Katakan mama sedang sibuk," jawab Kirana.


"Mama sibuk," ucap Dareel pada Sakti.


"Bilang mama hanya sebentar," Sakti bersikeras.


Tak ingin berdebat di depan anaknya, Kirana pun menerima panggilan video itu namun dengan terlebih dahulu mengganti menjadi panggilan biasa.


Sakti menghela nafasnya yang tiba-tiba terasa berat. Kirana bahkan tau mau memandang wajahnya.


Kirana : ya ?


Sakti : Ki, apa kabar?


Kirana tak menjawab pertanyaan itu dan terdiam.


Sakti : bulan depan Bian mau menikah lagi dengan Renata.


Kirana : aku tahu.


Kirana memotong pembicaraan Sakti.


Sakti : apa kamu dan anak-anak akan datang ?


Kirana : ya


Sakti : syukurlah... Nanti aku jemput kalian ke Singapura.


Kirana : tidak usah.


Sakti terdiam sesaat


Sakti : ya sudah aku jemput kalian di bandara ya.


Kirana : tidak usah, kita bertemu di resepsinya saja.


Sakti : Tapi aku,...


Kirana : sampai jumpa di resepsi.


Ucap Kirana memotong pembicaraan Sakti dan mengakhiri panggilan telepon itu lebih dulu, Meninggalkan Sakti yang terdiam frustasi.


***


Sakti kembali menyibukkan diri. Meskipun bayangan Kirana dengan penampilan barunya terus menghantui dan itu membuat darah Sakti berdesir.


Senang dan sedih Sakti rasakan bersamaan saat ini.


Senang karena bisa melihat dan mendengar suara istrinya lagi, sedih karena dengan jelas Kirana menghindarinya. Sakti pun tersenyum kecut.


Tanpa Sakti sadari seorang wanita tengah berdiri di hadapannya. Ia pun mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya.


"Kenapa senyum-senyum ? Pasti lagi mikirin aku ya?" Tanya Vanya dengan nada suara menggoda.


To be continued....

__ADS_1


Thank you for reading ❤️


Like dan komen yaaa genks 😚😚


__ADS_2