Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Berusaha Berbicara


__ADS_3

Happy reading ❤️


Kirana menerima dan membaca kertas itu, ia menitikkan air matanya ketika sadar yang ia terima adalah bukti pembayaran tas dan lipstik. Kirana membacanya dengan seksama itu adalah bukti pembayaran 3 buah tas  dan juga lipstik bermerek dengan alamat butik di Singapura.


Kirana menyeka air matanya yang turun dengan punggung tangannya dan tersenyum miring. Hatinya terasa panas terbakar. "Jadi ini alasannya dia berubah? Karena wanita lain ?" Kirana bermonolog dalam hatinya.


Satu hal yang Kirana tak mengerti bila Sakti memang bertemu wanita lain kenapa suaminya itu semakin buas padanya di atas ranjang. Kirana memeluk dirinya sendiri ketika ingat apa yang baru saja terjadi, bagaimana suaminya itu begitu liar dalam kegiatan panasnya.


Sementara itu Sakti terbangun ketika ponselnya terus berbunyi. Tertera nama Vanya disana. Ia hanya memandang tanpa menjawab panggilan itu, ketika panggilan itu berhenti Sakti memeriksa kotak pesan nya dan tertera kembali nama Vanya di list paling atas dengan jumlah pesan yang tidak sedikit namun Sakti enggan menjawab pesan itu dan meletakkan kembali ponselnya.


Sakti melihat sekeliling tak ada Kirana disana, ia mendengus kesal. Dengan tubuhnya yang masih polos sakti berjalan  menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sakti melihat pantulan dirinya dalam cermin, terlihat beberapa tanda kemerahan di tubuhnya karena cakaran kuku Kirana yang berusaha melawannya ketika kegiatan panas itu terjadi. Semakin Kirana melawan semakin Sakti menginginkan istrinya itu.


Perih terasa ketika guyuran air shower menyentuh kulitnya. "Perempuan sialan,"  maki Sakti. Semakin perih ketika busa sabun mengenainya. Sakti memejamkan matanya membayangkan apa yang ia telah ia lakukan. Ia pun tak mengerti kenapa melakukan hal itu, yang ia tahu ia merasa benci pada Kirana pada saat ini tapi sekaligus semakin merasa candu pada istrinya itu. "Sial Kirana, kamu benar-benar menyiksaku," gumam Sakti lirih di bawah guyuran air.


Sakti keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk sebatas pinggang. Air masih menetes dari rambutnya membasahi dadanya yang telanjang.


Kirana tengah membenahi ranjang ketika Sakti berjalan keluar. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Sehingga pada akhirnya Kirana berbicara.


"Nona Vanya terus menelpon, maaf aku angkat karena takut penting."


"Apa yang dia katakan ?" Tanya Sakti seraya mengenakan pakaiannya yang ia ambil dari dalam lemari dan mengenakannya.


"Dia akan menghubungimu lagi."


"Hanya itu ?" Tanya Sakti memastikan.


"Memangnya kamu berharap dia akan mengatakan apa ?" Kirana balik bertanya.


"Entahlah," jawab Sakti.


"Ini, aku temukan dalam saku celana mu," Kirana menyerahkan lembaran kertas bukti pembayaran itu pada Sakti.

__ADS_1


Sakti menerima lembaran kertas itu dan membacanya, kemudian dengan wajah tanpa dosa ia meremas lembaran kertas itu. "Ini hanya sampah," ucapnya datar.


Kirana menunggu Sakti untuk mendapatkan penjelasan tapi suaminya itu sepertinya tak berniat menjelaskan sedikit pun tentang bukti itu.


Kirana memutuskan untuk keluar kamar setelah membenahi ranjang, ia berhenti sejenak di ambang pintu dan berkata "oh iya Vanya juga bilang bila ia masih di Singapura dan Vanya tak mengerti kenapa kamu meninggalkan dirinya sendirian di hotel,"


Tiba-tiba wajah Sakti menegang ketika mendengar itu.


"Iya memang aku pergi dengan dia ke Singapura, membelikannya beberapa hadiah. Aku hanya mengikuti seperti apa yang kamu lakukan dibelakang aku," ucap Sakti dengan tersenyum mengejek.


Kirana membalikkan badannya dan menghampiri Sakti.


"Apa maksudmu ?" Tanya Kirana gusar.


"Jangan sok suci Kirana, aku tau ternyata kamu bersikap layaknya seorang wanita jal*ng di belakang aku. Berapa kali kalian bertemu ? Di hotel mana ? Apa dia lebih hebat dariku bila diatas ranjang?" Tanya Sakti seraya menyerahkan ponselnya yang menunjukkan pesan dari mantan kekasih Kirana di sosial medianya.


"Bacalah ! Kekasihmu meminta untuk bertemu denganmu LAGI," ucap Sakti seraya menekankan kata 'lagi'.


'plaakk' suara tamparan terdengar begitu jelas. Tangan Kirana telah menampar suaminya itu sehingga membuat Sakti naik pitam.


Ia mendorong tubuh Kirana ke atas ranjang dan menindihnya. "Berani sekali kamu sialan !" Maki Sakti dengan wajah memerah menahan marah dan kedua tangan nya mencengkeram tubuh Kirana  agar tidak berontak.


"Berkacalah sebelum memanggil aku seorang jal*ng. Aku tak pernah sekalipun melakukan seperti yang kamu tuduhkan. Aku tak pernah melakukan hal hina seperti halnya dirimu," ucap Kirana penuh amarah.


"Kamu pikir aku bodoh Kirana ? Seorang wanita dewasa seperti mu bertemu dengan mantan kekasihnya diam-diam di belakang suaminya apalagi yang akan dilakukan selain bercinta ?" Geram Sakti meluapkan amarah yang selama ini ia pendam.


"Buktikan tuduhan mu, tanyakan padanya. Tanyakan pada lelaki itu ! Bila memang terbukti aku melakukan hal hina dibelakang mu maka jadikan aku pemuas nafsu mu, tapi bila yang kamu tuduhkan padaku tidak terbukti maka lepaskan aku dan anak-anakku dari hidupmu," tantang Kirana pada suaminya dengan mata berkilat amarah.


Sakti terkejut dengan apa yang Kirana katakan. Melepaskan Kirana dan anak-anaknya tak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya.


Sakti melepaskan cengkraman tangan pada tubuh Kirana dan menjauhkan tubuhnya. "Tapi kamu bertemu dengannya kan ? Bertemu laki-laki brengsek yang selalu mengejar mu," tanya Sakti dingin.


"Dia mendatangi aku tapi tidak seperti dalam pikiran kotor mu." Jawab Kirana lirih.

__ADS_1


"Tetap saja kalian bertemu, sudah ku katakan sejak awal aku tak mau kamu berhubungan lagi dengannya. Apa yang kalian bicarakan  huh ? Tentang cinta kalian yang terhalang aku ?," Tanya Sakti dengan tersenyum kecut dan berdiri dari tempat tidurnya.


"Katakan pada lelaki itu, selamanya kamu terikat padaku. Aku tak peduli dengan perasaan kalian. Persetan dengan cinta kalian !" Teriak Sakti dan mulai beranjak pergi.


Kirana bangkit dan berjalan menyusul suaminya.


"Kamu mau kemana Mas ? Kita belum selesai bicara. Kita selesaikan dulu masalah ini,"


"Aku tak mau mendengarkan tentang perselingkuhan mu lagi. Aku tak peduli Kirana ! Lakukan apapun dengannya aku tak peduli ! Tapi kamu akan tetap selalu jadi milikku," jawab Sakti yang menghimpit tubuh Kirana ke dinding yang berada di dekatnya dengan begitu kasar.


Kirana hendak menjawab pernyataan Sakti namun urung tatkala melihat kedua anaknya telah memandang mereka dengan tatapan kosong. Mereka tak sadar dengan kehadiran kedua anaknya yang telah kembali dari rumah orang tua Sakti.


"Apa yang Papa lakukan ?" Tanya Davin dengan tatapan mata tak suka melihat ibunya diperlukan seperti itu.


Sakti menolehkan wajahnya dan terkejut melihat tatapan dingin kedua anaknya.


"Hai sayang kalian sudah pulang ?" Tanya Sakti berusaha mengalihkan perhatian mereka dan melepaskan diri dari Kirana.


Dareel menganggukkan kepalanya sedangkan Davin diam dengan wajahnya yang datar.


"Papa pulang cepat karena kangen kalian. Ayo temani Papa beli kado untuk Celia dan kalian juga boleh beli mainan," bujuk Sakti.


"Apa Mama ikut ?" Tanya Dareel.


"Tidak, Mama kan harus menyiapkan makan malam," jawab Sakti seraya menolehkan wajahnya melihat Kirana yang terlihat begitu menyedihkan.


"Ayo kita turun dan pergi," ajak Sakti menggiring kedua anaknya dan meninggalkan Kirana begitu saja.


TBC...


Thank you for reading ❤️


Sampai ketemu Senin yaa insyaallah 😘😘

__ADS_1


__ADS_2