
Fabian mulai merangkak mendekati tubuh Renata. Mengendus aroma khas dari tubuh istrinya yang selalu jadi candunya dengan rakus, mendapati bau parfum laki laki lain dari tubuh istrinya membuat Fabian semakin gelap mata karena cemburu.
"Aku akan menghapus jejak lelaki itu dari tubuhmu," ucap Fabian seraya melepas pakaiannya sendiri.
Renata menggelengkan kepalanya tanda tak mau, tubuhnya bergerak menjauhi Fabian, tapi dengan sekali tarikan tangan Fabian di kakinya membuat Renata semakin mendekati suaminya itu.
Fabian membenamkan bibirnya di atas bibir Renata dan mengecapnya dengan kasar, tak ada kelembutan disana.
Tangannya menyusuri tiap jengkal diri Renata dengan kasar, menyalurkan kemarahannya. Tangan Renata yang bergetar berusaha menepis setiap sentuhan Fabian.
Penolakan Renata semakin memicu emosi dalam diri Fabian.
Satu hentakan kasar merobek kemeja dress yang dikenakan Renata, menghamburkan kancing - kancing baju yang terlepas dengan paksa agar terbuka.
"Ja.. jangan Bi.. kumohon jangan seperti ini," ucap Renata lirih dan menahan tangis.
"Kamu gak usah keluar rumah, hanya untuk sebuah kepuasan. Karena aku tak pernah gagal memberikan kamu itu," desis Fabian tepat di telinga Renata.
Fabian kembali membenamkan bibirnya dangan kasar dan menuntut. Tatapan matanya penuh kilatan amarah. Tangan Fabian terus bergerilya hingga melepaskan kain berenda penutup itu.
Fabian bertumpu pada lututnya dan dengan satu hentakan kasar Fabian menyatukan tubuh mereka.
"Sa.. sakiiiittttt Bi, sakit Fabian," rintih Renata dengan air mata yang telah jatuh disudut matanya.
"Teriak lah, teriak sesukamu tak akan ada yang mendengar," geram Fabian.
Fabian berusaha menggerakkan tubuh bawahnya. Sadar begitu terasa sesak dan begitu sulit di gerakkan menandakan Renata sudah lama tak dimasuki laki laki. Seketika kesadaran Fabian kembali pada tempatnya.
Berangsur kemarahannya mereda. Kali ini matanya menatap penuh damba, dengan ibu jarinyaFabian menghapus air mata yang sudah menganak sungai di pipi istrinya.
Membenamkan kembali bibirnya dengan lembut, tangannya kembali memberikan sentuhan sentuhan halus yang memabukkan, dan mulai mengerakkan tubuhnya dengan perlahan. Satu lirihan tertahan lolos dari bibir mungil istrinya.
Renata benci pada dirinya sendiri.
Hati dan otaknya menolak semua perlakuan Fabian, tetapi tubuhnya berkhianat.
__ADS_1
Terbukti dengan beberapa kali Renata menggelepar hebat ketika puncak pelepasannya datang dan itu membuat Fabian semakin bersemangat menggelutinya.
***
Pagi masih gelap gulita ketika Renata tersadar dari tidurnya. Entah itu tertidur atau kehilangan kesadaran Renata tak ingat persisnya. Semalaman Fabian benar-benar menggelutinya tanpa henti. Badannya terasa luluh lantak lemas bagaikan jelly.
Dengan sisa tenaga yang ada Renata menurunkan kaki polosnya menyentuh lantai yang dingin. Mengais sisa sisa pakaian nya yang telah terkoyak karena ulah Fabian.
Melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Renata tak menangis lagi. Hati dan perasaannya telah mati rasa. Hampa hanya itu yang Renata rasakan.
***
Fabian mengerjapkan matanya ketika sinar mentari menyelinap masuk di antara celah tirai.
Tangannya dengan refleks mencari seseorang yang selalu bergelayut manja padanya bila telah selesai melakukan kegiatan panas.
Tak ada.... Seseorang yang Fabian harapkan tak ada di sana, bahkan sisi tempat tidurnya terasa dingin pertanda ia telah ditinggalkan oleh pemiliknya dengan waktu yang cukup lama.
Fabian mendudukkan tubuhnya yang masih polos di tepian ranjang. Tertunduk lesu menyesali apa yang telah ia lakukan semalam.
Dengan langkah gontai memasuki kamar mandi untuk bersiap pergi.
Butuh waktu 30 menit untuk Fabian membersihkan diri. Kini dengan setelan jas berwarna gelap dan rambut yang diikat Fabian sudah siap pergi. Ya beberapa bulan terakhir ini Renata tak lagi memperhatikan nya. Bahkan rambutnya yang memanjang pun tak di protesnya.
"Bi, Ibu dimana?" Tanya Fabian pada bi Sumi ketika dirinya telah tiba di dapur. Matanya melihat sepiring nasi goreng dan secangkir kopi hitam untuk sarapan namun Fabian tahu bukan istrinya yang membuat sarapan itu.
"Ibu pergi tadi pagi sekitar pukul 6 katanya mau mengantarkan nona Celia sekolah. Ini pak saya buatin sarapan, soalnya tadi ibu berangkat tergesa-gesa jadi tak sempat membuat sarapan untuk Bapak," jelas bi Sumi panjang lebar.
Fabian menghela nafasnya yang terasa begitu berat dan pergi begitu saja tanpa menyentuh sarapannya.
***
Renata kini tengah duduk di sebuah toko cake and bakery sendirian. Mencoba menikmati sarapannya yang bahkan belum ia sentuh sama sekali. Dirinya sengaja menghindari Fabian.
__ADS_1
Apa yang Fabian lakukan semalam membuat hatinya terluka.
Ada sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang bernamakan dokter Jamie.
Jamie : Renata, aku pergi sekarang. Berjanjilah kamu akan selalu baik baik saja. Semoga kita bisa bertemu kembali.
Renata membaca pesan itu berulang-ulang. Mengingat kejadian kemarin dirinya berci*man dengan Jamie.
Entah ada apa dengan dirinya, Renata merasa ci*mannya dengan dokter Jamie itu adalah sebuah kesalahan. Apa karena statusnya yang masih menjadi istri Fabian? Apa Fabian merasakan hal yang sama ketika menghabiskan waktu bersama wanitanya?
Renata berusaha berdamai dengan keadaan, namun ternyata tak semudah yang ia pikirkan.
Renata pun membalas pesan dokter Jamie.
Renata : save flight Jamie.. Bila ada kesempatan tentu kita dapat bertemu lagi. Take care always :)
Dan pesan pun terkirim tanpa balasan. Renata segera mematikan daya ponselnya ia ingin sendirian hari ini tak ingin dihubungi oleh siapapun terlebih lagi oleh suaminya.
Pukul 12 tepat Renata menjemput anaknya Celia, karena Omanya ( Mami Fabian) membelikan 2 ekor kelinci membuat Celia ingin kembali ke rumah Omanya. Mau tak mau Renata akhirnya menuruti.
Mereka tiba ketika semua orang mempersiapkan makan siang. Meskipun ditolak untuk membantu tapi Renata bersikeras untuk ikut serta menyiapkan makan siang itu di dapur yang letak nya tak jauh dari tempat Celia bermain dengan kelincinya.
Renata melihat Celia begitu ceria bermain main di halaman belakang berlari dan tertawa. Fabian dan seluruh keluarganya memang sangat menyayangi dan memanjakan Celia dan itu pula salah satu alasan mengapa Renata bertahan.
Tanpa Renata sadari seseorang telah berjalan ke arahnya dan memeluknya erat dari arah belakang.
Renata begitu terkejut, tubuhnya menegang dan dadanya mulai berdebar.
"Maafkan aku sayang, aku mohon maafkan aku," lirih Fabian di ceruk leher Renata.
Renata berusaha melepaskan diri dari dekapan Fabian, namun semakin Renata mencoba semakin erat juga belitan tangan Fabian melingkari perut datar istrinya.
"Maafkan aku atas yang terjadi semalam. Aku begitu hancur melihatmu dan Jamie berpelukan, dan semakin hancur ketika mengendus bau parfumnya di tubuhmu, dan aku begitu frustasi mencari mu seharian ini," Fabian berbisik lirih tepat di telinga Renata.
"Lepaskan aku Fabian !!!" geram Renata dan mencoba melepaskan diri menandakan kemarahannya.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, aku mohon. Jangan tolak aku Renata, jangan siksa aku seperti ini. Aku gila, aku benar benar gila karena mu," lirih Fabian dan semakin mengeratkan pelukannya seolah takut kehilangan istrinya Renata.
Thank you for reading ❤️❤️❤️