
Happy reading ❤️
"A..a..apa maksudmu dengan berteman Renata?" Tanya Fabian terbata.
"Ya berteman, kita berdamai Fabian tapi tidak lagi melibatkan perasaan juga tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Kita akan berdamai demi anak kita Celia. Bukankah ini lebih baik?" Tanya Renata seolah tak ada beban ketika mengucapkan nya.
"Tidak sayang, aku gak mau. Bagaimana mungkin kita hanya berteman sedangkan aku sangat mencintaimu," ucap Fabian mengiba.
Renata terdiam untuk beberapa saat, mencoba mencerna perkataan suaminya.
"Bila benar cinta tak kan mungkin menyakiti, Fabian," ucap Renata dingin dan kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Fabian yang diam membeku.
***
Renata mendudukkan dirinya di bangku taman, menatap langit malam yang dihiasi sedikit bintang.
Pikirannya menerawang jauh, mencari cari apa yang salah dengan pernikahan nya sehingga mengalami hal menyakitkan seperti ini.
Renata hanya berharap waktu cepat berlalu karena dengan tanpa ragu dia akan melepaskan diri dari belenggu pernikahan dusta nya.
Setetes air mata turun dari sudut matanya.
***
"Selamat pagi Fabian, kamu mau sarapan apa ?" Sapa Renata seraya menyibak tirai putih tipis yang kemudian menghadirkan terang menandakan pagi telah menyapa.
Fabian mengerjapkan matanya mulai mengumpulkan nyawa.
"Celia mana?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Celia sudah berangkat sekolah, dia bahkan memberikan ciuman di pipimu ketika kamu masih tidur. Apa tidak terasa ?"
"Mmm tidak," jawab Fabian.
"Aku mau ke toilet, bisa tolong panggilkan Andi untuk membantu ?"
"Aku bisa membantu bila kamu mau, Andi bercerita kamu berusaha membersihkan dirimu sendiri dan menolak bantuannya. Apa itu benar ?" Renata bertanya.
"Mmm iya, rasanya tak nyaman saja disentuh seorang laki laki," Fabian bergidik ngeri.
"Maunya disentuh perempuan kah ?" Tanya Renata dengan tersenyum dengan nada bercanda.
Tapi tidak dengan Fabian yang menerima ucapan itu, dia merasa Renata kembali menyindir dirinya. Terlihat dari air muka Fabian yang berubah masam.
"Ah Fabian maaf bukan maksud menyindir, aku hanya bercanda. Sumpah," ucap Renata dengan mengacungkan 2 jarinya dan memperlihatkan senyum manisnya.
"Sudah ku bilang, ayo kita berdamai. Kamu juga mau cepat sembuh bukan ? Ayo aku bantu membersihkan diri," ucap Renata dan mulai membantu Fabian naik ke atas kursi rodanya.
Fabian menuruti perintah Renata dengan perasaan kacau, apa istrinya benar benar dengan ucapannya tadi malam tentang hubungan baru yang disebut "pertemanan". Bagaimana dia sanggup menjalani nya?
Renata membantu Fabian membersihkan diri, mulai dari membasuh muka sampai menyeka seluruh badan Fabian tanpa terlewat satu bagian pun.
Fabian terus menatap wajah istrinya dan bergerak gelisah ketika istrinya menyentuh bagian tertentu dari bagian tubuhnya.
__ADS_1
"Ya ampun Fabian, aku sudah melihat tubuh polos mu ribuan kali jadi gak usah malu. Udah kaya anak perawan aja malu malu," ucap Renata dengan memutarkan bola matanya.
Fabian hanya terdiam menikmati dalam perih. Bertanya-tanya apa istrinya sudah tak ada rasa lagi sehingga hal seintim ini pun ditanggapi biasa.
"Sayang, em maksudku Renata apa bisa lebih cepat ? Aku mulai kedinginan," ucap Fabian terbata. Dia ingin segera menghentikan kegiatan yang menyiksa ini. Bagaimana pun Fabian ini laki laki normal, mati matian dia menahan hasrat dari setiap sentuhan yang istrinya berikan.
"Oke, done. Udah beres kok, aku lap dulu," jawab Renata sembari mengambil satu gulung handuk yang telah tersedia.
Dengan cepat Fabian menyambar handuk itu. "Biar aku lakukan sendiri, aku bisa," ucap Fabian.
"Oke baiklah, ayo berpakaian. Aku gak mau kamu masuk angin nanti," ucap Renata seraya membantu Fabian dan mendorong kursi roda itu keluar.
"Jadi mau sarapan apa ?" Tanya Renata ketika mereka tengah berada di dapur setelah ritual membersihkan diri Fabian.
"Aku mau pancake dengan madu," jawab Fabian dengan mata yang selalu tertuju pada istrinya.
"Oke baiklah tunggu sebentar,"
"Selamat pagi pak, mari cek kondisi bapak pagi ini," ucap Andi dengan beberapa alat ukur yang dibawanya.
"Pagi Andi, ya silahkan," ucap Fabian.
"Maaf saya tidak membantu bapak pagi ini, karena saya lihat mungkin bapak akan lebih nyaman bila ibu yang membantu,"
"Iya tidak apa-apa," jawab Fabian singkat.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Renata seraya menyediakan 3 piring pancake di atas meja.
"Hasilnya baik bu. Tekanan darah normal, luka luka juga mulai membaik. Dengan semangat seperti ini saya yakin bapak akan segera sembuh," ucap Andi memberikan dorongan pada Fabian.
Sepanjang pagi menjelang siang mereka lewatkan tanpa perdebatan. Beberapa orang datang untuk menjenguk bahkan Hendrik dan Sakti pun datang disela kesibukan mereka.
"Fabian, aku jemput Celia pulang sekolah dan mungkin akan sedikit terlambat karena mau belanja isi kulkas dulu," ucap Renata ketika Fabian masih berbincang dengan kaka ipar dan juga asistennya.
Ada hal yang aneh terjadi, pembicaraan mereka terhenti ketika Renata datang. Seolah-olah membicarakan hal yang sangat dirahasiakan. Tak mau ambil pusing Renata mengabaikan semua pikiran buruknya.
"Oh iya hati hati, diantar pak Wito ?" Fabian bertanya.
"Mmm tidak, aku bawa mobil sendiri," jawab Renata.
Fabian terdiam dangan menatap Renata seolah-olah bertanya mengapa tak lagi menggunakan supir seperti biasanya.
"Aku rasa, aku bukan wanita renta yang harus selalu diantar supir Fabian," ucap Renata.
"Bukan begitu, aku hanya khawatir denganmu sayang, juga Celia," ucap Fabian. Sulit bagi Fabian untuk menerima status barunya yang hanya sebatas "teman" sehingga kata sayang masih terlontar dari mulutnya.
"Aku akan baik baik saja Fabian," jawab Renata dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Fabian.
***
Menjelang sore Renata belum juga kembali. Fabian terlihat gelisah, berusaha menghubungi tapi ponsel Renata tak juga dapat dihubungi.
"Fuc* f*ck f*ck !" Fabian mengumpat berkali-kali. Dalam pikirannya bayangan Renata dan kakak sepupunya Jamie menari-nari. Fabian membayangkan Renata tengah berbagi kasih dengan laki laki itu. Pantas saja dengan mudah Renata menawarkan hubungan pertemanan padanya karena hati Renata telah berpaling pada laki laki lain.
__ADS_1
"Siaaaallll," teriak Fabian kembali memaki dan melempar barang barang yang ada pada jangkauan nya.
Seketika bi Sumi asisten rumah tangganya datang.
"Ada apa pak ?" Tanya bi sumi kaget melihat beberapa barang yang berceceran dilantai.
"Maaf bi, tolong bereskan," ucap Fabian dingin dan menggerakkan kursi rodanya menuju kamar.
***
Menjelang gelap Renata telah tiba dirumahnya. Dengan banyak kantong belanjaan. Celia tertawa riang karena membawa beberapa mainan baru di tangannya.
"Celia ayo mandi dulu nak, seharian ini main pasti badanmu sudah lengket," titah Renata pada anaknya.
"Mbak wulan, tolong mandikan Celia," ucap Renata pada pengasuh Celia yang kebetulan tidak ikut pergi tadi.
Tak lama Celia naik ke lantai atas dimana kamarnya berada dengan mbak Wulan di belakangnya.
"Bapak dimana ?" Tanya Renata pada bibi Sumi yang sedang membereskan semua barang belanjaan.
"Bapak tadi masuk kamar bu, mmm bapak sepertinya marah tadi bu, bapak melemparkan beberapa barang ke lantai" jawab bi Sumi.
" Marah kenapa ? " Renata kembali bertanya.
"Saya kurang tahu bu," jawab bi Sumi.
" Mm ya sudah, tolong bereskan semua. Saya temui bapak dulu," ucap Renata seraya meninggalkan dapur dan menuju kamar tamu dimana Fabian berada.
Renata melangkahkan kakinya dan melihat Fabian duduk di kursi rodanya tengah melihat keluar jendela.
"Fabian," Renata memanggil suaminya itu.
Seketika Fabian memutar kursi rodanya dan menghadap pada Renata.
" Dari mana se-sore ini baru pulang? Aku hubungi tak juga bisa," tanya Fabian dengan nada dingin.
" Aku dan Celia...." Belum juga Renata selesai menjawab pertanyaannya, Fabian telah kembali bicara
" Aku tak peduli apa yang kamu lakukan di belakang aku, Renata. Lakukan apapun yang membuatmu senang. Karena sekarang aku yang akan bertahan. Aku yang akan berjuang demi rumah tangga kita. Aku yang akan memberimu banyak cinta, kamu hanya perlu diam dan menerima. Tak peduli meskipun kamu hanya menganggap aku teman bukan lagi suami. Tapi aku yang akan bertahan dan tetap menjadikan mu istri." Ucap Fabian dengan tegas.
TBC....
Thank you for reading 😘
Yang gak sabar sama penjelasan Fabian mohon tunggu yaa... Nanti ada POV Fabian.
Aku nulis sesuai alur ku jadi mohon bersabar.. 🙏🙏
Aku suka banget dengan komen kalian 😂😂
tapi maaf belum bisa balas satu satu ya 😘😘
yang gak suka boleh skip kaka 😁😁
__ADS_1
Yang suka tolong tinggalkan jejak yaa
Tons of love for u guys ❤️❤️❤️