Terikat Dusta

Terikat Dusta
Selamat Datang Cinta


__ADS_3

Yang kangen papa Sakti kuy merapat 😆


Happy reading ❤️


Benda pipih yang Sakti letakkan di atas meja telah berkedip beberapa kali pertanda seseorang sedang berusaha menghubunginya. Namun ia tengah memimpin sebuah pertemuan siang ini sehingga dirinya tak bisa menerima panggilan itu.


Kedipan cahaya itu tak jua berhenti sehingga Sakti pun terpaksa meraih benda pipih itu dan melihatnya. Tertera nama Kirana di sana, Sakti pun melengkungkan senyumnya.


"Maaf saya harus terima panggilan ini sebentar," ujar Sakti pada semua orang yang hadir dalam pertemuan itu.


"Iya silahkan, Pak." Jawab salah satu peserta.


Sakti pun berjalan sedikit menjauh sebelum menerima panggilan itu.


"Sayang, ada apa ?" Tanya Sakti ketika panggilan itu terhubung.


"Kamu lagi sibuk, Mas ?" Kirana balik bertanya.


"Kan aku udah bilang siang ini ada meeting klien. Kenapa ? Kamu mau sesuatu lagi ?"


Sudah 2 Minggu ini Kirana mengambil cuti melahirkan. Kehamilannya yang semakin besar dan sifat posesif suaminya yang kian menjadi membuat Kirana memutuskan untuk mengambil cuti lebih cepat.


Semakin besar kehamilannya semakin ia manja pada suaminya. Baru kali ini Kirana hamil dalam keadaan 'saling mencintai' karena di dua kehamilan sebelumnya baik Kirana maupun Sakti belum menyatakan perasaan mereka yang sebenarnya. Hingga di kehamilan yang ketiga ini Kirana lebih banyak menuntut dan hanya Sakti yang boleh memenuhinya.


Sakti tidak pernah keberatan malah ia begitu senang ketika Kirana membutuhkannya.


"Sayang, ada apa ?" Sakti kembali bertanya karena Kirana tak juga bersuara di seberang sana.


"Mmm, gak apa-apa. Kamu terusin aja." Jawab Kirana.


"Oke, aku langsung telepon kamu pas meeting ini selesai." Sakti pun memutuskan panggilan itu dan kembali memimpin pertemuan yang sempat tertunda.


60 menit kemudian pertemuan itu pun selesai. Seperti yang sudah Sakti janjikan ia pun segera menghubungi istrinya itu.


Ini sudah panggilan ke 3 tapi Kirana tak juga menjawabnya hingga Sakti memutuskan untuk menghubungi nomor rumahnya.


"Hallo," terdengar suara khas anak kecil ketika panggilan itu terhubung. Dareel yang menerima panggilan itu.


"Sayang, ini Papa. Bisa ngomong sama Mama gak sebentar ?" Tanya Sakti.


"Mm Mama ? Mamanya udah pergi."


"Kemana?" Sakti mulai terheran karena biasanya Kirana selalu meminta izin padannya terlebih dulu.


"Mama pergi ke rumah sakit, katanya ade bayi udah mau ketemu kita. Tapi aku sama Abang gak di bolehin dulu ikut. Nunggu Oma dulu."


"Hah apa ??" Tanya Sakti dengan paniknya. Ia segera memutuskan hubungan telepon itu tanpa berkata-kata lagi.


Tiba-tiba nafasnya terasa berat, dengan paniknya ia mencari kunci mobil diatas meja.


"Ah sh*ttt ! Kenapa pas lagi butuh susah banget nyarinya." Sakti mencari penuh emosi padahal benda itu hanya terhalang beberapa kertas saja.


Setelah ia menemukan apa yang dicarinya Sakti pun segera berjalan dengan tergesa atau setengah berlari keluar dari ruangannya dan ia berpapasan dengan Fabian.


"Kak Kirana," ucap Fabian sama paniknya.


"I... Iya gue tahu Bi. Gue mau ke rumah sakit." Jawab Sakti dengan nafas tersengal.


"Ayo gue anterin." Jawab Fabian dan Sakti pun melemparkan kunci mobil yang ia pegang pada adiknya itu, dengan sigap Fabian menangkapnya.


Fabian mulai menyalakan mesin mobil sedangkan Sakti bergerak gelisah di sebelahnya. Wajahnya memucat, tangannya berkeringat. Tak pernah ia merasakan gugup seperti ini lagi.


"Bi cepet lah ! "


"Tenang Kak ! Kaya Lo yang mau lahiran aja !" Jawab Fabian sembari mulai mengeluarkan mobil Sakti dari area parkir.


Fabian memacukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata, dengan lihai ia menyalip beberapa mobil untuk mendahuluinya. Sedangkan Sakti masih tak bisa berkata-kata. Ia terus berusaha menghubungi istrinya itu namun tak kunjung terhubung juga.

__ADS_1


"Lo tau Kirana di rumah sakit dari siapa ?" Tanya Sakti masih dengan ponsel yang menempel di telinga nya.


"Renata hubungin gue berkali-kali pas rapat tadi tapi hp gue ketinggalan di meja kerja. Pas gue telepon balik, dia bilang Kirana hubungin dia beberapa kali dan nanyain soal melahirkan. Ternyata istri Lo ngalamin beberapa tandanya dan kak Kirana pun disarankan buat pergi ke rumah Sakit." Jelas Fabian tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jalanan.


"Tadi Kirana nelepon gue, tapi dia gak bilang apa-apa." Jawab Sakti masih dengan paniknya.


Tak lama mereka pun tiba di rumah sakit khusus ibu dan anak tempat Kirana Selalu memeriksakan kehamilannya. Sakti turun dari mobil terlebih dahulu meninggalkan Fabian yang memarkirkan mobilnya.


Setengah berlari sakti memasuki rumah sakit itu dan segera menanyakan keberadaan istrinya.


Ia kembali berjalan dengan tergesa setelah mengetahui di mana posisi Kirana yang saat ini tengah  melakukan pemeriksaan di ruangan khusus bersalin.


Terlihat Mbok Inah yang duduk menunggu di lorong rumah sakit dan Sakti pun menghampirinya.


"Mbok, saya hubungi berkali-kali tapi gak bisa. Mana ibu ?"


"Ibu di dalam Pak," jawabnya takut-takut karena Sakti terlihat lebih garang dari biasanya.


Tak banyak bicara, sakti pun segera mengetuk pintu yang ada di hadapannya dan membuka pintu itu dengan perlahan.


Terlihat Kirana terbaring di atas ranjang sembari meringis menahan sakit.


"Sayang..." Ucap Sakti seraya mendekati dan ia labuhkan kecupan di dahi istrinya.


"Kenapa tadi gak bilang?" Tanya Sakti sedikit kesal.


"Aku gak mau bikin kamu khawatir," jawab Kirana.


"Tapi gak gini juga Ki," ungkap Sakti masih merasa kesal.


"Aku sampai lupa tanda mau melahirkan karena terakhir melahirkan Dareel 8 tahun lalu," ujar Kirana sembari meringis.


"Maafkan aku sayang, seharusnya aku menghamilimu lebih cepat biar kamu gak lupa,"


Kirana memutar bola matanya malas mendengar ucapan suaminya dan Sakti tertawa melihatnya.


Keduanya tertawa bahagia dan merasa lega luar biasa ketika lahirlah seorang putri ke dunia. Kelahiran anak perempuan ini merupakan kejutan bagi Kirana juga Sakti yang memutuskan untuk tidak menanyakan jenis kelamin buah hati Kirana yang Kirana kandung.


"Selamat anaknya perempuan," ucap dokter yang membantu proses kelahiran anak mereka.


"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu... Sungguh Ki, aku cinta banget sama kamu." Bisik Sakti lirih dan tak hentinya ia menciumi puncak kepala Kirana.


***


Semua telah berkumpul di ruangan yang akan Kirana gunakan untuk beristirahat. Bahkan kedua anaknya menunggu kehadiran sang adik dengan tak sabaran. Celia pun menunggu di sana, duduk di atas pangkuan Fabian.


"Princess, kamu akan tetap jadi anak kesayangan Papa Sakti juga." Ucap Sakti yang membungkukkan tubuhnya agar dapat mencium pipi keponakannya dengan gemas.


"Celia senang punya adek Elang juga adek bayi perempuan." Jawab Celia dengan mata berbinar.


Tak lama seorang perawat memasuki ruangan dengan sebuah kereta bayi yang ia dorong.


Terlihat di dalamnya bayi berbalut selimut merah muda tengah tertidur.


Mata sakti berkaca-kaca begitu juga Kirana. Keduanya diliputi rasa bahagia yang luar biasa.


Sakti tak menyangka Tuhan masih memberikan kesempatan dirinya untuk berbahagia bersama wanita yang sangat ia cintai namun pernah juga ia sakiti. Ia menatap penuh cinta pada Kirana yang kini memangku putri kecil mereka.


"Ya Tuhan... Cetakkan Lo banget !" Ucap Fabian terkekeh. Dan semua mengiyakan tanda setuju.


"Katanya si ibu pasti benci banget sama bapaknya kalau anaknya mirip banget sama sama bapaknya" timpal Renata.


Deg !!! Seketika Sakti menoleh pada Kirana penuh tanda tanya dan Kirana hanya mengerutkan alisnya karena tak paham.


Sakti membawa putri kecilnya ke dalam pangkuan. Ia menatap lekat-lekat dan penuh cinta.


" Cinta Shakira Nugraha," ucap Sakti.

__ADS_1


"Hah?" Tanya Kirana.


"Nama Putri kita," jawab Sakti.


"Cinta karena ia memang bukti cinta kita. Shakira itu gabungan namamu dan namaku. Nugraha nama keluarganya." Jelas Sakti.


"Kamu suka ?"


"Iya aku suka," jawab Kirana sembari tersenyum.


***


Sudah 3 bulan berlalu sejak kelahiran Cinta. Bayi mungil itu tumbuh dengan pesat dan semakin menggemaskan. Ia semakin merekatkan hubungan kedua orangtuanya juga kakak-kakaknya.


Sakti terbangun ketika terdengar tangisan suara bayi yang tertidur di keranjang bayi tak jauh dari tempat tidur mereka. Kirana yang juga terbangun hendak bangkit namun sakti menahannya.


"Biar aku saja," ucap Sakti pada istrinya itu.


"Hai baby girl ? Kamu lapar?" Ucap Sakti seraya membawa cinta pada pangkuannya dan kemudian menyerahkannya pada Kirana yang telah duduk menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Jangan banyak-banyak Nak, itu punya Papa juga." Ucap Sakti melihat cinta meny*su dengan lahap pada Kirana.


"Ish.. apaan sih," ucap Kirana seraya mencubit gemas pinggang suaminya dan Sakti tertawa geli karenanya.


"Sayang, makin besar Cinta makin mirip aku. Apa benar kamu benci banget sama aku ?" Tanya Sakti.


Kirana memutar bola matanya malas, karena tak sekali dua kali Sakti menanyakan hal itu.


"Kalau benci memangnya kenapa," tanya Kirana menggoda.


"Aku lebih baik mati Ki," jawab Sakti.


"Ih gombal banget,"


"Beneran Ki, aku gak akan bisa sama wanita lain." Jawab Sakti.


Apa yang Sakti ucapkan memang benar adanya. Lelaki itu kini tak segan untuk menunjukkan rasa cintanya pada Kirana. Dan kesetiaannya pun tak usah di ragukan lagi.


Keduanya pernah berjalan melewati badai hebat ketika cobaan datang. Namun kini bisa bernafas lega karena setelah badai berlalu rasa cinta keduanya semakin kuat.


"Aku cinta kamu Kirana... Cinta banget sama kamu," bisik Sakti di telinga istrinya itu.


"Love you too," jawab Kirana dan kemudian mencium pipi suaminya.


"Ayo Cinta cepat bobo lagi. Papa mau buatin kamu adek baru," ucap Sakti sembari mencium gemas anaknya.


Dan Kirana kembali memberikan sebuah cubitan di pinggang suaminya.


Thank you for reading ❤️


Udahhh ya lunasss bonusnya


Mama Ki udah lahiran.


Makasih yang udah nungguin 🥰🥰🥰


Kalau bikin cerita Celia sama Collin ada yang mau baca gak ya ? Soalnya takut kalian bosen aja.


Jawab di komen dong.


Maaciw lagi yaa 😘😘


Episode ini aku dedikasi kan buat anakku yang hari ini 17 Oktober ulang tahun ke 10.


Happy Birthday teteh Bella.


Mimih loves you so much !!❤️

__ADS_1


__ADS_2