Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Tak Ada Lagi Harapan


__ADS_3

Happy reading ❤️


Kirana tiba disekolah tepat pada waktunya. Tanpa keluar dari mobil, kedua anaknya datang menghampiri dan memasuki mobil Kirana.


"Kita mampir dulu ke mall YYY ya, Mama harus belanja di supermarket nya." Ucap Kirana seraya mulai menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya.


Butuh beberapa belas menit untuk sampai di tempat yang jadi tujuannya. Kirana membukakan pintu mobil untuk anaknya yang kecil, sedangkan Davin ia lebih mandiri.


"Pegang tangan Mama," ucap Kirana pada kedua anaknya ketika mereka akan berjalan melewati pelataran parkir menuju gedung mall.


"Lihat ada mobil Papa !" Teriak Dareel dengan bahagianya.


Sebuah mobil sedan mewah milik Sakti ternyata terparkir tak begitu jauh dari mobil Kirana.


"Telpon Papa, Ma ! Telpon Papa," rengek Dareel. Sedangkan Davin terlihat acuh tak acuh.


"Sayang, mungkin Papa sedang bertemu kliennya. Kita tak boleh mengganggunya," bujuk kirana.


"Apa itu klien ?" Tanya Dareel.


"Mmm... Klien itu seseorang yang akan bekerja dengan Papa," Kirana berusaha menjelaskan agar anaknya mengerti.


"Pokonya telpon Papa ! Telpon sebentar !" Rengek Dareel.


Kirana mengalah, akhirnya ia mencari nama Sakti di kontak ponselnya dan menghubungi nomor itu.


Sementara itu dalam saku celana sakti ponselnya terus bergetar. Ia baru saja keluar dari lift menuju sebuah cafe ternama di mall itu.


Ia merogoh sakunya dan mengambil benda pipih itu, tertera nama Kirana disana.


"Kirana?" Sakti hendak menerima panggilan itu namun lambaian tangan dari seorang wanita yang telah duduk di dalam cafe mengurungkan niatnya itu. Sakti pun memilih untuk menolak panggilan dari istrinya Kirana.


Kirana lama menunggu namun pada akhirnya panggilan teleponnya di tolak oleh suaminya.


"Lihat sayang, Papa menolak panggilan Mama. Pasti Papa sangat sibuk." Ucap Kirana pada Dareel.


Dareel terlihat sedih. "Udah jangan nangis. Laki-laki gak boleh cengeng," ucap Davin sang kakak.


"Ayo... Mama belikan es krim yang banyak deh buat di rumah," bujuk kirana.


Meskipun Dareel terlihat kecewa namun akhirnya ia menuruti apa kata ibunya itu.


Dareel berjalan dengan terus mengusapi pipinya yang basah karena air mata.


"Nanti juga di rumah ketemu Papa," bujuk kirana lagi agar anaknya tidak menangis. Dareel pun menganggukan kepalanya.


Kini mereka telah sampai di sebuah supermarket, Kirana mendorong kereta untuk berbelanja sedangkan Davin menggenggam tangan adiknya dan berjalan beriringan mengikuti ibunya.


Di lain tempat, Sakti tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita dengan pakaian sexi dan polesan make up tebal. Wanita itu sengaja membuka 2 kancing teratas kemeja putihnya sehingga memperlihatkan belahan dada yang begitu jelas.


Sebagai lelaki normal, Sakti tentu saja tergoda beberapa kali ia melihat ke arah dada Vanya ketika mereka berbicara.


"Mas kenapa kamu ninggalin dan menghindari aku?" Tanya Vanya dengan mencebikkan bibirnya tanda tak suka dengan apa yang Sakti lakukan padanya.


"Maaf waktu itu aku harus kembali ke Jakarta karena ada sesuatu yang penting yang harus aku lakukan." Jawab Sakti.


"Lalu kenapa terus menghindari telponku? Bahkan pesanku tak satupun kamu balas," tanya Vanya lagi seraya mengaduk-aduk minuman di hadapannya.


"Apa yang kamu lakukan padaku jahat sekali," lanjutnya lagi.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku sibuk sekali," jawab Sakti. "Aku sibuk meniduri Kirana," batin Sakti dalam hatinya seraya membayangkan bagaimana panasnya percintaannya dengan Kirana pagi itu.


"Mas ?," Vanya menyadarkan Sakti dari lamunannya


"Ah, maaf aku sedang banyak pikiran." Jawab Sakti.


"Mas... Aku sangat kecewa dan sedih dengan apa yang kamu lakukan padaku. Tapi entah kenapa aku juga tak bisa marah,"


"Aku kan sudah meminta maaf berkali-kali," jawab Sakti.


"Tahukah kamu kenapa aku gak bisa marah ?" Tanya Vanya seraya menatap Sakti dengan mata sendunya.


Sakti menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Karena aku terlanjur menyukaimu," jawab Vanya yang kemudian membawa tangan Sakti dalam genggamannya.


"Bolehkah aku jatuh cinta padamu ?" Tanya Vanya seraya menggenggam tangan Sakti dan menatapnya penuh harap.


Sakti terkejut dengan apa yang di katakan wanita di hadapannya itu.


"Seorang gadis muda yang cantik dan pintar jatuh cinta padaku? Benarkah ini ? Tapi aku kan sudah menikah dan tidak muda lagi." Pikir Sakti dalam benaknya.


"Aku jatuh cinta padamu Mas. Sungguh..." Vanya kembali menyatakan perasaannya.


Perasaan Sakti begitu melambung tinggi. "Lihatlah Kirana, aku pun masih bisa mendapatkan wanita. Tidak hanya kamu saja yang dikejar." Batin Sakti.


Berhubungan dengan seorang wanita muda mungkin akan menjadi suatu tantangan baginya, ini akan lebih memacu adrenalin nya. Membuat hidupnya lebih hidup.


"Mas... Aku nungguin jawaban kamu loh... Bolehkah aku jatuh cinta padamu ?"


Sakti pun menganggukan kepalanya tanda menerima.


"Terimakasih kasih mas," ucap Vanya yang kemudian memberikan sebuah ciuman mesra di pipi Sakti.


"Tapi kamu tahu sendiri aku sudah menikah," ucap Sakti.


"Aku akan berusaha menerima dan mengerti Mas. Aku tak akan terlalu menuntut waktumu. Hanya saja jangan diamkan aku karena aku sangat tersiksa karena itu,"


"Baiklah, kita akan mencobanya," jawab Sakti tanpa berpikir panjang.


Dan mereka pun menikmati makan siang  yang telah tersaji.


***


Kirana berjalan dengan begitu banyak kantong belanjaan di tangannya. Kedua anak lelakinya mengikuti di belakangnya.


"Lihat itu Papa !" Ucap Dareel antusias.


Kirana pun menolehkan kepalanya dan terlihat Sakti tengah berjalan dengan seorang wanita dan memeluk erat pinggangnya.


"Siapa Tante itu ?" Tanya Dareel lagi.


"Ah itu teman Papa. Mmm belanjaan mama berat sekali tolong bantu bawakan," ucap Kirana seraya memberikan masing-masing satu kantong belanjaan pada anaknya.


"Kenapa Papa memeluk Tante itu ?" Dareel masih tak melepaskan pandangannya pada Sakti yang berjalan kian mendekat.


"Ayo sayang cepat nanti esnya mencair," Kirana terus berusaha mengalihkan perhatian anaknya.


"Jangan diliatin, ayo kita bantu mama dan pulang," ucap Davin dengan mata penuh kebencian pada ayahnya dan menggenggam tangan Dareel untuk mengikutinya.


Akhirnya Kirana bisa lebih dulu memasuki mobilnya tanpa terlihat Sakti. Kedua anaknya tiba-tiba terasa lebih diam dari sebelumnya.


"Nanti di rumah mau makan es krim rasa apa dulu ?" Tanya Kirana berusaha menghibur kedua anaknya.


"Terserah mama," ucap Dareel lesu sedangkan Davin diam tak berkata apapun.


"Kita dengerin lagu ya biar gak sepi,"


Kirana menyalakan mesin mobil juga music player nya.


Kebetulan sekali memutarkan sebuah lagu yang sering dinyanyikan mereka bertiga.


Kirana bernyanyi dengan ceria seolah tak  terjadi apa-apa tapi Davin bisa melihat di sudut mata ibunya air bening telah menggenang siap untuk membasahi pipi.


Bukannya Kirana tak ingin menghampiri Sakti dan wanita itu. Tapi tentunya apa yang ia lakukan akan memacu  sebuah keributan dan akan mempengaruhi anaknya. Kirana lebih peduli pada keadaan psikologis kedua anaknya daripada rasa sakitnya sendiri.


Tadi pagi Kirana berharap keadaan rumah tangganya membaik karena sikap sakti yang manis tapi kini harapannya telah pupus.


***


Sakti tiba di kantornya setelah lebih dulu mengantarkan Vanya ke kantor tempatnya bekerja.


Sakti segera menemui adiknya Fabian karena ia tak bisa hadir di acara ulang tahun Celia.


"Fabian udah datang Sar ?" Tanya Sakti pada sekretaris Fabian yang baru.


"Sudah Pak, beliau baru saja tiba," jawab Sarah.

__ADS_1


"Oh oke, kalau begitu saya masuk,"


Sakti mengetuk pintu Fabian dan melangkah masuk.


Fabian tengah duduk di kursi kebesarannya dengan tumpukan map di mejanya.


"Bi, hadiah ulang tahun Celia ada di bagasi mobil gue," ucap Sakti dan mendudukkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Fabian.


"Lo kemana aja?" Tanya Fabian tanpa melihat wajah kakaknya itu.


"Gue kerja lah," jawab Sakti dengan sedikit ketus ia merasakan nada suara Fabian yang penuh sindiran.


"Kalau Lo beneran kerja gak mungkin marah begini pas gue tanya," ucap Fabian yang kini memandang lekat wajah kakaknya.


"Gue cuma mau bilang, Lo lihat apa yang telah gue alamin Kak. Terlibat dengan perempuan lain bisa hancurin hidup Lo. Segini gue gak libatin perasaan didalamnya tapi Lo liat gue kehilangan orang yang gue cinta,"  ucap Fabian dengan sorot mata tajam menatap Sakti.


Sakti diam tak berkata. Ia merasa tak suka dengan perkataan adiknya itu.


Tanpa sepatah kata apapun Sakti berdiri dan meninggalkan Fabian begitu saja.


Sepanjang perjalanan ke ruangannya Sakti memikirkan perkataan Fabian. Ia yakin Fabian telah tahu apa yang dilakukannya. "bodo amat !," ucap Sakti kesal.


***


Sakti tiba dirumahnya pada malam hari. Ia ingat bagaimana tadi pagi ia berciuman dengan Kirana dengan mesra. Mungkin memperlakukan Kirana dengan baik tak menjadi masalah sekarang ini, meskipun masalah dengan Kirana belum usai tapi kini ia telah memiliki seorang kekasih maka posisinya sama dengan Kirana.


" Papa pulang," ucap Sakti.


Biasanya Dareel dan Davin akan menyambut kedatangan Sakti dengan antusias namun tidak kali ini. Mereka asik dengan kegiatannya masing-masing. Sakti sedikit terheran ketika mereka hanya sekedar menolehkan kepala melihat kedatangan Sakti dan kemudian acuh tak peduli.


" Kenapa mereka ?" Tanya Sakti ketika ia menghampiri Kirana.


"Kenapa memangnya?" Kirana mengangkat bahunya tak mengerti.


"Mereka lebih diam malam ini," ucap Sakti lagi.


"Mungkin sedang sibuk dengan PR juga mainannya," jawab Kirana asal.


Sakti pun berusaha menerima alasan itu.


Makan malam pun dilalui dengan keadaan yang begitu sunyi tak banyak kata yang keluar dari mulut kedua anaknya meski Sakti sudah berusaha mengajak mereka berbicara.


"Mama bacakan cerita lagi," ucap Dareel mengajak Kirana setelah selesai makan malam.


"Baiklah, ayo naik sekalian gosok gigi ya," Kirana dan anak-anaknya meninggalkan Sakti yang tengah menonton TV. Sakti menatap kepergian mereka dengan tak enak hati.


Seperti malam sebelumnya, Kirana kembali tertidur di kamar anaknya. Sakti yang tak bisa tidur akhirnya memangku Kirana untuk tidur bersama dengannya.


Mata Kirana terbuka ketika Sakti berusaha membaringkannya membuat mata Kirana dan Sakti saling menatap dalam jarak yang begitu dekat.


Untuk sesaat mereka saling menatap, hingga Sakti tak tahan lagi dan berusaha meraih bibir Kirana dengan bibirnya namun Kirana menolehkan kepalanya menolak ciuman itu.


Sakti memandang Kirana dengan penuh tanda tanya.


"Maaf aku sedang datang bulan," ucap Kirana bohong.


Sakti menolehkan kepalanya melihat kalender duduk yang berada di atas nakas.


"Bulanan ku datang lebih cepat bulan ini," ucap Kirana kembali berbohong. Sungguh saat ini ia tak mau Sakti menyentuh dirinya. Masih terbayang dengan jelas bagaimana suaminya itu memeluk seorang wanita tadi siang.


"Tidurlah," ucap Sakti yang kemudian berguling ke sisi lain dari tempat tidur itu. Kirana membalikkan badannya memunggungi Sakti.


Sakti memandangi punggung istrinya, ingin sakti membawa Kirana dalam pelukannya namun ia tahu Kirana pun bersikap dingin padanya. Lama Sakti memandangi tubuh Kirana dan itu membuatnya kembali berhasrat.


"Sial ! " Umpat Sakti yang bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya sendirian.


To be continued...


Thank you for reading ❤️


Like, komen dan caci makinya silahkan


Kabooooooorrrrrrr lagi ah 🤣

__ADS_1


__ADS_2