
Happy reading ❤️
"Jadi ayah akan bawa mereka kembali pulang ke Singapura dan kamu tidak bisa membantahnya," ucap ayah Kirana lagi dengan penuh penekanan dan begitu emosional.
"Tapi aku adalah ayahnya dan Kirana masih jadi istriku sejak ayah menyerahkan tanggung jawab atas diri Kirana padaku 10 tahun yang lalu." Jawab Sakti tegas.
Ayah Kirana terkejut tak menyangka Sakti akan menjawab seperti itu.
"Ya tapi kamu telah gagal baik sebagai suami ataupun sebagai ayah," ayah Kirana masih diliputi amarah.
Suasana di ruangan itu berubah tegang dan terasa lebih dingin padahal suhu tak berubah sedikitpun.
"Biarkan Kirana dan kedua anaknya yang memutuskan," akhirnya Robby mengeluarkan pendapatnya dan berusaha menengahi mereka.
"Walaupun aku lebih berat dengan pendapat ayah, aku juga ingin Kirana dan kedua keponakan aku untuk pulang ke Singapura tapi di sini Sakti juga benar, ia masih suami Kirana yang sah." Lanjutnya lagi.
"Semoga Kirana memutuskan hal yang tepat bagi dia dan kedua anaknya," ucap ayah Kirana yang kemudian pergi meninggalkan ruangan itu disusul oleh istri dan anaknya Robby.
Lama Sakti terdiam hingga ia mendudukkan dirinya di kursi yang berada tepat di sisi ranjang anaknya terbaring. Sakti bersyukur Davin tertidur hingga tak mendengar perseturuan antara dia dan kakeknya.
"Kenapa semua menjadi begitu sulit?" Tanya Sakti pada dirinya sendiri.
"Apanya yang sulit ?" Tanya Kirana yang baru saja datang dan tak Sakti sadari kehadirannya.
"Kamu udah datang Ki? Dari mana?" Bukannya menjawab, Sakti malah balik bertanya.
"Aku tadi pulang dulu sebentar, lihat keadaan Dareel."
Ah iya... Terlalu fokus pada Davin hingga Sakti sedikit melupakan anaknya yang kecil. "Apa aku emang seorang papa yang buruk?" Tanya Sakti dalam hatinya
"Mas?" Kirana terheran melihat Sakti yang terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Aku gak apa-apa, hanya kangen Dareel juga. Seminggu ini gak ketemu dengan dia."
"Jangan khawatir, aku bilang kamu sibuk jagain Davin. Aku gak berani ajak Dareel kesini karena Davin butuh banyak istirahat sedangkan kita tahu sendiri Dareel bagaimana aktifnya," Kirana terkekeh membayangkan anaknya yang kecil begitu aktif.
Sakti terpana melihat Kirana, istrinya itu selalu antusias bila membicarakan kedua anaknya. Dan lihatlah Kirana, meski dalam hatinya terdapat rasa kecewa yang luar biasa tapi ia tetap mengatakan hal positif pada anaknya.
"Terimakasih Ki..." Ucap Sakti dengan wajah sendunya.
"Hah ? Terimakasih untuk apa?" Kirana berkerut alis tak mengerti.
"Terimakasih telah menjadi ibu dan istri yang luar biasa,"
Kirana tercengang mendengar ucapan suaminya itu, seketika ia merasa salah tingkah apalagi Sakti mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh.
"Aku hanya lakukan semampuku, sebaik yang aku bisa dan aku masih banyak kekurangan," jawab Kirana.
"Percayalah... Kamu yang terbaik... Dan aku bersungguh-sungguh mengatakan ini,"
Untung bagi Kirana, Davin terbangun tak lama setelah Sakti mengatakan hal itu. Sungguh Kirana tak tahu bagaimana harus menanggapi ungkapan suaminya itu.
Mereka menghabiskan waktu bertiga dengan menonton TV dan kadang masih banyak orang yang mengunjungi Davin seperti malam ini kedua orang tua Sakti datang berkunjung.
Waktu berlalu terasa begitu cepat, pukul 11 malam Davin sudah kembali memejamkan matanya dan memasuki alam mimpi. Meninggalkan kedua orangtuanya yang setia berada disana untuk menemaninya.
"Ki... Davin besok sudah boleh pulang kan ?." Sakti memulai pembicaraan, memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Hu'um," jawab Kirana.
Sakti pun berjalan mendekati Kirana, ia duduk tepat di hadapan istrinya itu.
"Pulanglah ke rumah kita... Rumah yang selalu menjadi milikmu... Rumah dimana kita berempat hidup bersama." Sakti tak dapat menahan lagi apa yang ada dalam hatinya.
__ADS_1
Kirana terdiam, wajahnya yang tenang seperti tak kaget dengan permohonan suaminya itu.
Sakti bangkit dari tempat duduknya, kemudian ia berlutut di hadapan Kirana dan membawa tangan Kirana dalam genggamannya.
"Aku mohon kembalilah padaku. Mungkin kamu sekarang merasa bosan mendengar ini, tapi aku tak akan pernah berhenti mengatakannya... Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu... Aku ingin kamu dan anak-anak pulang ke rumah kita seperti dulu. Aku akan terus berusaha memperbaiki diri untuk kalian." Sakti menatap dalam mata Kirana ketika mengatakan itu.
"Maaf bila ini membuka kembali lukamu tapi sumpah demi Tuhan, aku sudah tak ada hubungan lagi dengan perempuan itu. Aku tak tahu dia akan muncul di acara kemarin, aku tak ada janji untuk bertemu dengannya. Waktu itu aku benar-benar ingin bersamamu. Seperti sekarang ini... Aku ingin kembali bersamamu... Jadi ku mohon pulang lah ke rumah kita," ucap Sakti memohon pada istrinya itu.
"Aku sudah memikirkan hal ini sebelum kamu meminta. Aku sudah membuat keputusan... Dan ini yang terbaik untuk kita dan anak-anak," jawab Kirana tenang.
"Apa yang kamu putuskan Ki ?" Tanya Sakti cemas.
"Kamu akan mengetahuinya besok... Dan apapun itu semoga kamu bisa menerima dan menghargai keputusan aku," jawab Kirana dengan tatapan matanya yang lembut.
"Apa Ki.. apa yang kamu pilih ? Kamu mau pulang kembali ke Singapura bersama anak-anak ? Kamu mau ninggalin aku lagi ?" Tanya Sakti frustasi.
"Jangan menekan aku, aku mohon... kamu akan tahu jawabannya besok. Bersabarlah..." Jawab Kirana seraya membelai wajah suaminya itu dan mengakhiri pembicaraan mereka.
***
Sakti datang ke kantor pagi sekali hari ini. Masih dengan pakaian yang tadi malam ia kenakan, bahkan ia tak mengenakan pakaian kerjanya. Saat ini dirinya ingin berlari dan bersembunyi dari kenyataan pahit yang akan ia hadapi.
Kirana akan meninggalkannya lagi hari ini...
Semua jadwal ia batalkan, tak ingin melakukan apapun selain menyepi dan menyesali diri.
Sakti menyenderkan tubuhnya pada sudut ruangan dan memejamkan mata. Memikirkan hal yang membuat hidupnya hancur berantakan, meskipun banyak hal yang telah ia lakukan bahkan sampai bertaruh nyawa untuk anaknya tapi sepertinya itu tak cukup untuk menebus segala salah dan dosanya.
Sakti membayangkan ketika ia pertama kali bertemu Kirana dalam perjodohan dan di hari yang sama ia mencuri sebuah ciuman dari wanita yang menjadi istrinya itu.
"Aahhh... Harusnya aku sadar... Dari awal aku memang sudah jatuh cinta padanya." Batin Sakti dalam hatinya.
Flashback kehidupannya kembali berputar, ia ingat pertama kali Kirana mengandung anak pertama mereka, ia begitu bahagia akan menjadi seorang ayah dan ketika anaknya lahir ke dunia maka makin sempurna rasa bahagianya.
Sakti kembali meneteskan air matanya.
Sakti begitu marah ketika mendapati Kirana masih berhubungan dengan mantan kekasihnya, ia tak bisa menerima Kirana mencintai lelaki lain karena Sakti menginginkan Kirana hanya mencintainya dan dengan bodohnya ia malah menyakiti isterinya itu bahkan hingga berselingkuh hanya karena ingin membalas rasa sakitnya tanpa ia sadari bahwa Kirana memang hanya mencintai dirinya saja.
Sakti pun kembali meneteskan air matanya...
Titik terendahnya adalah ketika Kirana memutuskan untuk meninggalkannya, itu membuat Sakti sadar bahwa ia sangat mencintai Kirana dan tak ingin kehilangan kedua anaknya.
Dia telah banyak melakukan kesalahan, ia menyakiti istri dan anaknya tapi Kirana sebagai istri masih membela namanya di hadapan kedua anak mereka sehingga Davin yang membencinya bisa menerima kembali ia sebagai Papa.
Kali ini Sakti menangis dan tertawa secara bersamaan.
Kirana akan pulang hari ini... Pulang ke tempat yang Kirana inginkan, bahkan istrinya itu memberikan sebuah belaian lembut di wajahnya tadi malam, mungkin belaian terakhir sebagai tanda perpisahan.
"Ki... Aku cinta kamu... Sungguh..." Lirih Sakti dalam lamunannya.
Fabian yang berdiri tak jauh dari kakaknya itu dapat melihat dan mendengarnya dengan jelas. Terlalu berat beban yang Sakti rasakan saat ini, hingga kehadiran adiknya saja tak ia sadari.
***
Siang itu Fabian mengunjungi Kirana yang sedang berkemas untuk pulang. Orang tua Kirana dan kakaknya berada disana. Bahkan Dareel pun ada ikut menjemput kepulangan kakaknya.
"Kak... Bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Fabian pada Kirana.
"Sure, Bi. Kamu mau ngomong apa?"
"Hanya berdua boleh?" Tanya Fabian lagi.
__ADS_1
"Tentu... Ayo bicara di luar" jawab Kirana.
Disinilah mereka duduk berhadapan di sebuah kantin rumah sakit.
"Kak, aku akan langsung pada intinya... Aku sudah tahu kakak akan kembali ke Singapura hari ini. Tapi bisakah kakak memberikan kesempatan pada kak Sakti sekali ini saja ? Kurasa dia sudah menyesali segala kesalahannya. Bila kak Kirana memberikan kesempatan namun kak Sakti kembali menyakiti kakak, maka aku adalah orang pertama yang akan menghajarnya dan akan membantu kak Kirana untuk ninggalin dia,"
Kirana mendengarkan permintaan adik iparnya itu dengan tenang dan seksama. Ia tersenyum sebelum mulai berbicara.
"Bi, aku sudah memutuskan untuk pulang kemana dari beberapa hari yang lalu dan ini tak bisa diganggu gugat. Tak ada seorangpun yang dapat mempengaruhi keputusan aku termasuk kamu atau keluargaku. Tapi aku ucapkan banyak terimakasih atas segala perhatian dan pertolonganmu," jawab Kirana tenang.
Fabian menghela nafasnya, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi tapi setidaknya ia telah berusaha untuk membantu kakaknya itu.
***
Sakti tiba di rumahnya pada pukul 10 malam. itupun karena bujukan Fabian agar ia pulang. Seharian ini ia tak mengerjakan apapun selain menyepikan diri, bahkan ia tak sanggup untuk menemani kepulangan anaknya dari Rumah Sakit. Sakti tak sanggup melepaskan kepergian Kirana untuk meninggalkannya lagi.
Dengan langkah gontai ia berjalan memasuki rumahnya yang kini memang terasa begitu dingin dan sepi. Rumah itu seolah tak bernyawa semenjak ditinggal istri dan kedua anaknya.
Sakti mendudukkan dirinya diatas sofa besar di ruang keluarga, seperti yang biasa ia lakukan sebelumnya yaitu membayangkan kehadiran Kirana dan kedua anaknya disana.
Sakti melihat 2 mainan diatas meja, mainan yang merupakan pavorit anaknya yang kecil Dareel "ah khayalan ku benar-benar terasa semakin nyata saja," gumam Sakti lirih.
Ia bahkan dapat melihat siluet tubuh Kirana yang berjalan menghampirinya dari arah dapur, Sakti tersenyum menikmati khayalannya itu.
"Kamu dari mana baru pulang jam segini? Kenapa masih pakai baju yang tadi malam ?"
Sakti tersenyum puas, khayalannya kali ini terasa begitu nyata. Ia bisa mendengar suara Kirana.
"Aku tanya malah senyum-senyum. Aku tanya kamu dari mana jam segini baru pulang ?"
Sakti memejamkan matanya menikmati omelan Kirana yang terasa makin nyata saja.
"Sepertinya aku harus mulai menemui dokter jiwa sekarang," ucap Sakti sembari menutup matanya.
"Kamu kenapa baru pulang ? Kamu gak nakal lagi kan ?" Tanya Kirana seraya membelai wajah Sakti dengan tangan hangatnya.
Seketika Sakti tersentak karena merasakan belaian hangat di wajahnya. Ia pun menahan tangan itu dengan tangannya dan segera membuka mata.
"Ki... Kirana ?" Tanya Sakti dengan membulatkan matanya tak percaya, dan ia mendapati Kirana yang nyata berdiri tepat dihadapannya.
"Iya ini aku... Aku pulang," jawab Kirana dengan senyuman yang terukir di wajah cantiknya.
To be continued...
Thank you for reading ❤️
Mumpung hari Senin, kalau memang suka novelnya yuk vote 🥰🥰🥰
terimakasih yang sudah baca, like dan komen ❤️
terimakasih yang sudah memberikan hadiah dan vote ❤️
tons of love for you guys 😚❤️
otw ending yaaa Papa Sakti...
Oia genks mau rekomen novel keren yang penuh inspirasi dengan gaya bahasa yang memanjakan jiwa dan raga
pasti sebagian reader udah tau bagaimana kerenya karya author ketjeh yang satu ini.
kuy kepoin 😍😍😍😍
__ADS_1