Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Masih Suamimu


__ADS_3

Happy reading ❀️


Sakti meraup wajahnya frustasi.


"Apa lebih baik gue mati ya Bi?" Tanya Sakti pada adiknya itu.


Tindakan yang Sakti lakukan karena nafsu membawanya kedalam kesengsaraan. Sekarang ia berusaha memperbaiki semuanya namun ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Menyesal pun tiada guna.


Tak terasa air bening jatuh dari pelupuk matanya.


"Halah masa jagoan cengeng begini. Kaya anak gadis lagi PMS aja lo, Kak." Ledek Fabian pada kakaknya itu.


"Lagian kalo Lo mati masalah selesai ? Yang ada istri Lo bakal jadi rebutan laki-laki yang jauh lebih gantengΒ  dari Lo. Mau ?" Fabian memanas-manasi.


Sakti mengangkat wajahnya dan menatap tajam adiknya itu.


"Sembarangan Lo kalo ngomong Bi !" Ucapnya tak suka.


Fabian terkekeh mendengar itu.


"Kalau emang gak rela. Lo harus kuat berusaha bukan menyerah. Banyakin do'a bukan banyakin dosa. Lagian gak inget umur apa ? Masih berantem aja. Lawan siapa sih sampai bisa KO begini," tanya Fabian.


"Lo tinggal pake rok udah mirip Mami, ngomel mulu," kesal Sakti.


"Gue tanya Lo berantem sama siapa ? Tar gue yang beresin,"


"Robby," jawab Sakti singkat.


"Robby kakak ipar Lo ?" Tanya Fabian sembari tertawa.


Sakti menganggukkan kepalanya.


"Lo beruntung masih bisa pulang gak masuk RS di sana. Segitu ipar Lo masih punya perasaan."


"Lo ngapain kesini sih Bi ? Bukannya lagi cuti kawin?"


"Hendrik nelpon, bilang Lo masuk RS lagi. Gue gak mungkin biarin Kakak gue yang lagi mellow ini sendirian. Sana telpon anak Lo, bilang lagi sakit. Video call juga biar mereka percaya. Udah ini jangan mikir mati. Ayo putus asa jangan semangat !" Fabian kembali meledek kakaknya itu.


Sakti mendelikkan matanya tanda tak suka tapi ia menurut juga pada adiknya itu.


"Makasih Bi udah nemenin gue,"


Fabian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Makasih juga bantuin masalah gue sama cewek itu. Gue udah nemuin dia kemarin dan bilang kalo gue udah tau belangnya dia. Semoga dia gak ngejar gue lagi," ucap Sakti.


"Iya... Semoga aja. Udah jangan banyak pikiran Kak ! Lo fokus sehat dulu. Biar bisa berjuang lagi buat rumah tangga Lo."


Sakti tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


***


Seminggu kemudian Sakti sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Hal pertama yang ia lakukan adalah menemui kedua anaknya yang masih berada di Jakarta dan kebetulan berada di rumah orangtuanya.


Sakti bersyukur Kirana masih belum kembali ke Singapura membawa kedua anaknya. Meskipun sulit untuk menjalin kedekatan seperti dahulu tapi ia tak menyerah.


Tanpa Sakti ketahui Kirana terus memproses perceraiannya. Bukannya tak memikirkan apa yang telah Sakti utarakan padanya tapi untuk saat ini hatinya masih belum tersentuh dengan keteguhan suaminya itu.


Seperti saat ini Kirana hadir dalam persidangan perceraian perdana mereka dengan dress kemeja sebatas lutut berwarna hitam, sepatu stiletto nude, rambut coklatnya tergerai indah. Bibir ranumnya ia poles lipstik berwarna natural namun tetap terlihat menggoda di mata Sakti.


Sakti hampir saja meneteskan air liurnya ketika Kirana yang datang terlambat memasuki ruang sidang berjalan dengan anggun. Ini pertemuan pertama semenjak pengakuan perasaan mereka waktu itu di Semarang.


Sepanjang persidangan Sakti tak dapat berkonsentrasi karena matanya terus tertuju pada istrinya itu sedangkan Kirana tak sekalipun melihat padanya.


Tahap pertama persidangan yaitu mediasi. Sakti memberikan beberapa bukti kuat tentang usahanya untuk memperbaiki diri. Majelis hakim mengabulkan keinginan Sakti untuk melakukan mediasi hingga semua terapi dan konseling nya selesai. Sakti secara tegas mengatakan tak ingin bercerai.


Dapat Sakti lihat raut wajah Kirana yang berubah sendu karena kecewa. Ia terlihat berbicara dengan pengacaranya. Entah apa yang Kirana bicarakan dengan pengacaranya itu, ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesekali bibirnya bergerak ketika berbicara dan itu tak luput dari perhatian sakti. Ia sangat merindukan bibir itu. Beberapa kali Sakti menarik nafas dalam untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Hingga persidangan selesai, tak sekalipun Kirana melihat pada suaminya itu. Ia langsung meninggalkan ruang sidang ketika semuanya telah selesai.


Sakti yang berbicara dengan pengacaranya tak bisa mengejar Kirana yang pergi begitu terburu-buru.


Sepanjang perjalanan pulang ke kantornya, dalam kepala Sakti begitu dipenuhi oleh bayangan Kirana yang begitu berubah penampilannya. Belum juga jadi mantan Kirana sudah berubah jauh lebih cantik berbeda dengan Sakti yang terlihat lebih kacau.


Di lain tempat, Kirana masih tak bisa menetralkan debar jantungnya yang memompa lebih cepat. Pandangan Sakti sepanjang sidang begitu membuatnya salah tingkah. Kirana lebih memilih untuk segera pergi meninggalkan karena ia belum siap untuk berbicara jika Sakti terus menatapnya seperti itu.


***


Sabtu siang Sakti menjemput kedua anaknya untuk menghabiskan waktu bersama di akhir pekan.


Dareel telah bersiap, namun tidak dengan Davin. Anak tertuanya itu seperti enggan untuk pergi dengannya.


"Hanya Kirana yang bisa membujuknya," pikir Sakti dan ia pun meminta asisten rumah tangga di rumah itu untuk memanggilkan Kirana yang tak mau menemuinya.


"Ibu, Bapak ingin ketemu Ibu." Ucap wanita yang biasa di panggil Mbok Inah itu pada Kirana.


Kirana menghentikan kegiatannya yang sedang membaca buku novel.


"Kenapa ?" Tanya Kirana.


"Saya kurang tahu, tapi Bapak menunggu Ibu di bawah."


Kirana mengambil pashmina dari lemarinya untuk menutupi tubuh atasnya yang hanya memakai kaos bertali spaghetti.


Dengan debaran jantung yang hampir menggila, Kirana berjalan menuruni tangga untuk menemui Sakti.


Sakti duduk di ruang tamu, Kirana pun datang menghampiri dan duduk tak jauh dari suaminya itu dengan Davin di sampingnya.


"Kenapa ?" Tanya Kirana tanpa basa-basi.


"Aku ingin bawa anak-anak untuk main tapi Davin sepertinya gak mau. Gimana kalau kamu ikut aja? Mungkin Davin juga mau ikut kalau bersamamu" jawab Sakti.


"Loh kenapa gak mau ? Tadi kan katanya mau." Ucap Kirana.


"Sayang, udah Mama bilang kan tidak boleh seperti ini. Papa sayang banget sama Abang. Kasihan Papa yang kangen udah seminggu ini gak ketemu Abang." Bujuk Kirana.


Sakti terus memperhatikan Kirana. Sadar diperhatikan, Kirana semakin mengeratkan kain pashmina yang menutupi tubuhnya. Tatapan mata Sakti membuatnya menggigil.


Kirana terus membujuk hingga pada akhirnya Davin pun bersedia untuk pergi bersama Dareel juga Sakti.


"Terimakasih." Ucap Sakti pada Kirana karena telah berhasil membujuk Davin.


"Sama-sama," jawab Kirana singkat.


"Kamu ikut aja yu Ki? Kita makan malam, udah lama juga kan kita nggak pergi bareng?"


"Maaf gak bisa, aku ada janji sama teman malam ini." Jawab Kirana.


"Sama siapa?" Tanya Sakti dengan tak enak hati.


"Sama teman aku,"


"Siapa ?" Sakti terus bertanya.


"Kurasa aku pergi dengan siapapun bukan urusan kamu lagi," jawab Kirana.


"Sama siapa Ki ?" Sakti terus mendesak.


Hatinya sudah terasa ngilu membayangkan Kirana pergi dengan lelaki lain.


"Ki.... meskipun kamu tak suka, aku ini masih suami kamu," ucap Sakti mengingatkan.


"Aku masih berhak tahu kamu pergi kemana dan dengan siapa,"


"Aku pergi sama Renata. Siapa lagi temen dekat aku kalau bukan dia."

__ADS_1


"Renata ?" Tanya Sakti lagi.


"Iya, kamu gak percaya? Kayanya kamu emang susah ya per.."


"Percaya. Aku percaya sama kamu." Jawab Sakti cepat, ia memotong pembicaraan Kirana.


Kirana pun mengantarkan kepergian Sakti dan kedua anaknya hingga pintu. Hal yang sudah lama sekali tak ia lakukan. Kirana menarik nafasnya dalam ketika bayangan masa lalu menghampirinya.


"Aku pergi," ucap Sakti seraya berjalan beriringan dengan kedua anaknya. Namun baru juga beberapa langkah, Sakti membalikkan badannya dan berjalan menghampiri Kirana.


"Jangan pulang terlalu malam," ucap Sakti malu-malu.


Kirana tersentak, tak menyangka Sakti akan mengatakan itu.


"Mau aku jemput ?" Tanya Sakti lagi.


"Gak usah, aku udah biasa sendirian." Jawab Kirana.


"Baiklah... Hati-hati," jawab Sakti dengan wajah kecewa.


Kirana menganggukkan kepalanya.


***


Sepanjang perjalanan Sakti berpikir. Kirana adalah wanita yang mandiri, sejak awal menikah Kirana yang dulunya begitu di manja kedua orangtuanya berubah mandiri tak banyak bergantung padanya.


Sangat jauh bila dibandingkan dengan Renata yang sangat dimanjakan Fabian. Renata selalu diantar supir atau Fabian kemanapun pergi, tapi tidak dengan Kirana.


Fabian melakukan itu untuk memenangkan hati istrinya Renata.


"Apa Kirana juga melakukan itu untuk memenangkan hatiku ?" Pikir Sakti.


Mereka memang menikah karena perjodohan. Sakti ingat betul sepanjang pernikahan mereka, Kirana selalu memanjakan dan memperhatikan segala kebutuhan dirinya. Sehingga Sakti yang lebih banyak bergantung pada Kirana bukan sebaliknya.


Sakti begitu menyesal sekarang. Ia ingin sekali merasakan bagaimana Kirana bergantung dan membutuhkannya.


"Aku masih suamimu Ki... kembali lah padaku. Jika kamu kembali lagi, kini giliran aku yang akan memanjakanmu," gumam Sakti lirih.


Bersambung....


mau kasih visual versi author yaa... kalau kurang berkenan silakan pakai imajinasi masing-masing.


Kirana




Sakti




Adam Bradley



Vanya



btw kalian tim nya siapa ? balas di kolom komen dong.


saya suka keributan πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


hepi wiken everibodih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2