
Happy reading ❤️
"Saya rasa, saya tidak perlu memikirkan apapun tuan Abraham. Jawaban saya akan selalu sama,"
"Anda tidak tahu berurusan dengan siapa tuan Fabian Nugraha," ucap lelaki itu dengan tatapan menyeringai.
" Anda juga tidak tahu tengah berurusan dengan siapa tuan Abraham," jawab Fabian sinis dan menghempaskan cekalan lelaki itu dengan kasar.
Fabian mengibas-ngibaskan tangannya seolah ada kotoran yang menempel disana sembari terus melangkah kan kakinya meninggalkan lelaki tua itu.
Tuan Abraham yang melihat itu semakin merasa terbakar hatinya. "Berani sekali bocah tengik itu menolak ku," geramnya menahan amarah. Ia merogoh benda pipih di dalam saku celananya dan menghubungi seseorang disana.
"Selidiki lelaki bernama Fabian Nugraha. Segala sesuatu tentang nya. Termasuk tentang kehidupan pribadinya, dan dalam waktu secepatnya serahkan padaku semua hasil penyelidikan mu" ucap lelaki itu pada lawan bicaranya dengan gigi gemeletuk menahan marah.
Lelaki itu meninggalkan coffee shop dengan penuh rasa kecewa dan berjalan menuju mobil mewahnya yang sedang terparkir dimana sang sopir dan seorang wanita menunggu disana.
"Gimana papa ? Apa Bian bersedia ?" Tanya wanita itu dengan tak sabaran.
"Setidaknya tunggu aku masuk dulu, baru bertanya." Gerutu lelaki tua itu.
"Maaf papa, tapi aku sudah tidak sabar menanti berita darimu,"
Tuan Abraham menarik nafasnya yang terasa berat ketika ia akan mengatakan hasil penawaran nya.
"Fabian, menolak mentah-mentah apa yang sudah aku tawarkan." Ucapnya dengan nada kecewa.
"Bagaimana mungkin dia menolak sesuatu yang menguntungkan dirinya papa ? Aku tidak mengerti. Kurang apa aku ini ?" Ucap Sarah dengan nada meninggi.
"Tenang Sarah, kita cari cara lain. Serahkan semua pada Papa. Akan ku buat dia bertekuk lutut padamu," ucap tuan Abraham dengan penuh percaya diri.
"Iya Papa, aku mohon," jawab Sarah penuh harap.
***
Fabian tiba di apartemennya yang masih gelap. Dia berjalan dan menyalakan lampu untuk menerangi.
Mengambil minuman dingin dari sebuah bar mini yang berada disana, berharap minuman itu dapat sedikit menenangkan nya.
Fabian berdiri memandang gemerlap nya kota Jakarta di malam hari dari ketinggian dengan sebotol minuman dingin ditangannya.
"Aku lebih takut Jamie mendekati lagi Renata dibandingkan ancaman lelaki tua itu. Aku tak peduli dengan apa yang akan dia lakukan," batin Fabian dalam benaknya.
Ya Fabian telah melalui banyak cobaan pahit dalam hidupnya membuat dia tak takut untuk menghadapi sesuatu di depan sana yang akan kembali mengujinya. Selama Renata tidak dengan lelaki lain maka dirinya akan baik-baik saja.
Fabian terus menatap ke arah luar berpikir tentang Renata. Sampai dia menghubungi seseorang di ponselnya.
"Tolong awasi mantan istriku, awasi dengan siapa saja dia bertemu," ucap Fabian dengan lawan bicaranya dan kemudian mengakhiri panggilan singkat itu.
Fabian melepaskan dasinya dengan kasar, membuka satu persatu kancing kemejanya, melepaskan celananya . Dirinya berjalan menuju kamar mandi dan menyalakan shower dengan air dingin.
__ADS_1
Dirinya berdiri di bawah guyuran air shower yang dingin berharap hatinya yang terasa panas karena cemburu dapat kembali mendingin.
Menyugar rambutnya dengan frustrasi berkali kali.
"Aaarrrgggggghhhh Renata," geramnya tertahan sembari memukul mukul dinding dengan tangannya berusaha menyalurkan kesakitan nya.
***
Telah hampir satu pekan sejak penawaran yang dilakukan ayah Sarah namun belum ada sesuatu pun yang terjadi.
Fabian masih menjalani hari-harinya seperti biasa. Dirinya merasa lebih sedikit tenang karena menurut informasi yang didapat nya Renata belum juga menemui lelaki lain. Mungkin karena dokter Jamie masih menghadiri seminar yang pernah ia ceritakan.
Hubungan dengan Sakti masih sedikit dingin. Sakti seolah-olah menjaga jarak darinya tapi Fabian tak ambil pusing. Mungkin kakaknya itu memerlukan waktu sendiri.
Fabian tenggelam dalam pekerjaannya hingga tak terasa waktu terus berlalu. Malam ini dirinya akan menjemput Celia di kediaman Renata.
Waktu menunjukkan pukul 6 sore ketika Fabian meninggalkan kantornya dan membelah jalanan ibu kota untuk bertemu anaknya dan tentu saja untuk bertemu renata. Fabian berharap dengan bertemu mantan istrinya itu dapat mengobati sedikit rindunya.
Renata membuka pintu ketika Fabian datang untuk menjemput anaknya Celia.
"Masuk Bi," ajaknya dengan senyum manis yang melengkung di bibir Renata. Mati-matian Fabian menahan diri untuk tidak memeluk nya juga menahan diri untuk tidak menarik tubuh yang ia rindukan itu dalam kukungan nya. Pikiran liarnya sedikit membuat Fabian tersiksa.
"Kenapa Bi ? Diem aja." Tanya Renata dengan mencebikkan bibirnya.
"Gak apa-apa Re. Biasa banyak kerjaan. Mmmm kamu udah makan Re ?"
"Belum Bi. Aku juga baru pulang kantor. Baru aja selesai mandi," jawab Renata seraya mengibas halus rambutnya yang panjang.
Renata hapal betul arti pandangan mata Fabian, membuatnya sedikit merona. Bila saja mereka masih bersama Renata yakin dirinya akan segera berada di bawah kendali tubuh Fabian. "Ya Tuhan, apa yang kupikirkan?" Batin Renata dengan tubuh yang berdesir. "Bagaimana mungkin aku membayangkan hal seperti itu," lirihnya seraya menyentuh pipi nya yang terasa panas.
" Re ?" Tanya Fabian yang heran melihat Renata salah tingkah.
"Mmm ya Bi ? Sebentar aku bereskan keperluan Celia."
"Temani aku makan yuk ?"
Renata berpikir untuk beberapa saat dan kemudian menganggukan kepalanya tanda setuju dan Fabian tersenyum bahagia melihat itu.
***
Kini mereka tengah duduk bertiga di tempat makan yang biasa mereka kunjungi dulu.
Rasa rindu akan suasana seperti ini menyusup dalam hati Fabian juga Renata.
Celia pun terus mengukir senyum di wajah polosnya itu. Tak bisa Renata dan Fabian pungkiri bila Celia akan terlihat lebih ceria ketika mereka bersama.
"Ayo makan, Sayang," ucap Renata sembari memberikan suapan pada anaknya itu.
"Kamu juga Re, ayo makan." Ucap Fabian yang sedari tadi tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Renata.
__ADS_1
"Iya Bi, bentar aku nyuapin Celia dulu,"
Fabian terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu dan dengan nafas berat dia mulai berbicara.
"Kak Jamie menemui ku beberapa hari yang lalu," ucap Fabian dengan menahan sakit.
" Dia mengontrol kesehatan ku dan menanyakan.."
"Dia mengunjungi ku di kantor satu kali dan mengajak ku makan malam namun aku menolaknya. Setelah itu aku tak pernah bertemu dengannya lagi Bi" ucap Renata memotong pembicaraan Fabian.
Fabian diam, dirinya merasa lega ketika Renata tak menutupi kejadian yang telah Fabian saksikan sendiri ketika melihat Jamie berada di kantor Renata.
"Aku juga sudah tidak memiliki sekretaris Re. Aku sudah memberhentikan nya,"
Meski Renata tak meminta itu, namun bisa Fabian lihat air muka Renata yang berubah lega.
Ya ada sesuatu dalam diri mereka yang sulit untuk saling diungkapkan. Namun saling tahu apa yang diinginkan batin masing-masing.
Merekapun menikmati makan malam itu dengan hati yang lebih tenang dan Fabian kembali mengantarkan Renata setelah makan malam itu usai.
"Ayo cuci kaki, tangan dan gosok gigimu Princess," ucap Fabian ketika mereka telah sampai di apartemen Fabian.
"Sebentar lagi Daddy, aku belum mengantuk" jawab Celia padahal dirinya telah berulang kali menguap.
Fabian terkekeh melihat tingkah lucu putrinya itu.
"Ayo kesayangan Daddy, besok kita akan bermain dan membeli es krim," ucap Fabian seraya memangku tubuh gadis kecil itu dan membawanya ke kamar mandi.
Fabian membacakan buku cerita hingga Celia tertidur dan memberikan kecupan di kening putrinya itu seraya membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh Celia.
Ddrrrtt ddrrrtt.. ponselnya yang berada di atas nakas bergetar dan terlihat lah sebuah pesan yang bertuliskan nama Sakti di sana.
Sakti : tolong di baca Bi
Pesan dari Sakti itu beserta sebuah link yang menghubungkan dengan situs berita online.
Fabian pun menurutinya
"Skandal Eksekutif Muda Terkuak" judul dari artikel itu
"Seorang eksekutif muda berinisial FN yang sangat sukses dan merupakan salah satu pewaris dari perusahaan yang ternama di Indonesia melakukan sebuah skandal yang sangat memilukan.
FN di duga telah memperkosa dan menyekap seorang wanita selama bertahun-tahun sehingga menyebabkan wanita itu bunuh diri karena depresi. FN pun di gugat cerai oleh istrinya karena perilaku buruk yang selalu diterima istrinya.
FN bla bla bla......
Fabian terus membaca artik berita yang sepertinya memang ditujukan untuknya.
Tbc...
__ADS_1
Thank you for reading ❤️
Like dan komen ya kakak2 baik hati 😚😚