Terikat Dusta

Terikat Dusta
Pesta Lakn*t


__ADS_3

"Oke Renata, minggu depan setelah semua pekerjaanku selesai bersiaplah karena aku akan mengejarmu," ucapku dalam hati dengan perasaan berbunga-bunga.


Seminggu ini pekerjaanku benar benar padat. Menyusun semua yang dibutuhkan untuk kesuksesan kerjasama pertamaku ini. Meskipun begitu masih ku sempatkan diri untuk sekedar memandang dari jauh Renata kekasih hatiku. Kadang aku tersenyum sendiri bagaimana bisa aku begitu menyukai wanita hanya karena pertama kali bertemu.


Seandainya pekerjaan ini tak menyita waktu sudah aku kejar wanita itu.


Terdengar satu notifikasi pesan masuk dan tertera nama  Alex di sana. Alex adalah sahabat ku ketika menimba ilmu di Amerika dulu bahkan kami menempati gedung apartemen yang sama. Alex adalah anak tunggal pewaris Salim grup. Salah satu perusahaan besar juga di Indonesia.


Alex : Wiiiih congrats man ! Udah gue bilang lo pasti sukses dan sebagai hadiah buat lo, gue adain party weekend ini.


Fabian : Thanks Alex, party apaan buat gue ****** ? Emang itu bachelor party elu. Pake alesan buat gue segala.


Alex : Hahahahhahaha iya tapi karena kesuksesan lo, gue bikin party gede gedean. Lo liat aja. Jangan panggil gue Alex kalo party nya gak panas.


Fabian : terserah dah, gue ikut aja. Udah ya ganggu aja lo. Gue banyak kerjaan.


Alex : Temen ****** emang kaya gini maen udah-udah aja.


Dan aku hanya tersenyum membaca pesan terakhir Alex.


Alex adalah seorang petualang ranjang yang tiba-tiba dijodohkan oleh ibunya dengan seorang gadis baik baik. Berkah buat Alex dan sepertinya bencana buat calon istrinya.


Sabtu akhir pekan ini Alex akan mengadakan pesta bujang di salah satu vila miliknya di Bandung dan tentu saja aku harus hadir. Semoga saja semua pekerjaan ku selesai dengan tuntas minggu ini dan setelah pesta Alex, aku akan mengejar cintaku. "Semoga semua berjalan sesuai rencana," batinku dalam hati.


Waktu berjalan begitu cepat, sudah di penghujung Minggu. Kontrak kerja sama sudah dilakukan, semua yang dibutuhkan sudah terpenuhi kini saatnya datang ke pesta Alex.


Jum'at sore hari aku sudah melangkah kan kaki ku keluar gedung perkantoran ini ku pandangi coffee shop itu dari jauh "Apa aku coba berkenalan hari ini ya ?" Hasil dari pengamatan ku seminggu ini wanita bernama Renata itu bekerja di lantai atas gedung perkantoran di mana coffee shop itu berada.


"Ah tapi kalau berkenalan hari ini, besok pun gak bisa apa-apa karena harus ke Bandung. Sabar sayang, tunggu aku sampai Senin," ucapku dalam hati dan kemudian berjalan ke parkiran untuk membawa mobilku pulang. Pekerjaan yang padat seminggu ini membuatku lelah dan stress.


***


Sabtu pagi temanku yang lain yang bernama Stefan sudah menghubungi berkali-kali. Ya Tuhan apa kurang kerjaan pagi-pagi buta sudah menghubungi. Memang kami berencana pergi bersama ke Bandung karena Alex sudah terlebih dahulu berada disana. Akhirnya ku angkat panggilan itu yang entah sudah ke berapa kali.

__ADS_1


Stefan : Halo Bi, astaga lo kemana aja ? Gue pikir meninggal.


Fabian : sialan !! Nyumpahin gue segala. Ngapain pagi buta nelepon ? Kita berangkat siangan kan ?


Stefan : pagi buta dari mana Bambang ? Jam 10 ini. Satu jam lagi gue datang ke tempat lo. Gak mau tau harus udah beres. Lo mandi jangan lama-lama kaya anak perawan.


Dan kemudian Stefan memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak.


Jam 10 ? Ya ampun mungkin karena terlalu lelah aku tertidur pulas. Dan emang kalau rezeki tak kemana semalam aku bermimpi bersama wanita itu, Renata. Aku tersenyum sendiri mengingat mimpi semalam. Tentu tahu lah apa yang dimimpikan laki laki tentang seorang wanita.


Pukul 11 tepat Stefan sudah berada di depan pintu apartemen ku. Jangan tanya soal disiplin nya teman aku yang satu ini. Stefan adalah seorang yatim piatu, dengan bekerja keras menjadikan dia seperti ini. Pada usia nya yang masih muda Stefan sudah menjadi orang kepercayaan salah satu konglomerat di negeri ini. Stefan,Alex dan aku kuliah di tempat yang sama hanya bedanya Stefan mengenyam pendidikan dengan full scholarship atau beasiswa penuh karena kecerdasannya. Berbeda dengan aku dan Alex yang memang berasal dari keluarga berada.


"Ayo Bi, cepetan elah udah jam berapa ini ? Si Alex malah nyuruh datang pagian," ucap Stefan kesal karena aku masih belum juga siap. Aku bergerak cepat dan 10 menit kemudian sudah berada dalam mobil stefan.


"Dasar temen ******, lo yang numpang gue yang nyetir," umpat nya dan aku hanya tertawa.


"Eh Fan, lo tau ? Gue udah punya calon bini," ucapku penuh semangat.


"Calon bini apaan ngimpi lo ? jawab Stefan dengan mata mengejek.


Pukul setengah 3 sore kami pun sudah sampai di salah satu vila milik Alex. Vila itu Alex sulap menjadi sebuah night club lengkap dengan tiang tiang tinggi untuk pertunjukan pole dance yaitu tarian tiang yang biasanya dilakukan wanita dewasa dengan pakaian super minim. Berbagai merek minuman beralkohol pun sudah rapi berjajar. Alex menyambut kedatangan kami dan sudah banyak orang yang hadir disana termasuk para pelayan.


Aku mengambil satu sloki minuman kesukaan ku dan menenggak nya sampai tandas


" Oi Bi masih sore udah minum aja lu," ucap Alex dan aku hanya tersenyum nyengir.


"Stress gw seminggu banyak kerjaan,Alex kamar gue sebelah mana gue mau naro barang. Jangan jauh-jauh tar gue kalo mabuk susah nyarinya," ucapku dengan terkekeh.


"Terserah mau lo yang mana. Bintang nya lo malam ini Fabian, hadiah dari gue buat kesuksesan elo," ucap Alex.


Aku hanya tertawa dan memilih kamar yang paling dekat. Vila ini begitu besar hingga memiliki banyak kamar. Aku saja menempati kamar ini sendiri.


Singkat cerita, malam pesta pun dimulai. Dan sekedar informasi, aku sudah bercerita banyak pada kedua temanku tentang Renata. Jujur saja baru sekali ini aku begitu terobsesi dengan wanita karena biasanya para wanita akan datang secara sukarela padaku tapi tidak dengan Renata yang aku kagumi dari jauh.

__ADS_1


Dentuman lagu begitu memenuhi telinga, lampu yang redup dan berbagai minuman telah tersaji di berikan oleh pelayan yang berbaju sangat minim bahan.


Entah berapa gelas yang telah aku minum sehingga membuat kepalaku  berputar. Pertunjukan puncak sudah di mulai. Datanglah para wanita dengan baju sangat minim meliuk-liukan tubuhnya sesuai alunan musik di tiang tiang tinggi menggoda para lelaki.


Aku adalah laki laki normal tentu saja menikmatinya. Di kesadaran ku yang hanya tinggal setengah ku dengar orang orang memanggil manggil namaku dengan bersorak kemudian datanglah seorang wanita yang meliuk-liukan tubuhnya dengan pakaian super minim menggerakkan tubuhnya di pangkuanku.


Ketika wajah wanita itu mendekatiku. Ku lihat tatapan matanya yang berwarna cokelat. "Renata? Kamu Renata ?" Lirihku dan ku tarik kepalanya mendekat tanpa aba aba aku benamkan bibirku diatas bibirnya dengan lembut ku pagut tanpa henti sampai wanita itu memukul mukul dadaku. Semua orang kembali bersorak.


Pandangan ku mulai kabur, aku tak rela semua orang memandang tubuh Renata ku.. iya Renata ku. Ku tarik tangan wanita itu dengan sisa kesadaranku menuju kamar yang aku tempati. Ku dengar sorakan itu lagi tapi aku tak peduli. "Seorang pun tak boleh melihat Renataku seperti ini," lirihku.


Aku terbangun ketika mendengar tangisan pilu seorang wanita. Kepalaku berdenyut hebat karena terlalu mabuk semalam, salahku sendiri sejak dari sore hari mulai minum minuman terkutuk itu.


Ingatan ku sedikit demi sedikit mulai kembali pada tempatnya. Aku ingat semalaman meniduri wanita itu, Renata. Wanita yang akhir akhir ini mengisi hati dan kepalaku. Iya semalaman aku menghabiskan waktu dengan Renataku. Tapi kenapa dia berada disini dan ternyata seorang penari ? Tanyaku dalam hati.


Ku pijat pangkal hidung ku untuk mengurangi rasa pusing.


"Jangan menangis sayang, maafkan aku tak bisa menahan diri. Aku akan bertanggung jawab," ucapku tanpa melihat wanita disebelah ku ini.


Hening...


"Benarkah?" Tanyanya lirih.


"Iya," jawabku dan mencoba memandang wajahnya.


Siaaallllllll ternyata bukan Renata. Jantungku berdegup kencang nafasku terasa sesak, keringat dingin mulai terasa membasahi diri.


Di depanku bukanlah Renata tapi seorang wanita asing yang tak aku kenali dan  memiliki mata berwarna coklat yang hampir serupa dengan Renata.


Aku menelan saliva ku berkali kali merutuki kebodohan yang telah aku lakukan. "Sungguh pesta laknat," makiku dalam hati.


TBC...


Makasih udah baca ❤️❤️❤️

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya genks 🙏


See u on Monday insyaallah 😘


__ADS_2