
Happy reading ❤️
"Bila kamu tidak siap, aku akan sabar menunggu," ucap Fabian seraya memasukkan beberapa anak rambut Renata kedalam daun telinganya dan menatap lembut istrinya itu.
"Ka.. kamu serius Bi ?" Tanya Renata malu-malu.
Kini Fabian menatap istrinya itu dengan pandangan yang sulit Renata artikan.
Fabian pandangi wajah istrinya itu lekat-lekat. Dalam mata Fabian, tak pernah Renata terlihat se-mempesona seperti sekarang ini. Lebih cantik dari yang selalu ia bayangkan.
"Tentu tidak !" Jawab Fabian dengan senyumannya.
Fabian menundukkan wajahnya meraih bibir ranum istrinya dengan bibirnya. Mengulumnya lembut sembari memejamkan matanya dan memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman.
Renata mengalungkan tangannya pada leher Fabian, membalas cumb*an itu dengan penuh penghayatan. Dapat Renata rasakan tangan Fabian telah merambat turun memberikan sentuhan-sentuhan lembut di tubuhnya.
Lama-lama ciuman itu semakin dalam menuntut, penuh pagutan lidah yang saling membelai saling menghis*p. Hingga dengan tak sabarannya Fabian mengangkat tubuh Renata.
Renata membelit kan kedua kakinya pada pinggang Fabian tanpa memisahkan tautan bibir mereka. Gelenyar nya terlalu nikm*t hingga tanpa sadar Renata menggesekkan miliknya pada ketegangan Fabian dan membuat lelaki itu mengerang.
"Eunghhh,"
Fabian segera membaringkan Renata di tengah tempat tidur mereka, menarik kausnya dengan sekali hentakan hingga ia kini bertelanj*ng dada.
Renata memandangnya penuh damba, dada bidang dengan otot perut sixpack yang tak berlebihan itu terlihat liat.
Fabian merangkak naik ke atas tubuh istrinya yang masih berbalut gaun satin itu.
Kembali membenamkan bibirnya, menyesapnya penuh tuntutan, semakin dalam ciumannya bukan semakin puas namun ingin lagi dan lagi.
Ciuman Fabian kemudian merambat turun menyusuri telinga, leher dan tulang selangka. Tak hanya kecupan namun terkadang mengulas nya dengan lidah dan memberikan sesapan hingga meninggalkan jejak kemerahan disana.
"Eeuughh Bi...."
Lenguh Renata seraya memejamkan matanya menikm*ti.
Tangan Fabian membelai pah* dan merambat naik memberikan sentuhan halus seringan bulu di setiap inci tubuh istrinya dan merem*s gemas benda kenyal yang selalu menjadi kesukaannya.
Gaun itu tersingkap memperlihatkan tubuh bawah Renata yang masih tertutup kain berenda. Fabian memandang nya dengan mata berkabut penuh damba.
Dengan perlahan menarik gaun itu keatas sehingga terlepas melalui kepala Renata. Menyisakan Renata yang tergolek indah hanya dengan 1 kain berenda menutupi inti tubuhnya.
Renata menggigit bibir bawahnya ketika Fabian dengan perlahan melepaskan kain berenda itu, dan membuangnya sembarang.
Dapat Renata lihat kilatan mata Fabian yang menatap tubuhnya yang polos penuh puja.
Fabian mengec*pi kaki Renata dengan lembut dan terkadang mengulasnya dengan lidah. Meregangkan kedua kaki Renata, dan membenamkan bibirnya pada inti tubuh istrinya itu.
__ADS_1
"Eeungggh Bi...."
Lenguh Renata tertahan. Tangannya menjambak gemas rambut Fabian, jari-jari kaki nya mengkerut mencengkeram kain di bawahnya, tak tahan dengan perlakuan bibir dan lidah Fabian di bawah sana.
Kadang Fabian nengulumnya lembut, kadang menyesapnya begitu rakus membuat Renata melenting kan tubuhnya. Darah Renata berdesir hebat, kepalanya terasa pening namun gelenyar nikm*tnya bukan kepalang.
Fabian yang melihat itu segera melabuhkan satu tangan nya pada benda kenyal Renata dan meremasnya gemas.
Nafas Renata terengah-engah, menggeliat gelisah ketika puncaknya akan datang. Fabian yang menyadari itu semakin memberikan sesapan rakus mengantarkan istrinya pada puncaknya.
"Uuuhhh Bi....."
Tubuh Renata bergetar hebat, ketika pelepasan nya tiba. Begitu lega dan melenakan.
Matanya sayu, dahinya di hiasi peluh.
Fabian tersenyum melihatnya. Tak tahan lagi ia melucuti kainnya sendiri. Renata masih dalam gelombang pelepasan nya ketika Fabian kembali meregangkan kedua kakinya.
Fabian memposisikan diri, mengarahkan bukti gair*hnya pada inti tubuh Renata dan mendorongnya perlahan.
"Eeuughhhh...."
Lenguh keduanya ketika tubuh bawah Fabian telah melesak masuk menyatukan tubuh mereka dengan sempurna.
Kedua mata mereka saling memandang ada kerinduan yang teramat sangat yang terpancar. Fabian menggerakkan pinggulnya perlahan menikmati 'genggaman' tubuh bawah Renata yang hangat dan membuatnya tergila-gila.
"Aku sangat mencintaimu Renata," gumam Fabian di sela nafasnya yang terengah-engah dan kembali membenamkan bibirnya diatas bibir Renata.
Fabian mengerti yang Renata inginkan sehingga ia menggerakkan pinggulnya semakin menggila. Renata memejamkan matanya, tubuhnya terasa semakin panas puncaknya akan kembali tiba.
"Bi... Biii...hah.. hahh," racaunya tak jelas
Tubuh bawah Renata mencengkram begitu kuat begitu pelepasan nya datang membuat Fabian mengerang hebat.
Dengan sekali hentakan Fabian merubah posisi mereka menjadikan Renata berada diatasnya.
Rambut Renata yang panjang menjuntai menutupi wajah mereka. Fabian meraih bibir ranum Renata dan kembali menyesapnya. Kedua tangannya menahan pinggul Renata agar tetap berada disana dan menggerakkannya.
Renata memisahkan tautan bibir mereka, bibirnya yang basah menelusuri rahang, leher dan mencium rakus aroma tubuh suaminya itu.
Menarik tubuhnya perlahan hinga ia terduduk tegak, berpeganan pada lengan Fabian, Renata semakin intens menggerakkan pinggulnya. Cengkraman tubuh bawahnya semakin kuat, Fabian tahu Renata akan kembali mencapai puncaknya.
Keduanya saling terengah-engah, nafas mereka memburu. Fabian pun akan sampai pada batasnya, sehingga Renata terkesiap kaget ketika Fabian kembali membuat tubuh Renata berada dibawahnya lagi.
"Damn... Renata...hah..hah..." Erang Fabian dan menghentak keras ketika pelepasan nya tiba, sehingga membuat tubuh dibawahnya bergetar hebat dan mendapatkan kembali pelepasannya.
Nafas keduanya tersengal-sengal, hembusan nafasnya terasa panas. Fabian memisahkan penyatuan tubuhnya dengan perlahan.
__ADS_1
Mengatur nafasnya sesaat, dan menahan lengan Renata ketika wanita itu menggerakkan tubuhnya menjauh.
"Kemana ?" Tanya Fabian dengan suaranya yang parau.
"Aku mau.."
Belum juga Renata selesai bicara, fabian telah menarik tubuh polos istrinya itu hingga menindihnya.
"Aku belum selesai," bisik Fabian lirih dan kembali membenamkan bibirnya diatas bibir Renata dan memagutnya penuh tuntutan. Babak kedua permainan mereka baru akan kembali dimulai.
***
Fabian menatap wajah Renata yang tertidur pulas diatas dada polosnya yang bidang.
Menyisir rambut istrinya perlahan dengan jarinya. Entah berapa kali Fabian menggeluti tubuh istrinya itu hingga Renata kelelahan. Dan entah berapa kali Renata mendes*hkan namanya setiap pelepasan istrinya itu tiba.
Senyuman bahagia terbit di wajahnya, betapa bahagia Fabian memiliki Renata seutuhnya lagi.
"Aku sayang kamu Re, cinta banget ma kamu." Bisik Fabian seraya memberikan banyak ciuman di puncak kepala istrinya itu.
Seolah dapat mendengarnya Renata menggeliatkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh suaminya itu. Tak lama Fabian pun ikut terlelap dalam tidurnya.
Tak pernah Fabian merasakan damai seperti sekarang ini.
***
Renata terbangun ketika pagi masih gelap. Ada tangan kekar yang memeluknya begitu posesif, ada aroma tubuh maskulin yang tercium dan selalu membuatnya rindu, ada hembusan nafas hangat dan suara dengkuran halus dari seseorang yang dulu selalu menemaninya tidur.
Banyak rindu Renata yang terobati.
Renata amati wajah itu, wajah lelaki yang ia cintai dan juga mencintainya.
"Bi... Aku cinta kamu," bisik Renata lirih.
"Aku juga sangat mencintaimu," jawab Fabian tanpa membuka matanya.
Renata terkesiap mendengar itu, Fabian mengeratkan pelukannya dan Renata membalas pelukan itu.
Damai dan penuh cinta yang melenakan...
Itu yang Fabian dan Renata rasakan saat ini.
TBC....
Thanks for reading ❤️
Makasih yang udah kasih baca, like dan komen ❤️
__ADS_1
Makasih yang sudah memberikan hadiah dan vote ❤️
Tons of love for you guys ❤️