
Happy reading ❤️
Sungguh Sakti merasa nyaman luar biasa dan tak lama ia pun terlelap dalam mimpinya.
Kirana terbangun ketika ia merasakan hembusan nafas teratur dan dengkuran halus di ceruk lehernya. Ia begitu terkesiap karena seingat Kirana, dirinya tidur di kamar anaknya bersama Davin. Tapi kini ia terbangun dengan sebuah tangan yang melingkar begitu posesif di atas perut datarnya. Seketika dadanya berdegup lebih kencang bahkan ia tak berani menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat wajah yang memeluknya.
Dengan perlahan Kirana melepaskan belitan tangan Sakti dari tubuhnya. Ia tak ingin sampai Sakti terbangun dalam keadaan seperti ini tentunya keadaan ini akan menjadi canggung bagi mereka berdua.
Setelah bersusah payah melakukan itu, akhirnya Kirana dapat melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Kirana terduduk di atas ranjang dengan perasaan tidak percaya. Setelah beberapa waktu ini melalui rumah tangganya dengan perdebatan panjang dan perlakuan Sakti yang menyakitinya baru kali ini ia terbangun dengan Sakti memeluknya dengan begitu erat.
Ada sesuatu yang Kirana rasakan dalam hati. "Apa aku boleh berharap semua akan kembali seperti sedia kala ? Apa aku boleh berharap untuk bisa hidup tentram denganmu lagi ?" Tanya Kirana dalam hatinya seraya memandangi wajah Sakti yang masih terlelap dalam tidurnya.
Dengan perasaan tak menentu Kirana berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menyiapkan sarapan. Tapi sebelum ia pergi meninggalkan kamar itu terlebih dulu ia menyiapkan semua keperluan suaminya Sakti. Ia juga menyetel ulang alarm jam agar Sakti terbangun dengan sendirinya.
Setelah menyiapkan sarapan Kirana pun mengurusi kedua anaknya, meski ada asisten rumah tangga namun Kirana lebih suka mengurusi keluarganya sendiri. Bagi Kirana dengan begitu membuat hubungan emosional dengan kedua anaknya bisa menjadi lebih dekat.
Sakti terbangun ketika alarm jam berbunyi. Hal pertama yang ia lakukan adalah mencari keberadaan seorang wanita yang semalaman berada dalam pelukannya. Rasa kecewa menyusup di hati Sakti ketika tak mendapati Kirana di sisinya, namun kecewa itu terobati dengan melihat segala keperluannya telah Kirana siapkan.
Sakti pun bangkit dari tempat tidurnya dan segera membersihkan diri untuk bersiap pergi ke kantor.
Sakti tiba di ruang makan ketika semua telah bersiap untuk sarapan. Kirana pun berada di sana sedang mempersiapkan bekal untuk kedua anaknya, ia tak menyadari kehadiran Sakti.
"Dasi Papa aneh," ucap Dareel seraya menunjuk pada dasi ayahnya itu.
"Ah iya melenceng," jawab Sakti dan membuat Kirana menolehkan kepalanya ke arah Sakti.
Untuk sesaat pandangan mata mereka bertemu tanpa saling bicara.
"Nan... Nanti aku bantu perbaiki," ucap Kirana terbata.
Sakti menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Biasanya ia akan menolak tapi tidak kali ini.
Selama hampir 10 tahun ini biasanya Kirana yang selalu membantu Sakti untuk memakai dasi tapi akhir-akhir ini ia tak lagi melakukannya karena hubungannya dengan Sakti yang memburuk.
Mereka duduk berempat menikmati sarapan yang dibuat Kirana dalam hening, yang terdengar hanya bunyi denting sendok yang beradu dengan piring.
Sesekali Sakti mencuri pandang pada istrinya itu tapi Kirana tidak melakukan hal yang sama. Ia menundukkan kepalanya, fokus pada sarapannya.
"Papa sudah selesai, ayo kalian cepatlah nanti terlambat," ucap Sakti pada kedua anaknya.
Kedua anak Sakti pun segera menyelesaikan sarapan mereka. Setiap pagi Sakti akan mengantarkan mereka sekolah, dan Kirana yang akan menjemput ketika mereka pulang.
Kirana berjalan mendekati Sakti yang sudah berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
Ia meraih dasi suaminya itu dan mulai membuka sampulnya.
Baru kali ini mereka bisa sedekat ini tanpa berdebat.
Sakti memandangi wajah Kirana dengan lekat, tak ia alihkan pandangan matanya sekali pun.
Hembusan nafas Sakti dapat Kirana rasakan menerpa wajahnya. Pandangan Sakti yang terus tertuju padanya dapat Kirana rasakan dan itu membuat dadanya berdegup lebih kencang, Kirana terus mendudukkan kepalanya berusaha fokus pada dasi suaminya. Tangan Kirana gemetar dan seketika ia lupa bagaimana membuat simpul sebuah dasi.
"Ya Tuhan kenapa ini begitu sulit," batin Kirana berkata.
Sakti terus memperhatikan Kirana, matanya beralih memandang bibir Kirana yang begitu menggodanya meski tanpa polesan lipstik.
Bibir yang selalu membuatnya candu, bibir yang selalu menyebutkan namanya ketika Kirana dalam kuasanya. Seketika hasratnya bangkit. "Kendalikan dirimu Sakti !" Batin Sakti dalam hatinya.
"Selesai," ucap Kirana ketika dasi suaminya itu telah terpasang sempurna.
Sakti melingkarkan satu tangannya pada pinggang Kirana dan tangan yang lain mengangkat dagu istrinya itu agar memandangnya.
Mata mereka bertemu dan saling menatap untuk sesaat.
1 detik...
2 detik....
Tak tahan lagi, Sakti pun menundukkan kepalanya dan meraih bibir Kirana dengan bibirnya. Ia mengulum lembut bibir istrinya itu dengan penuh penghayatan.
"Terimakasih," ucap Sakti seraya memisahkan tautan bibir mereka
"Sama-sama," jawab Kirana lirih nyaris tak terdengar.
Sakti pun melepaskan pelukannya dan
mengajak kedua anaknya untuk segera pergi.
Kirana mengantarkan kepergian mereka hingga pintu. Ia melambaikan tangan pada kedua anaknya ketika mobil bergerak meninggalkan rumah itu. Sakti terus memperhatikan Kirana melalui kaca spion diatasnya sampai Kirana berhenti melakukan itu dan memasuki rumahnya.
Kirana menyenderkan tubuhnya di balik pintu. memikirkan apa yang telah terjadi sepanjang pagi ini. Meskipun hari kemarin mereka bertengkar hebat dan masalah pun belum menemukan jalan keluar tapi melihat Sakti kembali bersikap manis, bolehkah Kirana berharap rumah tangganya kembali seperti semula ?
Sakti tiba di kantor setelah lebih dulu mengantarkan kedua anaknya. Ponsel Sakti terus bergetar dengan nama Vanya tertera di sana.
Semenjak kepulangan dari Singapura ia tak pernah berbicara lagi dengan gadis itu.
Sakti enggan untuk menjawab sampai pop up pesan muncul di ponselnya dengan pengirim masih nama Vanya.
"Aku akan datang ke kantormu bila mas Sakti tak juga mengangkat atau membalas pesanku, " bunyi pesan itu.
__ADS_1
Dengan panik Sakti pun menelepon balik Vanya, dan gadis itu langsung mengangkatnya.
Vanya : akhirnya Mas ! Kamu bisa dihubungi.
Suara Vanya terdengar kesal.
Sakti : maaf aku sedang sibuk sekali.
Vanya : aku ingin bertemu siang ini. Tega sekali kamu meninggalkan aku.
Sakti : aku sangat sibuk.
Vanya : biar aku yang datang ke kantormu untuk meminta penjelasan mengenai apa yang telah kamu lakukan padaku.
Sakti : tidak jangan ! Sebutkan tempatnya aku akan datang menemui mu
Sakti akhirnya mengalah.
Vanya : pukul 12 di cafe xxx yang berada di mall YYY
Kemudian Vanya menutup panggilan itu.
***
Siang itu Kirana telah bersiap untuk menjemput kedua anaknya. Ia mendapatkan informasi bahwa hari ini kedua anaknya pulang lebih cepat karena guru mereka harus menghadiri rapat.
"Bu, beberapa bahan makanan di kulkas telah habis," ucap bi Marni pada Kirana tepat sebelum Kirana pergi dari rumahnya.
"Oh baiklah, saya akan berbelanja kalau begitu. Tolong minta daftar yang harus saya beli Bi," jawab Kirana.
Bi Marni pun memberikan selembar kertas yang berisikan daftar barang yang telah habis dan Kirana menerimanya.
"Kalau begitu saya pergi dulu," ucap Kirana dan pergi meninggalkan rumahnya.
Kirana tiba disekolah tepat pada waktunya. Tanpa keluar dari mobil, kedua anaknya datang menghampiri dan memasuki mobil Kirana.
"Kita mampir dulu ke mall YYY ya, Mama harus belanja di supermarket nya." Ucap Kirana seraya mulai menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankannya.
TBC...
Thank you for reading ❤️
Jangan lupa like dan komen.
Met Lebaran genks... Mohon maaf lahir batin 🙏🙏
__ADS_1
Stay safe n keep healthy everyone 😘😘