Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Tentang Ego


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Perempuan yang bermuka dua sungguh menjijikkan," ucapnya geram.


"Hendrik, biar aku sendiri yang cek lokasi proyek itu." ucap Sakti seraya memainkan ponselnya dengan wajah dihiasi senyuman iblisnya.


"Baik Pak," jawab Hendrik.


Sakti memandang keluar jendela mobil dengan tatapan kosong. "Laki-laki mana yang bisa menerima dikhianati oleh istrinya. Meskipun gak tau apa saja yang sudah mereka lakukan, namun bertemu mantan kekasihnya di belakangku tak termaafkan," kenyataan bahwa Kirana menemui mantan kekasihnya menghina ego dan harga dirinya sebagi laki-laki.


"F*ck" Sakti mengumpat dengan memukul kaca mobilnya.


Sontak Hendrik yang duduk di samping sopir menolehkan kepalanya ke belakang.


"Anda baik-baik saja Pak ?" Tanya Hendrik ?


"Heem," jawab Sakti.


Hendrik menolehkan kembali kepalanya setelah memastikan bosnya itu baik-baik saja.


Sakti membuka akun media sosial istrinya, melihat-lihat isinya. Memeriksa satu persatu isinya. Kebanyakan adalah photo anak-anak mereka yang berada di postingan media sosial istrinya itu. Ada photo Kirana sendiri tersenyum menghadap kamera, Sakti memandangi photo itu dengan perasaan kacau.


Ada rasa kecewa, benci dan cinta yang bercampur aduk. "Aku bahkan gak tahu isi kepala dan hatimu," seketika Kirana terasa asing baginya.


***


Sore itu Kirana sedang memanggang kue ketika suaminya Sakti datang. Terdengar kedua anak lelakinya menyambut kedatangan ayah mereka dengan begitu heboh seperti biasanya.


Kedua anak mereka memang begitu dekat dengan Sakti.


"Papa, Celia ulang tahun di rumah Oma akhir pekan ini. Boleh gak kita nginap di rumah Oma juga ?" Ucap Davin anak pertama.


"Papa beli kadonya yang bagus dari sekarang," ucap Dareel sang adik.


"Wait, tunggu satu-satu bicaranya Papa bingung," jawab Sakti pada kedua anak lelakinya.


"Tunggu Papa duduk dulu," ucap Kirana menghampiri suaminya itu untuk membantu melepaskan jas juga dasi namun Sakti menolak.


"Biar aku bisa sendiri," tolak Sakti.


Kirana terdiam dengan penolakan suaminya itu. Dirinya tak mengerti apa yang salah.


"Mama Papa marahan ?" Tanya Dareel anaknya yang kecil dengan wajah sedihnya. Tak biasanya Sakti dan Kirana seperti itu.


"No, enggak kok" jawab Sakti yang kemudian mencium pipi istrinya itu sekilas.


"See, lihat kan Papa dan Mama gak marahan ," ucap Sakti.


Kirana tahu ada sesuatu yang tidak beres,  sepanjang hari ini Sakti mengabaikannya.

__ADS_1


Sakti naik ke atas menuju kamarnya, Kirana mengikutinya ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya itu.


Suara decitan pintu membuat Sakti menolehkan kepalanya dan melihat Kirana datang menghampirinya.


Sakti membuang pandangannya dan tak acuh.


"Mas, apa aku ada salah ? Aku ngerasa kamu berbeda hari ini," ucap Kirana yang duduk di atas ranjang dan memperhatikan Sakti yang tengah berganti baju.


"Kenapa kamu bertanya kamu ada salah ? Apa karena kamu memang merasa begitu ?" Sakti balik bertanya dengan nada dinginnya.


"Ka.. karena kamu begitu berbeda. Jika aku salah, katakan letaknya dimana sehingga bisa aku perbaiki,"


Sakti hanya tersenyum mengejek dengan tatapan mata begitu merendahkan.


"Mas, aku beneran gak ngerti. Jika aku ada salah ayo kita bicarakan baik-baik. Akan aku perbaiki kesalahan aku,"


" Kamu selalu mengatakan bila kamu ada salah. Apa karena kamu sadar kamu bersalah hah ?" Tanya Sakti dengan satu tangannya yang  mengapit kedua pipi istrinya itu dan menghempaskan nya dengan begitu kasar sehingga wajah Kirana menoleh ke sisi.


Tanpa Kirana sadari air bening jatuh disudut matanya.


"Mas, maafkan aku tapi tolong katakan apa salahku agar aku bisa perbaiki,"


"Pikir sendiri apa yang bisa membuat aku kecewa sama kamu, kamu punya kepala yang bisa digunakan buat berpikir bukan ?" jawab Sakti dan keluar dari kamar mereka.


Makan malam pun dilalui dengan begitu canggung. Mata Kirana pun terlihat sembab membuat kedua anak lelakinya memperhatikan.


"Mama habis nangis ?" Tanya Davin.


"Mama bohong," ucap Dareel


Sakti memandang sinis dengan senyuman miringnya dan Kirana melihat itu dengan begitu jelas.


"Emmm Mama kangen Kakek dan Nenek," jawab Kirana bohong karena anaknya akan terus bertanya.


"Liburan nanti kita ke rumah Kakek saja. Boleh gak Pa ?"


"Terserah kalian sayang," jawab Sakti.


"Papa memang yang terbaik," ucap kedua anaknya.


Sakti tersenyum dan mengusap puncak kepala anaknya "apapun asal kalian bahagia,"


Sakti begitu hangat pada kedua anaknya tapi begitu dingin pada Kirana istrinya.


Kirana tak curiga Sakti membaca pesan sosial medianya karena seharian ini pun Kirana tak mengecek akunnya yang telah Sakti ambil alih.


***


Sakti membaca beberapa email dari ponselnya dengan duduk menyandar pada bantal di atas tempat tidurnya. Sedangkan Kirana tengah mengoleskan krim malam di wajahnya di depan meja rias dan dirinya terus memperhatikan Sakti dari pantulan kaca di hadapannya.

__ADS_1


Sakti tersenyum ketika mendapat pesan dari seseorang yang baru di kenalnya.


Vanya : terimakasih Pak Sakti telah bersedia untuk ikut mengecek lokasi secara langsung. Saya sangat menghargai nya.


Sakti : sama-sama, saya hanya begitu tertarik dengan kerjasama ini.


Vanya : semoga kerjasama ini dapat sukses.


Sakti : iya tentu kita akan berusaha semaksimal mungkin.


Vanya : baiklah Pak. Selamat malam, selamat beristirahat :)


Sakti : you too... Have a nice dream :)


Kirana memperhatikan wajah Sakti yang tersenyum pada layar ponselnya. Ia menghela nafasnya yang terasa begitu berat.


Kirana naik ke atas ranjang dan mulai membaringkan tubuhnya. Sakti terus asik dengan ponselnya sehingga membuat Kirana membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya.


"Anak-anak, mereka milikku kan ?" Tanya Sakti tanpa melepaskan pandangan dari ponselnya.


"Hah ?" Tanya Kirana tak mengerti.


"Anak-anak, Davin dan Dareel mereka anakku kan ? Tanpa ada campur tangan laki-laki lain?"


Sontak membuat Kirana begitu terkejut dan langsung mendudukkan tubuhnya menghadap suaminya itu.


"Tentu saja mereka anakmu Mas, kenapa kamu bertanya seperti itu ? Kamu pikir aku wanita seperti apa ?" Kirana tak terima dengan apa yang Sakti ucapkan.


"Selama aku bekerja, aku gak tau apa saja yang kamu lakukan di belakangku," ucap Sakti menatap istrinya itu dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Aku mengurus anak-anak mu selama kamu bekerja dan menantimu pulang. Dunia aku hanya kamu dan anak-anak," Jawab Kirana.


"Katakan apa salahku hingga kamu melihatku serendah ini Mas," ucap Kirana frustasi.


"Apa kepalamu belum bisa digunakan untuk berpikir juga ? Jangan sok suci kamu ! Sehingga menyalahkan aku yang merendahkan kamu,"


Berdebat dengan Sakti sepertinya tak akan ada ujungnya, membuat Kirana turun dari ranjangnya dan hendak pergi keluar dari kamarnya.


"Mau kemana kamu ? Berani sekali ninggalin gue," ucap Sakti yang dengan kasar menyeret tubuh istrinya dan mendorong nya ke atas ranjang mereka.


Kirana begitu terkejut dengan apa yang Sakti lakukan, sedangkan Sakti terus memandangi wajah istrinya itu.


Kirana begitu cantik meski tak lagi muda pantas saja lelaki itu masih mengejarnya. "Siaaalll," maki Sakti dan kemudian menindih tubuh istrinya dan mencium bibir istrinya dengan begitu kasar dan penuh paksaan.


Kirana berontak namun tak Sakti hiraukan. Dengan paksa Sakti melucuti pakaian istrinya dan menurunkan celananya sendiri sebatas lutut. Tanpa kelembutan Sakti menyatukan tubuh mereka, Kirana merasa seperti sedang dihukum bukan percintaan yang seperti biasa mereka lakukan.


Ketika Sakti selesai dengan gairahnya, ia meninggalkan istrinya begitu saja. Pergi keluar kamarnya tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Kirana menangis sendirian tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.


TBC...

__ADS_1


Thank you for reading ❤️


__ADS_2