Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Bukan Aku


__ADS_3

Happy reading ❤️


Kalau dikasih 2 part gini biasanya lupa like part sebelumnya 😅


Yuk scroll ke atas like dulu.


Like kalian adalah semangatku ❤️


"Kurasa itu sudah tak penting lagi," jawabnya dan dengan lembut melepaskan cekalan tangan Sakti pada lengannya.


"Aku hanya mau bicara bila menyangkut proses perceraian kita saja," ucapnya lagi dan kini benar-benar meninggalkan Sakti yang kembali tak dapat berkata-kata.


Dengan perasaan bersalah yang menumpuk dalam dirinya membuat Sakti  merasa tak mampu untuk berkata-kata di hadapan istrinya itu.


Satu hal lagi yang membuat lidah Sakti begitu kelu adalah  mata Kirana yang mengisyaratkan banyak luka ketika tatapan mereka bertemu.


Sakti kembali berjalan mengikuti Kirana, tapi istrinya itu berjalan begitu cepat hingga Sakti tak menemukannya di tempat ia makan tadi.


"Kirana ke mana?" Tanya Sakti kepada maminya.


"Kirana kembali ke hotel karena Celia sudah tak sabar untuk melihat oleh-oleh yang dibelikannya."


"Oh.." jawab Sakti dengan nada kecewa.


"Sepertinya bicara dengan Kirana bukan lah hal yang mudah" batin Sakti.


Menjelang sore seluruh acara pun telah selesai di laksanakan. Sakti dan kedua anaknya pulang menuju hotel bersama, begitu juga dengan kedua orangtuanya.


Hotel yang ditempati Sakti  memang berbeda dengan Kirana. Letaknya pun tak begitu jauh. Sakti memutuskan malam ini juga ia harus mencoba menemui Kirana.


"Mama nginep di kamar no berapa ?" Tanya Sakti pada Dareel.


"450 atau 540 ya ? Aku lupa." Ucap Dareel sembari bermain game di ponsel Sakti. Kini mereka tengah berada di dalam kamar hotel yang Sakti tempati.


"Apa Abang inget di kamar no berapa Mama menginap ?" Tanya Sakti pada anaknya yang lebih besar.


"450," jawab Davin dengan wajah datarnya.


"Terimakasih," ucap Sakti, namun Davin mengacuhkannya.


"Jadi ponsel kalian rusak sampai mati ? Pantesan aja Papa susah banget hubungi kalian."


"Iya, tapi Mama janji mau ganti yang baru nanti kalau Mama sudah tidak sibuk." Jawab Dareel dengan tak mengalihkan perhatiannya dari permainan game.


"Gimana kalau Papa saja yang belikan ? Kalian boleh pilih yang mana saja yang kalian mau. Tapi nanti maen hpnya dengan seizin mama ya," bujuk Sakti berusaha mengambil hati kedua anaknya itu.


"Beneran Pa ?" Tanya Dareel antusias.


"Tentu saja, boleh pilih apa saja. Abang juga." Ucap Sakti berusaha membujuk.


Davin tersenyum, ia terlihat senang.


Malam itu Sakti menemani kedua anaknya untuk memilih ponsel yang mereka inginkan, Sakti mengabulkan apapun yang kedua anaknya minta. Mereka pun makan malam bertiga di restoran pavorit kedua anaknya.

__ADS_1


Sakti terus memeriksa jam tangan mewah yang membelit pergelangan tangannya. Ia tak ingin terlalu malam untuk menemui Kirana.


"Papa ada janji ?" Tanya Davin melihat Sakti yang terus memeriksa jamnya.


"Ah tidak sayang, takutnya terlalu malam saja. Kalau sudah selesai makannya kita pulang ke hotel ya, Oma kalian pasti udah nungguin," jawab Sakti. Ia begitu hati-hati dalam berbicara maupun bersikap pada Davin yang terus menjaga jarak darinya.


"Papa gak tidur sama kita ?" Tanya Dareel.


"Oma malam ini ingin tidur dengan kalian. Tapi kalau kalian mau tidur sama Papa, tentu Papa akan senang sekali,"


"Tidur sama Oma aja dulu," jawab Davin. Sakti berusaha bersabar menghadapi kedua anaknya, ia merasa dirinya lah yang bersalah sehingga anaknya bersikap seperti itu.


***


Waktu menunjukkan pukul 10.15 malam ketika Sakti tiba di hotel yang Kirana tempati. Ia terlebih dahulu mengantarkan kedua anaknya ke kamar Oma mereka.


Dengan hati berdebar Sakti menaiki lift yang membawanya ke lantai 4. Kini ia berdiri di depan pintu kamar bertuliskan angka 450. Di balik pintu itu istrinya Kirana berada.


Sakti menarik nafasnya berkali-kali sebelum ia memencet tombol bel yang berada di samping pintu.


Sementara itu Kirana yang berada di dalam kamar tengah menidurkan Celia. Kamarnya begitu berantakan karena Celia membuka semua mainan yang ia belikan juga mencoba beberapa baju barunya. Bahkan gadis kecil itu tertidur mengenakan baju princess Disney.


Kirana mencium puncak kepala Celia dengan penuh kasih sayang, meskipun Celia hanya keponakannya tapi Kirana begitu menyayangi gadis kecil itu bagai anaknya sendiri.


Suara bel di pintu membuat Kirana harus bangun dan berjalan menuju pintu. Ia mengintip dari lobang pintu dan melihat Sakti berdiri di sana. Kirana melihat jam telah menunjukkan pukul 10 lebih 20 menit. Rasanya terlalu malam untuk menerima Sakti selarut ini, bayangan bagaimana dulu Sakti memaksakan kehendaknya juga sedikit membuat Kirana takut. Ia memutuskan untuk tak membukakan pintu itu walaupun sakti terus menekan bel malah sesekali lelaki itu mengetuk pintu.


Kirana berjalan menjauhi pintu itu dan mulai membereskan barang-barang yang berceceran. Kemudian ia membersihkan diri untuk beberapa saat. Suara bel dan ketukan di pintu kini tak terdengar lagi. Kirana pikir, Sakti pasti telah pergi.


***


Kirana terbangun begitu saja. Matanya terbuka sempurna, ia melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 01 dini hari.


Entah kenapa ia terpikir  tentang Sakti. Kirana pun turun dari ranjangnya, kaki telanjang nya menyentuh lantai kamar hotel yang dingin membuat tubuhnya sedikit menggigil.


Kirana berjalan ke arah pintu dan kembali mengintip dari lubang pintu kamar hotelnya.


Terkejut luar biasa ketika melihat lelaki yang mengetuk pintunya tadi belum jua pergi. Lelaki itu terduduk diatas lantai


memeluk kedua lututnya dengan kepala tertunduk.


"Dasar keras kepala," gumam Kirana seraya membuka pintu kamarnya.


Sakti langsung mendongakkan kepalanya dan melihat Kirana berdiri disana.


"Masuklah," ucap Kirana dan Sakti pun langsung bangkit dari tempat duduknya.


Tanpa banyak bicara Sakti memasuki kamar Kirana. Ia melihat sekeliling, memang benar apa yang diucapkan anaknya. Kirana membeli banyak sekali barang untuk Celia keponakannya.


"Ini minum lah," Kirana menyodorkan secangkir teh manis hangat dan Sakti menerimanya. Ia meminumnya sekaligus hingga habis.


"Apa yang sebenernya kamu mau sih Mas?" Tanya Kirana yang kini duduk dihadapan Sakti.


"Aku pengen ngomong sama kamu Ki. Aku juga kangen banget," ucap Sakti.

__ADS_1


Namun Kirana terlihat muak mendengarnya, ia tersenyum kecut ketika mendengar ucapan suaminya itu.


"Ki... Maafkan aku... Ku mohon pengampunan mu..." Ucap Sakti dengan nada bergetar.


"Tidak semua salahmu," jawab Kirana.


"Aku juga sangat bersalah karena tidak berkata jujur sama kamu," lanjut Kirana dengan penuh penyesalan.


"Ki..."


"Maafkan aku yang tak pernah berani cerita sama kamu perihal pertemuan aku dengan dia." Ucap Kirana memotong pembicaraan Sakti.


"Waktu itu aku sangat mencintaimu..." Ucap Kirana menyatakan perasaannya.


Sakti tersentak mendengar itu. Wajahnya menegang dan ia menegakkan tubuhnya untuk mendengarkan lebih seksama.


"Aku sangat mencintaimu sehingga duniaku hanya tentangmu dan anak-anak kita. Aku dalam masa paling bahagia waktu itu. Tapi seketika hancur karena kedatangan lelaki itu, aku takut luar biasa. Aku sangat takut kamu akan marah dan meninggalkan aku seperti malam pertama kita. Aku yang sedang jatuh cinta padamu saat itu sangat takut kehilanganmu. Mungkin kamu gak pernah tahu mas, di banyak malam aku terbangun hanya memandangi wajahmu dan mengucapkan kata-kata maaf ketika kamu tertidur, hanya itu yang berani aku lakukan" ucap Kirana seraya menyeka air matanya.


"Aku yang bodoh ini tak bermaksud untuk membohongi mu, hanya saja aku terlalu takut kehilanganmu," lanjutnya lagi seraya tersenyum dan juga menangis di waktu yang bersamaan.


Sakti berdiri dan berjalan mendekati istrinya itu. Ia berlutut di hadapan Kirana.


Sakti meletakkan tangannya di atas pangkuan Kirana dan mulai berbicara.


"Maafkan aku sayang... Maafkan aku... Ku mohon... Aku yang bodoh tak menyadari perasaanmu, aku yang terlalu cemburu sehingga menyakitimu, aku yang tak pernah menyatakan perasaanku... Aku cinta kamu Ki... Sangat cinta sama kamu," ucap Sakti diantara isakkan tangisnya.


Kirana menegang ketika mendengar pernyataan cinta Sakti. Kenapa semua terbuka ketika semuanya telah terlambat.


"Terimakasih jika kamu memiliki rasa yang sama, setidaknya aku bahagia karena anak-anak kita terlahir karena cinta kedua orangtuanya," ucap Kirana  tulus.


"Ku mohon kembalilah padaku Ki, aku tak ingin berpisah darimu. Aku telah menemui psikiater untuk mengendalikan amarah ku, aku menemui konseling pernikahan agar aku bisa menjadi suami dan ayah yang lebih baik lagi. Aku mau berubah," ucap Sakti seraya memandang penuh mohon.


Kirana meraup wajah Sakti dengan kedua tangannya, mata mereka terkunci saling menatap.


"Aku bahagia kamu mau berubah mas, karena dengan begitu kamu akan menjadi ayah yang lebih baik lagi untuk anak-anak kita. Kamu akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Wanita yang akan menjadi pendamping mu pasti akan sangat bahagia." Ucap Kirana dengan senyuman yang sulit untuk diartikan


"Apa maksud kamu, Ki?" Tanya Sakti dengan perasaan yang kacau.


"Wanita yang akan menjadi pendamping mu kelak pasti akan sangat bahagia. Namun sayangnya wanita itu bukanlah aku," jawab Kirana tanpa melepaskan tangannya dari wajah Sakti.


To be continued...


Thank you for reading ❤️❤️❤️


Terimakasih yang sudah baca, like, komen dan vote


Tons of love for u guys ❤️❤️❤️


Aku baca komen reader yang ingin ini dan itu.. 


tapi maaf, seperti sebelumnya aku menulis sesuai alur ku..


Semoga kakak reader semua bisa menerimanya 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2