Terikat Dusta

Terikat Dusta
Mental Illness


__ADS_3

Seandainya hati bisa diperuntukkan bagi siapa...


- Fabian -


Happy reading ❤️


Sungguh miris hidupku, wanita ini begitu terobsesi padaku. Sedangkan aku begitu terobsesi pada wanita lain yang bernama Renata.


Lea mulai tenang, nafasnya mulai teratur. Benda pecah belah begitu berserakan di lantai karena Lea.


"Apa yang harus kulakukan padamu Lea ?" Tanyaku dalam hati.


Semenjak kejadian itu, aku mulai rutin  menemui Lea di Bandung. Aku selalu sempatkan diri untuk menemuinya. Aku gak mau kejadian di apartemenku terulang.


Baru aku tahu dari bi Inah ternyata Lea sering mengalami serangan panik. Emosi yang tak stabil dapat berubah secara signifikan dalam waktu cepat.  Tak segan Lea untuk melempar benda benda disekitarnya tanpa alasan jelas.


Sepertinya Lea memang harus memeriksakan kesehatan mentalnya.


Selama aku menemuinya aku selalu memilih untuk tinggal di hotel. Karena cukup sekali aku melakukan kebodohan.


Satu yang membuatku tenang dan bersyukur dari kejadian ini Lea tidak hamil.


Pada akhirnya aku membawa Lea untuk konsultasi kesehatan mentalnya. Betapa terkejutnya aku ketika Lea di diagnosa mengidap  skizofrenia. Sebuah gangguan mental jangka panjang. Gangguan ini menyebabkan penderita nya mengalami halusinasi, delusi, kekacauan berfikir dan perubahan sikap.


Gangguan mental ini bisa bersifat genetik  tapi dapat di picu juga karena lingkungan dan penggunaan obat kimia.


Karena Lea yang hidup sebatang kara tak mungkin untuk memeriksa faktor genetik.


Tapi melihat masa lalu Lea dengan hidupnya yang keras dan beberapa kali percobaan bunuh diri bisa disimpulkan Lea mengalami gangguan ini.


Setelah melakukan observasi lanjutan, Lea dinyatakan positif mengidap skizofrenia. Menurut dokter ahli yang menangani Lea faktor pencetus nya bisa dikarenakan kehidupan muda Lea yang keras dan genetik. Dapat dipastikan Lea harus mengkonsumsi obat dan juga mengikuti terapi sepanjang hidupnya. Sekarang ini hanya aku yang Lea punya. Maka dengan otomatis Lea telah terikat padaku.


"Ya Tuhan... Ini kah balasan dari dosaku pada Lea ? Membuat Lea terikat padaku seumur hidup ? " Tangis ku dalam hati.


Dokter pun menjelaskan bahwa kasih sayang dan dukungan sangat Lea butuhkan, bahkan akan lebih baik bila Lea di temani oleh seorang perawat medis.


Untuk beberapa waktu aku berfikir keras. Tak mungkin bagiku meninggalkan Lea sendiri, mungkin sudah takdir Tuhan Lea terikat padaku.


Karena kegaduhan yang sering Lea lakukan di apartemen yang memang sederhana itu, membuatku harus memindahkan Lea ke rumah pribadi. Beruntung sekali temanku menjual rumahnya di salah satu kawasan perumahan elit di kota Bandung dengan harga yang miring karena memang tak pernah ditempati.


Aku renovasi rumah itu sesuai keinginan ku. Kini Lea tinggal di rumah itu bersama  asisten rumah tangga dan juga seorang suster perawat yang bertugas menjaga dan merawat Lea. Katakanlah ini sebagai bayaran rasa bersalah ku pada Lea. Walaupun apa yang aku lakukan tak bisa di bayar dengan apapun. 

__ADS_1


***


Aku masih melakukan rutinitas itu,  pulang pergi Jakarta-Bandung untuk bekerja dan juga melihat keadaan Lea.


Mau tak mau keadaan ini membuat Sakti curiga, bahkan kakakku Sakti mulai mencari tahu apa saja yang aku lakukan. Termasuk membelikan Lea sebuah rumah sehingga Sakti begitu marah.


"Lo tau Bi ? Mungkin saja dia jebak lo dan morotin lo begini," ucapnya marah ketika dia tahu bahwa aku beberapa bulan ini rutin pergi ke Bandung dan membelikan Lea sebuah rumah.


"Gu...gue cinta dia," ucapku bohong.


Satu dusta telah keluar dari mulutku.


Aku tak mungkin meninggalkan Lea begitu saja. Lea telah terikat padaku.


"Gue mohon kakak mau ngerti" ucapku pada Sakti.


Aku tak pernah membawa perempuan mana pun pada keluarga, tak pernah ada yang serius hanya untuk kesenangan belaka. Oleh karena itu ku harap Sakti dapat mengerti dan menerima.


"Gue harap lo tau dan lo sadar dengan apa yang lo lakuin Fabian, lo bukan anak kecil lagi. Gue ga bisa selalu jagain dan larang larang lo lagi. Tapi gue mohon lo bisa jaga diri," ucapnya dingin seraya meninggalkan ruang kerjaku.


Aku menundukkan kepala diatas dua tanganku. Aku menangis. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana menderitanya aku. Terikat dengan wanita karena sebuah kesalahan dan tak mungkin aku meninggalkannya karena ia sakit mental. Sedangkan aku masih belum bisa melupakan wanita itu, Renata... Aku masih saja mengawasi nya dari jauh.


Seandainya hati bisa diperuntukkan bagi siapa tentu aku akan memilih Lea. Dengan begitu aku bisa mencintai Lea dan tinggal disampingnya untuk mengurus nya seumur hidupku.


Aku bisa gila menghadapi ini semua.


Hanya ke pada dua temanku aku berkeluh kesah. Stefan menyuruh ku untuk menemui psikiater seperti halnya Lea. Stefan yakin dengan terapi akan membuatku tetap waras dalam menjalani hidup.


Akhirnya tanpa sepengetahuan keluargaku, aku melakukan itu. Hanya Stefan dan Alex yang tahu. Kadang salah satu dari mereka menemaniku melakukan terapi.  Aku bersyukur dengan adanya mereka setidaknya aku bisa lebih ringan menjalani hidup.


***


Seperti biasa minggu ini aku mengunjungi Lea untuk menemaninya melakukan terapi di sebuah klinik. Psikiater nya seorang perempuan paruh baya yang sangat ramah. Kulihat Lea begitu nyaman dengannya.


"Fabian, kita sudah punya rumah tapi kenapa kamu selalu tinggal di hotel?" Tanya Lea ketika aku mengantarnya pulang setelah sesi terapi selesai.


"Aku gak bisa Lea, kita tak ada ikatan. Apa nanti kata orang?" Jawabku sekenanya.


Lea terdiam untuk beberapa waktu. Namun tak lama perlakuan nya berbeda. Lea mulai berteriak memaki maki aku, melayangkan berapa benda yang ada disekitarnya. Sontak bi Inah dan perawat Lea datang menghampiri.


Kami semua berusaha menenangkan Lea.

__ADS_1


"Kamu bilang kamu cinta aku Fabian !!! Kamu berulang kali mengucapkan itu !!!," Teriaknya.


"Dasar bajing*n !!! Kamu pembohong !!" Teriaknya lagi.


"Apa kamu ingin aku mati Fabian? Biar kamu bebas hah ?" Ucapnya lirih.


Melihat emosinya yang mereda aku menghampirinya dan meraih Lea dalam dekapan ku.


"Sstttt tenganglah Lea, tenang... A..aku mencintaimu," ucapku sambil menahan tangis.


Satu dusta lainnya telah keluar dari mulutku.


"Tapi kita tidak bisa tinggal bersama karena kita tidak ada ikatan,"  ucapku lagi.


Lea mendongakkan kepalanya padaku.


"Iya Fabian, tapi berjanjilah kamu gak akan tinggalkan aku. Katakan padaku kamu hanya mencintaiku," ucapnya lirih.


"Ya Lea, aku mencintaimu. Hanya mencintaimu," dusta lainnya telah keluar dari mulutku. Dalam hati menangis karena telah membohongi Lea. Tapi aku bisa apa ?


"Ayo Nona, kita minum obat dulu dan beristirahat. Biar bi Inah bisa bereskan semua yang berserakan," bujuk perawat itu dan Lea pun menuruti. Mereka berjalan beriringan menuju kamar Lea di lantai 2.


Karena kebutuhan medis Lea yang meningkat aku telah memberikan kartu debit dan kartu kredit yang lainnya pada Lea tentu saja dengan menggunakan batas limit. Bahkan aku membuka akun di bank kecil agar tidak terendus oleh Sakti kakakku. Untuk masalah transaksi keuangan Lea masih dapat melakukannya.


"Maaf Lea hanya ini yang aku bisa untuk menebus kesalahanku" batinku dalam hati.


Lalu aku pun meninggalkan rumah ini ketika Lea sudah dalam keadaan tenang.


Tbc...


Thank you for reading ❤️


Untuk informasi penyakit skizofrenia silahkan googling yaa banyak informasi yang disajikan disana bagaimana "dahsyat"nya gangguan mental ini. Dalam novel ini hanya memberikan sedikit informasi yang bersifat garis besarnya saja.


Atau mungkin teman teman sudah tau tentang ini ?


Untuk yang gak sabaran silakan skip ya dari pada kesel gak jelas ntar dosa.


lagi puasa ini... maaf 🙏🙏


Maafkan aku juga yang gak bisa ikuti keinginan alur reader seperti author lain mungkin. Karena aku punya alur ku sendiri maaf yaa 🙏🙏

__ADS_1


Sampai ketemu senin insyaallah.


Terimakasih yang masih berkenan mengikuti 😘


__ADS_2