
Happy reading ❤️
Tanpa Sakti sadari seorang wanita tengah berdiri di hadapannya. Ia pun mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya.
"Kenapa senyum-senyum ? Pasti lagi mikirin aku ya?" Tanya Vanya dengan nada suara menggoda.
"Nona Vanya memaksa untuk masuk, Pak." Ucap Sari takut-takut.
"Aku bisa kapan saja masuk dan menemui kekasihku," ujar Vanya tanpa malu dengan mengeraskan suaranya.
"Jangan dengerin dia, Sari. Kurasa dia sudah gila," ucap Sakti gusar.
"Tinggalkan kami berdua. Kamu bisa kembali ke kursi kamu," ucap Vanya pada Sari dengan nada arogan.
Sari menatap mata Sakti untuk memastikan dan Sakti menganggukkan kepalanya menyetujui agar Sari segera pergi.
"Baik saya undur diri, Pak." Ucap Sari dan membalikkan badannya untuk kembali ke kursi kerja.
Vanya duduk di hadapan Sakti tanpa dipersilahkan. Ia duduk dengan menyilangkan kaki. Roknya yang super mini terangkat sehingga kaki Vanya yang jenjang dan mulus terekspos dengan jelas.
"Lo ngapain datang kesini ?" Gusar Sakti tak suka.
"Aku hanya ingin melihat keadaan kekasihku yang katanya jatuh sakit. Apakah sebegitu menderita nya ditinggalkan istrimu? Padahal kamu cukup datang padaku jika hanya ingin sebuah pelepasan," ucap Vanya seraya menggerakkan kaki yang ia silang dengan begitu seduktif , hingga membuat kain berenda yang menutupi bagian paling sensitif dari tubuhnya dapat terlihat dengan jelas.
"Kamu menjijikkan !" Ucap Sakti ketika melihat apa yang Vanya lakukan.
"Kamu tak mengatakan itu ketika mencium bibirku penuh tuntutan dan menyentuh bagian tubuh yang ini," pancing Vanya seraya membusungkan dadanya.
"Gue sibuk sebaiknya Lo pergi sebelum security menyeret Lo keluar dengan paksa," ucap Sakti seraya kembali meneruskan pekerjaannya.
"Kamu takkan berani lakukan itu. Ingat sayang orang yang pertama kali akan menerima pesan berisikan photo mesra kita adalah mertuamu," ancam Vanya.
Ya ternyata Vanya adalah rekan kerja orang tua Kirana beberapa tahun yang lalu sehingga mereka saling mengenal satu sama lain.
"Apa jadinya bila mantu pilihan mereka ternyata tak lebih dari seorang pria brengs*k," ejek Vanya.
"Pergi sekarang juga ! Atau gue sendiri yang seret Lo keluar !!" Bentak Sakti seraya berdiri dan menggebrak meja.
Vanya berdiri, ia memberikan sebuah kecupan mesra di pipi Sakti sebelum memutuskan untuk pergi.
"Oh iya sayang, aku sangat tak suka diabaikan jadi angkat telpon ku dan balas lah pesanku," ucap Vanya sebelum pergi dan kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Sakti
"Set*n !!!!" Umpat Sakti ketika wanita itu telah meninggalkan ruangannya.
Dengan langkah gusar, Sakti berjalan menuju ruangan adiknya Fabian. Tanpa permisi ia memasuki ruangan itu dan mendaratkan tubuhnya di kursi yang menghadap adiknya itu.
"Gue bisa gila !!! Bi, gimana Lo udah dapat yang gue minta belum sih?" Tanya Sakti gusar.
Fabian terheran melihat kakaknya bersikap seperti itu.
"Lo kenapa ?" Tanya Fabian.
"Jal*ng itu berani datang kesini dan tanpa tahu malu dia ngaku kekasihku," geram Sakti.
"Lah bukannya dia emang cewek Lo ?" Ledek Fabian.
__ADS_1
"Jangan mancing gue Bi !" Ucap Sakti tak suka.
"Sabarlah, gue ma temen-temen gue lagi nyari cela nya. Kayanya cewek Lo itu emang pemain profesional. Mainnya halus. Kita cari jalan buat jatohin dia tanpa bawa-bawa nama Lo," jelas Fabian.
"Gue udah gak tahan lagi, dan jangan sekali pun Lo bilang kalau dia cewek gue" ucap Sakti seraya meraup wajahnya frustasi.
"Lo tau Bi ? Gue tadi liat Kirana pas video call anak gue. Dia tambah cantik, tambah judes juga dan gue rasanya makin gila karena jauh ma dia," ucap Sakti mengalihkan pembicaraan.
"Terus Lo ngomong ma dia ?" Tanya Fabian.
" Hu'um tapi cuma sebentar,'
"Apa yang Lo omongin?"
"Gak banyak, isinya cuma segala penolakan dia buat ketemu gue," jawab Sakti dengan rasa sedih yang tak bisa ia sembunyikan.
"Gue gak bisa bilang apa-apa selain sabar. Gue pernah ada di posisi Lo dan ngerti gimana rasanya," ucap Fabian.
"Lo tau Bi ? Gue nyesel banget dengan semua kelakuan bodoh gue sehingga kehilangan wanita yang gue cinta. Bahkan dia udah ninggalin gue sebelum gue nyatain gimana perasaan gue ma dia." Ucap Sakti yang tersenyum juga menitikkan air matanya secara bersamaan.
"Lo berusaha berubah ke arah lebih baik. Tunjukkan pada Kirana kalo Lo pantas untuk mendapatkan maafnya. Lo masih ikut konseling soal pernikahan ?" Tanya Fabian
Sakti menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lo juga masih ketemu psikiater buat ngendaliin amarah Lo ?" Tanya Fabian lagi.
"Iya masih. Gue pengen jadi orang yang jauh lebih baik ketika ketemu Kirana lagi nanti."
"Bagus, seenggaknya Kak Kirana tahu kalau Lo mau berubah,"
"Ada saatnya kalian pasti bertemu dan saling bicara" ucap Fabian menenangkan.
"Semoga...." Ucap Sakti penuh harap.
"Makasih udah mau dengerin gue, Bi." Ucap Sakti seraya berdiri untuk pergi.
"Hu'um, Lo juga selalu bantuin gue. Udah jangan mellow begitu, masa playboy lemah," ledek Fabian.
"Sial*n Lo, Bi !" Ucap Sakti dengan mengacungkan jari tengah pada adiknya itu dan Fabian tertawa terbahak-bahak menanggapinya.
***
Waktu berlalu dengan begitu cepat, acara pernikahan Fabian pun akan segera dilaksanakan pada esok hari.
Sakti dan seluruh keluarganya telah tiba di Semarang dan tinggal di sebuah hotel untuk beberapa hari.
Sakti begitu cemas luar biasa, hingga detik ini belum ada kabar juga dari wanita yang masih jadi istrinya itu tentang kedatangannya ke Semarang, bahkan sejak 3 hari terakhir Sakti tak bisa menghubungi kedua anaknya.
"Dimana kamu Ki?" Tanya Sakti bermonolog.
"Dimana kamu sayang ?" Lirihnya lagi.
"Tahukah kamu ? Aku sangat tersiksa tanpa mu." Ucap Sakti seraya mencoba menghubungi nomor telepon kedua anaknya namun masih tak dapat dihubungi.
Malam itu Sakti lalui dengan perasaan gundah dan ia pun tak dapat memejamkan matanya.
__ADS_1
***
Ketukan di pintu menyadarkan Sakti dari tidurnya, menjelang subuh ia baru bisa jatuh tertidur.
Lingkaran hitam dibawah matanya terlihat jelas, dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Lo abis begadang ?" Tanya Fabian yang sudah terlihat tampan, begitu jauh dengan keadaan dirinya yang kacau.
"Gue gak bisa tidur," jawab Sakti tak acuh.
"Cepetan siap-siap !! Lo mau mami ngomel ? Gue tunggu 15 menit terus kita sarapan di bawah." Ucap Fabian dan menerobos masuk ke dalam kamar kakaknya itu.
Dengan malas Sakti membersihkan dan kemudian bersiap. Ia mengenakan setelan jas berwarna abu-abu tua dengan kemeja dan dasi yang senada.
"Lo kurusan apa bajunya yang kegedean ?" Tanya Fabian setelah melihat penampilan kakaknya itu.
"Ini baju lama kok," jawab Sakti.
"Ya udah ayo cepetan, Mami nelponin terus," ajak Fabian seraya berjalan mendahului dan Sakti berjalan tanpa semangat di belakangnya.
Hati dan pikiran Sakti masih melayang pada Kirana yang entah berada dimana.
"Kamu begadang?" Tanya Maminya pada Sakti dengan nada tidak suka.
"Sudah tau adikmu mau nikah lagi kamu sempat-sempatnya main sampai begadang segala," lanjut maminya lagi.
Ingin Sakti menyangkal, tapi rasanya sudah tak ada energi ekstra untuk berdebat pagi ini jadi Sakti hanya terdiam tak menanggapi.
Setelah menyelesaikan sarapan, mereka bersiap pergi ke rumah Renata untuk acara pernikahan ke dua Fabian dan mantan istrinya itu.
Fabian mulai terlihat gugup dari wajahnya yang menegang.
"Tenang Bi, Lo kan udah pengalaman." Sakti berusaha menenangkan adiknya itu
Fabian tertawa canggung, "tetep aja gue deg-degan."
Mereka pun tiba setelah beberapa menit berkendara. Rumah Renata terlihat telah ramai oleh beberapa tamu undangan juga saudara dekat mereka.
Keluarga Renata mulai berjejer menyambut kedatangan rombongan pengantin.
Deg ! Mata Sakti membulat seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seorang wanita menggunakan gaun berwarna mocca yang begitu sempurna membelit tubuh rampingnya. Rambut panjangnya yang berwarna coklat karamel dibiarkan tergerai indah. Ia berdiri dengan menuntun tangan Celia dan ikut menjadi bagian keluarga Renata.
Ia adalah istrinya Kirana yang hampir 3 bulan ini hidup terpisah.
Kirana tampak cantik dan bahagia, jauh sekali dengan Sakti yang kini terlihat lebih kurus dan tak terurus.
Mata mereka bertemu dan saling memandang dari kejauhan untuk beberapa saat, hingga Kirana memutuskan kontak mata itu lebih dulu dengan memalingkan wajahnya ke arah lain dan itu membuat Sakti merasa sedih dan kecewa.
"Gue yakin sekarang Lo yang lebih tegang dari gue," bisik Fabian meledek kakaknya itu.
To be continued...
Thank you for reading ❤️
Hepi wiken everibodih 😘😘😘
__ADS_1