Terikat Dusta

Terikat Dusta
Mari Berteman


__ADS_3

Happy reading ❤️


Sikap dingin Renata masih terus berlanjut, bahkan ketika Fabian menjalani terapi pertamanya pun Renata masih mendiamkannya. Tak ingin memaksa Fabian hanya diam menerima.


Siang ini Fabian melakukan serangkaian terapi untuk membuatnya bisa kembali berjalan normal. Tentu saja Renata menemani begitu juga dengan Andi seorang perawat yang ditunjuk ibunya untuk membantu Fabian.


Renata hanya sibuk dengan benda pipih ditangannya seolah tak peduli pada apa yang Fabian lakukan.


Dari kejauhan mata Fabian hanya tertuju pada istri dinginnya.


"Gimana, semua lancar?" Tanya seseorang yang tak lain adalah dokter Jamie pada Fabian.


Sumpah demi apapun dokter Jamie adalah orang yang paling tak ingin Fabian temui meskipun dia berhutang budi banyak padanya.


"Seperti yang kamu lihat," ucap Fabian ketus.


"Jangan tegang, just relax. Biar semua berjalan lebih baik lagi," dokter Jamie memberikan saran pada Fabian.


Bukannya Fabian merasa tegang tapi dia merasa tak suka dengan kehadiran dokter Jamie ke ruang terapi nya.


"Mmm kamu diantar siapa?" Tanya dokter Jamie, dan Fabian tentu tahu apa maksud dibalik pertanyaan itu. Membuat Fabian makin merasa tidak suka.


Dokter Jamie mengedarkan matanya mencari sosok Renata dan kemudian tersenyum ketika melihatnya. Fabian mengepalkan tangan karena menahan amarahnya.


"Kak, kenapa kakak masih disini? Bukannya tanggung jawab kakak sudah selesai buat urusin aku?" Tanya Fabian dengan nada yang tidak bersahabat.


"Tante yang nyuruh aku buat terus urusin kamu sampai selesai terapi. Meskipun ini bukan bidang keahlian ku, tapi karena gak enak sama mami kamu ya sudah kakak terima" jawab dokter Jamie dengan santainya.


Fabian tak dapat berkata kata lagi, selain sumpah serapah yang dia ucapkan dalam hatinya.


"Berapa lama lagi ? Udah ini aku traktir makan siang," ucap dokter Jamie.


"Gak usah kak, aku mau langsung pulang," jawab Fabian dengan malas.


"Gak bagus nolak rezeki, aku tunggu disana sama Renata ya," ucap dokter Jamie yang kemudian melangkahkan kakinya menuju dimana Renata berada.

__ADS_1


Fabian kembali mengepalkan tangan dan menutup matanya berharap ingin menghilang saja dari tempat itu.


***


Fabian berada tepat di depan Renata dan Jamie yang sedang berjalan di lorong Rumah Sakit. Sedangkan dia menduduki kursi roda yang kini di dorong Andi. Terdengar suara tawa Renata yang tengah berbincang bincang dengan dokter Jamie sepupunya. Entah apa yang dibicarakan mereka tapi bisa Fabian dengar dengan jelas bagaimana Renata se-ramah itu dengan orang lain tapi tidak dengan dirinya. Kembali Fabian menahan rasa sakit dihatinya.


Meskipun telah menolak tapi dokter Jamie bersikeras untuk mengajak makan siang bersama. Disinilah mereka di sebuah cafe, duduk berempat secara melingkar.


Dokter Jamie terlihat begitu peduli pada Renata, dengan bagaimana dia memperlakukan perempuan itu. Mulai dari menggeserkan kursi untuk Renata duduk, menanyakan apa yang diinginkannya dan hal hal lain yang Fabian lakukan dulu. Membuat hati Fabian terasa ngilu. Entah sudah berapa banyak sumpah serapah yang Fabian lontarkan dalam hatinya untuk dokter Jamie kakak sepupu nya itu.


"Kenapa Fabian? Gak suka makan disini?" Tanya dokter Jamie seolah tak ada dosa. Pria itu bertanya karena melihat raut wajah Fabian yang tak enak dipandang mata.


"Nggak apa-apa sih, sebenarnya aku lebih pengen makan dirumah," jawabnya ketus.


"Apa makan siang kamu mau di take away aja ? Tapi tetep tunggu kita selesai makan ya. Tanggung udah kepalang pesan." Kali ini Renata yang berbicara pada Fabian.


Fabian menghela nafasnya yang terasa berat. Bukan itu maksudnya, bukan sekedar ingin makan siang di rumah, hanya saja dia tak suka dengan keberadaan sepupunya itu. Bukannya tidak tahu terimakasih tapi Fabian tak suka melihat kedekatan dokter Jamie dengan istrinya Renata.


"Gak masalah, kita makan siang disini saja. Asal kalian merasa senang aku ikut senang," jawab Fabian dengan nada menyindir.


***


Sore itu Celia tengah bermanja-manja pada Fabian. Duduk di sofa besar menonton acara kartun favoritnya dengan berbagai macam cemilan yang telah disediakan Renata. Sedangkan Renata sendiri tengah menyiram tanaman dekat kolam renang namun keberadaannya masih dalam jangkauan mata Fabian.


Itulah yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Keduanya saling menghindar, terutama Renata yang lebih banyak menghindari Fabian. Dia lebih sering menyibukkan diri melakukan hal hal yang sebenarnya dapat dilakukan asisten rumah tangganya.


Merasa diperhatikan Renata menolehkan kepalanya ke arah kaca besar yang menjadi pembatas dirinya dan ruang TV dimana Fabian dan Celia berada. Untuk sesaat matanya beradu pandang dengan mata Fabian tapi Renata segera memutuskan pandangan itu terlebih dulu. Dia menolehkan kepalanya kearah lain menghindari tatapan Fabian.


Rasa ngilu kembali Fabian rasakan dihatinya.


***


Fabian rasanya sudah tak sanggup lagi dengan sikap dingin Renata. Akhirnya malam itu Fabian memberanikan dirinya untuk mendekati Renata yang tengah bermain main dengan buah hatinya di kamar tidur mereka.


"Celia sayang apa mau es krim ? Kalau mau boleh minta bibi Sumi di dapur, tapi tidak boleh terlalu banyak," ucap Fabian membujuk Celia agar meninggalkan ibunya Renata.

__ADS_1


"Tapi ini sudah malam Daddy, apa mommy ngizinin Celia makan es krim ?" Celia menolehkan kepalanya pada Renata seolah meminta persetujuan.


Renata tentu saja mengerti maksud dari Fabian agar mereka memiliki waktu berdua, dengan berat hati Renata mengizinkan.


" Yes sure sayang, tapi jangan terlalu banyak dan ingat langsung gosok gigi ya," ucap Renata sembari memberikan ciuman di kedua pipi anaknya itu.


Celia pun beranjak dari tempat tidur dengan melompat-lompat bahagia dan berlari kecil menuju dapur.


Tiba-tiba udara terasa lebih dingin padahal suhu AC tetap sama.


Renata mendudukkan dirinya di tepi ranjang menghadap ke arah Fabian yang duduk di kursi roda.


"Apa mau mu Fabian?" Renata memecah keheningan diantara mereka.


"Sayang, aku gak sanggup lagi dengan sikap dingin mu. Lakukan apapun yang bisa mengurangi rasa benci kamu sama aku, Renata. Pukul aku Renata ! Caci maki aku ! Ludahi aku ! Lakukan apapun yang kamu mau Renata, karena aku memang pantas mendapatkan nya," ucap Fabian dengan penuh emosi.


Renata masih diam dan menanggapi nya dengan dingin.


"Lalu apa untungnya buat aku, dengan lakuin semua itu ? Apa akan menghilangkan kenyataan pahit ini Fabian? Tidak bukan ? Aku tak mau mengotori tanganku dengan hal yang gak penting," ucap Renata tajam.


Fabian tak menyangka akan seperti ini respon Renata. Dalam bayangan Fabian, Renata akan mencaci makinya dan melampiaskan emosi dengan membabi buta padanya.


"Aku juga sudah berpikir, kondisi kita seperti ini akan berefek buruk bagi Celia. Jadi Fabian, mari kita mulai dari awal. Mari kita berteman saja," ucap Renata dengan senyum terukir diwajahnya.


Fabian terkesiap dengan apa yang diucapkan Renata.


"A..a..apa maksudmu dengan berteman Renata?" Tanya Fabian terbata.


"Ya berteman, kita berdamai Fabian tapi tidak melibatkan perasaan.Bukankah ini lebih baik ?" Tanya Renata seolah tak ada beban ketika mengucapkan nya.


"Tidak sayang, aku gak mau. Bagaimana mungkin kita hanya berteman sedangkan aku sangat mencintaimu," ucap nya mengiba.


TBC...


Jangan lupa tinggalin jejak yaaa 😘😘😘

__ADS_1


Thank you for reading ❤️❤️❤️


__ADS_2