
Happy reading ❤️
"Anggap saja quality time untuk kita berdua dan kamu jangan takut, aku tak akan meminta 'hal itu," darimu meskipun aku sangat menginginkannya. Aku akan menunggu hingga kamu benar-benar siap. Jadi ku mohon, mau ya ?"
Kirana tak menjawab, ia masih merasa ragu. Bukannya tak ingin tapi keadaan Davin yang belum pulih membuatnya berat untuk meninggalkan.
Terdengar bunyi klakson yang saling bersahutan dari mobil-mobil di belakangnya karena Sakti belum juga menjalankan mobilnya padahal lampu rambu lalulintas telah berubah hijau.
Jari jemari Kirana masih dalam genggaman tangan suaminya, sesekali Sakti melirik dengan cemas pada istrinya itu. Ajakannya untuk berbulan madu belum Kirana jawab juga.
Kirana tahu suaminya itu masih menunggu jawaban darinya. Ia tersenyum melihat Sakti yang seperti itu. "Akan aku pikirkan," jawab Kirana pada akhirnya.
Sakti menolehkan wajahnya ketika Kirana mengucapkan itu, seolah tak percaya Kirana akan memikirkannya.
"Beneran... Akan aku pikirkan," Kirana mengulangi jawabannya.
Wajah Sakti terlihat lebih murung, Kirana tahu suaminya itu sedang merasa kecewa.
"Sayang.... Mengertilah, Davin baru saja keluar rumah sakit. Aku tak akan tenang bila meninggalkannya sekarang. Beri waktu satu Minggu lalu kita rencanakan untuk pergi berdua." Ucap Kirana seraya mengusap lembut tangan Sakti yang menggenggam jari jemarinya.
Sebuah senyuman terbit di wajah suaminya itu. "Janji ya?" Tanya Sakti dengan mengecup punggung tangan Kirana.
"Iya bawel," jawab Kirana yang merasa gemas pada suaminya itu dan Sakti tergelak ketika mendengarnya.
***
Mereka tiba kembali di rumah pada siang menjelang sore. Kedua anak mereka tengah menonton televisi sembari memakan potongan buah. Orang tua Sakti yang menjaga mereka saat ini.
"Tuh kan, mereka baik-baik saja, kamu jangan khawatir berlebihan," ucap Sakti.
"Iya... Tapi kalau bulan madu itu kita pergi berhari-hari jadi bersabarlah," jawab Kirana seraya membelai lembut pipi suaminya.
"Iya..." Jawab Sakti dengan tak semangat dan Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Sakti yang seperti itu.
Kirana melihat jam yang melingkar di tangannya dengan cemas.
"Ada apa ?" Tanya sakti
"Aku tadinya mau ke kantor buat bantu urusin proyek baru"
"Sama bule itu ?" Tanya Sakti lagi.
"I... Iya... Tapi ini murni soal kerjaan," jawab Kirana yang khawatir dengan tanggapan Sakti.
"Sayang bukannya mulai sekarang kita harus selalu terbuka satu sama lain ?" Sakti kembali bertanya seraya mendekatkan dirinya pada Kirana dan dijawab dengan sebuah anggukan kepala.
"Aku... Aku gak suka kamu dekat dia. Aku cemburu," ungkap Sakti malu-malu.
"Apa kamu gak suka aku kerja ?" Tanya Kirana dengan menatap dalam mata suaminya.
"Bukan, bukan begitu... Aku gak suka kamu dekat lelaki lain. Dadaku terasa sesak ketika memikirkannya."
Kirana tersenyum ketika mendengar itu.
"Jangan tertawa, Sayang. Aku sungguh-sungguh," ucap Sakti sembari merapikan rambut Kirana di dahi.
"Mmm... Aku akan ditemani Mega asistenku bila setiap bertemu dengannya, bagaimana ?"
"Janji ?"
"Iya... Aku berjanji padamu, dan percayalah padaku." Jawab Kirana.
"Baiklah, aku izinkan." Ucap Sakti.
"Terimakasih sudah percaya padaku," ujar Kirana seraya menjinjitkan kakinya untuk meraih bibir Sakti dan memberikannya sebuah kecupan.
Sakti menarik tubuh Kirana ketika kecupan itu berakhir. Ia menginginkan lebih.
Sakti menundukkan wajahnya, membenamkan bibirnya di atas bibir ranum Kirana dan menyesapnya perlahan.
Ia memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman, Kirana mengalungkan tangannya di leher Sakti dan membalas ciuman itu.
Lama-lama ciuman itu semakin dalam dan menuntut, disertai pagutan lidah yang saling membelai dan menghis*p satu sama lain sehingga suara decapan has orang berciuman memenuhi kamar mereka.
Kedua tangan Sakti telah berada di atas bok*ng Kirana dan meremasnya gemas, Kirana mengerang dan semakin erat mengalungkan tangannya ketika Sakti melakukan itu.
__ADS_1
Bagian tubuh bawah Sakti mulai menegang dan berdenyut hebat ingin segera di bebaskan dan melakukan aksinya tapi mati-matian sakti menahan diri karena takut Kirana masih belum siap.
Dengan berat hati Sakti memisahkan tautan bibir mereka. Terlihat bibir Kirana yang sedikit membiru karena membengkak dan wajahnya memerah. Sakti menyentuh bibir itu dengan jemarinya.
"Maaf," gumam Sakti lirih.
"Its ok," jawab Kirana sembari tersenyum.
"Sepertinya kita memang harus berbulan madu," ucap Kirana sembari tertawa.
Sakti pun tertawa mendengar itu, ia sangat senang. "Kita akan bilang Mami sama Papi sekarang juga. Mereka pasti setuju."
***
Disinilah mereka kini, di sebuah vila mewah di daerah Seminyak Bali. Satu jam yang lalu mereka tiba dan Ini akan menjadi tempat tinggal mereka untuk 4 hari ke depan.
Vila dengan nuansa kayu, dan letaknya dekat dengan pantai sehingga deburan ombak dapat terdengar.
"Kamu lelah ?" Tanya Sakti seraya membelai lembut wajah Kirana.
"Aku mengantuk," jawab Kirana.
"Beristirahatlah, aku akan keluar sebentar."
"Mau kemana ?"
"Mmm.. mau beli sesuatu." Jawab Sakti.
Kirana pun membaringkan tubuhnya diatas ranjang ketika Sakti pergi. Tak butuh waktu lama Kirana pun terlelap dalam mimpinya.
Kirana terbangun pada sore hari, ia lihat sekeliling Sakti tak ada disana. Kirana pun memilih untuk membersihkan diri dan berganti pakaian dengan dress motif floral berpotongan leher off shoulder sehingga pundaknya yang mulus terekspos dengan jelas. Ia merias wajah nya dengan polesan make up natural dan menggerai rambutnya.
Sudah hampir pukul 5 sore namun Sakti belum juga pulang. Kirana segera mencari ponselnya untuk menghubungi suaminya itu namun belum juga ia menghubungi terdengar ketukan di pintu kamarnya.
Kirana berjalan dan membuka pintu itu, sebuah buket bunga mawar terlihat ketika pintu itu terbuka.
"Untukmu," ucap Sakti seraya menyerahkan buket bunga itu.
Kirana menerima dan menghirup wanginya. Ia tersenyum bahagia ketika menerimanya.
"Kamu cantik sekali, Sayang." Sakti begitu terpesona dengan penampilan Kirana saat ini.
"Ayo kita melihat sunset dan makan malam,"
Kirana pun menuruti ajakan suaminya itu. Sakti mengenakan kemeja putih yang ia gulung tangannya sebatas lengan, celana warna senada yang hanya sebatas lutut dan sepatu kets. Meski terlihat lebih santai tapi tak mengurangi ketampanannya.
Sakti menautkan jemarinya pada Kirana ketika mereka berjalan beriringan, kebetulan tempat yang mereka tuju tak jauh dari vila.
Tak henti-hentinya Sakti menatap kagum pada Kirana hingga semburat merah timbul di kedua pipi Kirana.
"Sayang... Kamu cantik banget." Bisik Sakti dan memberikan ciuman di puncak kepala Kirana. Tangannya kini telah melingkar erat di pinggang Kirana dan memeluknya dengan begitu posesif.
Mereka menikmati matahari terbenam dengan ditemani lagu-lagu yang memanjakan telinga dan minuman cocktail yang menyegarkan.
Sakti menarik tubuh Kirana agar lebih mendekat, ia membenamkan bibirnya di atas bibir Kirana dan mengulumnya lembut. "Aku cinta kamu, Kirana." Sakti kembali mengungkapkan perasaannya dan matahari yang mulai terbenam ke peraduannya itu menjadi saksi pernyataan cintanya kali ini.
"Love you too, Sayang." Jawab Kirana dengan tersipu malu.
***
Setelah menikmati makan malam romantis mereka pun kembali ke vila. Tak bisa menahan diri lagi, Sakti pun meraih Kirana dalam dekapannya melabuhkan kembali bibirnya diatas bibir Kirana dan mencumbunya penuh penghayatan.
Bibirnya mengulum bibir Kirana bergantian dan Kirana membalas ciuman itu sama panasnya.
Kirana membuka sedikit mulutnya sehingga lidah sakti dapat menyeruak masuk dan membelai lidah Kirana dengan lidahnya.
Sakti memiringkan kepalanya untuk memperdalam ciuman. Semakin dalam ciumannya bukan semakin puas tapi malah menginginkan lagi dan lagi.
Bibir basah Sakti p kini merambah turun menyusuri leher dan pundak terbuka Kirana yang sedari tadi telah menggodanya.
"Nghhhhhh,"
Erang Kirana ketika Sakti memberikan tanda kemerahan di tubuhnya. Sakti semakin mengeratkan pelukan karena tubuh Kirana yang mulai melemah karena ulahnya.
Sakti kembali meraih bibir Kirana dengan bibirnya dan memangku tubuh Kirana ala bridal style, membawanya ke atas ranjang mereka.
__ADS_1
Sakti terus mencumbu bibir Kirana dengan tangan yang mulai membuka dress istrinya itu.
Kini Kirana tergolek pasrah di bawah kukungan tubuh suaminya hanya dengan satu kain berenda yang menutupi inti tubuhnya.
Tangan Kirana mulai membuka kancing kemeja Sakti, tapi dengan tak sabarannya sakti ikut membuka kancing dan membuang kemejanya sembarang. Kirana memandang takjub tubuh kekar suaminya dengan wajah memerah karena gair*h.
Sakti duduk bertumpu pada lututnya, bibirnya yang basah memberi ciuman lembut dan menggelitik pada kedua kaki Kirana dari mulai betis dan terus merambat turun menuju inti tubuh istrinya.
Sakti pun menarik kain berenda itu, ia memandang Kirana untuk sesaat seolah meminta izin untuk bertindak lebih jauh lagi dan Kirana pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Sakti tersenyum dan mulai membenamkan wajahnya diantara kedua kaki Kirana. Bibirnya yang basah dan kenyal memanjakan inti tubuh Kirana dengan memberikan banyak cumbuan yang lembut namun kadang begitu kuat sehingga membuat tubuh Kirana melenting karena tak tahan dengan perlakuan suaminya di bawah sana.
sedang tangan Sakti memberikan sentuhan-sentuhan halus seringan bulu pada perut datar Kirana dan terus merambat naik hingga bertemu benda kenyal yang begitu pas dengan tangannya dan meremasnya gemas.
"Nghhhhh,"
Erang Kirana sembari melentingkan tubuhnya kembali. Nafasnya mulai memburu. Kirana merem*s rambut suaminya dan menekan kepala Sakti agar semakin memanjakannya di bawah sana. Gelenyar nikmatnya bukan kepalang, sehingga pelepasannya pun tiba.
"Nghhh... Mashh,"
Lirih Kirana ketika pelepasannya datang. Kepalanya terasa pening dan lututnya terasa lemas, pandangan matanya pun berkabut. Sakti sungguh menikmati pemandangan indah dihadapannya ini.
Kirana masih dalam gelombang pelepasannya ketika Sakti mulai melucuti sisa kain yang menutupi tubuh bawahnya.
Bukti gair*h Sakti telah menegang hebat dan berdenyut menuntut ingin segera dipuaskan. Ia pun merangkak naik mensejajarkan tubuh polosnya, bibirnya kembali meraih bibir Kirana dan mengulumnya.
Kini Sakti sudah tak dapat menahan dirinya lagi. "Sayang bolehkah?" Tanya Sakti yang sudah tak tahan ingin menyatukan diri.
Kirana menganggukan kepala dengan wajah memerah karena gair*h.
Sakti kembali mengulum bibir Kirana dengan lembut. Tanpa Sakti kira, Kirana meraih bukti gair*h suaminya itu dengan tangannya dan mengarahkannya pada inti tubuhnya yang telah siap untuk penyatuan. Sakti memejamkan matanya, menikmati apa yang Kirana lakukan padanya.
"Eeunghhh,"
Erang keduanya, ketika tubuh mereka tmenyatu dengan sempurna. Kirana menggigit bibir bawahnya karena begitu terasa sesak di bawah sana.
Sakti memberikan waktu bagi Kirana untuk menerima dirinya dan dengan perlahan mulai menggerakkan tubuhnya.
Kirana memejamkan mata menikmati setiap hentakan yang Sakti berikan, tangan Sakti yang memberikan sentuhan halus seringan bulu di seluruh tubuhnya semakin membuat Kirana begitu terlena dan terbuai.
Tubuh Kirana bergerak gelisah karena pelepasannya akan kembali datang, Sakti yang menyadari itu semakin intens menggerakkan tubuhnya. Hentakannya semakin kuat dan cepat.
Kirana merem*s kain bedcover di bawahnya ketika pelepasannya kembali tiba. Matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka dan nafasnya memburu.
Sakti semakin menikmati pemandangan indah di hadapannya.
Sakti, memutar posisi hingga kini Kirana berada diatasnya. Wajah istrinya itu tersipu malu karena mata Sakti terus menatapnya.
"Bergeraklah sesukamu," ucap Sakti dengan suaranya yang telah berubah serak.
Kirana pun meliukkan tubuhnya. Menari di atas tubuh suaminya dengan penuh penghayatan.
Sakti memejamkan mata, menikmati cengkraman tubuh bawah Kirana pada bukti gair*hnya.
"Fasterrr Sayang," gumam Sakti lirih, dan ia tersenyum puas ketika Kirana menuruti kemauannya.
Gerakan Kirana semakin tak terkendali, membuat Sakti akan menghampiri batas dirinya. "Sayang.. aku..." Sakti meracau.
"Nghhhhh,"
Erang keduanya ketika pelepasan mereka tiba secara bersamaan. Kirana pun merubuhkan tubuhnya di atas tubuh Sakti dengan nafas tersengal.
Sakti mencium puncak kepala istrinya berkali-kali.
"Love you, Ki. Aku cinta kamu Kirana," Bisiknya lirih.
Kirana membalas ucapan itu dengan sebuah ciuman, dan dengan perlahan ia menurunkan tubuhnya untuk memisahkan diri.
Kirana tidur meringkuk karena kelelahan, peluh masih menghiasi dahinya. Sakti membawa tubuh lelah Kirana dalam dekapannya dan memberikan banyak ciuman di puncak kepala istrinya. Kirana membalas pelukan itu dengan suka cita. Saat ini Kirana merasa begitu dicintai. Ternyata memberikan kesempatan kedua tidak seburuk itu. Pikir Kirana dalam hatinya.
Part panjang ini pasti terasa pendek 👌
Thank you for reading ❤️
jangan lupa like dan komen ❤️
__ADS_1
love u genks ❤️