
Happy reading ❤️
"Apa kamu gila ?" Tanya sakti Sakti gusar.
"Kekasih gila mu ini mempunyai banyak photo mesra dengan mu. Apa jadinya bila aku mengirimkan photo-photo ini pada orang terdekat mu. Atau pada wartawan mungkin. Pasti akan jadi berita yang menarik," ucap Vanya penuh ancaman.
"Lo pikir gue takut ?" Tanya Sakti seraya mengapit wajah Vanya dengan satu tangannya dengan kasar dan menatap mata wanita itu penuh amarah.
"Gara-gara Lo, Kirana ninggalin gue. Ninggalin gue !!" Teriak Sakti frustasi.
Vanya berontak berusaha melepaskan diri. Senyum puas terukir di wajahnya ketika ia mendengar Kirana meninggalkan Sakti.
"Dia udah mempermalukan aku ! Istrimu telah merendahkan aku. Aku akan membalasnya dengan memilikimu !" Geram Vanya.
"Dalam mimpi !" Gusar Sakti.
Sakti mulai mendekati Vanya untuk kembali mengintimidasi namun Vanya langsung menunjukkan ponselnya dan siap mengirim photo mesra mereka ke beberapa kontak yang ada dalam ponselnya.
Seketika Sakti menghentikan langkahnya.
"Akan benar-benar ku lakukan jika kamu tak menuruti aku." Vanya kembali mengancam.
"Dasar jal*ng" umpat Sakti.
"Ya sayang... Dan jal*ng ini adalah kekasih mu," jawab Vanya tertawa.
Sakti mengepalkan tangannya menahan amarah dengan gusarnya Sakti meninggalkan apartemen Vanya.
***
Hari pun terus berlalu, telah hampir 3 Minggu sejak Kirana meninggalkannya. Sakti belum juga bisa menemui Kirana dan kedua anaknya meski ia telah beberapa kali datang ke rumah mertuanya di Singapura. Hubungan melalui ponsel pun tak dapat dilakukan karena Kirana masih tak dapat dihubungi.
Surat gugatan cerai dari Kirana pun belum ia tanggapi, surat itu masih berada di atas nakas dikamarnya. Tak pernah sekalipun ia berani membaca lagi surat itu.
Hanya cincin pernikahan Kirana yang selalu Sakti bawa dalam sakunya. Seringkali ia hanya memandangi cincin itu dalam waktu yang lama dengan pikiran melayang membayangkan istrinya itu.
Sungguh Sakti merasa frustasi saat ini.
Belum lagi urusan dengan Vanya yang masih menggantung pun semakin menambah beban baginya.
Sakti melampiaskan semua kegundahannya dengan terus bekerja tanpa memperhatikan kesehatannya.
Pernah beberapa kali ia datang lebih cepat dari sekretarisnya dan pulang lebih larut dari biasanya. Makan pun tak beraturan. Ia akan makan bila Fabian mengajak makan bersama atau jika ia benar-benar merasa lapar.
Tubuhnya mulai kehilangan bobot, wajahnya menirus, bulu-bulu halus menghiasi wajah tampannya.
Sakti tengah tenggelam dalam lautan pekerjaan ketika pintu ruangannya di ketuk dan muncullah Sari sekretarisnya dari balik pintu.
" Pak," ucap Sari namun Sakti tak mendengarnya karena ia tengah fokus pada tumpukan kertas di hadapannya.
__ADS_1
"Pak, ada yang ingin bertemu dengan anda," Sari kembali berucap dengan menaikkan volume suaranya.
Sakti pun mendongakkan kepala.
"Ah sorry, gak kedengaran. Memangnya saya ada janji temu dengan siapa hari ini ?" Tanya Sakti, seingatnya hari ini ia tak ada janji untuk bertemu siapapun.
"Beliau belum membuat janji, namun katanya sangat penting untuk bertemu dengan Bapak."
"Siapa?" Tanya Sakti.
"Namanya bapak Ricky," jawab Sari sekretarisnya.
Dengan refleksnya Sakti menjatuhkan ballpoint yang tengah ia genggam.
"Ngapain dia kesini ?" Tanya Sakti tak suka.
"Bilang gue gak ada !"
"Saya sudah mengatakannya berulang kali agar terlebih dahulu membuat janji. Namun beliau bersikeras untuk menemui anda," jawab Sari takut-takut.
Sakti berpikir untuk sesaat.
"Suruh dia masuk !"
"Ba.. baik pak," jawab Sari seraya berjalan keluar.
Sakti berdiri dari kursi kebesarannya, ia berjalan setengah memutari meja dan menunggu lelaki yang sangat ia benci itu di depan mejanya dengan berpangku tangan.
"Ngapain lo nyari gue ? Masih belum cukup gue hajar lo kemarin ?" Ucap Sakti tanpa basa-basi.
"Masih mau nyari mati ?" Geram Sakti.
Lelaki itu terdiam untuk beberapa saat menatap Sakti yang sedang terbakar emosi.
"Bisa kita bicara baik-baik ?" Tanya nya sopan.
"Gak usah basa-basi !" Jawab Sakti.
"Gue datang mau minta maaf secara baik-baik sama lo dan mau jelasin yang sebenarnya," ucap lelaki itu dengan nada suara tenang.
Sakti tidak bergeming, bahkan lelaki itu tidak dipersilahkan untuk duduk.
Sepertinya tidak akan mudah untuk menghadapi Sakti yang masih dalam rasa kebencian. Pikir lelaki itu.
"Gue minta maaf udah bikin masalah antara Lo ma Kiki," ucap lelaki itu tulus.
"Siaallll !!! Bahkan dia punya panggilan husus buat istri gue," gumam Sakti tak terdengar dengan mengepalkan tangannya.
"Gue yang salah selalu berusaha dekatin dia walaupun Kiki terus menolak. Gue yang selalu berusaha kontak dia walaupun hampir semua yang berkaitan dengan gue selalu dia blok," jelas lelaki itu penuh penyesalan.
__ADS_1
"Karena Lo gak tau malu !!! " Jawab Sakti seraya menunjuk wajah lelaki itu.
"Dulu gue berhubungan dengan Kirana selama 2 tahun, sebelum akhirnya kalian menikah. Anak gue masih berusia 6 tahun waktu itu. Sejak kecil anak gue ditinggal mama kandungnya sendiri dan perempuan yang dekat dengan dia hanya Kirana. Setelah kita berpisah, gue lama gak berhubungan dengan perempuan lain. Hingga pas anak gue mau beranjak remaja gue putuskan nikah sama orang yang dijodohin temen gue." Lelaki itu mulai bercerita.
"Tapi sayang sekali perempuan yang jadi istri gue mempunyai sifat yang jauh dari Kiki. Dia gak lembut dan gak perhatian sehingga anak gue yang mau masuk masa remaja berontak dan selalu membandingkan istri gue sama Kirana. Anak gue selalu minta untuk bertemu dengan Kirana walaupun sebentar. Bertahun-tahun gue minta Kirana untuk ketemu tapi dia selalu menolak karena alasan sudah menikah hingga anak gue memaksa untuk bertemu, akhirnya gue mendatangi Kirana di sekolah anak kalian dan dengan terpaksa Kirana menemui kami." Jelas lelaki itu panjang lebar.
Sakti masih mendengarkan dengan seksama.
"Mungkin ada 2 atau 3 kali kami bertemu meskipun hanya sebentar. Setiap bertemu Kirana hanya memberikan nasihat buat anak gue, kita bertemu pun di tempat umum. Namun pada pertemuan terakhir Kirana meminta dan memohon kepada kami untuk berhenti menemui nya karena dia sudah menikah dan dia gak mau suami yang dia cintai berpikiran buruk tentangnya,"
Deg ! Sakti tersentak. Dadanya begitu terasa sesak bagai tertindih batu.
"Kirana mencintai aku ? Kirana mencintai aku ?" Pertanyaan itu muncul dalam batinnya dan membuat perasaan Sakti kian tak menentu.
"Kirana sangat cinta sama lo, hingga ia sangat ketakutan setiap bertemu gue dan anak gue. Takut bila lo berpikiran buruk tentangnya, bahkan ia bercerita lidahnya terasa kelu setiap ia ingin mengatakan sama lo kalau dia menemui kami. Dia gak mampu buat cerita karena takut kehilangan suami yang sangat dia cintai, karena dari awal menikah dia sudah berjanji sama lo tidak akan menemui gue lagi."
"Kalau Kirana menolak, kenapa Lo masih berusaha deketin dia ?" Hardik Sakti dengan suara meninggi.
"Karena anak gue sakit dan gue butuh Kirana untuk teman bicara, maaf... Secara gak sadar gue sangat membutuhkan Kirana" jawab lelaki itu merasa bersalah.
"Asal Lo tau bangs*t ! Gara-gara Lo, gue ma Kirana pisah," geram Sakti seraya menyambar kerah kemeja lelaki itu dengan kedua tangannya.
"Gue datang karena Kiki bilang gara-gara gue hidupnya hancur. Gue merasa bersalah sama Kirana, bukan sama lo ! Lo nikahin dia selama ini masa gak sadar gimana perasaan istri Lo sendiri !"
Ucapan lelaki itu bagai tamparan bagi Sakti. Ia tersentak dan melepaskan cekalan tangannya.
Ya dia memang suami brengs*k yang menuduh istrinya berbuat selingkuh padahal dia sendiri yang akhirnya melakukan itu.
Sakti terhuyung ke belakang, ia merasa syok dengan kenyataan yang baru saja ia sadari.
"Gue datang cuma mau bilang bahwa Kirana itu perempuan baik-baik, cuma gue aja yang brengs*k yang selalu mencoba dekat lagi dengan istri Lo. Gue yang salah dan gue benar-benar menyesal. Maaf..." ucap lelaki itu penuh penyesalan.
Sakti menundukkan wajahnya dengan kedua tangan menahan tubuhnya pada meja agar tak terjatuh. Tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit.
"Sekali lagi gue benar-benar minta maaf. Kirana adalah wanita terbaik dan Lo lelaki paling beruntung yang bisa memilikinya,"
Merasa tak ditanggapi, lelaki itu pun pergi meninggalkan ruangan Sakti.
***
Sakti tiba di rumahnya ketika malam telah sangat larut. Rumahnya terasa begitu sepi apalagi bi Mani yang selama ini membantu pun sedang pulang kampung.
Sejak tadi sore kepalanya terasa berat dan tubuhnya menggigil, kedatangan lelaki itu pun semakin membuat keadaannya memburuk.
Dengan langkah gontai Sakti terus berjalan, hingga merasa tak sanggup lagi ia pun merebahkan dirinya diatas sofa.
"Ki... Kirana maafkan aku..," lirihnya pelan.
Tak lama, pandangannya terasa gelap dan Sakti pun tak sadarkan diri.
__ADS_1
To be continued...
Like dan komen yaaa 😘