
Happy reading ❤️
"Masuk Sar, ada yang harus saya bicarakan sama kamu," ucap Fabian.
Sarah menyambut nya dengan suka cita. Sarah berdiri dan berjalan dengan sedikit menggoyang kan pinggulnya. Langkahnya begitu seduktif mencoba menarik perhatian Fabian.
Fabian melihatnya dengan tatapan tak suka. Bukan karena Fabian laki laki abnormal, tapi apa yang dilakukan Sarah terlalu murahan pikir Fabian.
"Duduk !" Titah Fabian pada sekretarisnya itu ketika mereka berdua telah berada di dalam ruangan Fabian.
Sarah yang mengenakan rok pendek dan ketat duduk menyilangkan kakinya yang satu ke atas kaki yang lain hingga bagian pahanya yang putih mulus dapat terekspos dengan jelas. Kaki jenjangnya terpampang nyata di hadapan Fabian.
Ingin rasanya Fabian memberikan selimut untuk menutupinya. "What a shame ( sayang sekali ) seharusnya perempuan itu memuliakan dirinya sendiri agar para pria menghormati dan menghargainya bukan memurahkan dirinya seperti ini," batin Fabian dalam hati.
"Hmmm begini Sarah, sebelum nya saya berterimakasih banyak untuk kinerja mu yang cukup baik. Tapi maaf untuk kedepannya saya tidak dapat menjadikan kamu sebagai sekretaris pribadi saya lagi."
Sarah yang mendengar itu merubah posisi duduknya. Yang tadinya ia begitu percaya diri berubah dengan kecemasan di wajahnya.
"Apa kesalahan saya, Pak ? Akan saya perbaiki agar kinerja saya lebih meningkat. Lagian kan saya baru bekerja juga kurang dari 1 bulan. Alangkah tidak bijak bila bapak melakukan ini pada saya," ucap Sarah berapi-api.
Fabian terheran kenapa Sarah cukup berani melawannya.
"Saya tidak suka cara kerja anda yang tidak bisa membedakan urusan kantor dan urusan pribadi. Saya tidak suka anda yang tiba-tiba hadir dalam acara keluarga pribadi saya atau menghubungi saya diluar jam kantor. Saya dapat bekerja dengan profesional, kamu pun seharusnya begitu. Dan ini harga mati bagi saya. Coba tanya Indri, apa dia pernah mencoba memasuki ranah pribadi saya ? Kalau kamu benar-benar telah belajar pada Indri pasti sudah tahu bahwa saya tidak suka bila orang lain berusaha memasuki ranah pribadi saya, sekali pun dia sekretaris saya. Di sini kita dituntut bekerja secara profesional." Ucap Fabian panjang lebar dengan pandangan merendahkan.
Wajah Sarah berubah merah padam menahan malu dan marah. Dirinya begitu merasa tidak terima dengan apa yang Fabian ucapkan. Sarah tidak terima Fabian yang terang-terangan menolak dirinya dalam kehidupan pribadi bosnya itu.
"Saya hanya berusaha memberikan yang terbaik bagi bapak. Tidak lebih hanya itu," ucap Sarah berkilah dengan air mata di pipinya. Mencoba mencari simpati Fabian.
"Apa mantan istri anda yang tidak menyukai sikap saya ?" Tanya sarah dengan wajah memelas.
"Kenapa kamu berpikir Mommy nya Celia yang menyebabkan ini semua ?" Tanya Fabian dengan tatapan tajam.
"Karena kamu sadar telah memperlakukan Mommy Celia dengan tidak baik kan ?" Tanya Fabian dengan tersenyum sinis.
Wajah Sarah kini berubah pucat seperti tak ada aliran darah di sana. Lidahnya kelu tak dapat berkata-kata.
"Dan ini salah satu alasan saya kenapa tidak bisa memperkerjakan kamu lagi. Seorangpun tidak boleh memperlakukan Renata dengan tidak sopan," ucap Fabian tegas dan dingin.
"Sarah saya masih memberimu kesempatan baik. Tulislah surat pengunduran dirimu agar kamu bisa keluar dari perusahaan ini dengan baik-baik dan bisa bekerja di perusahaan lain. Akan lain cerita bila saya memecat mu tentu akan sulit untuk kamu mencari pekerjaan lain karena status di pecat." Ya Fabian berharap setelah keluar dari perusahaan ini Sarah bisa bekerja di perusahaan lain agar tidak menggangunya dan semoga dengan pengalaman ini Sarah dapat merubah attitude nya.
Sarah terdiam di kursinya tak dapat mengatakan apapun.
__ADS_1
Dalam beberapa saat keduanya terdiam dalam sunyi.
"Saya kira cukup. Silakan kembali ke kursi mu dan bereskan barang-barang mu. Saya tunggu surat pengunduran dirimu sore ini juga."
Sarah berdiri dan membenarkan roknya yang sedikit naik. Sungguh Fabian merasa jengah melihat nya.
Tanpa berkata apapun Sarah keluar dari ruangan Fabian dengan dada bergemuruh penuh amarah.
"Dasar mantan istri sialan !' maki Sarah di tempat duduknya.
"Dan kamu Fabian, gak tahu siapa saya sebenarnya. Kita lihat siapa yang akan menang disini. Tidak semudah itu kamu menyingkirkan aku, Fabian," ucap Sarah dengan senyuman miring di wajahnya.
Sarah membereskan meja kerjanya, memasukkan benda-benda pribadinya kedalam tas dan melangkah pergi tanpa membuat surat pengunduran diri yang Fabian minta.
Dengan wajah ditekuk dan langkah penuh amarah, Sarah menaiki lift yang membawa nya ke lantai 5 dimana ruang HRD berada. Sarah terus berjalan meskipun tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang tertuju padanya.
Sarah menarik nafasnya sebelum memasuki ruang HRD dan menampilkan wajah memelasnya.
"Saya ingin menemui manajer, ada yang ingin saya bicarakan," ucap Sarah dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Pak Anton ada diruangan nya," ucap seorang yang berada diruangan itu.
Sarah pun melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dituju dan mengetuk pintu itu dengan perlahan.
"Selamat siang Pak," ucap Sarah ketika ia memasuki ruangan itu.
"Selamat siang Bu Sarah, apa ada yang bisa saya bantu ?" Tanya seorang lelaki paruh baya yang tengah duduk dikursi kerjanya.
"Pak Anton, saya mengalami kejadian kurang menyenangkan hari ini," ucap Sarah dengan wajah memelas.
"Apa yang terjadi Bu ?
"Sebenarnya ini hal yang memalukan," ucap Sarah dengan sedikit terisak.
"Pak Fabian memecat saya tanpa alasan yang jelas. Padahal saya sudah bekerja sebaik mungkin secara profesional. Mungkin karena beliau tidak tahu bahwa ayah saya siapa jadi beliau bertindak seenaknya,"
Anton sang manager begitu terkejut dengan apa yang telah Sarah ucapkan. Setahu Anton sebagai seorang manager HRD, Fabian adalah seorang yang bijak. Bertahun-tahun Indri dan Hendrik bekerja pada Fabian tanpa ada keluhan.
"Apa yang anda ucapkan itu benar Bu Sarah?"
"Ten... tentu saja," jawab Sarah gugup.
__ADS_1
"Saya ingin anda berbicara dengan Pak Fabian sebelum saya mengadu pada ayah saya. Saya ingin pak Fabian tetap menjadikan saya sekretaris nya,"
"Saya hanya pegawai biasa bu, tapi akan saya usahakan bicara dengan beliau,"
"Baiklah kalau begitu saya pergi dulu. Saya tunggu kabar baik dari anda Pak,"
Ucap Sarah seraya pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Jam menunjukkan pukul 17.00 ketika Fabian meninggalkan ruang kerjanya. Dia tidak melihat kehadiran Sarah atau pun surat pengunduran dirinya.
Tak mau ambil pusing, Fabian terus berjalan menuju lift khusus para petinggi perusahaan. Langkahnya terhenti ketika seseorang tengah berlari kecil mengejarnya.
"Pak Fabian, mohon tunggu. Bolehkan minta waktu Bapak sebentar ?" Tanya Anton yang merupakan manager HRD itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan ? Katakan disini saja saya sedang terburu-buru," ucap Fabian sembari melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Pak, apa betul bapak memecat ibu Sarah ?"
"Bukan memecatnya, saya hanya meminta dia untuk mengundurkan diri. Sarah tidak bekerja secara profesional" Jawab Fabian.
"Pak, apa tidak jadi masalah ? Apa bapak tahu jika ibu Sarah merupakan putri dari Pak Marcus Abraham yang merupakan salah satu pemegang saham di perusahaan ini ?"
Fabian berpikir sebentar. Pantas saja Sarah begitu berani dalam bertindak, bahkan menjawab pertanyaan Fabian dengan berapi-api.
"Kalau orang tuanya keberatan, katakan saja bila anaknya bekerja tidak sesuai dengan job desk dan SOP di perusahaan ini. Ini adalah perusahaan yang menuntut semua orang bekerja secara profesional, bukan tempat penitipan anak yang bisa melakukan apapun yang dia mau seenaknya," ucap Fabian sambil lalu dan menghilang di balik pintu lift meninggalkan manager HRD nya begitu saja.
Tbc...
Thank you for reading ❤️
Jangan lupa like dan komen yaaa 😘😘
Libur Lebaran dulu yaa readers tersayang ❤️❤️
Mohon maaf lahir batin yaa bila ada salah kata, tulisan yang menyinggung, balasan komentar dariku yang kurang berkenan di hati kakak semua dan juga komentar yang belum aku balas
🙏🙏
Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Semoga kita kembali suci dan dapat bertemu di Ramadhan tahun mendatang.
__ADS_1
Sehat selalu semua ❤️❤️❤️
Aamiin