Terikat Dusta

Terikat Dusta
Kembali


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Kalau orang tuanya keberatan, katakan saja bila anaknya bekerja tidak sesuai dengan job desk dan SOP di perusahaan ini. Ini adalah perusahaan yang menuntut semua orang bekerja secara profesional, bukan tempat penitipan anak yang bisa melakukan apapun yang dia mau seenaknya," ucap Fabian sambil lalu dan menghilang di balik pintu lift meninggalkan manager HRD nya begitu saja.


Anton menatap kepergian Fabian dengan tatapan mata tak percaya.


"Semoga tidak terjadi hal yang buruk," gumam Anton sembari membalikkan badannya dan beranjak pergi.


***


Fabian berjalan diselingi berlari kecil menuju tempat mobilnya terparkir. Entah kenapa hatinya begitu merindu mantan istrinya Renata. Mungkin tak apa bila malam ini Fabian mengajak nya untuk makan malam bersama. "Thats all, hanya sebatas makan," batin Fabian. Untuk mengobati rindu, juga untuk melakukan pendekatan kembali. "Tunggu aku, Sayang.," Ucap Fabian sembari mulai menyalakan mesin mobilnya dan beranjak pergi.


Fabian berhenti sejenak di sebuah toko  bunga dan membeli satu ikat bunga mawar yang terlihat begitu cantik. Ia menghirup harum bunga tersebut ketika menerima nya dan kemudian berjalan kembali memasuki mobil dan memacunya dengan kecepatan tinggi berharap dapat segera menemui seseorang yang sangat ia rindukan. Fabian juga sengaja tak menghubungi dulu mantan istrinya itu karena kedatangannya ingin menjadi sebuah kejutan.


Butuh waktu beberapa belas menit bagi Fabian untuk sampai di halaman kantor dimana Renata bekerja.


Fabian merapikan pakaiannya, membawa buket bunga dan bersiap turun ketika ia melihat wanita yang sangat dirindukannya keluar dari lobby kantor dengan senyuman manisnya.


Dada Fabian berdegup kencang ketika melihatnya. Menarik nafas dalam untuk menetralkan debaran jantungnya dan kemudian Fabian bersiap turun dari mobilnya. Namun tak lama ia urungkan niatnya tatkala melihat seseorang berjalan tepat di belakang Renata.


Dokter Jamie, berjalan tepat di belakang Renata. Mereka berjalan beriringan keluar dari lobby kantor. Seketika tubuhnya melemah, tubuhnya serasa dihempaskan  dari ketinggian. Fabian terdiam sebentar menatapi keberadaan mereka berdua dan kemudian memilih untuk beranjak pergi meninggalkan Renata.


Ingin rasanya Fabian berlari kearah Renata dan membawanya pergi namun ia tak mau membuat mantan istrinya itu merasa malu.


Fabian menjalankan mobilnya dengan tatapan kosong, membelah jalanan ibu kota. Perasaan nya begitu hampa.


Fabian membuang buket bunga mawar itu ketempat sampah ketika ia telah sampai di apartemen nya. Mengambil minuman berwarna coklat pekat yang berbuih dalam sebuah gelas yang berisi beberapa potong es batu dan menyesapnya perlahan. Berharap dapat melupakan apa yang baru saja ia lihat.


"Ia telah kembali, lelaki itu telah kembali," lirih Fabian yang terduduk dalam kegelapan.


***


"Aku ingin urusanku masih menjadi urusanmu," kata-kata Fabian itu terus terngiang dalam kepalanya. "Bi, apakah ada harapan bagi kita untuk kembali ?" Lirih Renata diantara tumpukan pekerjaan nya.


"Re ngelamun mulu," ucap salah satu teman Renata yang bekerja satu ruang dengannya.


Renata hanya tersenyum canggung menanggapi nya. Tak mungkin kan dia bercerita kalau saat ini tengah memikirkan mantan suaminya.


Hari itu Renata lalui dengan kepala dipenuhi pikiran tentang Fabian.


Hingga sore hari menjelang Renata berniat mengirimkan pesan hanya sekedar menanyakan kabar Fabian hari ini. "hanya menanyakan kabar, tentu tidak apa-apa bukan ?" Gumam Renata pada dirinya sendiri. Namun jari jarinya gemetar begitu saja hanya karena ingin mengirim pesan. Akhirnya Renata urungkan niatnya itu.


Hingga pada saat menjelang jam pulang teman Renata menghampiri nya "Re, ada yang nyari di resepsionis bawah. Orangnya ganteng," ucap salah satu temannya yang baru saja tiba di ruangan Renata.


"Bohong banget," jawab Renata tak percaya.


"Seriusan Re, gue kebetulan lewat pas cowok itu nanyain Lo,"


"Fabian" lirihnya. Renata ingat betul bahwa satu-satunya lelaki yang pernah datang ke kantornya hanya Fabian. Ketika itu ia datang untuk menjemput nya dan menemani Fabian membeli kado ulang tahun untuk Celia.

__ADS_1


Renata melihat jam di dinding menunjukkan pukul hampir setengah 6 sore. Renata menyambar tas yang berada di atas mejanya " gue duluan ya," ucapnya dan melangkah pergi dengan dada bergemuruh karena bahagia.


Tak sabar berada dalam lift yang membawanya turun ke lantai lobby. Renata menanti dalam cemas.


Renata berjalan dengan sedikit tergesa ketika pintu lift terbuka.


"Bi..." Ucapnya memanggil nama Fabian dalam lirihnya. Namun Renata menghentikan langkahnya ketika ia melihat yang berdiri disana bukan Fabian seperti yang Renata harapkan.


Dokter Jamie berdiri disana memandang nya penuh rindu dan sebuah senyuman tersemat di wajahnya.


Renata berjalan dengan sedikit rasa kecewa.


"Hai Re, apa kabar ?" Sapa dokter Jamie ketika Renata mendekat.


"Baik, kamu sendiri gimana ?"


"Baik juga. Surprise," ucap dokter Jamie tersenyum.


"Ya, aku terkejut" jawab Renata.


Mereka pun berbincang sesaat sebelum meninggalkan gedung kantor Renata. 


"Apa mau makan malam bersama ?" Tanya dokter Jamie.


"Ah maaf, hari ini tidak bisa. Aku belum bilang pada Celia," tolak Renata halus.


"Aku bawa mobil juga. Maaf,"


"Ooh," dokter Jamie tersenyum kecut.


Mereka pun berjalan beriringan keluar dari lobby menuju parkiran dimana mobil mereka berada. Sepanjang perjalanan dokter Jamie bercerita tentang kedatangannya karena ada seminar yang harus dihadiri namun kali ini kedatangan dokter Jamie ditemani anaknya Collin. Renata hanya tersenyum menanggapinya.


Renata merasa dirinya tengah diawasi. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling namun tak ada siapapun disana.


"Ya Tuhan, kenapa aku berharap Fabian berada disini," batinnya dalam hati.


" are you oke ? Lagi nunggu seseorang kah ?" Tanya dokter Jamie melihat Renata yang sepertinya sedang mencari keberadaan seseorang.


"Ya aku baik-baik saja dan aku sedang tidak menunggu siapapun. Jamie maaf aku harus pulang dan tidak bisa menemani makan malam."


"Its ok, kita bisa lakukan di lain waktu,"


"Bagaimana kalau makan siang besok ?" Tanya Renata karena merasa tak enak


"Besok aku akan mengunjungi Fabian. Melihat bagaimana keadaan nya sekarang,"


Renata tersentak ketika nama Fabian disebut. Dalam hati kecil nya berharap Fabian tidak salah paham dengan kedatangan Jamie.


"Baiklah Re, aku pamit dulu. Nanti aku kabari lagi ya,"

__ADS_1


Dan merekapun berpisah.


***


Fabian terbangun dengan kepala berdenyut sakit padahal ia hanya minum satu gelas semalam. Sepertinya bukan karena segelas minuman itu yang membuatnya sakit kepala pagi ini tapi karena beban pikiran yang mendatanginya.


Ia tiba di kantor dengan mood yang kurang baik. Tatapannya dingin ketika bertemu setiap orang termasuk kakaknya Sakti dan itu membuat Sakti salah paham mengira Fabian masih marah dengannya karena pembicaraan kemarin siang. Akhirnya jarak tercipta diantara mereka.


Fabian tenggelam dalam pekerjaan nya berusaha mengalihkan pikirannya pada hal lain selain Renata.


Siang itu Seseorang mengetuk pintu ruangan nya dan munculah wajah Hendrik di balik pintu.


"Pak, seseorang ingin bertemu," ucap Hendrik. Ya untuk sementara Hendrik merangkap sebagai sekretaris Fabian.


Belum juga Fabian menjawab, dokter Jamie telah melangkah kan kakinya memasuki ruangan Fabian. Meski enggan bertemu tapi akan tidak sopan bila tidak menerima nya bukan.


"Apa kabar Bi ? Aku ingin melihat kondisi mu sekarang."


Fabian berusaha tersenyum dan kemudian berdiri menyambut kedatangan Kakak sepupu jauhnya itu juga sekaligus dokter yang telah menolongnya.


"Aku baik, Kak. Ayo silakan duduk." Ajak Fabian menuju sofa yang berada diruangan itu.


"Hendrik tolong minta OB buatkan kopi" ucap Fabian.


Mereka pun mengobrol santai di ruangan itu tanpa sedikitpun menyinggung soal Renata.


Dokter Jamie hanya menanyakan kemajuan kesehatan Fabian dan bercerita tentang seminar yang telah mengundang kehadirannya. Keduanya berusaha terlihat normal meski rasa canggung masih dapat terlihat.


Dokter Jamie pamit undur diri setelah hampir 1 jam menemui Fabian.


Fabian pun kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan berusaha membunuh pikirannya tentang dokter Jamie dan Renata namun ternyata sulit untuk melakukan nya


"Aku akan berjuang sekali lagi," Tekad Fabian pada dirinya sendiri "Tak kan ku lepaskan Renata kali ini," lanjutnya lagi. Ya Fabian tak kan mundur begitu saja.


***


Sore itu Fabian tengah berjalan menuju parkiran. Hendak beranjak pulang ketika seorang lelaki tua menghampiri nya.


"Pak Fabian," sapa lelaki itu dengan sopan.


Fabian menolehkan kepalanya ke arah suara itu. Sepertinya dia merasa tidak asing dengan wajah seseorang yang telah menyapanya.


"Saya Markus Abraham, ayah Sarah. Bisakah kita berbicara sebentar ?"


TBC....


Thank you for reading ❤️


Semoga gak bosan baca ya kakak semua 😚

__ADS_1


__ADS_2