Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Apa Sanggup ?


__ADS_3

Happy reading ❤️


Kirana berontak namun tak Sakti hiraukan. Dengan paksa Sakti melucuti pakaian istrinya dan menurunkan celananya sendiri sebatas lutut. Tanpa kelembutan Sakti menyatukan tubuh mereka, Kirana merasa seperti sedang dihukum bukan percintaan yang seperti biasa mereka lakukan.


Ketika Sakti selesai dengan gairahnya, ia meninggalkan istrinya begitu saja. Pergi keluar kamarnya tanpa sepatah kata pun. Sedangkan Kirana menangis sendirian tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.


Kirana menangis pilu, apa yang Sakti lakukan tak hanya menyakiti fisik, tapi lebih menyakiti hatinya. Bila Sakti menginginkan haknya sebagai suami, dengan senang hati Kirana akan melayani kebutuhan suaminya itu.


Kirana menurunkan kakinya yang masih  gemetar dan mengais bajunya yang berserakan karena ulah suaminya.


Berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia berdiri di depan cermin mencoba berpikir apa yang telah terjadi, berkali-kali Kirana menyeka air matanya tapi tak jua berhenti mengalir.


Ingin Kirana menyusul Sakti dan meminta penjelasan, tapi rasa takut masih menguasai dirinya.


Kirana lebih memilih untuk bergelung di bawah selimut dan berusaha untuk melupakan apa yang telah terjadi. Berharap besok semua akan kembali baik seperti sedia kala. Lelah menangis akhirnya Kirana terlelap dalam tidurnya.


Sakti kembali ke dalam kamar pada dini hari. Berjam-jam ia habiskan di taman belakang rumahnya memikirkan hal yang baru saja ia lakukan. Entah apa yang menguasainya sehingga ia tega melakukan hal buruk seperti itu.


Ia membaringkan tubuhnya di sisi Kirana, dan memandang wajah istrinya yang sembab.


Cemburu membutakan hatinya.


"Ki, aku tak bisa terima dengan apa yang kamu lakukan di belakangku. Aku sakit, aku cemburu," bisik Sakti lirih hampir tak terdengar.


Dengan kedua tangan sebagai bantalan kepalanya, Sakti memejamkan matanya berusaha untuk tidur meski sulit.


***


Sakti terbangun ketika pagi masih sedikit gelap. Sinar matahari masih malu-malu menyapa bumi.


Ia langkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Kirana terbangun ketika mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, ia lihat tempat tidur si sebelahnya telah kosong.

__ADS_1


Ia begitu enggan untuk bangkit, enggan bertatap muka dengan suaminya. Kirana memilih untuk tetap meringkuk di atas tempat tidurnya, bergelung di bawah selimut seolah selimut itu adalah pelindungnya.


Beberapa menit kemudian Sakti keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang dililitkan sebatas pinggang. Air masih menetes dari rambutnya yang basah. Ia melihat Kirana masih meringkuk di atas ranjang tanpa menyiapkan baju kerja seperti yang biasanya istrinya itu lakukan. Sakti terpaksa menyiapkan sendiri keperluannya.


"Sampai kapan kamu mau tiduran seperti itu ? Anak-anak membutuhkan mu," ucap Sakti seraya mengenakan pakaiannya dengan nada suara yang ketus dan dingin


Hening untuk sesaat.


"Kamu telah menyakiti aku semalam," Jawab Kirana tanpa memandang wajah suaminya itu.


"Wanita seperti kamu memang pantas diperlakukan seperti itu," jawab Sakti dengan tersenyum sinis.


"Wanita seperti aku ?" Tanya Kirana tak terima dengan ucapan suaminya sehingga membuat Kirana terbangun dari tidurnya.


"Ya, perempuan bermuka dua." Jawab Sakti dengan mata mengisyaratkan kebencian.


"Apa maksudmu Mas ?" Kirana mendekati Sakti dengan amarah hampir meledak.


"Jangan pernah berani bernada tinggi padaku," ucap Sakti seraya mencekal kedua tangan Kirana dan menghempaskannya kasar sehingga Kirana terhuyung dan terbentur lemari di belakangnya.


"Oh sayang sudah bangun ?" Tanya Sakti pada anaknya.


"Mana Dareel ? Sudah bangun juga ? Ayo segera bersiap sekolah." Sakti berusaha mengalihkan perhatian anaknya yang tengah menatap Kirana dengan tatapan mata yang terlihat sedih.


"Mama gak apa-apa ?" Tanya Davin mengabaikan ayahnya.


Davin yang berusia 9 tahun tentu sedikit mengerti bahwa kedua orangtuanya tengah berargumen.


Kirana menyeka air matanya, dan berusaha tersenyum seolah semua baik-baik saja.


"Mama gak pa-pa kok, ayo bersiap sudah siang. Mau sarapan apa pagi ini ?" Tanya Kirana berusaha menutupi rasa sakit nya.


"Mmm, aku mau cereal dan susu saja," jawab Davin masih dengan tatapan mata menyelidik.

__ADS_1


"Ok, ayo segera bersiap nak jangan bengong," Kirana menggiring Davin untuk kembali ke kamarnya. Meninggalkan Sakti yang terdiam melihat kepergian mereka.


Sakti bisa merasakan bahwa anaknya mulai curiga dengan apa yang terjadi antara dia dan Kirana. Tentu ini bukan sesuatu yang baik untuk anak mereka. Sakti berpikir untuk sesaat.


Kirana pun turun ke arah dapur dan menyiapkan sarapan untuk Sakti dan anak-anaknya. Meski memiliki asisten rumah tangga namun setiap hari Kirana yang menyiapkan sarapan dan keperluan mereka.


Sakti dan kedua anaknya duduk di ruang makan dan Kirana datang membawa sarapan mereka dengan wajah berhias senyuman palsu agar anak-anaknya tak curiga dengan apa yang orangtuanya tengah alami.


"Sudah waktunya kita pergi," ucap Sakti pada kedua anaknya setelah menghabiskan sarapannya.


Kirana berdiri dan bersiap membereskan meja makan. Kedua anaknya menyalami dan memberikan sebuah ciuman pada Kirana.


"Kami pergi Ma, nanti jemput," ucap Dareel anaknya yang lebih muda.


"Tentu sayang," jawab Kirana seraya mengusap puncak kepala anaknya.


Sakti menghampiri memeluk dan mencium Kirana dengan mesra seperti biasanya. Kirana yang terkejut berusaha menjauh.


"Anak-anak melihat kita. Jadi berpura-pura lah. Kamu gak mau anak-anak curiga bukan ?" Bisik Sakti lirih.


Kirana menelan salivanya yang begitu terasa kelat. Ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Aku pergi sayang," ucap Sakti seraya mencium bibir istrinya itu dengan mesra.


"Hmm ya, hati-hati." Jawab Kirana.


Sakti pun pergi dengan kedua anaknya meninggalkan Kirana.


Setelah kepergian suami dan anak-anaknya Kirana mendudukkan diri di kursi dapur, menahan kepalanya dengan kedua lengan dan mulai menangis.


Sungguh ia tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Sakti. Dan apabila harus seperti ini, berpura-pura seolah dia baik-baik saja. Apa ia akan sanggup ?


TBC...

__ADS_1


Thank you for reading ❤️


Jangan lupa vote ya 😘


__ADS_2