Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Akhirnya Bertemu.


__ADS_3

Happy reading❤️


Kirana : tentu bisa, beritahu saja kapan dan dimana.


0857233**** : besok jam makan siang di cafe xxx jalan Kuningan.


Kirana : cafe yang berada satu gedung dengan kantor mas Sakti ?


0857233**** : iya. Kenapa ? Apa mbak keberatan ?


Kirana : tentu tidak, sampai ketemu besok. Jam 12 saya sudah disana.


0857233**** : Iya mbak.


Dan chat pesan itu berakhir.


Kirana kembali melihat banyak photo yang dikirimkan wanita bernama Vanya itu. Terlihat photo mesra Vanya dan suaminya Sakti. Bahkan di beberapa photo menunjukkan mereka sedang berciuman bibir di berbagai tempat dan pose.


Bohong bila Kirana tak merasa sakit hati. Perih dan nyeri yang amat luar biasa  Kirana rasakan dalam hatinya. Sebisa mungkin ia menahan air matanya yang siap untuk jatuh kapan saja. Kirana tak ingin kedua anaknya melihat ia menangis. Anaknya harus terus bahagia. Itulah yang selalu ada dalam pikiran Kirana.


"Mama sedang apa ?" Tanya Davin menghampiri ibunya itu.


"Sedang membalas pesan, tapi udah kok. Ayo kita pulang, nanti malam harus hadir di acara makan malam Daddy Bian. Kalian pasti udah kangen kan sama Celia?" ajak Kirana pada kedua anaknya.


Davin dan Dareel pun menuruti sang Mama meninggalkan taman itu. Sepanjang jalan Kirana terdiam, dirinya terus terbayang photo yang dikirimkan wanita bernama Vanya itu. Tak menyangka Sakti bisa berbuat se-tega itu padanya. Dengan susah payah Kirana terus menahan air matanya.


Kirana tiba di rumahnya ketika hari masih sore. Ia menyerahkan anaknya pada bi Marni.


"Bi, tolong siapkan anak-anak untuk acara makan malam di rumah mertua saya. Bajunya sudah saya simpan di atas ranjang mereka," ucap Kirana.


"Mama emangnya mau kemana ?" Tanya Davin terheran karena biasanya hanya Kirana yang mengurusi mereka.


"Mama juga harus segera bersiap. Jadi kalian sama Bi Marni dulu ya?" Jawab Kirana setengah berbohong.


Tak sanggup lagi menahan rasa di hati,  Kirana naik menuju kamarnya. Davin dan Dareel memandang kepergian mamanya dengan wajah terheran.


Kirana memasuki kamarnya, dan langsung berjalan menuju toilet dan menangis hebat di atas lantai kamar mandinya. Ia melakukan itu agar kedua anaknya tak mendengar ketika Kirana menangis.


Kirana duduk di lantai kamar mandi dengan memeluk kedua lututnya.


Sakit...


Sakit tak terkira yang Kirana rasakan saat ini.


Sakti tiba di rumahnya tak begitu lama setelah Kirana tiba. Ia memasuki rumah yang terasa begitu sepi. Dirinya pulang lebih cepat karena acara makan malam Fabian.


"Ki ? Kirana ?" Panggil Sakti tapi istrinya itu tak menampakkan diri.


Sakti berjalan menuju kamar anaknya untuk mencari Kirana namun ia hanya mendapati kedua anaknya tengah bersiap untuk pesta makan malam.


"Kirana mana Bi ?" Tanya Sakti. Ia heran kedua anaknya di urus Bi Marni.


" Ibu sedang bersiap," jawab Bi Marni.


"Oh baiklah saya juga akan segera bersiap. Abang ma Adek tunggu Papa ya." Ucap Sakti yang hanya ditanggapi Dareel sedangkan Davin terlihat tak acuh.


Sakti menghela nafasnya yang terasa berat. Sekarang ini begitu sulit untuk mendekati anaknya.


Sakti memasuki kamar dan melihat Kirana tengah bersiap. Dengan gaun malam berwarna hitam begitu sempurna membelit tubuh Kirana yang ramping juga make up natural menambah penampilan Kirana terlihat sempurna.


Rasanya sudah lama Sakti tak melihat Kirana berdandan seperti ini.


"Cantik sekali," puji Sakti tak kuasa menahan ucapannya.


Kirana hanya tersenyum tanpa berkata apapun.


Sakti merasa sikap Kirana lebih dingin dari sebelumnya.


"Kamu ini kenapa sih Ki ?" Tanya Sakti seraya menahan lengan Kirana yang hendak beranjak pergi.


"Kenapa apanya ?" Kirana balik bertanya.


"Kamu pikir aku bodoh ? Sikap kamu sangat berubah padaku. Semakin dingin setiap harinya. Apa karena aku tak mau melepasmu untuk lelaki bajingan itu ?" Tanya Sakti gusar.


"Lelaki mana ? Buktikan Sakti !! Lelaki mana ?" Teriak Kirana tak bisa menahan emosinya lagi.

__ADS_1


Sakti terkejut dengan sikap Kirana, bahkan ia berani memanggil nama Sakti begitu saja.


Sakti menarik Kirana dan melemparkannya ke atas ranjang mereka. Kedua tangan Sakti menahan tubuh Kirana agar tidak berontak.


"Lihatlah sikapmu... Begitu kasar padaku tapi pada Vanya kamu mencium nya dengan mesra. Cih.. kalian berdua memang cocok... lelaki penghianat dan wanita ******," Ucap Kirana dengan menatap tajam suaminya.


"Apa maksudmu ?" Geram Sakti.


"Vanya mengirimkan banyak sekali photo kalian. Sangat menjijikan ! Kamu selalu menuduh ku tanpa bukti. Tapi sekarang terbukti siapa yang berperilaku hina diantara kita?"  Kirana tertawa mengejek.


Sakti yang diliputi emosi semakin menindih tubuh Kirana dan membenamkan bibirnya di atas bibir Kirana dan menyesapnya dengan kasar.


Kirana memukuli dada Sakti berontak meminta dilepaskan.


"Lepaskan ! Lepaskan bajingan !! Kamu sangat menjijikkan !!" Geram Kirana ketika tautan bibir mereka terpisah.


"Ma, Mama ? Mama baik-baik aja? " Tanya kedua anaknya seraya menggerakkan gagang pintu yang terkunci. Seketika Sakti membekap mulut Kirana dengan tangannya agar tak bersuara.


"Mama sedang mandi tunggu dibawah" teriak Sakti menjawab anaknya. Setelah yakin tak ada suara lagi dari kedua anaknya, Sakti menyeret Kirana ke dalam kamar mandi mereka.


"Lepaskan !!! Lepaskan aku !! Tuntaskan nafsu mu pada jal*ng itu," teriak Kirana.


Sakti melucuti dasinya dan kemudian mengikat kedua tangan Kirana dengan dasi itu pada tiang shower dan membalikkan tubuh Kirana agar menghadap dinding.


"Kamu tahu Kirana ? Bayangan mu selalu menghantui hingga aku tak bisa meniduri wanita lain selain kamu. Hanya kamu yang bisa membuatku bergair*h" bisik Sakti lirih di ceruk leher Kirana dan menyesapnya beberapa kali meninggalkan tanda kemerahan disana. Sedangkan tangannya telah bergerilya di atas tubuh Kirana.


"Untuk apa aku meniduri seorang jal*ng jika istriku jauh lebih menggoda," bisik Sakti lagi seraya merobek paksa gaun Kirana.


"Hentikan, ku mohon hentikan," lirih Kirana.


Mata Sakti semakin berkabut akan gair*h  melihat tubuh Kirana yang hampir polos itu. Ia pun melucuti celananya sendiri dan mulai menurunkan kain berenda yang menutupi bagian inti tubuh Kirana.


Kirana menggerak-gerakkan tubuhnya berusaha mengelak namun tangan Sakti menahannya. Tanpa kelembutan Sakti menyatukan tubuh mereka dan menghentakkan nya dengan kuat.


"Damn ! Kirana hanya kamu yang bisa membuatku tergila-gila," bisik Sakti. Kirana hanya diam, ia benar-benar merasa sakit hati.


Sakti terus menghentakkan tubuh nya dengan kuat.  Setelah mendapatkan pelepasannya,  Sakti memisahkan tubuh mereka dan membebaskan Kirana dari ikatannya. Kirana meluruhkan tubuhnya diatas lantai. Ia tak menangis, tatapannya kosong. Hatinya telah mati rasa.


Sakti keluar meninggalkan Kirana dari kamar mandi itu menuju kamar mandi lain untuk membersihkan diri.


Kirana kembali bersiap, ia bahkan harus mengenakan gaun dengan potongan leher tinggi untuk menutupi tanda merah yang Sakti ciptakan. Ia pergi lebih dulu dengan kedua anaknya dan meninggalkan Sakti.


"Sial Kirana !!!" Umpat Sakti ketika dengan kecepatan tinggi mencoba menyusul istrinya itu.


Sakti melihat mobil Kirana terparkir di jalan depan rumah orangtuanya. Dirinya langsung mencari keberadaan Kirana ketika memasuki rumah.


Semua undangan telah berkumpul, terlihat Kirana tengah berbicara dengan beberapa sepupu dan juga tantenya.


Sakti menghampiri Kirana dan memeluk pinggang istrinya itu dengan erat. Kirana tersentak dan dengan halus mencoba melepaskan tangan Sakti dari tubuhnya.


"Sibuk banget ya ? Sampai gak bisa pergi bareng ma istri ? " Tanya salah satu tantenya pada Sakti.


"Hahaha iya Tan," jawab Sakti canggung. Kirana berhasil melepaskan diri dan pamit untuk bertemu yang lain. Ia terus menghindari suaminya. Bahkan waktu makan malam digelar pun ia duduk di meja yang berbeda dari suaminya.


Sakti terus memandangi Kirana dari kejauhan. Dalam hatinya ia begitu merasa bersalah.


Semua bertepuk tangan ketika Fabian kembali melamar Renata. Terlihat Kirana menitikkan air matanya ketika itu terjadi. Ia merasa iri dengan cinta tulus Fabian untuk Renata.


Setelah acara makan malam itu usai Kirana menghampiri Renata untuk mengucapkan selamat. Sakti mengambil kesempatan ini untuk kembali mendekati Kirana tapi di hadapan Renata, Kirana tak segan-segan menolaknya dengan tatapan muak dan sedikit ketakutan.  Membuat Sakti terpaksa pergi meninggalkan.


Sakti tengah berbicara dengan Fabian dan para sepupunya ketika Kirana mengambil kesempatan untuk kembali meninggalkan Sakti.


Sakti tiba di rumah pada larut malam,


Ia tak mendapati Kirana di dalam kamarnya. Sakti berjalan menuju kamar anaknya dan ternyata terkunci dari dalam. Dengan langkah gontai, Sakti kembali ke kamarnya sendiri.


***


Kirana tengah membuat roti isi ketika Sakti datang dan memeluknya dari belakang. "Maafkan aku, Ki. Maafkan aku," ucap Sakti lirih. Kirana terdiam tak menjawab.


"Aku benar-benar menyesal maafkan aku," ucap Sakti lagi yang semakin membelitkan tangannya karena Kirana berusaha melepaskan diri.


Kedua anak lelakinya datang, dan duduk di meja makan untuk menikmati sarapan. Terpaksa Sakti melepaskan pelukannya. Kirana tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk suaminya itu.


***

__ADS_1


Siang itu Kirana datang tepat waktu di tempat yang telah dijanjikan. Terlihat Vanya telah duduk menantinya.


Dengan anggunnya Kirana berjalan menuju Vanya berada. Tak ada raut wajah marah atau pun kecewa. Kirana terlihat biasa-biasa saja.


"Mbak Kirana, saya Vanya," ucap wanita itu seraya berdiri dan mengulurkan tangannya. Kirana tersenyum tanpa menyambut uluran tangan itu.


Kirana pun duduk di hadapan Vanya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan ?" Tanya Kirana dengan tenang.


"Sebaiknya mbak pesan minum dulu dan kita bisa berbicara dengan lebih santai" ucap Vanya yang sedari tadi terus memperhatikan lawan bicaranya.


Bukan tanpa alasan Vanya lakukan itu, memperhatikan penampilan Kirana dengan seksama. Karena Saktinya yang selalu memujinya dan Vanya tak suka itu.


Kirana pun memilih minuman dari daftar menu. Tanpa sepengetahuan Kirana, Vanya mengambil foto Kirana dan mengirimkannya pada Sakti


"Aku selalu penasaran dengan seorang Kirana yang menurutmu hebat itu tapi ternyata hanya  seorang wanita biasa" begitulah isi caption yang Vanya berikan pada Sakti. Berusaha untuk merendahkan wanita yang Sakti anggap sempurna.


"Mbak tahu siapa saya ?" Tanya Vanya seraya memperhatikan penampilan Kirana. Dapat Vanya lihat dengan jelas tanda kemerahan di leher Kirana dan itu membuat Vanya geram karena cemburu. Belum lagi penampilan Kirana yang begitu elegan membuatnya semakin terintimidasi.


"Hmm iya. Kenapa ?" Kirana balik bertanya dengan wajahnya yang tenang.


"Apa mbak tidak merasa marah atau ingin menampar saya ?" Pancing Vanya.


"No, tidak... Saya tak ingin mengotori tangan saya sendiri," jawab Kirana tenang namun penuh sindiran seolah Vanya sesuatu yang menjijikkan dan Vanya menyadari itu.


Wajah Vanya memerah, pipinya terasa panas. Ia tak menyangka reaksi Kirana akan seperti ini.


Tiba-tiba seseorang menghampiri Kirana dengan menepuk pundaknya.


"Ki," sapa orang itu.


Kirana mendongakkan kepalanya dan kemudian berdiri memeluk orang yang telah menyapa nya.


"Ya ampun wiii, kangen banget gue," ucap Kirana antusias.


"Lo lagi sama temen ?" Tanya Dewi teman Kirana seraya menatap Vanya.


"No, dia bukan temen gue,"


"Marketing credit card?" Tanya temannya lagi.


"Hahahaha, bukan juga. Ngapain gue bikin credit card?" Jawab Kirana.


"Oh iya duit Lo dah over limit gak usah pake CC" jawab temannya tergelak.


Vanya yang mendengar itu semakin merasa terhina. Ia terus menundukkan wajahnya hingga seseorang menarik lengannya dengan kasar.


"Mana Kirana ? Apa yang Lo omongin sama dia ?" Tanya Sakti geram dan mendudukkan dirinya mendekati Vanya. Ia tak sadar Kirana berada tak jauh darinya.


"Aku gak nyangka kamu datang secepat ini hanya untuk dia." Ucap Vanya tak suka.


"Lo ngapain pake ngirim-ngirim photo kita sama istri gue ?" Sakti kembali bertanya dengan kasar.


"Oh mas Sakti juga datang ?" Tanya Kirana yang tiba-tiba kembali duduk di kursinya.


"Ki... Ini gak seperti yang kamu pikirkan. Aku datang untuk menjemputmu. Ayo kita pulang sayang," bujuk Sakti.


"Mas !!" Vanya menahan lengan Sakti agar tidak pergi.


Kirana memandang wajah Vanya dengan tenang, begitu juga pada Sakti suaminya. Walaupun hatinya meradang tapi ia mencoba untuk menahannya.


"Jadi apa yang ingin kalian bicarakan ?" tanya Kirana tenang.


"Ki, sayang.... aku mohon ayo kita pulang," bujuk Sakti.


"Mas ! kurasa dia harus tahu tentang kita," ucap Vanya sembari kembali menahan lengan Sakti untuk tidak pergi dengan Kirana, istrinya.


"Kalian tak usah menjelaskan apapun lagi, karena saya sudah mengerti dan paham. Dan jika Nona Vanya melakukan ini untuk membuat pernikahan ini hancur, maka yang kamu lakukan hanya sia-sia karena pernikahan ini sudah hancur sebelum kamu datang,"


To be continued


Thank you for reading ❤️


Jangan lupa like dan komen yaa 😘

__ADS_1


Sampai ketemu Senin insyaallah 🥰


__ADS_2