
Aku ingin kamu tinggal temani aku, meskipun aku tahu kamu sudah tak menginginkan aku lagi.
- Sakti -
Happy reading ❤️
Sakti yang melihat itu langsung menghentikan pembicaraannya dan berjalan menuju Kirana dan Adam berada.
Kirana ingin sekali melarikan diri, namun kakinya terasa begitu berat untuk melangkah sedangkan Sakti semakin mendekati.
"Sayang," sapa Sakti pada istrinya itu seraya melingkarkan tangannya pada pinggang Kirana dan menariknya perlahan hingga tubuh mereka menempel satu sama lain. Tak lupa Sakti juga mendaratkan bibirnya dengan mesra di pelipis Kirana.
Kirana hanya tersenyum kikuk menerima perlakuan suaminya itu, ia juga tak menolak pelukan Sakti karena terlalu terkejut dengan apa yang suaminya itu lakukan.
"Hi im Sakti. Kirana's husband," ucap Sakti ramah sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan pada lelaki asing itu.
"Adam Bradley, tapi panggil saja Adam. Saya bisa berbahasa Indonesia kok" Jawab Adam seraya menyambut uluran tangan Sakti.
"Ah ternyata suaminya... Pantas saja ia terus memperhatikan aku," batin Adam dalam hatinya.
"Senang berkenalan dengan anda, Adam. Sepertinya saya baru pertama kali melihat anda dalam acara seperti ini," ucap Sakti sembari terus melingkarkan tangannya.
" Iya, saya hanya pernah mengikuti acara seperti ini beberapa kali saja dan kita tak pernah bertemu sebelumnya. Saya adalah klien nona Kirana dan tuan Robby," jawab Adam.
"Nyonya... Kirana adalah istriku," ralat Sakti penuh rasa posesif.
"Ah iya... Maaf... My bad," ucap Adam tersenyum canggung dan menyentuh dadanya sendiri dengan kedua tangannya sebagai tanda penyesalan.
"Its oke, istri saya memang awet muda makanya sering disangka masih single," kelakar Sakti memecah kecanggungan.
Adam tertawa hambar menanggapinya, begitu juga Kirana hanya bisa tersenyum simpul menghadapi 2 lelaki itu.
Sakti dan Adam pun terlibat dalam perbincangan mengenai seputar bidang bisnis. Sakti berbicara dengan tenang dan ramah, jauh dari yang Kirana bayangkan. Kirana dapat bernafas dengan lega saat ini.
Kirana berusaha melepaskan belitan tangan Sakti dengan perlahan agar pemberontakannya tak terlihat Adam, namun ia tak berhasil karena Sakti akan kembali memeluknya bila tangan itu terlepas meski hanya sebentar saja.
Cukup lama mereka berbincang hingga pada akhirnya Adam yang lebih dulu berpamitan pada Sakti.
"Senang bisa berkenalan dengan anda Tuan Sakti. Semoga kita bisa menjalin kerjasama kedepannya," ucap Adam sebelum ia pergi.
"Panggil Sakti saja, saya tunggu niat baik anda Adam." Jawab Sakti dengan senyuman di wajahnya.
"Nyonya Kirana," Adam menganggukkan kepalanya sebagai tanda berpamitan dan Kirana hanya menanggapi itu dengan senyuman.
__ADS_1
Meski Adam telah pergi, Sakti masih membelitkan tangannya pada pinggang Kirana, ia memeluk istrinya itu dengan begitu posesif.
"Lepas Mas, gak enak dilihatin orang-orang," bisik Kirana lirih.
"Nggak mau. Kalau aku lepasin nanti kamu kabur ninggalin aku," bisik Sakti lirih di telinga Kirana dan itu sukses membuat darahnya berdesir.
"Aku mau ke toilet," Kirana berasalan.
"Ayo, aku antar." Jawab Sakti yang kini mengganti pelukannya dengan menggenggam tangan Kirana begitu erat.
Kirana akhirnya menuruti kemauan suaminya itu, ia tak ingin menimbulkan keributan bila terus mendebat suaminya.
Kirana berdiri di depan cermin toilet dengan kedua tangan menahan tubuhnya yang limbung. Hah hah hah... Nafasnya terengah-engah seperti seseorang yang telah melakukan olahraga. Beberapa menit yang lalu ia lalui dengan berat.
"Mbak, gak apa-apa ?" Tanya seorang petugas kebersihan yang berada disana.
"Mmm saya baik-baik saja," jawab Kirana.
Butuh waktu beberapa menit bagi Kirana untuk menenangkan diri hingga ia keluar dari toilet itu dan Sakti masih dengan setia menunggunya di luar.
"Sudah selesai ?" Tanya sakti dan dijawab Kirana dengan sebuah anggukan kepala.
"Ayo," ajak Sakti seraya membawa kembali tangan Kirana dalam genggamannya.
Kirana menurut saja meski tak ingin, ia bingung bagaimana menolak Sakti tanpa membuat kegaduhan. Suaminya yang keras kepala ini sangat sulit untuk dihindari saat ini.
Robby mengisyaratkan bahwa dirinya tengah mengawasi Sakti dari kejauhan.
Meskipun begitu Sakti masih tak ingin melepaskan genggamannya pada Kirana, malah ia semakin mengeratkannya.
"Mas ?" Kirana berkerut alis karena genggaman tangan Sakti semakin erat ia rasakan.
"Hmm ?" Sakti menolehkan kepalanya pada Kirana yang terlihat keheranan.
"Punya istri cantik emang harus begitu, gandeng terus... Biar gak ada yang nyulik. Hahahaha," ucap salah satu teman Sakti yang kebetulan bertemu mereka.
"Hahahah iya. Pengennya sih aku kurung saja di kamar biar gak ada lelaki lain yang lihat." Sakti menjawab kelakar temannya itu.
Pipi Kirana memerah mendengar ucapan suaminya itu.
Sakti terus menggandeng tangan Kirana ketika ia menemui beberapa koleganya, meskipun Sakti sadar Kirana terus berusaha melepaskan diri.
"Mas, aku cape aku mau pulang." Ucap Kirana pada akhirnya.
__ADS_1
"Sebentar," jawab Sakti dan kini ia membawa Kirana berjalan melalui lorong hotel untuk keluar dari sana.
"Mas, lepasin aku. Aku mau ke kak Robby dulu," ucap Kirana menghentikan langkahnya.
"Biar aku yang antar, kak Robby lagi sibuk sama koleganya. Nanti aku juga yang akan bilang sama kakak kamu."
"Gak mau, aku bisa pulang sendiri kok." Kirana bersikeras.
Seorang petugas hotel mendorong troli makanan dan berjalan melalui mereka, sehingga Kirana dan Sakti harus menepikan tubuh mereka ke sisi dinding.
Kirana hendak pergi namun sedetik kemudian tubuh Sakti menghalanginya, kedua tangan Sakti memenjarakan Kirana di sana.
Pandangan mata mereka bertemu. Sakti menatap istrinya itu dengan penuh kerinduan.
Biasanya ia hanya bisa membayangkan kehadiran Kirana, tapi kini wanita itu nyata berada di hadapannya.
"Aku kangen banget sama kamu Ki..." Gumam Sakti lirih.
Kirana menelan Salivanya yang terasa kelat. Kakinya terasa lemas, dan kedua telapak tangannya yang berkeringat saling meremas karena gugup. Ini pertama kali ia kembali berdekatan tanpa berdebat setelah hampir 5 bulan terpisah.
"Kamu cantik banget malam ini, Sayang," ucap Sakti tak dapat menahan diri untuk mengatakannya.
"Aku bayangin buaya yang muncul dari air pas kamu ngomong begini, Mas" jawab Kirana tanpa Sakti sangka.
Sakti tertawa mendengar jawaban istrinya itu.
"Dan buaya ini masih suamimu," jawab Sakti lirih dan semakin menundukkan wajahnya agar dapat melihat wajah istrinya lebih jelas lagi.
Sakti menggigit bibirnya sendiri ketika matanya tak bisa lepas dari bibir istrinya yang terlihat sangat menggoda.
"A... Aku harus pulang..." Ucap Kirana terbata karena ia merasa Sakti makin intim saja.
"Ku mohon tinggallah bersamaku disini sebentar saja. Aku ingin kamu tak pergi ninggalin aku. Aku ingin kamu temani aku meskipun aku tahu kamu sudah tak menginginkan aku lagi,Ki." Ucap Sakti lirih dengan begitu frustasi.
"Please... aku mohon... tinggallah sebentar, temani aku. Walaupun pasti berat untukmu, karena aku tahu kamu sudah tak menginginkan aku lagi, Kirana" lirih Sakti kembali memohon.
Mata Kirana mengembun mendengar itu. Meskipun keinginannya amatlah besar untuk berpisah dari lelaki yang masih jadi suaminya itu, namun setitik perasaan masih berada dalam sudut hatinya yang paling dalam.
"Aku kangen kamu, Sayang... Ya... Lelaki bodoh ini kangen banget sama kamu," ucap Sakti lagi karena Kirana terus diam membisu, bahkan Sakti telah lebih dulu menitikkan air bening di pipinya.
Lama Kirana terdiam tak menjawab setiap kata suaminya itu. Mereka hanya terdiam membisu dengan mata terkunci saling menatap.
"Maaf aku tak bisa... Kumohon biarkan aku pergi," jawab Kirana pada akhirnya.
__ADS_1
To be continued....
Thanks you for reading ❤️