Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Membawa Pulang


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Nanti bila Papa sudah sembuh juga akan menemui Abang di sini. Jadi jangan bersedih dan benci Papa lagi ya? Kan sudah Mama bilang berulang kali tidak baik membenci orang tua."


Davin menganggukkan kepalanya.


Ia kembali memejamkan matanya untuk beristirahat namun dengan perasaan yang lebih ringan dan hati yang lega.


Kirana sebisa mungkin memberikan pengertian pada anaknya itu dengan sebenar-benarnya tak ingin menutupi apapun. Davin berhak tahu yang sebenarnya dan Sakti pun memang telah berkorban banyak untuk anaknya itu.


***


Sore harinya kedua orang tua Kirana tiba di Jakarta dan langsung menuju Rumah Sakit di mana cucunya itu dirawat.


Kirana masih setia menunggu disana bersama Renata yang juga ikut menemani.


"Bagaimana keadaan cucuku ?"


"Dia sudah sadar dan kata dokter sejauh ini keadaannya baik. Besok akan dilaksanakan observasi lanjutan," jelas Kirana pada ayahnya itu.


Ayah Kirana mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Berapa lama cucuku harus berada di sini sampai dia cukup kuat untuk keluar dari rumah sakit ini ?"


"Belum tahu, mungkin besok dokter akan memberi informasi tambahan." Jawab Kirana lagi.


"Iya, katakan pada mereka berikan perawatan terbaik untuk cucuku selama dia dirawat di sini."


"Tentu saja Ayah."


***


Hari ke 2 setelah Davin tersadar, Sakti belum juga menemuinya karena ia harus melakukan istirahat total agar tubuhnya pulih kembali tapi hari ini ia ingin segera menemui anaknya itu.


Walaupun Fabian telah memberi tahunya bagaimana keadaan Davin tapi rasanya belum puas bila tak menemuinya secara langsung.


Kirana pun berkunjung ketika Sakti tertidur hingga ia tak bisa menemuinya. Meskipun begitu, Sakti tetap merasa senang karena Kirana masih merasa peduli padanya.


Sakti teringat waktu itu, ketika Kirana mengatakan takkan peduli lagi padanya kemudian Kirana  dan kedua anaknya pergi meninggalkannya.  Itu adalah masa paling buruk dalam hidup Sakti.


Sakti bergidik ngeri setiap mengingat itu.


Fabian mendorong kursi roda yang Sakti naiki, adiknya itu begitu setia menemaninya selama di rumah sakit padahal Fabian masih dalam suasana pengantin baru tapi ia rela untuk menghabiskan waktu menemani kakaknya itu.


"Gue kok deg-degan ya Bi ?" Sakti merasa gugup untuk bertemu anaknya itu.


"Tenang, gak apa-apa. Lo gugup mau ketemu Davin apa mamanya ?" Goda Fabian pada kakaknya itu.


"Keduanya lah," jawab Sakti terkekeh.


Fabian pun tertawa mendengar jawaban Sakti. Tak lama Sakti pun tiba di depan pintu kamar anaknya dirawat.


Sakti menarik nafasnya dalam sebelum ia memasuki ruangan itu.


"Loh Mas ? Udah boleh keluar?" Tanya Kirana yang berdiri dari duduknya dan berjalan menyambut lelaki yang masih jadi suaminya itu.


"Boleh gak boleh, dia maksa. Biasalah," jawab Fabian, sedikit memperlihatkan kekesalan pada Sakti yang kerasa kepala itu.

__ADS_1


Kirana tertawa pelan, ia paham betul bagaimana Sakti yang keras kepala dan pemaksa.


"Aku gak bisa tenang sebelum melihat anakku dengan mata kepalaku sendiri," Sakti beralasan.


"Iya, aku ngerti Mas." Jawab Kirana.


"Tapi sayang Davin sedang tidur, mungkin kamu harus nunggu."


"Gak apa-apa, aku akan menunggunya hingga ia terbangun," jawab Sakti.


Melihat Sakti dan Kirana yang sepertinya butuh waktu untuk berdua, Renata pun mengajak Fabian untuk meninggalkan mereka.


Sepeninggal Renata dan Fabian kamar itu terasa sunyi. Kirana dan Sakti kembali ke keadaan sebelumnya, masih terasa canggung meskipun Kirana tak sedingin waktu lalu.


"Katanya kamu datang ke kamar aku ya, Ki?" Tanya Sakti.


"Iya, aku ingin melihat keadaanmu saja,"


"Maaf aku sedang tidur," Sakti merasa menyesal tak bertemu istrinya itu.


"Its oke... Kamu emang harus banyak beristirahat, Mas," ucap Kirana memaklumi keadaan Sakti.


"Bagaimana keadaan dia?" Tanya Sakti sembari menggenggam tangan anaknya yang terasa dingin.


"Keadaannya lebih baik sekarang," jawab Kirana.


Sakti memandangi wajah Davin yang tengah tertidur pulas, telah lama ia tak sedekat ini dengan anaknya.


Hampir saja ia kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya, setitik air bening jatuh dari sudut matanya.


"Kemarin dia menanyakan kehadiranmu," ucap Kirana menyadarkan Sakti dari lamunannya.


"Tentu saja,"


"Terus kamu bilang apa sama Davin ?"


"Aku cerita yang sebenarnya terjadi, bahwa dalam tubuhnya mengalir banyak darahmu karena apapun akan kamu lakukan untuk menyelamatkannya,"


Sakti terdiam, ia begitu takjub dengan apa yang Kirana katakan.


"Terimakasih Ki," lirih Sakti di sela isakkan tangis yang tak dapat lagi ia tahan.


"Terimakasih selalu memberikan pengertian yang positif pada anak-anak kita, meskipun aku telah berlaku jahat pada kalian," ucap Sakti penuh kesungguhan.


"Yang bermasalah itu kita, bukan anak-anak. Sejujurnya aku tak mau psikologis kedua anak kita terganggu dengan masalah besar yang menerpa. Namun ternyata sulit untuk melakukan itu. Pada akhirnya mereka pun ikut terluka karena ulah kita."


"Karena ulahku... Akulah yang bersalah... Bukan kamu Ki,"


"Aku pun bersalah... Kita berdua yang bersalah... Mereka hanya menjadi korban" ucap Kirana penuh penyesalan.


"Jadi bisakah kita berdamai dan memulai  semua dari awal ?" Tanya Sakti penuh harap.


Belum juga menjawab pertanyaan itu, Davin membuka matanya dengan perlahan.


"Pa... Papa..." Gumamnya lirih, Davin terkejut melihat kehadiran Sakti di sisinya.


Sakti menolehkan kepala dan menatap wajah anaknya itu.

__ADS_1


"Papa di sini, Sayang." Sakti menggenggam tangan Davin yang terasa dingin.


"Bagaimana keadaan Abang sekarang ? Mana yang sakit ?" Tanya Sakti penuh perhatian.


"Gak tau, tapi semua rasanya sulit untuk digerakkan,"


"Semua akan baik-baik saja, kamu akan sehat lagi karena kamu anak Papa yang kuat,"


"Terimakasih Papa... Terimakasih sudah mau memberikan darah Papa buat aku,"


"Apapun akan Papa lakukan untuk menyelamatkanmu dan Papa sangat bersyukur pada Tuhan karena mengabulkan segala usaha dan doa Papa," ucap Sakti dengan menitikkan air matanya.


"Papa sangat sayang sama kamu Bang... Maafin Papa yang banyak buat Abang kecewa. Tapi satu yang pasti Papa juga Mama sangat sayang sama Abang dan adek," lanjutnya lagi.


"A.. Abang juga sayang Papa,"


Sakti tertegun mendengar itu. Itulah kata-kata yang sangat ia rindukan selama ini. Kata-kata sayang dari anaknya yang beberapa waktu lalu menjauhkan diri darinya.


***


Telah satu Minggu berlalu dan Davin masih dalam perawatan sedangkan Sakti telah diperbolehkan untuk menjalani rawat jalan dan mulai kembali ke pekerjaannya.


Kirana dan Sakti menjaga Davin bersamaan. Masalah besar diantara mereka yang belum selesai dikesampingkan dahulu. Bagi mereka kesehatan Davin lebih penting dari segalanya.


Sore itu Sakti baru pulang dari kantor dan langsung menuju ke rumah sakit namun terlebih dahulu mampir ke sebuah mini market dan membeli beberapa makanan kecil juga minuman pavorit istrinya Kirana.


Dengan penuh semangat ia berjalan dengan sebuah kantong plastik berisi banyak makanan di dalamnya.


Sakti melangkahkan kakinya ke dalam kamar ruang rawat inap Davin dan ternyata kedua mertua dan Kakak iparnya Robby berada disana.


"Ah... Akhirnya kamu datang juga." Ucap ayah Kirana yang ternyata telah menunggu kedatangan Sakti.


Sakti pun menyalami kedua mertuanya juga Robby. Ia meringis ketika memandang wajah kakak iparnya itu, teringat bagaimana Robby memukulinya beberapa waktu lalu.


"Begini Sakti, besok kan Davin sudah boleh keluar dari Rumah Sakit dan selanjutnya akan melakukan rawat jalan. Nah, untuk rawat jalan itu ayah akan membawa pulang Davin ke Singapura untuk mendapatkan perawatan terbaik. Kamu jangan khawatir semua sudah ayah dan Robby siapkan."


Seketika Sakti terdiam, tubuhnya menegang.


"Semua demi kebaikan Davin dan Kirana pun sudah setuju dengan keputusan ini." Ucap ayah Kirana lagi.


Sakti mengedarkan pandangannya dan sadar Kirana tak berada disana.


"Apa benar Kirana telah setuju ?" Tanya Sakti.


"Iya tentu saja, malah Kirana sangat menginginkan hal ini." Kini Robby yang menjawab pertanyaan Sakti.


Sakti menelan salivanya yang terasa kelat.


Satu Minggu ini ia lalui bersama Kirana mengurusi anaknya yang sakit. Ia kira hubungannya dengan Kirana mulai membaik meskipun diantara mereka belum ada kata sepakat untuk berdamai.


"Bagaimana bila aku menolak ? Aku ingin Davin dirawat di Jakarta, aku juga akan memberikan perawatan terbaik untuknya," jawab Sakti yang tak ingin berpisah dari anak juga istrinya.


Ayah Kirana terdiam untuk sesaat.


"Untuk apa menahan-nahan perpisahan kalian. Lihat Davin jadi korbannya. Ayah gak mau ini terjadi lagi. Karena kelalaian kalian sebagai orang tua, anak menjadi korban." Ucap ayah Kirana dengan nada suara meninggi.


"Ayah akan membawa pulang mereka ke tempat yang seharusnya. Kirana dan Davin juga sudah pindah ke Singapura di sanalah rumah mereka sekarang ini dan untuk seterusnya. Mereka kesini hanya untuk menyelesaikan perpisahan kalian secepatnya tapi lihat anak kalian menjadi korban kecelakaan karena kalian sibuk berseteru. Jadi ayah akan bawa mereka kembali pulang ke Singapura dan kamu tidak bisa membantahnya," ucap ayah Kirana lagi dengan penuh penekanan dan begitu emosional.

__ADS_1


To be continued....


Thank you for reading ❤️


__ADS_2