Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Bonus Chapter 3


__ADS_3

Happy reading ❤️


Kirana terbangun ketika sesuatu telah melesak masuk lagi di bawah sana. Begitu memenuhi dan menyesakkan tubuh bawahnya. Padahal belum lama mereka juga telah melakukan kegiatan panas itu.


Kirana kembali melenguuh ketika Sakti mulai menggerakkan pinggulnya. "Mas?" Tanya Kirana lirih.


"Maaf sayang... Tapi aku menginginkanmu lagi." Lirih suaminya itu sembari memberikan banyak kecupan di pundaknya yang masih polos tak tertutup kain apapun. 


Saat ini Sakti tengah memeluk posesif istri yang tidur memunggunginya, terkadang tangannya memberikan sentuhan-sentuhan halus seringan bulu pada tubuh polos Kirana dan meremas gemas benda kenyal yang menjadi pavoritnya.


"Kamu selalu buat aku gila, Sayang." Bisik Sakti lirih tepat di telinga istrinya itu.


Keduanya bergerak seirama dengan sesekali berpagut lidah, berusaha saling memuuaskan satu sama lain.


"Tell me that you love me," (katakan bahwa kamu mencintaiku) Sakti kembali berbisik dengan suaranya yang parau.


"Please... Tell me." ( Kumohon katakan) kali ini Sakti memohon dengan lirih.


"I love you..  i love so much," jawab Kirana diantara erangannya.


Sakti yang mendengar itu semakin menghentakkan tubuhnya dan membawa mereka berdua ke nirwana.


***


Suara deburan ombak dan hangatnya sinar mentari membangunkan Sakti dari tidurnya. Ia melihat Kirana masih tidur meringkuk di sebelahnya. Sakti amati wajah wanita yang sangat ia cintai itu.


Sakti merasa malu pada dirinya sendiri, ia pernah mengatakan pada Kirana bahwa akan melakukan 'hal itu' bila Kirana siap. Tapi pada akhirnya ia tak bisa menahan diri, seperti tadi malam entah berapa kali Sakti menggeluti tubuh istrinya itu.


"Maaf," gumam Sakti lirih seraya memberikan kecupan di dahi Kirana dan kemudian berdiri untuk membersihkan diri.


Setelah bersiap, ia pun pergi untuk memesan sarapan.


Kirana meregangkan tubuhnya yang terasa begitu luluh lantak. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, menyesuaikan pandangan dengan cahaya matahari yang menyinari kamarnya.


"Sudah bangun ?" Tanya Sakti sembari membawa nampan yang telah berisi  satu piring roti croissant, potongan buah segar juga segelas jus jeruk. Tak lupa Sakti juga memberikan sebuah buket bunga mawar disana. Saat ini ia tengah memberikan pelayanan breakfast in bed ( sarapan diatas ranjang) pada istrinya.



"Selamat pagi, Sayang," Sakti mengecup pipi Kirana dan meletakkan nampan itu di pangkuan istrinya.


Pipi Kirana memerah mendapatkan pelayanan seperti itu, ia membelitkan bedcover putih pada tubuh polosnya.


"Jangan tutupi, aku sudah melihat semuanya," ucap Sakti dengan senyuman nakal di wajahnya.


Wajah Kirana semakin memerah karena ucapan suaminya itu.

__ADS_1


"Sungguh tak adil ! Aku masih terlihat kacau begini sedangkan dia sudah terlihat segar seolah tak kelelahan," batin Kirana dalam hatinya.


Sakti menyerahkan segelas air putih pada Kirana dan ia pun meminumnya.


Sakti memotong roti croissant itu menjadi bagian kecil dan mulai menyuapi istrinya itu.


"Kamu hening sekali pagi ini," ucap Sakti karena sedari tadi Kirana tak mengatakan apapun padanya.


"A... Aku... Aku kaget aja kamu begini," jawab Kirana terbata.


"Aku udah Janji sama diri aku sendiri akan lebih menunjukkan rasa cinta aku sama kamu Ki. Membayar 10 tahun yang terlewati."


Kirana tak bisa berkata apapun, lidahnya terasa kelu. dadanya berdebar. Namun debaran bahagia yang ia rasakan saat ini.


"Terimakasih sudah mencintai aku," Sakti dengan tulus mengatakan itu.


Kirana menganggukkan kepalanya halus.


"Kamu tahu gak apa yang aku lakukan bila kita beneran berpisah ?" Tanya Sakti sembari terus menyuapi.


Kali ini Kirana menggelengkan kepalanya.


"Aku akan minta kedua orang tuaku untuk menjodohkan kita lagi," jawab Sakti akan pertanyaannya sendiri.


"Sekarang jago gombal ya," Kirana mencebikkan bibir tapi pipinya terasa panas karena ucapan suaminya itu.


"Gombal ma kamu aja, Sayang." Ucapnya seraya membersihkan ujung bibir Kirana dengan selembar tisu.


"Tapi beneran, Sayang. Aku akan meminta Papi buat jodohin kita lagi dan jika Papi menolak maka aku akan datang sendiri melamarmu pada Ayah,"


"Bagaimana jika ayahku menolakmu juga ?" tanya Kirana.


"Aku akan terus datang sampai Ayah menerima aku lagi." jawab Sakti tegas.


"kenapa ?" Kirana kembali bertanya.


"Karena aku gak bisa ke lain hati, gak bisa ke lain wanita dan kamu tahu itu" ucap Sakti seraya menatap dalam mata istrinya.


Hening untuk beberapa saat, seolah waktu berhenti begitu saja


"Habis ini, mandi ya ? Kita jalan-jalan." Ajak Sakti memecahkan keheningan diantara mereka.


Mata Kirana berbinar mendengar ajakan suaminya itu.


***

__ADS_1


"Kenapa sih cemberut aja ?" Tanya Sakti seraya menggenggam tangan Kirana ketika mereka berjalan beriringan.


Mereka baru saja meninggalkan vila untuk pergi menikmati waktu di Bali.


"Aku harusnya gak terima bantuan kamu buat mandi," kesal Kirana pada suaminya itu.


Sakti kembali tergelak, karena ia kembali menggeluti tubuh istrinya disana.


"Hampir 6 bulan sayang. Bayangin hampir 6 bulan aku tak melakukannya. Untung gak gila juga." Ucap Sakti.


"Harusnya aku dikasih piala karena bisa nahan selama itu," ucap Sakti bangga.


"Siapa suruh jadi orang nyebelin," jawab Kirana dengan mencubit pinggang Sakti.


"Tapi kan sekarang udah nggak," Sakti melingkarkan tangannya di pinggang Kirana dan menarik tubuh Kirana agar menempel padanya. Ia pun memberikan sebuah kecupan mesra di puncak kepala istrinya dan tak lama sebuah mobil mewah menjemput mereka.


Hari ini mereka akan menghabiskan waktu untuk menikmati beberapa tempat romantis di Bali.


***


Tak terasa waktu pun terus berlalu, 4 hari terasa begitu sebentar saja. Sudah waktunya untuk kepulangan mereka ke Jakarta walaupun Sakti ingin memperpanjang bulan madu mereka tapi urusan pekerjaan Kirana tak memungkinkan untuk melakukan itu.


"Iya aku janji, nanti kita akan pergi berdua lagi," Kirana terus membujuk Sakti yang tengah menekuk wajahnya karena kesal.


"Tau ah," jawabnya kesal.


Kirana tertawa melihat tingkah Sakti yang kini lebih manja juga lebih ekspresif dengan perasaannya.


Sabtu sore hari mereka telah tiba di Jakarta. Kedua orang tua Sakti masih berada di rumah mereka untuk menjaga Davin juga Dareel.


"Oleh-oleh buat Celia ma Renata, aku kasih besok aja deh sekalian main kesana." Ucap Kirana sambil membenahi segala barang yang ia bawa di dalam kamarnya.


"Hu'um," jawab Sakti yang kini membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan kedua tangan sebagai bantalnya.


Kirana tahu suaminya itu masih merajuk, maka ia pun mengakhiri kegiatannya dan berjalan menuju suaminya berada. Tanpa Sakti kira, Kirana menaiki tubuhnya dan memagut bibir Sakti begitu menuntut. Seketika mata Sakti terbuka dan membulat dengan sempurna.


"Jangan marah sayang. Aku janji secepatnya kita akan pergi bulan madu lagi," ucap Kirana ketika tautan bibir mereka terpisah.


Bukannya menjawab, Sakti malah menggulingkan tubuh Kirana sehingga kini istrinya itu berada di bawahnya.


Senyuman nakal terbit di wajah Sakti saat ini dan Kirana tahu apa yang akan dilakukan suaminya itu.


Thank you for reading ❤️


Kalau suka ceritanya vote ya, mumpung hari Senin. buat yang ikhlas aja wkwkwkw

__ADS_1


Terimakasih yang sudah like komen dan memberikan hadiah 😘😘😘


__ADS_2