
Happy reading ❤️
"Aku masih suamimu Ki... kembali lah padaku. Jika kamu kembali lagi, kini giliran aku yang akan memanjakanmu," gumam Sakti lirih.
Pandangannya lurus ke jalanan namun pikirannya melayang pada Kirana wanita yang masih jadi istrinya itu.
"Pa.. Papa, aku ngomong gak didengerin." Kesal Dareel yang duduk di sebelah Sakti.
"Ah maaf, Adek ngomong apa?" Tanya Sakti yang sedari tadi memikirkan Kirana.
"Gak jadi ! Papa ngelamun terus." Kesal Dareel.
"Maafin Papa, sayang. Tadi Papa mikirin baiknya kita pergi main kemana." Ucap Sakti bohong agar anaknya tak lagi marah. Ia pun melihat keadaan Davin di bangku belakang melalui kaca spion diatasnya dan ternyata Davin sedang memandang sinis padanya.
Sakti menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, ia lakukan itu berkali-kali, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
***
Pukul 10 malam Sakti mengantarkan kedua anaknya kembali ke rumah orang tua Kirana. Keduanya tak mau menginap di kediaman Sakti malam ini. Sepertinya ia benar-benar harus banyak bersabar.
Sakti menarik nafas lega ketika melihat mobil Kirana telah terparkir di garasinya menandakan istrinya itu sudah pulang ke rumah.
"Ibu sudah pulang?" Tanya Sakti pada Mbok Inah untuk memastikan keberadaan istrinya itu.
"Sudah Pak, Ibu sedang beristirahat di kamarnya. Apa perlu saya panggilkan?"
"Eng.. enggak usah saya hanya antar anak-anak pulang. Saya permisi Mbok." Jawab Sakti dan mencium puncak kepala kedua anaknya sebelum ia pergi meninggalkan rumah itu.
Sakti berjalan gontai menuju mobilnya, terdiam sejenak sebelum memasuki mobilnya itu, ia menahan kepalanya dengan tangan seperti sedang memikirkan sesuatu namun tak lama ia pun memasuki mobilnya dan mulai meninggalkan rumah Kirana.
Tanpa Sakti ketahui, Kirana memperhatikannya dari balik jendela kamar.
Sakti memasuki rumahnya yang begitu terasa sepi beberapa bulan terakhir ini karena Kirana dan kedua anaknya tak lagi lagi tinggal disana. Rumah besar itu terasa sunyi bagai tak bernyawa.
Sakti melemparkan dirinya keatas sofa yang terasa dingin, ia mengedarkan pandangannya. Bayangan ketika Kirana dan kedua anaknya menghangatkan rumah itu terpampang begitu jelas bagai sebuah film.
Itulah yang sering ia lakukan untuk membunuh rasa sepinya, membayangkan Kirana dan kedua anaknya berada di sana.
Sementara itu di kediaman Kirana, kedua anaknya sedang bercerita tentang kegiatan yang baru saja mereka lakukan dengan Papanya.
"Abang Davin, kenapa sih kalau ada Papa gak mau ikut juga gak mau ketemu ? Jangan begitu sayang.... Kasian Papa." Ucap Kirana di sela obrolan mereka. Kirana selalu merasa hanya ia yang bermasalah dengan Sakti tapi jangan kedua anaknya, bagaimanapun mereka sangat membutuhkan sosok seorang ayah.
"Papa baik sama kita karena mau ninggalin kita dan nikah lagi sama Tante yang kita lihat di mall itu," jawab Davin yang berhasil membuat Kirana terkejut.
"Kenapa Abang ngomong begitu?" Tanya Kirana dengan mengerutkan dahinya.
"Karena yang aku alami ini sama dengan teman sebangku aku dulu, Rio." Jawab Davin polos.
__ADS_1
"Kenapa Rio?" Tanya Kirana lagi.
"Rio pernah cerita kalau Papanya jadi galak sama mamanya karena papanya itu punya pacar lagi dan baik sama Rio, biar Rio mau punya mama baru tapi pada akhirnya Papa Rio ninggalin Rio juga mama dan adiknya. Papa Rio gak sayang lagi sama keluarganya. Apa papa juga udah gak sayang kita ya Ma?"
"Pacar itu apa ?" Tanya Dareel polos.
"Kamu masih kecil gak akan tahu," jawab Davin dengan memelototkan matanya dan itu membuat Dareel mencebikkan bibirnya karena sebal.
Kirana terdiam tak bisa berkata-kata.
"Aku pernah lihat Papa jahatin Mama, terus kita lihat Papa sama Tante itu di mall terus sekarang Papa baik sama kita jadi cerita aku dan Rio sama. Papa mau nikah sama Tante itu ya Ma?" Tanya Davin lagi.
Kirana tak dapat menjawabnya, karena meskipun Sakti berusaha mempertahankan rumah tangga mereka tapi jika pada akhirnya mereka bercerai, Kirana tak tahu apakah Sakti akan menikahi Vanya atau tidak.
"Tuh kan mama gak mau jawab," kesal Davin.
"Mama gak tau sayang, tapi yang pasti Papa dan Mama sangat sayang sama kalian meskipun kita tak lagi tinggal bersama." Jawab Kirana.
"Sudahlah... Ayo gosok gigi dan tidur." Ajak Kirana pada kedua anaknya.
Kini Kirana tahu kenapa Davin tidak menyukai Papanya, tapi ia pun tak bisa banyak membantu selain hanya membujuk dan memberi pengertian semampu yang ia bisa.
***
Waktu berjalan begitu cepat, Kirana dan kedua anaknya baru saja menginjakkan kembali kakinya di Jakarta setelah menghabiskan waktu hampir 2 Minggu di Singapura.
Kirana akan mendampingi kakaknya Robby dalam acara itu. Ini menjadi salah satu cara agar Kirana semakin mengerti dunia bisnis.
Pukul tujuh malam tepat mereka tiba di hotel yang di gunakan untuk event itu. Kirana menggunakan gaun berwarna hitam panjang, terlihat begitu cantik dan mempesona.
"Saya menanti kedatangan anda, Tuan Wijaya." Ucap seorang pria yang yang berjalan menghampiri Robby dan Kirana. Pria dengan mata se-biru lautan itu terlihat sangat tampan dalam balutan jas mahalnya.
Robby menyambut pria yang telah menjadi kliennya itu dengan pelukan hangat, dan berbincang untuk sesaat karena Robby harus meladeni sapaan temannya yang lain dan meninggalkan Kirana beserta Adam di sana.
"Senang bisa bertemu dengan anda lagi nona Kirana," ucap lelaki itu.
Kirana menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya.
"Anda terlihat begitu mengagumkan malam ini," ucap Adam begitu terpesona akan penampilan Kirana.
"Terimakasih," jawab Kirana singkat.
"Aku lama berdiam diri di depan pintu masuk hanya menunggu kehadiranmu dan terbayarkan ketika kamu datang dengan secantik ini,"
"Kurasa anda terlalu berlebihan, Tuan Bradley," jawab Kirana dengan tersenyum.
"Adam, call me Adam saja Kirana. Dan to be honest ( sejujurnya ) saya senang kamu datang dengan kakakmu bukan dengan suamimu,"
__ADS_1
Kirana menutup mulutnya karena merasa tak percaya Adam akan mengatakan hal seperti itu.
"Saya tahu saya salah, but that's what i feel ( tapi itulah yang saya rasakan )." Ucap Adam jujur.
Adam menemani Kirana malam ini karena Robby tengah asik berbincang dengan beberapa teman lamanya.
"Mau minum?" Tanya Adam pada Kirana.
"Mmm boleh," jawab Kirana. Ia sedikit kesal karena Robby meninggalkannya.
Adam pun membawakan Kirana segelas minuman berwarna merah tua dan mereka minum bersama.
Kirana mengedarkan pandangannya ke sekeliling, hingga matanya menangkap penampakan suaminya Sakti yang tengah terlibat dalam pembicaraan bersama beberapa orang koleganya.
Kirana segera memalingkan wajahnya sebelum Sakti dapat melihatnya terlebih lagi kini ia tengah ditemani seorang pria asing. Ia takut Sakti gelap mata seperti waktu itu, seperti ketika mantan Kirana datang menemuinya di sekolah dan Sakti memukulinya hingga ia tak sadarkan diri.
"Aku sebaiknya menemui kakakku," ucap Kirana berusaha meninggalkan lelaki itu.
"Look, kakakmu sedang asyik berbincang dengan teman-temannya, sedangkan aku sendiri tak ada teman. Please Kirana temani aku sampai minuman ini habis. Hanya 1 gelas tak akan lama,"
Kirana masih mencoba untuk pergi namun terlambat, Sakti telah menyadari kehadirannya. Seketika itu juga tatapan mata Sakti mengarah pada Kirana meskipun ia sedang berbicara dengan kenalannya.
Kirana menundukkan wajahnya menghindari tatapan mata suaminya itu. Debaran jantungnya semakin menggila, ia merasa khawatir Sakti akan berpikiran lain tentangnya dan berbuat nekad karena dirinya sedang bersama Adam.
"Aku berani bertaruh jika lelaki dengan setelan jas hitam di sebelah sana adalah salah satu fansmu atau mungkin mantan kekasihmu," ucap Adam yang menunjuk Sakti dengan matanya.
Kirana menolehkan lagi wajahnya ke arah Sakti dan melihat suaminya itu tengah mengamati Adam dengan mata tajamnya.
"Tatapan matanya seolah ingin menguliti aku hidup-hidup," ucap Adam lagi.
"Aku sebaiknya pergi sekarang, maaf Adam." Ucap Kirana yang hendak beranjak pergi namun cekalan tangan Adam pada lengannya menahan langkah kaki Kirana.
Sakti yang melihat itu langsung menghentikan pembicaraannya dan berjalan menuju Kirana dan Adam berada.
To be continued...
Alias bersambung...
Mumpung hari Senin bantu vote novel ini
Seikhlasnya yaaa 😘😘😘🙏🙏
Oia kalau suka novel ini tolong kasih tahu ke sahabat, temen, pacar, sodara, tetangga, ke selingkuhan juga boleh wkwkkwkwkwk
Thanks alot yaa ❤️❤️❤️
Have a bless day everyone 🥰
__ADS_1