
Happy reading ❤️
Tak sedikit pun Fabian menyinggung soal telepon Sarah tadi malam.
"Sepertinya perlu usaha keras untuk meruntuhkan gunung es ini," geram Sarah di tempat duduknya dengan pandangan penuh amarah pada pintu ruangan Fabian yang telah tertutup sempurna.
Fabian kembali keluar dari ruangannya pukul 07.30 menuju ruang meeting.
"Sarah, kenapa masih disini? Ayo ikut briefing sebagai notulen," ucap Fabian yang merasa heran melihat sekretaris nya itu masih di tempat duduknya.
"Saya menunggu bapak," ucap Sarah dengan senyum manisnya.
"Oh, maaf telah membuat menunggu. Ayo kita segera bergegas pasti yang lain sudah menunggu," ucap Fabian sembari terus berjalan tanpa menunggu sekretaris nya itu.
Sarah berjalan mengekori Fabian dengan mulut bersungut-sungut. Ia begitu kecewa
Maksud hati ingin berjalan bersamaan namun pada kenyataannya Fabian meninggalkan nya. Padahal ia telah berdandan semaksimal mungkin untuk menarik perhatian Fabian.
Fabian melakukan presentasi dengan penuh semangat entah kenapa Renata selalu memberikan energi positif baginya. Pertemuan nya tadi malam dengan Renata membuat moodnya baik pagi ini.
Sarah menatap Fabian dengan penuh kagum. Bosnya ini meskipun masih muda namun cukup sukses dan tentu saja sebagai salah satu pewaris Nugraha coprs yang terkenal menambah nilai lebih pada diri Fabian.
Tak hanya bergelimang harta tapi Fabian pun memiliki paras yang tampan dan tubuh yang atletis impian para wanita.
Sarah begitu menginginkan Fabian menjadi miliknya. Tak masalah bukan ? Fabian ini pria berstatus single jadi tak salah bila Sarah menginginkan nya, dia tak merebut Fabian dari siapapun.
Tak hanya Sarah yang menaruh hati Fabian. Banyak wanita lain dikantornya merasakan hal yang sama.
Tapi hanya Sarah yang beruntung menjadi sekretaris nya hingga bisa lebih dekat dengan keberadaan Fabian.
"Sar, udah kamu tulis semua hasil briefing pagi ini ?" Tanya Fabian menyadarkan Sarah dari lamunannya.
" Oh su.. sudah pak," jawabnya gugup
Fabian mengernyit heran melihat Sarah yang sepertinya kurang konsentrasi.
"Saya harap kamu bisa bekerja dengan baik ya Sarah," ucap Fabian lagi.
"Tentu saja pak," jawab Sarah merasa malu.
"Setelah ini tolong siapkan bahan-bahan untuk meeting klien hari Senin. Saya ingin selengkapnya ya jangan sampai ada yang tertinggal. Mohon dikerjakan dengan teliti," ucap Fabian dengan tegas.
"Baik Pak, akan saya segera siapkan," jawab Sarah dengan senyuman manis yang selalu ia tampilkan.
"Ayo segera kembali ke meja kerja," ajak Fabian.
Akhirnya yang Sarah inginkan tercapai juga. Ia dan Fabian berjalan berdampingan menuju meja kerja banyak mata yang menatap iri padanya. Senyuman menang menghiasi wajah Sarah saat ini.
***
Tibalah acara ulang tahun Celia yang diadakan di rumah utama. Sedari pagi sudah ramai dengan beberapa orang yang mendekorasi dan juga sudah beberapa orang saudara dekat yang datang.
Renata pun telah hadir disana. Sedang ikut berbenah meskipun sudah banyak orang yang bekerja. Fabian begitu senang melihat kehadiran Renata. Tak hanya sekali Fabian mencuri pandang pada mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Re, apa kabar ? Tambah cantik saja sayang," sapa salah satu tante Fabian pada Renata dengan memeluk nya erat.
Ya meskipun mereka telah berpisah, keluarga Fabian masih memperlakukan Renata dengan baik.
" Baik tante, tante juga tambah awet muda aja,"
"Ah kamu bisa aja Re, kangen tante udah lama gak ketemu. Kata Fabian udah mulai kerja lagi ya ?"
"Iya tan, bosen di rumah terus." Jawab Renata sambil tertawa kecil.
"Kalau bosan main ke rumah Re,"
"Iya Tan nanti Renata maen deh,"
Fabian pun mencuri dengar apa yang Renata bicarakan.
Ingin rasanya Fabian melingkar kan tangannya ke pinggang Renata yang tengah berdiri. Hal yang biasa Fabian lakukan dulu ketika masih bersama. Memeluknya dari belakang dan mencium aroma tubuh istrinya dengan rakus.
Fabian mati matian berusaha menahan diri dengan berbicara dengan saudaranya yang lain untuk mengalihkan perhatiannya.
"Lu bang, gue ngomong apa lo jawab apa," ucap Dion salah satu sepupu Fabian yang tengah menggendong anaknya
"Hahahahhaha sorry Di, gue masih ngumpulin nyawa."
"Anak lo dah gede ya Di ?" Tanya Fabian basa basi
"Gede lah gue kasih makan. Lo basa basi banget sih Bang. Gue ngomong ma elo bang, tapi mata lo ke arah dapur aja. Samperin gih kalo emang lo kangen" ucap Dion pada sepupunya yang sedari tadi gak nyambung diajak ngobrol itu.
"Tau aja lo Di, hahahahha" ucap Fabian dengan tertawa.
"Ya udah, gue tinggal sebentar ya Di." Ucap Fabian dan kemudian berjalan ke arah dapur di mana Renata berada.
Renata tengah memotong motong kue brownies ketika Fabian yang sudah tak bisa menahan diri menghampiri nya.
"Wangi banget Re, kayanya enak." Ucap Fabian menghampiri Renata.
"Brownies Bi, kamu mau ?" Tanya Renata seraya menyerahkan beberapa potong kue di piring.
"Mau... Maunya kamu," ucap Fabian dalam hatinya.
" Boleh lah Re," jawab Fabian dan mengambil 1 potong kue dari piring itu.
"Tapi aku kangen kue kastengel buatan kamu Re," ucap Fabian dengan mulut penuhnya.
"Ya ampun Bi, kalo ngomong kuenya habisin dulu," ucap Renata seraya membersihkan remah kue di sudut bibir Fabian.
Sentuhan sederhana itu menggetarkan hati Fabian.
Fabian terdiam membeku dengan perhatian kecil yang Renata berikan.
"Eh maaf Bi, ada remah kue tadi." Ucap Renata yang mendadak gugup. Tak sadar apa yang telah dia lakukan.
"Gak apa-apa Re, aku malah seneng. Kalau aku makan lagi nanti tolong bersihin lagi ya," ucap Fabian dengan wajah memelas
__ADS_1
" Apaan sih Bi, kamu ini ada ada saja," ucap Renata dengan pipi nya yang memerah.
"Re, aku kangen..." Ucap Fabian tiba-tiba dan menatap mata Renata begitu dalam.
"Kangen kue kastangel buatan aku kan ?" Tanya Renata berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Kangen kamu Re," jawabnya sendu.
Renata terdiam tidak menjawab hatinya kembali berdebar lebih kencang.
"Masih boleh kangen kamu gak Re ?" Fabian bertanya dengan Kembali menatap dalam mata Renata.
Belum juga Renata menjawab pertanyaan Fabian. Muncul mami Fabian dengan seorang gadis cantik menggunakan gaun berwarna peach yang sempurna membelit tubuh rampingnya.
"Bi, nih sekretaris baru mu datang. Mami baru tahu kalau kamu ganti sekretaris," ucap mami Fabian dengan Sarah yang berada di sebelah nya.
Pandangan Fabian dan Renata beralih menatap Sarah yang berdiri di pintu dapur dengan beberapa map di tangannya.
" Tadi Sarah datang karena katanya sulit sekali menghubungi kamu. Lagi sibuk soal kerjaan Bi ?" Tanya ibunya itu.
Fabian terdiam beberapa saat, dirinya merasa kaget kenapa sekretaris barunya berada di sini.
"Ada meeting klien nanti Senin, aku emang ngasih tugas Sarah buat siapin datanya." Ucap Fabian.
"Saya datang agar bapak dapat memeriksa dan menandatangani nya. Jadi bapak tak usah datang terlalu pagi di hari Senin karena biasanya jalanan lebih macet" ucap Sarah pada Fabian dengan senyumnya yang sedikit menggoda dan mengabaikan kehadiran Renata disana.
"Oh ya sudah, ayo kita ke ruang kerja Papi saja" ucap Fabian yang kemudian beranjak pergi dengan Sarah di belakangnya.
"Re, ayo gabung sama yang lain jangan di dapur aja," ajak mami Fabian melihat Renata yang terdiam membeku melihat kepergian Fabian dengan sekretaris barunya.
"Sejak kapan Fabian berganti sekretaris? Tumben sekali Fabian mempunyai sekretaris yang begitu muda dan cantik. Bi, apa kamu sudah mulai membuka lembaran baru ? Lalu kenapa kamu bilang kangen aku ?" Pertanyaan pertanyaan itu menari dalam pikiran Renata.
Sudah lebih dari 30 menit namun Fabian belum muncul juga kehadirannya, begitu juga dengan Sarah sekretaris nya.
"Udah lah Re, Fabian bebas mau ngapain aja," batinnya dalam hati. Kini Renata tengah bercengkrama dengan saudara Fabian yang lain dengan Celia di pangkuannya.
Tak lama Fabian telah kembali dengan Sarah.
Sarah berpamitan undur diri namun karena acara ulang tahun Celia akan segera di mulai dan karena Fabian merasa tak enak hati akhirnya Fabian meminta Sarah untuk tinggal dan mengikuti acara.
Tentu saja Sarah merasa senang karena sebenarnya itulah yang ia inginkan.
"Maaf kan tante ya sayang, tante gak tau anak cantik ini berulang tahun. Nanti kadonya nyusul ya, tante janji" ucap Sarah pada Celia yang tengah Renata pangku dan memberikan ciuman di kedua pipi Celia. Sedangkan pada Renata, Sarah tidak bertegur sapa sama sekali.
Celia hanya menganggukan kepalanya. Mungkin karena belum kenal pada Sarah membuat Celia sedikit menjauhkan tubuhnya.
Acara pun akan segera dimulai. Bisa Renata lihat Sarah selalu berusaha mendekatkan diri pada Fabian dan juga ibunya. Tapi terang-terangan mengabaikan kehadiran dirinya.
Ngilu di hati Renata rasakan melihat pemandangan itu.
"Bi.... aku cemburu." Lirih Renata nyaris tak terdengar dengan menahan rasa sakitnya.
TBC.....
__ADS_1
Thank you for reading ❤️
Like dan komen ya 😘