Terikat Dusta

Terikat Dusta
Satu Hikmah Lain


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Kenapa Bi?" Tanya Sakti bingung.


Fabian berdiri dan kemudian menyambar kunci mobilnya.


"Papi Kak, Papi masuk RS," ucap Fabian panik seraya melarikan dirinya meninggalkan Sakti yang masih berada di ruangannya.


Fabian terus berlari tanpa mempedulikan Sakti yang terus berteriak memanggil namanya. Dalam benaknya terus terbayang papi nya yang terbaring lemah di rumah sakit.


"Maafin Bian, Pi. Maafin Bian," lirih Fabian berulang kali.


Fabian hampir memasuki mobilnya ketika lelaki tua yang pernah ia temui menahannya.


"Apa yang telah ku katakan padamu Fabian ? Kamu berurusan dengan orang yang salah," ucapnya angkuh.


Fabian menolehkan kepalanya, ingin rasanya Fabian memukul dan mencekik lelaki itu namun dirinya sadar banyak kamera cctv yang akan merekam kejadian ini dan tentu saja itu yang diinginkan lelaki tua itu  agar Fabian masuk dalam jebakannya.


"Kamu cukup menyetujui apa yang pernah aku tawarkan, maka akan aku tarik semua berita miring tentangmu,"


Fabian tersenyum miring dan menatap lelaki tua itu dengan pandangan merendahkan.


"Lakukan yang mau anda lakukan tuan Abraham karena saya tidak takut dan saya tidak akan pernah sudi menikahi anakmu. Kita lihat siapa yang akan jatuh diantara kita. Aku tak akan menerima mu kembali di perusahaan ku meski kamu dan anakmu merangkak dan bersujud di kaki ku," ucap Fabian tegas dengan menatap tajam mata lelaki tua itu .


Fabian memasuki mobil dan menutup  pintunya dengan kasar. Meninggalkan lelaki tua itu yang memperlihatkan wajah gusarnya.


Dengan kecepatan tinggi Fabian menuju rumah sakit dimana papinya ditawat.


Fabian berlari kecil ketika ia turun dari mobilnya. Kini dirinya berada dalam sebuah lift yang akan membawanya ke ruangan VVIP dimana papinya terbaring.


Hening...


Itulah yang Fabian rasakan ketika dirinya keluar dari lift. Dirinya terus berjalan dan berhenti di depan sebuah pintu.


Di balik pintu itulah ayahnya tengah terbaring. Dada Fabian berdegup lebih kencang karena satu tahun belakangan ini, semenjak Fabian mengalami kecelakaan dan terkuak semua rahasianya, hubungan dengan papinya jauh dari kata baik. Beberapa bulan terakhir mereka malah saling menghindar satu sama lain. Tak pernah berada dalam ruangan yang sama meskipun sebentar.


Fabian menarik nafasnya dalam, berusaha menenangkan diri. "Bantu aku ya Tuhan," doanya dalam hati. Dengan tangan sedikit gemetar Fabian mengetuk pintu itu.


"Masuk," ucap seorang wanita yang merupakan maminya.


Fabian memasuki ruangan itu yang terasa lebih dingin padahal ac berada dalam suhu normal.


"Oh kamu Bi," ucap Maminya yang datang menyambut. Bisa Fabian lihat dengan jelas guratan lelah di kedua mata ibunya. Fabian tahu maminya itu sedang mempunyai beban pikiran hebat yang dikarenakan dirinya.

__ADS_1


"Maafkan Bian, Mi." Kata pertama yang Fabian ucapkan ketika bertemu maminya.


Mami Fabian memeluk anaknya dengan erat. "Kamu bisa lalui ini semua Bi. Mami yakin, dan namamu selalu mami sebut dalam setiap do'a" bisik maminya ketika memeluk erat anaknya itu.


Fabian terisak, dirinya merasa sangat berdosa karena selalu menyebabkan masalah bagi orang tuanya.


"Jangan nangis, udah gede. Temui dan coba bicara dengan papi mu Bi," ucap wanita yang begitu tulus menyayanginya itu.


"Apa yang terjadi dengan Papi?"


"Tekanan darah Papi naik lagi tapi jangan khawatir Bi, sekarang sudah mulai normal. Papi jatuh pingsan tadi dan akhir-akhir ini selalu memanggil namamu dalam tidurnya. Mami yakin papi ingin bertemu dengan mu."


"Bisa mami tinggalkan kami berdua?"


"Hmm baiklah, kebetulan mami belum makan. Mami tinggal makan ya." Ucap mami Fabian seraya mencium pipi anaknya itu dan kemudian beranjak pergi.


Fabian duduk tepat di sebelah ayahnya terbaring. Dapat Fabian lihat tubuh ayahnya yang mengurus, guratan-guratan halus di kulitnya yang semakin bertambah. Entah berapa lama Fabian tidak bisa memandang wajah ayahnya sedekat ini.


Puncak kemarahan ayahnya ketika Fabian memutuskan untuk bercerai dari Renata. Dari situlah hubungan mereka kian menjauh. Kekecewaan ayahnya pada Fabian tak bisa dibendung lagi.


Fabian menunggu cukup lama ketika ayahnya mulai terbangun dari tidur.


"Eemmmm," erang ayah Fabian yang mulai terbangun.


"Papi mau minum?" Tanyanya lembut.


Ayah Fabian memandang wajah Fabian dengan mata sayu nya. Meski Fabian berulang kali membuatnya kecewa namun anak tetaplah anak, ayah Fabian begitu merindukan anak bungsunya itu.


Satu tetes genangan air bening menetes disudut matanya. Begitu pun dengan Fabian. Dirinya merindukan kedekatan seperti ini dengan ayahnya itu.


Fabian menyodorkan segelas air putih dengan sedotan didalamnya. Dengan perlahan membantu ayahnya itu untuk duduk bersandar. Belum ada perkataan yang berarti yang keluar dari mulut keduanya.


"Mami kemana?" Tanya ayah Fabian dengan suara nya yang parau.


"Mami pergi makan siang,"


"Kamu gak kerja Nak ?"


Kata "Nak" membuat hati Fabian melemah dan mulai menitikkan air matanya.


Sebesar apapun dirinya, bagi ayahnya dia tetap selalu dianggap anak yang sama seperti dulu. Anak bungsunya yang selalu lebih dimanja.


"Maafin semua kesalahan Bian,Pi." Ucap Fabian memulai percakapan dengan ayahnya.

__ADS_1


Ayah Fabian tersenyum mendengar kata-kata itu dan dengan perasaan terbuka mulai mendengarkan semua masalah yang menghampiri anak bungsu nya itu.


Fabian menceritakan semua kisah hidupnya yang pernah ia tutup dengan sangat rapat. Ia bercerita bagaiman pertama kali bertemu Renata, bagaimana dirinya bisa terjebak dalam kehidupan bersama Lea, kecelakaan yang membawa maut, perceraian nya hingga berita miring yang  tengah menjadi santapan publik saat ini. Ayahnya dengan sabar mendengarkan Fabian berbicara tanpa mencela juga tanpa menghakimi. Pada akhirnya mereka bisa berbicara dari hati ke hati tanpa luapan emosi didalamnya.


"Jadi apa yang diberitakan itu tidak benar Bi ?" Pertanyaan pertama yang diajukan ayahnya ketika Fabian selesai bercerita.


"Tidak benar sama sekali Pi,"


"Apa kamu sudah mempunyai rencana untuk menghadapi ini semua?"


"Sudah Pi. Aku, kak Sakti dan om Johan sudah bersiap. Bahkan saksi mata pun sudah kami hubungi dan mereka siap bersaksi,"


"Siapa saja Bi ?"


"Yang pertama ada dokter yang merawat kejiwaan Lea, para ART yang merawat Lea, dokter yang merawat kami ketika mengalami kecelakaan juga kepolisian pihak Bandung yang menangani kasus kecelakaan Bian waktu itu. Semua sudah bersedia menjadi saksi mata,"


Ayah Fabian mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Bagaimana dengan ibunya Celia ? Pasti dia akan dipanggil juga."


"Sejauh ini Bian belum bercerita Pi. Bian masih menjaga hatinya agar tidak kembali terluka karena mengungkit masa lalu yang membuat kami berpisah. Tapi Bian yakin Renata bersedia menjadi saksi bila diperlukan,"


"Apa kamu masih mencintainya Bi ?"


"Sangat Pi. Aku masih sangat mencintai Renata seperti dulu, atau mungkin sekarang aku lebih mencintainya dibandingkan dulu. Aku akan berjuang mendapatkan nya kembali Pi,"


"Maka restuku bersama mu Bi." Ucap ayah Fabian dengan mengelus punggung tangan anaknya.


Fabian memeluk ayahnya untuk pertama kalinya dari sekian lama.


"Maafin Bian, Pi." Ucapnya di sela isakkan tangisnya. "Bian benar-benar menyesal membuat Mami dan Papi terbebani dengan masalah ini,"


"Satu hal yang harus kamu ketahui Bi, meski kamu buat papi kecewa berulang kali tapi papi sangat mencintaimu. Jadikan pengalaman ini menjadi pelajaran hidup buatmu. Melangkah lah lebih baik lagi juga lebih berhati-hati dalam bertindak. Papi akan mendukung mu," ucap ayah Fabian dengan membalas pelukan anaknya.


"Kita akan memberikan balasan yang setimpal pada Markus ketika masalah ini selesai," ucap ayah Fabian.


Fabian menarik nafasnya lega, satu hikmah lagi dari masalah yang tengah menimpanya yaitu hubungan buruk dengan ayahnya kini telah berakhir dan ini semakin membuat Fabian merasa semakin kuat untuk menghadapi masalah yang tengah menimpanya.


Tbc....


Thank you for reading ❤️


Mohon like dan komennya ya kakak baik hati.😚😚

__ADS_1


__ADS_2