Terikat Dusta

Terikat Dusta
Terkuak


__ADS_3

Happy reading ❀️


"Aku pernah mencoba bertahan demi Celia, setidaknya mengurangi rasa bersalah ku padanya. Namun sekarang aku tak sanggup lagi, mungkin sekarang waktu terbaik untuk berpisah dari Fabian" ucap Renata tegas.


"Baiklah, akan aku beri kabar secepatnya. Semoga aku bisa membantumu. Bertahanlah sebentar lagi," Rindu berusaha menguatkan Renata.


"Terimakasih banyak ya. Maaf merepotkan mu," ucap Renata dengan tatapan sendunya.


"Ya ampun Re, kaya sama siapa saja. Aku akan berusaha semampuku untuk membantu," ucap Rindu dengan melengkungkan senyumnya.


***


Sore itu Fabian pulang kantor lebih awal, bergegas naik ke kamarnya karena keberadaan Renata tak ia temukan di lantai bawah rumahnya.


Fabian membuka kamarnya namun ternyata sepi tak berpenghuni. Dengan malas mulai membuka jas dan melonggarkan dasinya. Melemparkan jasnya ke arah sebuah kursi di kamarnya yang ternyata malah menjatuhkan tas tangan Renata.


Fabian memungut jas dan tas Renata yang mengeluarkan beberapa benda di dalamnya karena terjatuh.


Fabian terkejut dengan satu strip obat yang terlihat sudah kosong di beberapa bagian.


Fabian mengambil strip obat tersebut dan mulai membaca kandungan serta fungsi obat yang tengah ia pegang.


Seketika perasaannya diliputi dengan rasa kecewa dan sedih tentunya. Mengetahui Renata meminum pil pencegah kehamilan menandakan Renata tak menginginkan lagi mempunyai anak dengannya. Fabian meraup wajahnya penuh frustasi.


Decitan pintu terdengar ketika Fabian masih bergelut dengan perasaan nya.


Renata kini berdiri di hadapannya. Fabian menatap lurus pada mata Renata dengan perasaan luka.


"Kamu serius Re? Menggunakan ini ?" Tanya Fabian dengan menunjukan strip obat itu.


Renata terdiam tak menjawab apapun.


"Demi Tuhan, apa yang kamu lakukan Renata? Tak bisa kah kita mulai dari awal ?" Tanya Fabian frustasi.


"Kurasa aku tak perlu menjelaskan apa-apa," jawab Renata tanpa ekspresi.


Fabian menatap Renata untuk beberapa saat dan menghela nafas berat kemudian berjalan melalui Renata begitu saja meninggalkannya yang diam membeku.


Fabian pergi meninggalkan rumahnya pergi entah kemana .


Fabian kembali ke rumah pada dini hari. Sebenernya Renata belum tertidur namun berpura-pura tidur karena tak mau berdebat lagi.

__ADS_1


Hubungan Renata dan Fabian kembali renggang dalam beberapa hari ini. Bahkan Fabian sudah tak meminta haknya lagi. Meskipun begitu mereka masih tidur diatas ranjang yang sama dan Celia sudah kembali tidur di kamarnya.


***


Siang itu Renata menerima sebuah amplop coklat dari seseorang yang Rindu kenalkan beberapa hari sebelumnya. Dia adalah seorang pengacara perceraian yang Renata tunjuk untuk membantu perpisahan nya dengan Fabian.


"Semua berkas sudah selesai bu, hanya tinggal meminta tanda tangan suami ibu sebagai persetujuan," ucap pengacara itu


"Dan tentunya nanti di persidangan ada beberapa tahapan nya. Semoga suami ibu kooperatif sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama dalam prosesnya," lanjutnya.


"Iya terimakasih atas bantuannya bu," ucap Renata seraya menerima amplop itu. Meskipun pedih ia rasakan tapi ini lah jalan terbaik yang harus ia ambil saat ini.


***


Renata menunggu kedatangan Fabian dengan cemas. Celia sudah Renata antarkan ke rumah mertuanya seperti yang pernah Fabian lakukan sebelumnya ketika dia ingin meniduri Renata karena cemburu pada dokter Jamie waktu lalu.


Renata memerlukan waktu berdua untuk berbicara dengan Fabian. Sudah Renata yakini pasti terjadi perdebatan dan Renata tak mau Celia melihat itu semua.


Tak lama Fabian sudah datang dari kantor nya. Masih dengan sikap dinginnya.


"Mana Celia ?" Tanya Fabian pada Renata.


" Ke rumah mami menginap," jawab Renata singkat.


"Kita harus bicara Bi," ucap Renata lirih hampir tak terdengar ketika Fabian berusaha meninggalkan nya


Fabian menghentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya.


"Ada apa ?" Tanyanya penuh selidik.


Renata menyerahkan sebuah amplop coklat ditangannya dan Fabian menerima nya dengan berkerut alis tak mengerti.


"Mari berhenti saling menyakiti Fabian, mari kita akhiri ini dengan baik baik," ucap Renata dengan air mata mulai berhamburan.


Fabian membuka amplop itu dan membaca isinya yangΒ  merupakan pengajuan gugatan cerai dari istrinya.


Air muka Fabian berubah masam dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Apa kamu benar-benar menginginkan ini Renata? Sudah habis kah cintamu untuk aku ? Apa semua karena Jamie?" Tanya Fabian beruntun dan begitu frustasi.


"Aku yang seharusnya bertanya Fabian. Apa kamu pernah mencintaiku ? Apa hanya Lea yang kamu cintai? Seperti yang pernah aku baca dalam diari nya bahwa kamu mencintaiku hanya sebagai kedok untuk menutupi keberadaan nya." ucap Renata dengan terisak.

__ADS_1


"Kamu pun bertahan hanya karena anak kita Celia bukan? Kurasa Celia akan mengerti yang terjadi diantara kita. Dan ini semua tak ada kaitannya dengan Jamie, aku tak ada hubungan apapun dengannya tak seperti yang kamu pikirkan" Renata melanjutkan.


Fabian terdiam beberapa saat.


"Aku bilang karena Celia agar kamu berat untuk meninggalkan aku, karena berkali-kali aku mengatakan bahwa aku mencintaimu tapi tetap kamu tak percaya," ucap Fabian dengan menghela nafas berat.


"Apa kamu benar-benar ingin tahu yang sebenarnya terjadi antara aku dan Lea ? Karena aku sendiri butuh waktu lama dan beberapa kali terapi agar membuatku tetap waras dalam melalui semuanya," ucap Fabian dingin.


"Ceritakan semua padaku Bi, aku mohon," ucap Renata masih dengan air mata yang terus berhamburan.


"Aku ini seorang pendosa, Renata," ucap Fabian dengan nada suara bergetar menahan tangisnya.


"Aku berusaha merahasiakan ini darimu karena aku takut kamu tak dapat menerima keadaanku dan pergi meninggalkanku" ucap Fabian dengan matanya terus tertuju pada Renata.


"Aku telah memperk*sa wanita bernama Lea itu 8 tahun yang lalu. Aku tak sengaja meniduri nya ketika mabuk disebuah pesta, sehingga membuat nya hampir gila dan berusaha menghilangkan nyawanya sendiri berkali-kali," ucap Fabian dengan air mata yang mulai turun di pipinya.


Renata terkesiap dan menutup mulutnya dengan tangannya.


Fabian semakin mendekatkan dirinya pada Renata. Dadanya berdebar kencang, rahangnya mengeras, sorot matanya dingin dan begitu tajam menatap mata Renata.


Wajahnya hanya berjarak beberapa inchi saja hingga hembusan nafasnya pun bisa Renata rasakan menerpa wajah nya.


"Apa kamu mau tahu rahasia suami mu yang lainnya, Renata?" Tanya Fabian dingin.


Renata tak menjawabnya karena dirinya masih syok dengan apa yang telah Fabian katakan.


"Aku menidurinya karena aku kira dia adalah dirimu, Renata. Aku meniduri nya dengan terus membayangkan wajahmu," ucap Fabian dengan mengangkat dagu Renata agar tatapan matanya semakin terkunci.


Renata membulatkan matanya tak percaya.


"Ya.. Renata Oktalia.. Aku sudah mencintaimu jauh sebelum kamu mengenalku.


Aku sudah sangat mencintaimu, jauh sebelum aku menyatakan cintaku padamu di malam waktu hujan itu," ucap Fabian tegas tanpa ada kebohongan didalamnya.


To be continued....


Untuk selanjutnya POV Fabian yaaa..


Sebenernya aku udah kasih clue loh pas mereka pertama makan bareng pertama kali Fabian bilang Renata dari dulu udah terlihat cantik coba baca lagi bab sweet little things 😁😁😁


Aku rehat bentar ya buat ngumpulin ilham, maaf kalo telat update πŸ™πŸ™

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mau baca dan kasih gift wkkwkwkwk


Aku pada kalian ga ada obat pokonya 😘😘😘😘😘


__ADS_2