
Happy reading ❤️
"Boleh jadi kita mendapatkan masalah besar, tapi lihatlah semua orang di uji dengan masalah hidupnya masing-masing," batin Fabian dalam hatinya seraya menatap wajah lelaki di hadapannya yang terlihat sedih.
"Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang masih ada. Akan aku nyatakan rasa cinta ku secepatnya pada Renata," batin Fabian dalam hatinya.
"Dokter Bima, saya harus pergi karena hari semakin larut. Saya tunggu niat baik anda pada penyidik dan jangan lupa saya masih memiliki surat pengakuan yang telah anda tanda tangani, bahwa anda adalah ayah dari anak yang di kandung Lea,"
" Ya, saya akan mendatangi penyidik sebelum saya kembali ke Bandung,"
"Terima kasih atas bantuan anda, Dokter Bima," ucap Fabian seraya menjabat tangan dokter itu.
Fabian berjalan menuju mobilnya yang terparkir di luar gedung hotel seraya memeriksa benda pipih yang ia ambil dari saku celananya.
Tak ada balasan pesan ataupun panggilan tak terjawab dari wanita yang ia rindukan. Fabian memeriksa aplikasi pesannya ternyata chat yang ia kirimkan belum diterima juga, sepertinya ponsel Renata tengah tidak aktif.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam ketika Fabian memeriksa jam yang membelit pergelangan tangannya. "Sepertinya Renata dan Celia udah tidur" ucap Fabian bermonolog. Fabian pun memutuskan untuk pulang ke apartemennya.
Fabian membersihkan dirinya dan kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya yang terasa dingin. Sudah berbulan-bulan tak ada yang menemani tidur malamnya.
"Re, maaf aku seharian ini melakukan pemeriksaan dengan polisi. Tapi aku baik-baik saja, kamu jangan khawatir. Peluk dan cium untuk Celia dan juga untukmu. Re... Aku kangen kamu, sungguh..." Fabian menuliskan pesan singkat itu dan mengirimkan nya pada Renata.
Fabian menatap kosong langit-langit kamar apartemennya. Dirinya tengah merindukan wanita yang pernah jadi teman hidupnya.
Tak lama Fabian jatuh terlelap dalam tidurnya dengan bayangan Renata memenuhi isi kepalanya.
***
Renata terbangun ketika pagi masih gelap, sinar mentari belum mau menunjukkan hangatnya.
Ia meregangkan badannya yang terasa pegal. Hal pertama yang Renata lakukan adalah mencari benda pipih berwarna gold untuk mencari tahu apakah ada yang menghubungi nya terutama Fabian.
Cukup lama ia menanti hingga benda pipih itu menyala sempurna dan tersenyum simpul ketika membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh mantan suaminya itu.
Hatinya berdebar dan menghangat ketika mengetahui Fabian merindukan dirinya.
"Maaf Bi, ternyata semalam ponsel ku mati tanpa aku sadari. Syukurlah kalau kamu baik-baik saja karena aku dan Celia pun begitu," jawab Renata pada pesan yang Fabian kirimkan.
"Aku juga kangen Bi," Renata kembali mengirimkan pesan ke duanya pada Fabian.
Dengan senyum bahagia Renata melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sungguh kata rindu dari Fabian menjadi mood booster nya pagi ini. Renata merasa lucu dirinya kembali merasakan euforia jatuh cinta pada orang yang sama.
"Jatuh cinta ?" Tanyanya pada diri sendiri ketika Renata bercermin.
"Iya ku rasa aku jatuh cinta lagi," jawabnya seraya melengkungkan senyuman.
***
"Mommy terlihat bersemangat hari ini," ucap Celia ketika ia duduk di meja makan menunggu sarapannya siap dan memperhatikan ibunya yang sedang memasak sembari bersenandung. Pemandangan yang jarang sekali Celia lihat akhir-akhir ini. Renata tengah membuat nasi goreng keju untuknya juga Celia dan Asisten rumah tangganya.
"Oh ya ? Biasa saja sayang." Jawab Renata seraya menyodorkan sepiring nasi goreng pada Celia.
__ADS_1
"Mommy bernyanyi,"
"Oke, Mommy akui. Mommy merasa senang pagi ini," ucap Renata yang kemudian mencium gemas puncak kepala anaknya.
"Ayo makan, sudah siang. Mommy akan mengantar mu sekolah,"
Dan mereka pun menikmati sarapan paginya dengan diselingi senda gurau.
***
Renata tiba dikantornya tepat waktu. Tanpa ia sadari seseorang masih membuntutinya dengan menggunakan mobil.
Renata berjalan sembari memeriksa ponsel yang ia simpan dalam saku rok kerjanya. Pesannya pada Fabian masih tanda ceklis satu, se-siang ini Fabian belum mengaktifkan ponsel nya. Renata yakin Fabian belum bangun tidur karena ketika Renata melakukan panggilan, ponsel Fabian tidak dapat dihubungi.
Selang beberapa menit bunyi notifikasi pesan masuk berbunyi. Segera Renata memeriksa ponselnya namun kembali kecewa ketika nama yang tertera adalah Jamie.
Jamie : Renata, nanti malam aku jemput ya. Kita makan malam bersama. Aku mau menagih sesuatu padamu.
Renata berkerut alis membaca pesan itu, berpikir keras hutang atau janji apa yang telah ia berikan pada Jamie sehingga lelaki itu menagihnya.
Renata : menagih apa ?
Jamie : tunggu nanti malam. Kamu akan tahu. Selamat bekerja, semoga harimu menyenangkan.
Tak ambil pusing, Renata memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas dan berusaha melupakan apa yang Jamie tuliskan karena dirinya akan mulai bekerja.
Baru saja Renata mendudukkan dirinya di atas kursi kerja dan mulai menyalakan laptop yang berada dihadapannya. Ponselnya kembali berbunyi. Kali ini orang yang ditunggunya sedari tadi yang mengirimkan pesan.
Fabian : Re, maaf aku bangun kesiangan jadi baru bisa balas pesan mu. Syukurlah kalau kamu dan Celia baik-baik saja. Hari ini aku menemui penyidik lagi bersama dokter Bima. Urusan dengan polisi benar-benar menyita waktuku. Maaf aku belum bisa menemui mu juga Celia.
Renata : its ok Bi. Kita bisa ketemu ketika urusanmu telah selesai.
Fabian : terimakasih sudah mau mengerti. Can't hardly wait to see you ( sudah tak sabar ingin bertemu denganmu)
Renata : yes me too ( ya aku juga )
Chat pesan itu pun berakhir dan Renata mulai melakukan pekerjaannya.
***
Malam itu Renata tengah menemani Celia membuat pekerjaan rumah ketika seseorang mengetuk pintu rumahnya.
Renata menolehkan kepalanya melihat jam yang tergantung di dinding menunjukkan pukul 7 malam. Renata yakin Jamie yang datang untuk menemuinya.
Renata berjalan menuju pintu dan membukanya.
Jamie berdiri di depan pintunya dengan menggunakan celana Chino abu abu dan kemeja hitam polos yang ia gulung sebatas siku. Terlihat tampan dengan rambut yang tersisir rapi.
Jamie menyerahkan sebuah buket bunga mawar merah pada Renata.
"Untukmu, kamu menyukai bunga mawar bukan ?"
__ADS_1
Renata menerima buket bunga itu, kini hatinya semakin yakin bahwa Fabian lah seseorang yang selalu mengirimkan bunga mawar putih setiap Senin nya.
Bila dulu ketika masih belum menikah Fabian hanya mengirimkan pesan penuh semangat, namun ketika telah berpisah Fabian selalu mengirimkan buket bunga mawar putih sebagai penyemangat untuk Renata.
Fabian memang selalu membuat Renata merasa dicintai. Tanpa Renata sadari air matanya telah jatuh di pipinya.
"Makasih Bi, aku suka banget," jawab Renata seraya menyapu air matanya dengan punggung tangan.
"Bi ?" Tanya Jamie dalam hatinya. Namun ia seolah menulikan dirinya sendiri tak peduli dengan apa yang Renata ucapkan.
"Ayo kita makan malam, tapi hanya berdua karena seperti aku bilang aku akan menagih sesuatu,"
Sebenarnya Renata ingin menolak, namun karena Jamie telah berada di depan pintu rumahnya tak mungkin ia melakukan itu.
"Tunggu sebentar aku ganti baju. Tapi jangan di tempat yang jauh ya.
"Oke aku tunggu di sini."
Renata bersiap diri dan Jamie menunggu nya.
Meskipun Renata hanya mengenakan celana jeans dan blouse biasa dirinya masih terlihat sangat cantik. Untuk sesaat dokter Jamie memandang Renata dengan penuh damba.
"Ayo Bi, kita mau makan di mana ?" Ucap Renata yang dengan tak sadar memanggil nama Jamie dengan nama panggilan Fabian.
Jamie masih mengabaikan itu dan mengajak Renata pergi makan malam di sebuah restoran ternama.
Dalam mobil Jamie mereka hanya berdiam diri menikmati sunyi hingga tiba di tempat yang di tuju.
"Jamie, aku tidak tahu kamu mau mengajak aku ke tempat semewah ini. Lihatlah sepertinya bajuku tak cocok."
Jamie senang Renata kembali sadar dan memanggil nya dengan benar.
" Its oke, kamu tetap cantik memakai baju apa pun ," jawab Jamie seraya mengajak Renata memasuki restoran itu.
Kini mereka duduk berdua saling berhadapan dalam diam sembari menanti pesanan nya yang belum datang.
"Tadi kamu mau menagih sesuatu dariku. Apa itu Bi ?" Tanya Renata tak sadar.
Jamie tersenyum kecut mendengar itu.
"Sepertinya tak usah ku tagih pun aku sudah tahu jawabannya," jawab dokter Jamie dengan wajah nya yang terlihat kecewa.
Tbc...
Thanks for reading ❤️
Bismillah... Tinggal beberapa bab lagi cerita Fabian Renata akan tamat semoga dilancarkan.
Selanjutnya ada side story Sakti masih di novel ini juga.
Terus kalau aku bikin cerita Celia melanjutkan novel ini ada yang minat baca nggak ya ?
__ADS_1
Akak2 reader baik hati yang punya akun Instagram follow akun aku dong meegorjes, nanti aku auto folbek kok.
Makasih ,😘😘😘