Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Datangnya Pengganggu


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Maaf aku tak bisa... Kumohon biarkan aku pergi," jawab Kirana pada akhirnya.


Sakti terdiam...


Ia masih tak ingin melepaskan Kirana yang terus memenuhi hati dan kepalanya.


"Gak mau, aku gak bisa biarin kamu pergi. Kalau kamu pergi, aku bakalan susah dapetin kamu kaya gini lagi." Sakti semakin memperkuat tangannya untuk menahan Kirana disana.


Wajah Kirana memerah, darahnya berdesir. Jaraknya terlalu dekat dengan Sakti. Kirana yakin Sakti dapat mendengar debaran jantungnya yang berdetak lebih kencang.


"Kamu mau nahan aku kaya gini terus?" Tanya Kirana yang mulai merasakan sesak dan sulit bernafas.


"Bila dengan begini bisa membuatmu tinggal maka akan lakukan, meskipun harus berdiri sampai pagi," jawab Sakti.


"Apa kata orang nanti ?"


"Aku gak peduli apa kata orang selama kamu ada dekat aku," jawab Sakti lagi.


Kirana terheran, selama menikah Sakti belum pernah melakukan dan mengatakan hal seperti ini.


Kirana menggigit bibir bawahnya, ia tak bisa berkata-kata lagi.


"Jangan lakukan itu, jangan menggodaku Kirana," ucap Sakti lirih dan semakin mendekatkan wajahnya pada wanita dalam kukungannya itu untuk membenamkan bibirnya di sana.


Tubuh Kirana melemah ketika bibir Sakti mulai bersentuhan dengan bibirnya, matanya terpejam. Tangannya meremas kerah jas Sakti agar ia tak jatuh. Kepalanya mulai terasa pening ketika Sakti mulai mengulum bibirnya.


"Maaf mengganggu kalian," ucap seorang wanita yang membuat Sakti dan Kirana memisahkan tautan bibir mereka.


Kirana yang mulai terbuai mengerjapkan mata mencoba mengembalikan kesadarannya.


Sakti melonggarkan tangannya dan menoleh ke arah suara yang telah mengganggunya.


Berdiri Vanya tak jauh dari mereka berdua, ia melihat Kirana dan Sakti dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


"Ngapain Lo kesini ?" Hardik Sakti tak suka.


Vanya diam tak menjawab pertanyaan Sakti. Ia hanya menatap Kirana dengan wajahnya yang memerah dan bersender pada dinding.


"Ah... Seseorang yang sebenarnya harus menemani kamu udah datang. Sebaiknya aku pergi sekarang." Ucap Kirana yang kini telah membebaskan diri ketika Sakti lengah.


"Dia yang harus pergi, bukan kamu !" Ucap Sakti seraya menggenggam jemari Kirana agar tak pergi meninggalkannya.


Kirana menghempaskan tangan Sakti dengan kasar hingga terlepas. Matanya menatap Sakti penuh kebencian dan tanpa berkata apapun lagi Kirana pergi dengan langkah tergesa meninggalkan Sakti dan Vanya.


"Gue bakal bikin perhitungan sama Lo !" teriak Sakti pada Vanya sebelum ia mengejar Kirana.


"Mas tunggu !" Ucap Vanya yang berusaha menahan Sakti.


***


Kirana telah berada dalam sebuah taksi online yang membawanya pulang. Ia bahkan tak sempat berpamitan pada kakaknya Robby.


Kirana menghapus air bening di pipinya dengan punggung tangan. Ia tertawa, mentertawakan dirinya sendiri yang telah terbuai dalam tindakan dan perkataan suaminya tadi.


Ia mengambil benda pipih dalam tasnya mencari nama kontak Sakti dan memblokir semua nomornya.


Tekadnya semakin bulat untuk bercerai dengan suaminya itu, meskipun Sakti terus menolak.


"Hebat banget sandiwara kamu Mas... Di depan aku bertindak seolah-olah masih mencintai aku tapi ternyata kamu masih dengannya," batin Kirana dalam hatinya.

__ADS_1


Sementara di tempat lain, Sakti tengah menyugar rambutnya frustasi. Nafasnya terengah-engah karena tak berhasil mengejar Kirana yang telah lebih dulu meninggalkannya.


Sakti mencoba menghubungi istrinya itu tapi semua nomornya telah Kirana blokir.


"F*ck !!! Siaalllllll," umpat Sakti.


Dengan langkah gusar Sakti kembali memasuki hotel itu dan mencari keberadaan Vanya.


Sakti menyeret tangan Vanya dengan kasar dan membawanya ke tempat yang sepi.


"Mau Lo apa?" Hardik Sakti tepat di wajah wanita itu.


"Aku cuma mau ngembaliin ini," Vanya mengeluarkan kartu kredit Sakti yang dulu pernah Sakti berikan pada wanita itu di apartemennya.


"Dengan memberikannya di depan istri gue ? Lo tunggu aja balasan gue ! Gue bakal bikin hancur hidup Lo ! dan gue gak pernah bohong !" Ancam Sakti dan menyambar kartu kredit itu dari tangan Vanya dan mematahkannya.


Tanpa mereka sadari sepasang mata biru menyaksikan drama itu dari kejauhan.


***


Sakti bergegas menuju mobilnya dan dengan kecepatan tinggi ia memacukan kendaraannya.


Tak butuh waktu lama Sakti telah sampai di depan kediaman rumah Kirana. Lama ia menunggu hingga pintu gerbang itu terbuka, memarkirkan mobilnya asal dan dengan langkah tergesa Sakti berjalan menuju rumah Kirana.


Mbok Inah yang membukakan pintu, dan mengatakan Kirana tak bisa menemuinya. Sepertinya Kirana sudah tahu jika Sakti akan mengejarnya.


"Ki, kita harus bicara ! Sumpah demi Tuhan aku gak ada hubungan lagi dengan dia ! Ki aku bersumpah, aku cuma cinta sama lkamu !! Aku cinta kamu Kirana !!!" Teriak Sakti di dalam rumah Kirana berharap istrinya itu bisa mendengarnya.


Tak lama Lia yang merupakan istri Robby berjalan menuruni tangga untuk menemui Sakti.


"Tenanglah... Duduk dulu," bujuk Lia menenangkan Sakti.


"Tidak baik jika anak-anak terbangun dan melihatmu seperti ini." Lanjutnya lagi.


"Aku gak tahu apa yang baru saja terjadi diantara kalian, tapi saat ini Kirana belum siap bertemu denganmu. Beri dia waktu. Kalian dalam tahap mediasi bukan ? Jika kalian sudah dalam keadaan tenang, bicaralah dari hati ke hati."


Sakti terdiam... Apa yang diucapkan kakak iparnya itu memang benar adanya.


"Ya... Mbak benar... Katakan pada Kirana aku menunggunya untuk bisa berbicara berdua. Kapanpun Kirana bisa, aku akan langsung datang kesini." Ucap Sakti dan kemudian berdiri hendak pergi.


"Dan satu lagi tolong katakan pada Kirana bahwa aku sudah tak ada hubungan lagi dengan perempuan mana pun. Aku hanya mencintainya," ucap Sakti sebelum ia Pergi.


Sementara itu Kirana yang bersembunyi tak jauh dari Sakti berada dapat mendengar semua perkataan suaminya itu.


***


Sudah 3 hari berlalu sejak kejadian malam itu. Kirana belum juga menghubunginya. Untuk membunuh rasa  frustasinya, Sakti kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Datang pada waktu pagi sekali dan pulang larut malam.


Untuk urusan Vanya ia serahkan pada Fabian dan orang suruhannya, sungguh Sakti tak ingin berurusan lagi dengan wanita itu.


Begitu pun Kirana untuk mengalihkan perhatiannya dari masalah dengan Sakti yang belum juga usai, ia menyibukkan diri dengan ikut terjun dalam dunia bisnis. Bukannya tak ingin menyelesaikan masalah, tapi datangnya Vanya malam itu mengingatkan kembali akan perselingkuhan suaminya dan itu membuat hati Kirana kembali meradang.


Siang ini Adam dan Kirana makan siang bersama sembari membahas kerjasama yang tengah mereka rintis.


Kirana terlihat tidak fokus dalam pekerjaannya, apa yang Adam bicarakan ditanggapi lain sehingga beberapa kali Adam merasa bingung.


"Sebaiknya kita bicarakan ini lain kali, kamu terlihat tidak baik-baik saja," ucap Adam.


"Ah maaf... saya sedang ada yang dipikirkan. Saya telah mencatat semua yang tadi anda katakan. Akan saya kaji ulang dan kita  jadwalkan kembali  pertemuan berikutnya." jawab Kirana.


"Dia menyeret wanita itu dan mengancamnya, hingga wanita itu terduduk lemas di atas lantai. Lalu ia berlari menuju mobilnya. Tak ada yang terjadi antara wanita itu dan dia." Ucap Adam tiba-tiba.

__ADS_1


"Hah ? Maaf ?" Kirana berkerut alis tak mengerti.


"Suamimu... Maaf... Aku melihat drama kalian di malam itu," ucap Adam.


"Kurasa itu bukan urusan anda Tuan Bradley,"  ucap Kirana ketus.


"Jujur saya tertarik padamu Kirana, sungguh. Tapi aku tahu kamu masih mencintai suamimu begitu juga dia masih mempunyai perasaan yang dalam padamu. Itu terlihat begitu jelas di mata saya. Saya yang menyukaimu sadar tak ada tempat untuk masuk diantara kalian. Kecuali bila kamu  sudah resmi berpisah dengannya maka aku tak akan segan-segan lagi untuk berusaha mendapatkanmu," ucap Adam tegas.


***


Hari ini Kirana pulang lebih awal karena, ia tak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya. Terlebih lagi mendengar apa yang Adam ucapkan dan juga sepucuk surat yang ia terima dari perempuan bernama Vanya membuat beban pikirannya bertambah.


"Ma, aku mau main basket ya." Davin sudah bersiap-siap dengan sebuah bola basket di tangannya dan tas yang ia gendong.


"Main dimana dan dengan siapa ?" Tanya Kirana.


"Di lapang basket dekat sekolah, bersama teman-teman sekolahku yang dulu,"


"Tapi Mama gak bisa antar kamu Nak. Mama merasa tak enak badan hari ini," ucap Kirana lesu.


"Its oke, aku bisa minta jemput Rio atau pergi dengan supir." Jawab Davin.


Meskipun merasa berat akhirnya Kirana mengizinkan anaknya pergi. Setelah mengantarkan Davin hingga pintu Kirana kembali ke kamarnya dan bergelung di atas ranjangnya dan dengan dada berdebar ia mulai membuka surat itu.


***


Sakti meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, ia lihat jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Meraih benda pipih dari saku jasnya tapi nama Kirana tak ada disana. Telah 3 hari berlalu dan Kirana masih belum menghubunginya.


Sakti menarik nafas dalam dan berdiri. Ia berjalan keluar menuju pantry yang berada di lantai itu.


"Bapak sedang apa disini ?" Tanya seorang pegawai yang terkejut melihat kehadiran Sakti disana.


"Aku sedang membuat kopi, teruskan saja  pekerjaanmu jangan terganggu dengan kehadiran saya," ucap Sakti yang sedang membuat kopi hitam untuknya sendiri.


Sakti pun meninggalkan pantry itu dengan secangkir kopi di tangannya. Kopi yang sangat pahit agar membuatnya tetap waras.


Sakti melihat benda pipih itu berkedip di atas meja ketika ia masuk kembali ke dalam ruangannya.


Terkejut luar biasa ketika nama Kirana tertera disana.


"Halo Ki, halo sayang," ucap Sakti ketika ia menjawab ponselnya.


Terdengar suara Kirana yang menangis tersedu diujung telepon, tak lama cangkir kopi Sakti pun terlepas begitu saja dari tangannya dan terjatuh ke atas lantai.


To be continued...


Thank you for reading ❤️


Ada reader komen bertele-tele dll...


Mohon bersabar... Ini lagi puncak konfliknya dan menuju ending mungkin sekitar 2 atau 3 bab lagi tamat kok...


Kalau memang gak suka silakan skip ya kak...


Maaf kalo tulisan saya tidak sesuai ekspektasi para reader semua...


Saya hanya menulis sesuai imajinasi.


Terimakasih untuk yang masih berkenan membaca 😘😘😘


Terimakasih juga yang sudah memberikan hadiah, vote, dan likenya

__ADS_1


Tons of love for you guys ❤️❤️❤️


__ADS_2