Terikat Dusta

Terikat Dusta
Getaran


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Binggo, ketemu. Tunggu aku di situ sayang," ucap Sarah seraya menyambar tasnya dan  melangkah kan kakinya pergi.


Sarah berjalan cepat menuju parkiran dimana mobilnya berada. Kemudian bergegas masuk dan menginjak gas untuk menuju dimana Fabian berada.


Jalanan yang sedikit macet membuat Sarah frustasi.


Dilain tempat Fabian dan Renata baru saja memasuki sebuah mall ternama di bilangan Jakarta Selatan. Mereka berjalan berdampingan seperti pasangan yang hendak berkencan.


Fabian ingat betul bagaimana tadi ketika menjemput. Renata telah menunggu nya di lobby kantor beserta teman-temannya. Renata mengenalkan Fabian sebagai daddy nya Celia. Bukan sebagai mantan suami atau pun memanggil namanya.


"Kenalin ini Daddy nya Celia," ucap Renata pada teman-teman nya dan itu membuat Fabian begitu senang.


Sepanjang perjalanan Fabian tak bisa berhenti memperlihatkan wajah senang nya.


"Kenapa Bi ? Kayanya lagi seneng ?"


"Masa ? Biasa aja Re" jawabnya dengan wajah tersenyum


"Iya dari tadi senyum senyum mulu,"


"Aku seneng bisa jalan ma kamu lagi Re," jawab Fabian sembari menatap mata Renata dan berhasil membuatnya tersipu malu.


"Gombal Bi," ucap Renata dengan perasaan senang membuncah.


"Seriusan Re," ucap Fabian dengan wajah tersenyum dan pandangan lurus menatap jalanan


Renata memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Fabian selalu berhasil membuat nya tersipu padahal sudah lama mereka bersama.


Kini mereka tengah berada di sebuah toko mainan yang cukup terkenal. Memilih mainan yang Celia inginkan.


Renata melihat-lihat koleksi mainan terbaru sedangkan Fabian malah asyik melihat-lihat mobil sport mainan yang dapat dijalankan dengan baterai.


"Bi, kok malah liat mobil sih?' tanya Renata dengan mengerucutkan bibirnya.


"Bagus Re, nanti kalau anak ke dua kita laki-laki aku mau beli ini buat maen di taman belakang," jawab Fabian spontan.


"Biii..." Lirih Renata pelan. Seolah mengingatkan perpisahan mereka.


Fabian tersenyum kikuk ketika menyadari apa yang ia ucapkan.


"Maaf Re, kalo ngomongin anak ingetnya pasti ma kamu," ucap Fabian menahan malu dengan menggaruk leher belakangnya yang tak terasa gatal


"Gombal terus Bi. Makin pinter sekarang"


"Lah kok gombal, aku serius Re," ucap Fabian.


"Tau ah Bi, ngomong nya ngelantur," jawab Renata dengan dada berdebar.


"Maaf," ucap Fabian seraya mengacak gemas pucuk kepala Renata. Inginnya Fabian menarik Renata dalam pelukannya namun ia takut mendapatkan penolakan.

__ADS_1


"Ayo kita cari yang Celia mau," ucap Fabian seraya menautkan jari kelingking nya ke dalam jari kelingking Renata.


Renata mengikuti langkah Fabian dengan menundukkan kepalanya. Sekali lagi jantungnya berdetak lebih cepat. Fabian selalu berhasil membuat nya merona.


Mereka pun memilih kado yang diinginkan Celia. Setelah menemukan dan mengemasnya dengan cantik mereka pun meninggalkan toko mainan itu.


"Celia tahu kamu pulang malam Re ?"


"Iya tahu, aku telepon dulu Celia tadi sore dan bilang aku mau pergi sama kamu Bi,"


"Oh ya udah kalau begitu. Mau makan malam dulu Re ?" Ajak Fabian penuh harap.


"Eeeem boleh" jawab Renata sembari melihat jam di pergelangan tangannya.


"Tenang Re, aku anterin pulang nanti. Gak akan aku bawa pulang ke apartemen," goda Fabian. Meskipun dalam hati Fabian ingin sekali membawa Renata pulang ke apartemennya dan mencumbunya penuh hasrat.


"Apaan sih Bi," jawab Renata sembari memukul pelan lengan Fabian.


Fabian terkekeh dan kemudian mencari tempat makan yang mereka inginkan.


Getaran di hati dirasakan Fabian maupun Renata.


Sementara itu Sarah baru selesai memarkir kan mobilnya di basemen mall dan kemudian mengoles kan lipstik di bibir sebelum turun dari mobilnya.


Merapikan bajunya sebelum melangkah kan kakinya. Sarah ingin terlihat sempurna ketika bertemu Fabian nanti.


Sarah menyusuri mall dengan matanya yang terus mencari keberadaan Fabian. Tapi setelah beberapa waktu tak jua bertemu. Lantai demi lantai mall telah Sarah telusuri.


Sarah yang kesal dengan dirinya sendiri mulai meluapkan emosinya.


"Pak Fabian... Kamu dimana ?" Lirih Sarah.


Sarah menghentak-hentakkan kakinya yang berbalut sepatu hak tinggi pada lantai menampakan kekesalannya. Beberapa orang melihat aksinya itu.


"Pak Fabian...," Rengeknya lagi. Karena batas kesabaran nya telah habis dan pencariannya tak menghasilkan akhirnya Sarah merogoh tas yang dibawanya dan mengambil benda pipih yang berwarna pink itu dan mulai mencari kontak dengan nama Fabian kemudian menghubungi nomornya.


Panggilan itu terhubung namun tak jua diangkat oleh pemiliknya.


Sementara itu di tempat Fabian dan Renata berada di sebuah restoran cepat saji di mall tersebut. Fabian sadar bahwa ponselnya terus bergetar. Memang Fabian sengaja menjadikan nya dalam mode silent.


Fabian merogoh benda pipih itu dari saku celananya dan melihat nama Sarah tertera disana.


Fabian berkerut alis merasa heran untuk apa sekertaris barunya itu menghubungi malam-malam begini.


"Apa ada masalah di kantor ?" Tanyanya dalam hati.


Alih-alih menerima panggilan itu Fabian lebih memilih memasukkan ponselnya kembali kedalam sakunya.


"Bila soal pekerjaan bisa dilakukan besok hari," ucap Fabian dalam hati. Saat ini dirinya benar-benar ingin menikmati waktu berdua dengan Renata dan berusaha mengambil hati mantan istrinya itu.


"Telepon dari siapa Bi ?" Tanya Renata.

__ADS_1


"Kantor Re, tapi males ah. Besok juga bisa,"


"Kali aja penting Bi"


"Kalau soal kerjaan mana ada habisnya tapi bisa besok lah gak apa-apa,"


Tak lama pesanan mereka pun datang dan mereka pun menikmati makan malam itu.


Di tempat Sarah berada, dia sungguh merasa kesal dan kecewa. Air bening di pelupuk matanya hampir jatuh namun dengan cepat ia menyeka nya dengan punggung tangan.


Dengan langkah penuh rasa kecewa, Sarah berjalan kembali menuju mobilnya dan mulai meninggalkan mall tersebut.


"Bego, bego banget Sarah ! Ngapain kamu ngukutin dia sampai ke mall segala," ucapnya pada diri sendiri dengan menahan tangis.


***


Fabian mengantarkan Renata sampai tiba dirumahnya. Waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Tak terasa mereka telah menghabiskan waktu berdua lebih dari 3 jam.


"Makasih udah nemenin aku ya Re,"


Ucap Fabian ketika mereka telah sampai di depan pintu rumah Renata.


"Sama-sama Bi," jawab Renata singkat.


Fabian memberanikan diri memajukan tubuhnya dan mencium sekilas pipi Renata.


"Aku pulang, kamu ayo cepat masuk dan beristirahat lah," ucap Fabian berpamitan.


"Baiklah, makasih makan malamnya Bi," jawab Renata dan kemudian memasuki rumahnya yang sudah terasa sepi itu.


Renata menyandarkan dirinya di pintu ketika ia telah memasuki rumah itu.


"Bagaimana aku bisa move on Bi, kalau kamu masih begitu," lirih Renata dengan air bening telah menggenang di pelupuk matanya.


Sedangkan di balik pintu Fabian masih belum beranjak pergi. Dirinya terus menatap pintu itu, belum rela melihat kepergian Renata


"Re, izinkan aku memasuki hatimu lagi," lirih Fabian dengan nada frustasi.


***


Fabian tiba di kantornya pukul 07.20 karena akan melakukan briefing yang telah ia tunda semalam.


Langsung memasuki ruangan nya tanpa menghiraukan Sarah yang telah duduk manis menanti kedatangannya.


Tak sedikit pun Fabian menyinggung soal telepon Sarah tadi malam.


"Sepertinya perlu usaha keras untuk meruntuhkan gunung es ini," geram Sarah di tempat duduknya dengan pandangan penuh amarah pada pintu ruangan Fabian yang telah tertutup sempurna.


TBC....


Thank you for reading ❤️

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya 😘😘


Hadiah juga boleh lah wkkwkwkwk


__ADS_2