Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Bonus Chapter 1


__ADS_3

Happy reading ❤️


Sakti terbangun karena gelak tawa dan gelitik tangan kecil di tubuhnya. Ia mendapati Dareel tengah menaiki perutnya. Sakti tersenyum bahagia melihat itu. Bagai mimpi kini ia bisa merasakan hal seperti ini lagi.


"Ah sayang Papa geli," Sakti meliukkan tubuhnya karena kegelian dan Dareel semakin menggoda Papanya itu.


"Papa ayo bangun. Jangan tidur terus." Rengek Dareel.


"Bagaimana Papa bisa bangun kalau kamu berada di atas perut Papa seperti ini," jawab Sakti.


Dareel pun menurunkan tubuhnya sembari tertawa karena kini Sakti yang menggelitik anaknya itu.


"Bangun, Mas. Nanti kesiangan pergi ke kantor, bajumu sudah aku siapkan di kamar atas," ucap Kirana yang menghampiri suaminya itu.


Bukannya menurut, Sakti malah memandangi wajah Kirana dengan seksama. Dirinya masih tak percaya Kirana dan kedua anaknya telah kembali ke rumah itu.


"Mana Davin?" Tanya Sakti ketika ia tersadar Davin tak ada disana.


"Davin sedang menonton film kartun diluar."jawab Kirana.


"Ayo bangun, nanti kesiangan." Lanjutnya lagi.


Sakti bangkit dari tempat tidurnya meskipun enggan. Baru kali ini ia tertidur nyenyak setelah berbulan-bulan.


Mata Sakti terus tertuju pada Kirana yang sedang membereskan tempat tidur, senyuman terbit di wajah Sakti melihat Kirana disana.


"Love you sayang," bisik Sakti seraya mencuri sebuah kecupan di pipi istrinya itu sebelum ia pergi.


Kirana tersentak, pipinya terasa panas hanya karena hal sederhana itu. Hal yang tak pernah ia terima sebelumnya.


Kirana menolehkan kepalanya namun, Sakti telah pergi menghilang. Meninggalkan Kirana yang terduduk di atas ranjang dengan selimut yang masih belum ia lipat. Dadanya masih berdegup kencang.


"Tenang Kirana, ambil nafas." Ucapnya menenangkan diri. Ia masih terkejut dengan hal manis yang baru saja Sakti berikan.


***


"Ayo, semua duduk manis. Sarapannya udah siap. Abang Davin masih mama suapi ya dan adek gak boleh iri karena tangan Abang patah jadi gak bisa makan sendiri," Kirana menyiapkan sarapan pagi itu. Mbok Inah pun ikut membantu, ia merasa senang sekali Kirana telah kembali.


Mbok Inah menceritakan bagaimana menyedihkannya Sakti ketika Kirana meninggalkannya. Membuat Kirana semakin yakin pilihannya untuk pulang ke sisi suaminya itu adalah pilihan yang benar.


"Sarapanku mana?" Tanya Sakti yang telah duduk di meja makan.


Kirana menolehkan kepalanya dan segera memberikan sepiring nasi goreng pada suaminya itu.


Kirana terheran melihat penampilan Sakti yang hanya mengenakan kemeja putih yang ia gulung sebatas siku dan celana jeans warna navy dan sepatu kets putih.


"Kamu gak ke kantor ?" Tanya Kirana.


"Nggak,"


"Terus mau kemana ?" Tanya Kirana lagi.

__ADS_1


"Mmm,..." Sakti melihat kedua wajah anaknya sebelum menjawab.


"Nanti sayang, seudah makan aku kasih tau mau pergi kemana." Sakti tak mau kedua anaknya mendengar apa yang akan ia ucapkan.


Kirana pun duduk berhadapan dengan suaminya itu. Sakti makan dengan lahap padahal Mbok Inah bilang jika Sakti setiap hari selalu melewatkan sarapan juga makan malamnya.


Sebuah senyuman terukir di wajah Kirana.


Setelah sarapan, kedua anak lelakinya kembali menonton film di televisi dan Sakti menemani mereka. Kedua tangannya terulur memeluk Davin juga Dareel.


Sakti berdiri dan mengikuti Kirana yang berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Sayang tunggu," Sakti menahan lengan Kirana untuk pergi.


"Bisa bicara sebentar?"


"Mmm kenapa ?" Tanya Kirana.


"Enghhh... Hari ini aku ingin ketemu pengacara kita untuk membatalkan perceraian.,"


Melihat Kirana yang terdiam Sakti kembali berucap. "Ku mohon, Sayang... Aku tak akan bisa tenang kalau urusan kita belum tuntas. Aku juga ingin bertemu kedua orangtuamu untuk berterima kasih karena  telah mengizinkan kamu kembali sama aku,"


"Tapi Davin bagaimana?" Kirana tak ingin meninggalkan anaknya yang masih belum sembuh itu.


"Aku akan minta mami untuk menemaninya, kamu jangan khawatir. Ya sayang aku mohon..."


Sepanjang pagi ini Sakti mengucap kata 'sayang' tak lagi memanggil Kirana dengan sebutan nama. Entah karena masih dalam euforia kembalinya Kirana atau memang ia ingin berubah.


"Hanya sebentar, Sayang. Aku janji gak akan lama. Ku mohon..."


Memang sulit menolak suaminya itu yang memang keras kepala dan pemaksa.


"Baiklah, aku akan bersiap. Tunggu sebentar." Kirana akhirnya mengalah.


"Terimakasih sayang," Sakti kembali mencuri sebuah kecupan. Kali ini bibir Kirana yang mendapatkan itu.


***


Kini mereka telah duduk berdua dalam mobil yang Sakti kemudikan. Satu tangan Sakti memegang kemudi, tangan yang lainnya meraih tangan Kirana untuk ia genggam.


Kirana memalingkan wajahnya ke arah luar jendela, ia tak ingin suaminya itu melihat pipinya yang merona merah hanya karena perlakuan Sakti padanya.


"Kamu gak pa-pa ?" Tanya Sakti tanpa dosa karena ia perhatikan Kirana hanya melihat ke arah luar.


"Hu'um, gak apa-apa kok." Jawab Kirana berusaha menyembunyikan kegugupannya.  Bagai seorang gadis yang baru berkencan, dada Kirana bergemuruh hebat.


"Kita hampir gak pernah pergi berdua seperti ini ya. Aku janji mulai sekarang kita akan habiskan waktu berdua lebih banyak lagi." Ucap Sakti seraya mencium punggung tangan Kirana.


Dulu, tak lama setelah acara perjodohan itu Kirana dan Sakti segera melangsungkan acara pernikahan mereka.  Tak butuh waktu lama Kirana Pun hamil anak pertama mereka sehingga mereka memang jarang menghabiskan waktu berdua.


***

__ADS_1


Urusan mengenai pembatalan gugatan telah selesai di lakukan, bahkan Kirana ingin ikut serta dalam konseling pernikahan dan itu membuat Sakti begitu senang. Tak hanya Sakti, Kirana pun ingin berubah menjadi lebih baik.


Kini mereka telah tiba di rumah orang tua Kirana. Meskipun ayah Kirana masih sedikit bersikap dingin tapi Sakti tak gentar. Masih dengan tangan Kirana dalam genggamannya, Sakti meminta maaf pada keluarga istrinya itu. Kali ini Sakti  berjanji akan mencintai dan tak akan menyakiti Kirana lagi. Sakti juga  sangat menyesali dengan hal buruk yang pernah ia lakukan.


Kedua orangtua Kirana akhirnya memaafkan dan meminta Sakti untuk menjaga Kirana dengan benar kali ini dan Sakti menyanggupinya.


"Apa yang membuatmu memutuskan untuk kembali sama aku?" Tanya Sakti ketika mereka sudah berada di dalam mobil dan menuju pulang.


"Apa kamu beneran pengen tahu?" Kirana balik bertanya.


"Beritahu aku sayang," jawab Sakti yang begitu ingin tahu alasan istrinya itu.


" Karena sesungguhnya kamu adalah suami dan ayah yang sangat baik," jawab Kirana tanpa ada kebohongan di dalamnya.


Sakti menolehkan wajahnya dan menatap Kirana seolah bertanya apa maksud perkataan istrinya itu.


"Ya... Kamu sangat baik selama ini. Kamu penuh perhatian dan kasih sayang sama anak-anak kita. Memperlakukan aku dengan baik padahal kita menikah karena perjodohan tanpa cinta. Hal buruk yang kamu lakukan kemarin hanya satu-satunya kesalahan yang kamu buat selama kita menikah dan pada akhirnya kejadian itu menyadarkan kita akan perasaan kita yang sesungguhnya. Mungkin itu cara Tuhan untuk menyadarkan kita bahwa sebenarnya kita ini saling mencintai." Jawab Kirana.


"Maafkan aku sayang, seharusnya aku menyatakan perasaan cinta aku sama kamu sejak dulu agar hal buruk seperti kemarin itu tak perlu terjadi," sesal Sakti.


"Tahukah kamu kapan aku tersadar  masih cinta ?" Tanya Kirana dan Sakti menggelengkan kepalanya.


"Ketika wanita itu muncul di acara event... Aku begitu cemburu dan kecewa karena ternyata kamu masih berhubungan dengannya." Jawab Kirana malu-malu.


"Aku gak ada hubungan lagi dengan dia, Sayang." Sakti meralat pernyataan Kirana .


"Dan yang semakin membuatku jatuh cinta sama kamu yaitu ketika Davin kecelakaan. Aku lihat kamu berkorban banyak, berusaha menenangkan aku padahal kamu pun gak baik-baik saja,"  ucap Kirana lagi.


Sakti tersenyum mendengar itu.


Mobil pun berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Sakti menarik tubuh Kirana untuk mendekat, ia membenamkan bibirnya ke atas bibir Kirana dan mengulumnya dengan lembut.


"Terimakasih sudah mencintai aku," ucap Sakti lirih.


Kirana tersenyum dan menatap suaminya dengan perasaan cinta.


"Sayang, bagaimana kalau kita pergi berbulan madu ?" Tanya Sakti.


"Bulan madu?"


"Ya... Kita habiskan waktu berdua. Kita tak pernah melakukan itu."


"Tapi bagaimana anak-anak?"


"Mami pasti dengan senang hati  menjaga mereka," ucap Sakti meyakinkan Kirana.


"Anggap saja quality time untuk kita berdua dan kamu jangan takut, aku tak akan meminta 'hal itu," darimu meskipun aku sangat menginginkannya. Aku akan menunggu hingga kamu benar-benar siap. Jadi ku mohon, mau ya ?"


To be continued lagi...


Lah kan udah tamat ya 🙈🙈🙈🙈

__ADS_1


Thank you for reading ❤️


__ADS_2