Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Dasi


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Selamat datang di perusahaan kami," ucap Kirana seraya menelan saliva nya.


"Anda berhutang satu makan malam denganku nona Kirana," jawab lelaki dengan mata se-biru lautan itu tanpa mengindahkan sapaan Kirana.


Itu adalah lelaki yang kemarin ia temui di bandara. "Bagaimana bisa?" Batin Kirana dalam hatinya.


"Adam Bradley," ucapnya seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"Ki.. Kirana Wijaya," jawab Kirana seraya menyambut uluran tangan itu. Jabatan tangan yang kokoh dan begitu percaya diri.


"Silakan duduk Tuan Bradley," ucap Kirana seraya berjalan dan menunjukkan sebuah sofa yang berada di ruangan itu.


"Just Adam, panggil aku Adam saja." Jawab lelaki itu.


Kirana tersenyum, "tapi kita dalam situasi formal," ucap Kirana.


"Sama saja bagiku," Adam bersikeras.


Akhirnya mereka duduk berhadapan di sofa itu, membicarakan perihal kerjasama yang akan dijalin. Mega menemani Kirana dan mencatat setiap poin penting dari pertemuan itu.


Kirana bersyukur dalam hati ada Mega yang menemaninya disana. Adam begitu kentara memperlihatkan ketertarikan nya pada Kirana.


"Jadi kamu yang akan menangani proyek ini ?" Tanya Adam penuh selidik.


"Tidak, kantor cabang ini dipegang oleh adik Saya. Namun kebetulan dia sedang ada keperluan di Shanghai China untuk beberapa hari ke depan. Untuk selanjutnya anda akan berhubungan dengannya," jawab Kirana.


"Kenapa kamu begitu formal ?" Tanya Adam tak suka.


"Karena kita harus melakukan ini secara profesional," jawab Kirana.


"Jadi bagaimana dengan hutang makan malam mu ?" Tanya Adam tanpa malu meski Mega berada di sana.


"Seperti yang saya katakan, saya telah bersuami. Jadi tak mungkin melakukan itu. Maaf.."


"Ada acara event wirausaha terbesar Indonesia di Hotel Xyz beberapa minggu ke depan. Apa kamu mau menemaniku? Tanya Adam tak menyerah.


"Bila kebetulan bertemu ya pasti bertemu di sana," jawab Kirana tenang.


"Bisakah kita berteman ?" Tanya Adam yang merasa begitu sulit untuk mendekati Kirana.


"Tentu saja, bukankah ini juga sudah termasuk pertemanan ?" Kirana balik bertanya.


Adam tersenyum merasa bodoh, "Kirana seorang wanita yang pintar" pikir Adam


"Bolehkah meminta nomor ponsel mu agar mudah menghubungi?" Tanya Adam yang semakin merasa kesulitan mendekati Kirana.


"Tentu saja," ucap Kirana seraya memberikan nomor ponselnya.


"Aku bertaruh ini pasti nomor bisnismu,"

__ADS_1


Kirana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Aku hanya bisa menghubungi mu hanya pada jam dan hari kerja ?" Tanya Adam tak suka.


"Tentu saja," jawab Kirana tenang.


Adam menghela nafasnya yang terasa berat. Dirinya tak mengerti kenapa bisa tertarik dengan wanita yang telah bersuami dan itu mulai menyiksanya.


"Apa kita bisa bertemu lagi ?"


"Mungkin, saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda yang satu ini," jawab Kirana.


Flashback off...


***


Telah berlalu 2 hari sejak pertemuan dengan lelaki bernama Adam itu dan hal ini bukanlah suatu yang mudah bagi Kirana karena lelaki itu masih berusaha mendekati nya


Keadaan dirinya tengah berada dalam titik terendah hidupnya dan kedatangan lelaki yang memberikan perhatian padanya bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Kirana dengan bersusah payah tetap menjaga kewarasannya.


Kini ia berada di sini, di resepsi pernikahan adik ipar yang juga merupakan sahabatnya. Mengharuskan ia bertemu dengan lelaki yang telah membawanya ke titik terendah itu.


Kirana mengatur nafasnya yang terasa begitu sesak. Tak menyangka, meskipun  telah berpisah cukup lama tapi melihat Sakti berdiri disana dengan mata yang terus memandanginya membuat hati Kirana terasa begitu nyeri dan perih.


Sebisa mungkin Kirana mengabaikan kehadiran suaminya itu. Bayangan bagaimana Sakti menyakitinya melintas dengan jelas dalam kepalanya.


Ia terus menyibukkan diri dengan menjaga Celia, karena kedua anak lelakinya kini telah bersama orang tua Sakti.


Ia membungkukkan tubuhnya untuk mencium tangan kedua orangtua Sakti yang tengah duduk di kursi, bahkan Mami memeluk dan berbisik di telinga Kirana. Membuat wanita itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


Entah apa yang Mami ucapkan padanya, namun bisa Sakti lihat kedua wanita itu saling menitikkan air mata. Terlihat dari kedua wanita itu yang mengusap pipi mereka masing-masing.


Kirana kembali menegakkan tubuhnya, mata nya beradu dengan pandangan mata Sakti. Meski tak mau, akhirnya Kirana harus berhadapan juga dengan suaminya.


Kirana berjalan dengan anggun menghampiri suaminya itu.


"Ki," ucap Sakti lirih ketika mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.


Kirana tersenyum pada lelaki yang masih menjadi suaminya itu. Ia semakin  mendekatinya. Tanpa berbicara sepatah kata apapun, jari jemari tangan Kirana yang lentik memperbaiki dasi Sakti yang terpasang kurang sempurna.


Deg..deg...deg...deg...deg...deg...deg...


Jantung keduanya berdegup lebih kencang.


Sunyi...


Tak ada sepatah katapun yang mampu terucap dari bibir keduanya.


Hati yang ngilu dan dada yang terasa begitu sesak dirasakan oleh Kirana juga Sakti saat ini.


Sakti terus menatap wajah Kirana yang sedikit tertunduk, hembusan hangat nafas Sakti dapat Kirana rasakan menerpa wajahnya. Sedangkan Kirana terus merapikan dasi suaminya dan Berusaha mengabaikan tatapan mata Sakti.

__ADS_1


Kirana menepuk halus dada Sakti menandakan telah menyelesaikan apa yang seharusnya ia lakukan.


Ia mengangkat kepalanya dan kembali tersenyum pada suaminya itu sebelum pergi meninggalkan Sakti tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya.


Bagai terhipnotis, Sakti hanya terdiam membeku di tempatnya berdiri. Nafasnya terasa pendek-pendek, tak menyangka Kirana akan melakukan hal itu padanya. Bahkan ia tak mampu untuk mengucapkan kata terimakasih. Lidahnya terasa kelu.


Tepukan di pundak Sakti membawa kesadarannya kembali, "kamu ngapain berdiri melamun begini?" Ayo duduk acara mau dimulai," ajak Mami agar Sakti segera duduk. Ia pun menuruti ucapan maminya itu. Sakti duduk diantara kedua anaknya. Tangan sakti memeluk kedua anaknya yang duduk di sisi kiri dan kanannya.


"Papa kangen kalian," ucap Sakti seraya memberikan ciuman di puncak kepala kedua anaknya itu.


Akad nikah akan segera dilaksanakan, Kirana sengaja duduk berjauhan dari Sakti dengan Celia di pangkuannya. Ia tahu Sakti terus memperhatikannya tapi ia coba abaikan.


Fabian mengucapkan ikrar ijab kabul dengan lancar dan tegas. Kini ia telah resmi menjadi suami Renata kembali.


Kirana menitikkan air mata bahagia untuk adik iparnya itu.


Setelah acara ijab kabul dilalui, mereka mulai mengambil photo keluarga bersama. Kirana mengambil sisi yang berbeda dengan Sakti, hingga mereka terpisah cukup jauh.


"Bolehkah aku tidur dengan Mommy dan Daddy lagi ?" Tanya Celia polos ketika tengah menikmati hidangan.


Beberapa orang tersenyum mendengar itu.


"Celia bobo sama Mama Ki aja yuk ? Di hotel. Mama Ki bawa banyak oleh-oleh untuk Celia," ucap Kirana membujuk.


"Iya mama bawa satu koper oleh-oleh cuma buat Celia," ucap Davin.


"Kalau begitu Davin dan Dareel tidur sama Oma ya ? Oma kangen. Boleh kan Ki?" Tanya Mami Sakti pada Kirana.


Kirana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Oke Celia malam ini bobo sama Mama Ki aja." Ucap Celia antusias.


Sakti yang berada disana hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka.


Kirana berjalan menuju arah toilet. Sakti yang melihat itu segera menyimpan piring yang ia pegang, menenggak minuman nya dengan tergesa dan segera berdiri untuk menyusul Kirana.


Dengan sabar Sakti menuggu Kirana di depan toilet. Tak lama Kirana keluar dari tempat itu dengan merapikan pakaiannya. Ia tersentak ketika mendapati Sakti tengah menunggunya.


"Ki... Kita harus bicara," ucap Sakti pada  Kirana yang baru saja keluar.


"Kurasa tak ada yang perlu di bicarakan lagi." Jawab Kirana tersenyum dan berusaha pergi dari hadapan suaminya.


"Aku sudah bertemu dengan lelaki itu. Dia sudah ceritakan semuanya," ucap Sakti seraya menahan lengan Kirana agar tak pergi.


Kirana mengehentikan langkah dan menolehkan kepalanya pada Sakti.


"Kurasa itu sudah tak penting lagi," jawabnya dan dengan lembut melepaskan cekalan tangan Sakti pada lengannya.


"Aku hanya mau bicara bila menyangkut proses perceraian kita saja," ucapnya lagi dan kini benar-benar meninggalkan Sakti yang kembali tak dapat berkata-kata.


To be continued...

__ADS_1


Thank you for reading ❤️


__ADS_2