Terikat Dusta

Terikat Dusta
Tunggu Aku


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Bagaimana lembaran baru yang akan segera kita mulai Bi? Tentunya tak akan saling tertulis nama kita disana," batin Renata dalam hatinya dengan perasaan begitu tak menentu.


"Re, kamu mau gak nemenin aku beli kado Celia?" Fabian bertanya namun Renata diam tak menanggapi.


" Re ?" Fabian kembali bertanya. Sepertinya Renata terlalu hanyut dalam lamunannya hingga tak sadar Fabian telah bertanya 2 kali padanya.


Melihat tak ada reaksi sama sekali, Fabian memberanikan diri membawa tangan Renata pada genggaman nya. "Are you oke Re ? " Tanya Fabian lembut yang langsung menyadarkan Renata dari lamunannya.


"Aku ba.. baik baik saja. Kamu nanya apa Bi ?" Tanya Renata tanpa berusaha melepaskan tangannya.


"Aku minta anter beli kado Celia. Kamu mau ?" Tanya Fabian lembut.


"Sure, Bi. Boleh saja. Tinggal bilang waktunya kapan akan aku temani." Jawab Renata dengan sedikit merona.


Sebuah senyuman terbit di bibir Fabian. "Renata merona ? Benarkah ini ya Tuhan? Bolehkah aku berharap lagi ?" Batin Fabian dalam hatinya


"Fabian menggenggam tanganku lagi. Kenapa debaran hati ini belum hilang ya Tuhan?" Batin Renata.


Untuk sesaat waktu seolah berhenti bagi mereka berdua.


"Mom, aku mau mainan masakan itu lho yang ada kompor juga wajannya," ucap Celia menyadarkan kedua orangtuanya dari pikiran mereka.


Renata menarik halus tangannya dan Fabian berdehem menetralkan suaranya.


"Tentu sayang, nanti mommy antar daddy belikan." Ucap Renata pada Celia.


Celia tersenyum bahagia. "Mommy dan Daddy memang yang terbaik," ucapnya dengan senyum terus terukir di bibirnya.


"Kamu bisanya hari apa Re? Aku bebas minggu ini," ucap Fabian. Dia tak akan melewatkan kesempatan untuk bisa berduaan lagi dengan mantan istrinya. Padahal jadwal kegiatannya belum ia periksa


"Mmm nanti aku kabari begitu bisa ya Bi,"


"Oke baiklah aku tunggu kabar darimu ya," jawab Fabian yang berusaha tenang meskipun dalam hatinya begitu bersorak gembira.


"Oke Bi," jawabnya dengan tersenyum.


Seperti janji kencan dengan seseorang yang sedang melakukan pendekatan keduanya begitu malu malu.


***


Seperti biasa setiap Senin pagi renata mendapat kiriman buket bunga mawar putih yang berisikan kata kata semangat. Bunga yang diakui dokter Jamie sebagai pengirim nya. Padahal dokter Jamie masih berada di Jerman. Tapi bisa dengan mudah dia meminta kurir untuk mengirimnya.


Renata memang wanita yang beruntung, dirinya selalu di curahi hal hal manis oleh laki-laki yang menyukai nya.


Renata menerima bunga itu dan meletakkannya di atas meja dapur. Memandangnya sekilas sebelum beranjak pergi ke kantor nya.


Ada perasaan lain setiap menerima bunga itu. Selalu bertanya apakah sudah waktunya untuk melanjutkan hidupnya tanpa Fabian? Tapi setiap bertemu mantan suaminya itu perasaannya belum benar-benar pergi. Tapi bila Ingat besarnya kebohongan yang dilakukan Fabian hatinya terasa perih.


Renata menghela nafasnya yang terasa berat dan beranjak pergi ke kantornya.


"Pagi Re," ucap teman yang berada di satu ruangan nya.


"Pagi," jawab Renata kemudian mendudukkan dirinya di kursi dan mulai berkutat dengan pekerjaannya.


***


Di lain tempat, tepatnya di kantor Fabian bekerja. Sang sekretaris baru begitu bersemangat menyambut bosnya yang baru datang.


"Selamat pagi Pak," ucapnya seraya berdiri menyambut Fabian datang.

__ADS_1


"Pagi," jawab Fabian singkat.


Sarah mengikuti Fabian masuk ke dalam ruangannya dan mulai menjelaskan kegiatan Fabian di hari ini.


Sebenarnya Fabian hanya memanggil sekretaris nya ketika ia membutuhkan sesuatu. Namun bisa Fabian maklumi mungkin karena Sarah masih baru makanya ia ingin kerja secara maksimal.


"Terimakasih Sarah, nanti saya hubungi bila membutuhkan sesuatu," ucap Fabian ketika semua rincian kegiatannya hari ini telah di jelaskan.


"Bapak, mau minum kopi ?" Ucap Sarah dengan senyuman manisnya.


"Emmm gampang nanti minta ob aja yang buatin," ucap Fabian.


"Biar saya yang buatin buat Bapak,"


"Em.. bukannya kamu banyak kerjaan kan ?"


"Gak apa-apa Pak, untuk Bapak apa sih yang enggak," ucap Sarah dengan sedikit tertawa.


Fabian merasa ada sesuatu yang aneh tapi ia abaikan.


"Emm ya sudah tolong bikinin kopi hitam tanpa krim dan jangan terlalu manis,"


"Baiklah pak,"


Tak lama Sarah pun pamit undur diri.


Berbarengan dengan Sarah yang keluar Sakti memasuki ruangan adiknya itu.


"Bi, nanti jadwalkan briefing buat proyek baru ya," ucap Sakti seraya mendudukkan dirinya di hadapan Fabian.


"Sip, gue masih bikin rancangan nya kak," jawab Fabian.


"Gue mau ada cek lokasi di Mamuju. Lo handle ya, Bi,"


" Emm belum tahu," jawab Sakti dan tak lama Sarah datang kembali dengan secangkir kopi di nampan.


"Maaf Pak Sakti, saya hanya membawa satu cangkir kopi. Saya tidak tahu Bapak berada disini," ucap Sarah.


"Kan tadi kita berpapasan di pintu Sar. Mungkin di pikiranmu hanya ada adikku saja," goda Sakti pada sekretaris Fabian itu yang sukses membuat wajah Sarah merona merah karena malu.


Ingin rasanya Fabian membekap mulut kakaknya. Ia tak ingin hubungan kerja nya menjadi canggung.


"Jangan dengerin Sar, kakak saya suka eror kalau pagi," ucap Fabian.


"Saya yang minta maaf karena lupa membuat kopi untuk Pak Sakti juga,"


"Udah gak apa-apa. Saya juga akan segera kembali ke ruangan saya," ucap Sakti.


"Bila begitu saya undur diri Pak," ucap Sarah seraya sedikit membungkukkan badannya.


"Bi, tumben lo nyari sekretaris sexi. Mentang-mentang udah bebas sekarang,"


"Lah, gue di kasih HRD itu. Buat gantiin sekretaris gue yang mau lahiran. Bukan gue yang minta." Jawab Fabian membela diri.


"Gue rasa dia ada hati ma lo, Bi," ucap Sakti.


"Elah Kak jangan ngada ngada. Lagian lu ngapain sih pagi pagi ganggu gue kerja. Balik sono ke ruangan lo. Direktur cem apa lo ini kak.?"


" Dih adek ga ada akhlek emang, maen usir segala," ucap Sakti seraya berdiri dan kemudian beranjak pergi.


Fabian hanya tertawa melihat kakaknya yang pergi begitu saja.

__ADS_1


Semenjak Renata bersedia menemaninya belanja kado untuk Celia, hampir setiap waktu Fabian memeriksa ponselnya.


"Ayo sayang, text me please," ucapnya frustasi.


***


Sudah 4 hari berlalu belum ada juga kabar dari Renata dan itu membuat Fabian menanti dalam cemas. Ingin sekali menghubunginya tapi ia tak mau membuat Renata merasa terganggu.


"Pak briefing akan di mulai 1 jam lagi," ucap Sarah yang telah berdiri di depannya.


" Ah baik, saya akan bersiap," ucap Fabian.


Tak lama bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Fabian tertera nama Celia's mommy yang berarti Renata.


Renata : Bi, malam ini aku bisa antar. Maaf baru ngabarin kemarin aku sibuk bikin laporan. Kalau kamu bisa, jemput sekarang pulang kerja aja.


Fabian : ok, aku jemput sekarang. Tunggu aku langsung pergi ini.


Renata : Iya Bi, aku nunggu kamu.


Fabian tersenyum sambil membaca pesan itu. Dan kemudian menyambar kunci mobil yang terletak di atas meja kerjanya dan keluar begitu saja tanpa menghiraukan sekretaris nya.


Sarah sedikit berlari kecil mengejar atasannya itu.


"Pak, mau ke mana ? Briefing satu jam lagi di mulai," ucap Sarah mengingatkan.


"Eem minta Hendrik gantiin saya. Kalau tidak undur sampai besok pagi," ucap Fabian dan kemudian menghilang dibalik pintu lift.


Sarah merasa kesal, dirinya merasa kecewa dengan kepergian Fabian dan kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangan Hendrik dan mengetuk pintunya sebelum beranjak masuk.


"Pak, bapak di minta mengganti kan pak Fabian untuk melakukan briefing. Atau bisa diundur sampai besok pagi" ucap Sarah dengan tidak bersemangat.


Hendrik merasa heran dengan sekretaris atasannya ini.


"Besok pagi aja Sar, nanti saya hubungi pak Fabian,"


"Gak usah, gak usah Pak. Saya akan hubungi sendiri,". Ucap Sarah dengan antusias.


"Baiklah kalau begitu,"


Sarah pun keluar meninggalkan ruangan Hendrik. Menunggu beberapa saat untuk menghubungi Fabian.


Sarah memainkan ballpoint ditangannya sambil terus melihat ke arah jam yang melingkar di ruangannya.


Merasa waktu telah cukup lama. Sarah pun menghubungi Fabian.


Fabian : kenapa Sar ?


Sarah : briefing diundur besok pagi Pak. Karena pak Hendrik ada keperluan mendadak.


Fabian : oh iya. Gak apa-apa. Tolong kabari besok briefing pukul 07.30 tepat jangan ada yang terlambat.


Sarah : baik Pak.


Fabian : terimakasih Sarah.


Dan panggilan telepon pun terputus namun tanpa Fabian sadari Sarah mendengar backsound suara yang menunjukkan keberadaan Fabian di salah satu mall di daerah Jakarta Selatan.


"Binggo, ketemu  ! Tunggu aku di situ sayang," ucap Sarah seraya menyambar tasnya dan  melangkah kan kakinya pergi.


Tbc....

__ADS_1


Thank you for reading ❤️


Like dan komen yaa 😘😘


__ADS_2