
Happy reading ❤️
Setelah lelah bermain di playground, kini mereka bertiga tengah menikmati makan malam di sebuah restoran paporit Celia.
"Mom, Dad... Kalau kalian telah berbaikan, bisakah kita tinggal bersama lagi ?" Tanya Celia yang mengejutkan kedua orangtuanya.
Mata Fabian dan Renata saling pandang setelah Celia menanyakan hal itu. Belum ada kata terucap dari mulut keduanya.
"Mmm aku ingin seperti teman-teman ku, mereka tinggal bersama Mommy juga Daddy nya. Bukannya kalau marahan tidak boleh lama ?" Tanya Celia dengan wajah polosnya.
"Aku suka sih setiap hari Minggu bermain bersama Daddy, tapi lebih suka bila bertemu setiap hari seperti dulu. Aku juga sedih karena setiap bermain bersama Daddy, Mommy gak ikut. Tapi hari ini Mommy ikut yeaaay !" lanjutnya lagi dengan bersorak gembira.
Hati Fabian begitu terenyuh, juga Renata. Tanpa mereka sadari putri kecilnya tersakiti. Celia di paksa menerima perpisahan mereka di usianya yang masih sangat belia.
"Maafin Daddy, sayang. Daddy yang bersalah. Daddy janji akan memperbaikinya dan kita akan seperti dahulu lagi,"
Renata menitikkan air matanya, ia pun merasa bersalah. Selama ini ia merasa bahwa Celia baik-baik saja, ternyata putri kecilnya itu memendam rasa sedih.
"Maafin Mommy juga, Maaf Mommy membuat Celia sedih,"
"Seharusnya Daddy dan Mommy yang bermaafan karena kalian yang marahan bukan aku. Kata ibu guru di sekolah tidak baik bila bermusuhan," ucap Celia sembari memasukkan sesendok es krim ke dalam mulutnya.
"Ya sayang, Mommy dan Daddy akan perbaiki semua," ucap Renata sembari mengelus puncak kepala anaknya.
Fabian terdiam, bahkan makanan nya pun tak ia sentuh. Kepalanya dipenuhi oleh kata-kata yang baru Celia ucapkan.
***
Celia tertidur di pangkuan Renata ketika mereka kembali. Fabian mengambil alihnya dan menggendong Celia ke kamarnya.
Sejak permintaan Celia tadi belum ada obrolan apapun antara keduanya.
Kini Renata dan Fabian tengah duduk berhadapan di meja dapurnya.
"Bi, aku merasa bersalah sama Celia." Ucap Renata membuka percakapan
"Aku yang lebih merasa bersalah, aku yang membawa kalian ke dalam situasi seperti ini. Tapi aku akan berusaha memperbaiki semua," jawab Fabian seraya menarik tangan Renata pada genggaman nya.
Ingin Fabian mengajak Renata kembali hidup bersama saat itu juga, tapi Fabian tak ingin tergesa dan tak ingin Renata menganggap dirinya mengajak Renata kembali hanya karena Celia. Fabian menginginkan Renata kembali padanya karena cinta.
"Re, besok temani aku menemui penyidik yu ? Tadi siang om Johan bilang kalau besok keputusan kasus ku, apa kasus ku ini akan di angkat ke pengadilan atau di hentikan penyidikan nya,"
"Oh ya ? Tentu aku akan menemani mu. Jam berapa ?"
"Aku harus menghadap kepolisian pagi, tapi itu untuk pemeriksaan terakhir. Mengenai keputusan nya mungkin sore hari,"
"Jam berapa saja aku siap untukmu Bi, aku akan izin satu hari besok untuk menemani mu,"
"Terimakasih Re," ucap Fabian dengan menatap teduh mata Renata.
"Aku sebaiknya pulang Re, besok pagi harus ke kantor polisi,"
"Ayo, aku antar ke pintu," jawab Renata.
"Aku sayang kamu juga Celia. Aku sayang kalian," ucap Fabian seraya mengecup dahi Renata.
"Aku juga Bi," jawab Renata dengan memeluk erat tubuh dihadapan nya.
Fabian mengecup bibir Renata dan kemudian pergi meninggalkannya.
__ADS_1
***
Hari ini Renata, meminta izin cuti untuk menemani Fabian. Tanpa Renata sangka dirinya masih menerima karangan bunga mawar putih seperti biasa.
Bila dulu yang ia terima adalah kartu ucapan selamat bekerja dan kata-kata penuh semangat, tapi tidak hari ini.
Aku mencintaimu...
Dulu, sekarang dan selamanya,
Love,
Fabian
Renata membacanya dengan wajah tersenyum. Tak pernah ia merasa sebahagia ini ketika menerima buket bunga.
Memandanginya berkali-kali dan terlintas wajah Fabian ketika melihatnya.
Sebuah notifikasi pesan masuk terdengar dari ponselnya, dengan segera ia membuka pesan itu karena ia yakin Fabian yang mengirimkan.
Namun bukan nama Fabian yang tertera disana melainkan Jamie.
Jamie : Re, aku pulang kembali ke Jerman ya bersama Collin. Semoga setelah ini kita masih bisa berteman. Collin selalu menanyakan Celia tapi sayangnya tak ada kesempatan untuk bertemu lagi karena aku benar-benar sibuk. Jaga dirimu baik-baik. Semoga bahagia selalu.
Renata membaca pesan itu dengan sedikit merasa bersalah, Jamie adalah seorang pria yang baik namun apalah daya mereka tak berjodoh dan Renata pun tak mencintainya.
Renata pun membalas pesan itu.
Renata : save flight Jamie. Tentu kita akan selalu berteman. Peluk dan cium untuk Collin dariku dan Celia. Semoga kalian bahagia selalu.
Pesan itu terkirim tanpa berbalas. Satu beban telah lepas, dirinya dan Jamie masih bisa berteman baik meski tak bersama. Renata merasa hidupnya lebih ringan lagi.
***
Ketegangan dapat Renata lihat dari wajah Fabian.
Setelah bersiap mereka pun pergi bersama menuju tempat yang dituju. Pengacara Fabian telah sampai lebih dulu ketika mereka sampai disana.
Fabian berjalan dengan tangan Renata dalam genggamannya. Beberapa kali Fabian menolehkan kepalanya seperti mencari sesuatu.
"Kenap Bi ?"
"Gak tau Re, aku ngerasa ada yang ngikutin kita,"
"Tenang lah Bi, kamu aja terlalu tegang."
Jawab Renata menenangkan.
Tak hanya pengacaranya, namun ternyata Sakti juga telah hadir disana.
Sakti mengangkat kedua alisnya ketika melihat Fabian dan Renata berada disana dengan bergandengan tangan.
"Kalian ??? " Tanya Sakti terheran.
Renata hanya merona malu, sedangkan Fabian mengenalkan Renata penuh percaya diri.
"Kenalin calon istri," ucap Fabian pada Sakti dan pengacaranya itu.
Sakti membulatkan matanya tak percaya, sedangkan Om Johan sang pengacara tersenyum melihat itu.
__ADS_1
"Selamat Bi, om turut bahagia," ucap om Johan.
"Makasih om. Lo gak ngucapin selamat ma gue ?"
"Selamat reunian," ucap Sakti.
Fabian dan Renata hanya tertawa.
***
Kini mereka berempat tengah duduk bersama di ruangan penyidik.
Kaki Fabian yang terus mengetuk-ngetuk lantai memperlihatkan ketegangan nya.
Renata yang melihat itu menggenggam tangan Fabian untuk menenangkan.
"Tenang lah Bi, semua akan baik-baik saja. Aku akan tetap berada di sampingmu apapun yang terjadi,"
Bagaikan mendapat kekuatan, seketika itu juga kaki Fabian berhenti bergerak, dan Fabian pun mengecup punggung tangan Renata.
"Terimakasih sayang," ucap Fabian pada Renata.
Sakti melihat kedekatan mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Tak lama dua orang petugas polisi memasuki ruangan itu dan mulai membahas kasus Fabian.
Mereka menjelaskan secara runtut dan detail kasus Fabian.
Berkat kerjasama para saksi dan usaha keras pengacaranya itu untuk kasus Fabian diberikan surat SP3 yaitu Surat
Penghentian Penyidikan Perkara.
Surat itu diterbitkan karena tidak ditemukan cukup bukti, Fabian tidak terbukti melakukan tindakan pidana dan juga untuk kepentingan hukum.
Fabian bernafas lega mendengarkan itu begitu juga Renata dan yang lainnya.
Mereka pun berbicara mengenai langkah-langkah selanjutnya yang akan ditempuh Fabian untuk seseorang yang telah melaporkan nya yang tak lain adalah Markus ayah dari Sarah.
Fabian dan yang lainnya masih terus membicarakan hal ini meskipun mereka telah keluar dari ruangan penyidik itu.
"Bi, aku mau ke toilet," bisik Renata pada Fabian.
"Tunggu sebentar nanti aku antar," jawab Fabian dengan berbisik.
"Aku kebelet Bi," rengek Renata.
Dengan berat hati Fabian membiarkan Renata pergi ke toilet yang letaknya tak begitu jauh dari tempat ia berdiri.
Renata berjalan dengan seseorang menggunakan hoodie hitam di belakangnya. Fabian terus memperhatikan dan pergi begitu saja dengan langkah tergesa meninggalkan yang lainnya karena merasa ada yang tidak beres.
Belum juga Renata mencapai pintu toilet, orang berhoodie itu mengeluarkan sebuah benda mengkilat dari sakunya. Fabian berlari dan menutup tubuh Renata dengan tubuhnya seraya berteriak " Re, awas !"
"Mati kau jal*ng !" Teriak orang berhoodie hitam itu dan menancapkan sebilah pisau yang ternyata mengenai punggung Fabian.
Tbc...
Thanks you for reading ❤️
Terimakasih yang udah like dan komen ❤️
__ADS_1
Terimakasih yang sudah memberikan vote dan hadiah 😘