Terikat Dusta

Terikat Dusta
Mengejutkan


__ADS_3

Happy reading ❤️


Fabian yang melihat itu merasa gemas sehingga mendaratkan sekilas ciuman di  pipi Renata.


"Bi... Jangan macam-macam deh," ucap Renata kesal.


Tapi Fabian hanya terkekeh menanggapinya. Semakin Renata kesal semakin Fabian ingin menggodanya.


Tanpa mereka sadari sepasang mata penuh benci memandang dari kejauhan.


Tangannya mengepal sampai buku-buku tangannya itu memutih, giginya gemeletuk menahan amarah. Rasa benci menguasai diri orang itu.


"Kalau aku tak bisa memilikimu maka jal*ng itu juga tak kan bisa," ujarnya dengan penuh rasa benci dan meninggalkan tempat dimana ia memperhatikan Febian dan Renata.


***


Akhir pekan itu Fabian dan Renata habiskan waktu dengan menonton film secara maraton ( menonton banyak film dalam satu hari ) mencoba beberapa tempat kuliner baru. Sehingga Renata baru kembali ke rumahnya pada larut malam.


"Tak terasa ya Bi kita habiskan waktu seharian ini," ujar Renata ketika mereka baru saja tiba di rumah.


Tadinya Fabian hanya akan mengantar sampai pintu tapi rasa rindu pada mantan istrinya itu belum juga hilang sehingga ia memutuskan untuk tinggal sebentar.


"Kamu pasti capek banget ya Re? Maaf... tapi aku seneng banget bisa habisin waktu sama kamu." Tanya Fabian seraya mencubit gemas hidung Renata.


"Nggak cape Bi, cuma encok aja," jawab Renata terkekeh.


"Aku pijitin mau Re ?" Tanya Fabian dengan tersenyum nakal.


"Itu sih maunya kamu," jawab Renata dengan mencebikkan bibirnya.


"Maunya kamu juga," ucap Fabian seraya terus mendekatkan dirinya pada Renata.


Tak tahan lagi, Fabian menarik tubuh Renata pada pelukannya. Menatap mata coklat karamel itu penuh damba dan terpaku untuk beberapa saat.


"Aku cinta kamu Re," ucapnya yang kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Renata dengan lembut, mengulumnya penuh penghayatan sembari memejamkan matanya.


Renata membalas ciuman itu dengan penuh perasaan, mengalungkan tangannya pada leher Fabian, dan tangan Fabian membelit erat pinggang nya yang ramping.


Ciuman yang lembut itu semakin lama semakin menuntut, hingga lidah mereka saling membelai lembut meminta lebih.


Fabian mengangkat tubuh Renata, sehingga membuat kaki Renata membelit pinggang mantan suaminya itu.


Tanpa memisahkan tautan bibir mereka Fabian, berjalan menuju sofa besar yang berada di ruang tamu dan merebahkan tubuh Renata di atasnya dan menindih nya.


Tautan bibir mereka tak terpisahkan jua, tangan Fabian mulai membuka kancing dress Renata dan memberikan sentuhan-sentuhan halus seringan bulu yang begitu memabukkan.


Lenguhan Renata membuat tubuh bawah Fabian kian menegang.


Renata sadar bahwa Fabian sedang menginginkan lebih ketika tubuh bawah mantan suaminya itu menggesek miliknya.


Bibir basah Fabian mulai memberikan kecupan kecupan halus di bawah telinga, menjalar sepanjang leher dan memberikan tanda cinta disana.


"Euh Bi..."

__ADS_1


Lirih Renata menyadarkan Fabian. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Renata jatuh cinta padanya dengan perlahan.


Dengan sangat berat hati Fabian menarik tubuh nya "Maaf, seharusnya aku tahu belum saatnya" ucap Fabian seraya mengancingkan kembali kemeja dress itu.


"Maaf karena tak bisa menahan diri,  kemarilah,"  Fabian menarik kepala Renata dalam dadanya dan mengusap nya lembut.


Renata membelitkan tangannya pada tubuh Fabian.


Tak semua salah Fabian, ia juga menginginkannya. Nalurinya sebagai wanita dewasa menginginkan itu.


Fabian melirik jam yang membelit tangannya menunjukkan pukul 11 malam.


"Ayo ganti baju dulu, aku temenin sampai kamu ngantuk."


Renata pun pergi ke kamarnya dan membersihkan diri, sementara itu Fabian membuat kopi dan menyalakan TV yang berada di ruang tengah dan mendudukkan dirinya di atas sofa.


Renata menghampirinya setelah berganti dengan piyama. Fabian menarik dirinya untuk duduk di tepat di sebelahnya.


Renata menyenderkan kepalanya pada dada Fabian, sesekali Fabian memberikan kecupan-kecupan mesra di pucuk kepala Renata.


"Besok aku jemput agak sorean aja biar kamu istirahat dulu,"


"Hmm" jawab Renata yang sepertinya telah mengantuk.


Tak butuh waktu lama nafas Renata mulai teratur,  suara dengkuran halus khas tidur mulai terdengar. Renata jatuh terlelap di dada mantan suaminya itu.


Fabian mengusap-ngusap kepala Renata dengan tangannya.


Fabian mengecup dahi Renata sebelum meninggalkan nya pergi. " Mimpi indah sayang," ucapnya seraya membingkai wajah cantik Renata dengan kedua matanya.


Fabian berjalan meninggalkan kamar itu, mengambil kunci cadangan pintu utama, mematikan TV, mencabut kunci yang tergantung dan meletakkannya di meja. Fabian pergi dan mengunci dari luar dengan kunci cadangan nya.


Fabian sudah tak sabar ingin segera kembali hidup bersama, namun Renata baru saja menerima dirinya kembali. Tentu saja memerlukan waktu untuk membiasakan diri lagi.


Pikirannya menerawang jauh saat mengemudikan mobilnya untuk kembali pulang.


***


Sore itu Fabian telah bersiap untuk menjemput Renata tentunya dengan Celia


"Daddy punya kejutan untukmu Princess,"


"Kejutan apa Daddy ?" Tanya Celia begitu antusias.


"Nanti kamu juga tahu,"


"Katakan padaku sekarang Dad,"


"Bila dikatakan bukan lagi kejutan,"


"Awas kalau Daddy bohong," ucap Celia dengan mengancam


Fabian tertawa melihat itu.

__ADS_1


"Bi, dari kemarin Mami lihat penampilan mu lain dari biasanya. Awas jangan macam-macam, kasus mu belum selesai,"


Ucap Ibunya dengan tatapan penuh selidik melihat penampilan Fabian.


"Aku cuma mau satu macam kok Mih," jawabnya.


"Mau kemana ?"


"Mau ajak Celia main terus antar pulang ke rumah Mommy nya,"


"Oh... Pantas keliatan ganteng mau ketemu gebetan toh,"


"Halah Mami udah tua ngomongin gebetan. Udah ah Bian pergi dulu," ucap Fabian seraya mengecup pipi ibunya itu.


"Sini sayang peluk Oma dulu," ucap Mami Fabian pada Celia sebelum keduanya pergi.


"Good luck Bi," Mami Fabian kembali menggoda anaknya itu. Fabian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena perkataan ibunya itu.


***


"Dad, katanya mau jalan-jalan tapi malah mengantarkan aku pulang. Apa ini kejutannya ?" Tanya Celia dengan nada kesal karena mobil Fabian mengarah ke arah rumah nya.


"Tunggu dan lihatlah Princess,"


Tak lama terlihat Renata telah menunggu mereka di depan pintu pagarnya. Fabian telah menghubungi nya beberapa menit yang lalu.


"Hai sayang, bolehkah Mommy ikut jalan-jalan?" Tanya Renata ketika ia memasuki mobil Fabian.


Celia membulatkan matanya tak percaya, ini kali pertama mereka pergi bertiga setelah kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah.


"Yeeeaaayyy Mommy ikut," Celia begitu antusias dengan kedatangan Renata.


"Apa ini kejutannya Daddy ?"


"Hu'um" jawab Fabian mengiyakan.


Celia bersorak gembira di tempat duduknya, wajahnya yang menggemaskan terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.


Mereka bertiga pergi ke playground tempat bermain anak.


Diam-diam Celia memperhatikan kedekatan orang tuanya itu.


Fabian menggenggam tangan Renata ketika berjalan dan itu telah lama tak terlihat oleh Celia.


Celia tersenyum bahagia melihat itu, apalagi ketika Fabian mencuri cium dari Renata. Membuat Celia yakin bahwa kedua orang tuanya telah berbaikan.


Setelah lelah bermain di playground, kini mereka bertiga tengah menikmati makan malam di sebuah restoran paporit Celia.


"Mom, Dad... Kalau kalian telah berbaikan, bisakah kita tinggal bersama lagi ?" Tanya Celia dengan wajah penuh harap dan mengejutkan kedua orangtuanya.


TBC


Thank you for reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2