Terikat Dusta

Terikat Dusta
Another Proposal


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Bian sangat mencintai Renata anak ayah, izinkan Bian meminta Renata kembali untuk menjadi istri dan kali ini aku tidak akan pernah melepaskannya lagi... Izinkan Bian melamar Renata sekali ini lagi." ucap Fabian tanpa ada sedikit keraguan pun di dalamnya.


Ayah Renata yang duduk di kursi sebelah Fabian terbaring merasa terkejut dengan apa yang Fabian ucapkan.


"Kamu yakin Bi ? Yakin mau menikahi Renata lagi ?" Tanya ayah Renata dengan penuh selidik.


"Bian tak pernah merasa se-yakin ini dalam hidup. Bian telah merasakan sakit dan tersiksa nya hidup tanpa Renata dan tak mau mengalaminya lagi," jawab Fabian tegas.


Ayah renata terdiam untuk sesaat


"Tak ada rahasia apapun lagi, tak ada yang Bian sembunyikan. Hanya segenap perasaan cinta dan sayang Bian untuk Renata seorang," Fabian memohon.


"Ayah memberikan restu padamu Nak, tapi semua kembali pada Renata untuk memutuskannya."


"Terimakasih, terimakasih Yah, Bian berjanji akan memperbaiki semuanya dan menjadikan kebahagiaan Renata di atas segalanya.


"Berjanjilah untuk tidak menyakiti nya lagi,"


"Ya, Bian berjanji tak kan membuat hatinya terluka lagi."


***


Telah satu Minggu berlalu semenjak Fabian keluar dari rumah sakit. Kini dirinya tinggal untuk sementara waktu di  rumah orangtuanya dengan alasan tak ada yang mengurusinya di apartemen. Fabian masih menjalani pengobatan atas lukanya.


Tak mungkin juga Renata ikut tinggal di apartemen karena belum resmi terikat, terlebih lagi kedua orang tua Renata masih berada di Jakarta pasti tak kan mengizinkan. Meski bagaimana pun Fabian dan Renata belum terikat dalam pernikahan.


Hanya sesekali Renata mengunjungi Fabian di kediaman orang tuanya untuk memeriksa keadaannya seperti yang saat ini sedang Renata lakukan.


"Bi, bekas lukanya mulai mengering tapi pasti bekasnya timbul keloid deh. Kamu harus membeli salep untuk menghilangkannya," ucap Renata ketika ia memeriksa luka di punggung Fabian. ( keloid : bekas luka yang terlihat jelas )


"Gak mau, gak usah hilang gak apa-apa. Jadikan ini sebagai bukti cinta aku Re, nyawa pun akan ku pertaruhkan untuk mu," ucap Fabian dengan yakinnya.


Renata yang mendengar itu merasa begitu tersentuh sehingga air bening jatuh dari pelupuk matanya tanpa ia sadari.


Sadar tak ada jawaban dari Renata, Fabian memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Renata.


"Kenapa menangis ?" Tanya Fabian seraya menghapus air bening itu dengan ibu jarinya.


"Bi, aku.. aku," Renata terbata, tak tahu apa yang harus ia ucapkan pada Fabian.

__ADS_1


Dirinya begitu tersentuh dengan apa yang Fabian ucapkan. Renata menghambur ke dalam pelukan laki-laki yang sangat ia cintai itu.


"Bukan gombal ya Re, bukan juga buat baperin. Tapi emang itu nyatanya....


Renata Oktalia, aku tuh cinta banget sama kamu. Entah mantra apa yang ada dalam mata karamel mu, buat aku jatuh cinta begitu dalam semenjak pertama kali memandangnya dan tak bisa beralih lagi."  Ucap Fabian seraya menyentuhkan dahinya pada dahi Renata dan menatap wanitanya penuh cinta.


Dengan sedikit malu-malu, Renata melabuhkan bibir ranumnya diatas bibir mantan suaminya itu. Sontak membuat mata Fabian membulat sempurna karena terkejut dengan apa yang Renata lakukan.


Fabian membalas ciuman itu dengan senang hati,  bibirnya yang basah dan kenyal mengulum bibir Renata dengan lembut dan penuh penghayatan. kedua tangannya menahan kepala Renata untuk memperdalam ciumannya, kini lidah mereka saling membelit dan bertukar saliva,  suara decapan khas orang berciuman memenuhi kamar yang Fabian tempati.


Renata memisahkan tautan bibir mereka karena takut seperti kejadian yang telah lalu ketika mereka terciduk berciuman oleh asisten rumah tangganya.


Raut wajah Fabian terlihat kecewa ketika tautan bibir mereka terpisah.


"Entar ketahuan lagi kaya waktu itu Bi," ucap Renata seraya menyentuh dan menelusuri bibir Fabian yang masih terlihat basah dengan telunjuknya.


Tanpa Renata sangka, Fabian menahan telunjuk Renata dan menyesapnya dengan mata yang telah sayu berkabut, Renata tahu dan hapal apa yang terjadi. Fabian tengah menginginkan lebih saat ini


"Bi, hen.. hentikan," ucap Renata terbata telunjuknya telah terasa ngilu karena hisapan bibir Fabian. Tubuhnya berdsesir, kepalanya mulai terasa pening.


Perlahan Fabian melepaskan telunjuk Renata dari dalam mulutnya, "makanya jangan nakal Re," ucap Fabian dengan suaranya yang telah berubah parau.


"Kamu tahu aku begitu tergila-gila padamu, jadi jangan goda aku," bisik Fabian seduktif di telinga Renata dan meniup perlahan bagian belakang telinga mantan istrinya itu dan sukses membuat tubuh Renata meremang.


"I... Iya Bi. Aku udah tahu. Mami udah kasih tahu kita dari kemarin."


"Oooh... Syukurlah kalau begitu."


"Mom, Dad aku dapat hadiah coklat dari Papa Sakti !" Seru Celia penuh semangat yang kehadirannya tidak disadari Fabian maupun Renata.


Untung saja mereka telah mengakhiri kegiatan panas itu.


***


Acara makan malam si rumah Fabian pun akhirnya digelar. Renata kira hanya makan malam biasa yang dihadiri keluarga inti. Namun ketika Renata tiba ternyata merupakan acara semi formal.


Acaranya dilaksanakan di halaman belakang rumah kedua orang tua Fabian yang di sulap menjadi tempat makan yang begitu indah. Bunga mawar segar menghiasi setiap meja, lampu lampu kecil manambah indahnya suasana malam itu.


Ada beberapa keluarga dekat Fabian yang hadir. Kirana yang merupakan istri Sakti pun hadir di sana dan menyambut Renata begitu antusias


"Re, ya ampun cantik banget malam ini," katanya antusias. Renata berkerut alis karena tak biasanya Kirana menyambut nya seperti itu.

__ADS_1


Sakti datang menghampiri, terlihat jelas dirinya hendak menyentuh istrinya itu namun Kirana menghindar seperti seseorang yang ketakutan dan tertekan.


Sakti yang mendapat penolakan oleh istrinya sendiri di depan Renata membuatnya memilih pergi.


"Kakak baik-baik saja ?" Tanya Renata pada iparnya itu.


"Ba.. baik Re," jawabnya terbata.


Ingin Renata bertanya lebih jauh namun acara makan malam akan di mulai dan semua orang diminta untuk duduk.


Renata duduk di sebelah Fabian yang begitu tampan dengan setelan jas berwarna navy yang begitu sempurna membelit tubuhnya yang kekar namun tak berlebihan itu.


Renata terpesona untuk sesaat, dalam hatinya bertanya kenapa Fabian tampil seperti ini tapi mengingat bahwa malam ini merupakan acara untuk mensyukuri atas kesembuhan Fabian maka Renata pun memakluminya.


Acara makan malam pun di mulai, dengan sajian daging steak sebagai menu utamanya. Semua mulai menikmati makan malam itu. Tanpa sengaja Fabian tangannya menyikut tangan Renata yang tengah memegang pisau steak dan membuat nya terjatuh. Beberapa orang memperhatikan kejadian itu.


"Maaf Re," ucap Fabian.


"Its oke Bi, biar aku ambil,"


"No, aku saja yang ambil," jawab Fabian yang berdiri dari tempat duduknya dan mencari pisau yang terjatuh itu.


Renata tak memperhatikan Fabian, dirinya tengah meminum orange jus yang berada di depannya, namun terheran ketika orang-orang yang berada di sana menatap nya dengan tatapan penuh haru.


"Maukah kamu menikah denganku Renata Oktalia ? Menjadi pendamping hidupku selamanya" Tanya Fabian yang telah berlutut dengan sebuah benda kecil berbentuk kubus yang di dalamnya terdapat cincin berlian, di sebelah kursi Renata terduduk dan Celia berdiri tak jauh dari Fabian membawa buket bunga Forget me not dan mawar putih.


Renata menolehkan kepalanya ke arah suara dan menutup mulutnya tak percaya, air mata bahagia turun sebelum ia menjawab pertanyaan itu.


"Ya Bi, aku mau menikah denganmu," jawab Renata tanpa ragu.


Fabian memasangkan cincin berlian itu pada jari manis Renata dan Celia memberikan buket bunga itu.


Renata menitikkan air matanya karena bahagia.


Fabian memeluk dan mencium bibir tunangannya itu sekilas, kemudian membawa Celia dalam pelukan mereka.


Semua orang yang hadir disana bertepuk tangan karena bahagia.


Tbc...


Thank you for reading ❤️

__ADS_1


Makasih yang sudah like dan komen ❤️


Terimakasih yang sudah vote dan memberikan hadiah ❤️


__ADS_2