Terikat Dusta

Terikat Dusta
Insiden Pagi


__ADS_3

Happy reading ❤️


Hati Fabian kembali terasa kecut.


Satu lagi penolakan dari Renata yang Fabian rasakan.


Kini istrinya tak mau lagi tidur berdua dengannya.


"Oke semua udah selesai. Kamu mau langsung tidur apa mau ke kamar mandi dulu Fabian?" Tanya Renata setelah membereskan tempat tidur.


"Aku tidur aja deh," jawab Fabian dengan tidak semangat. Bukan karena dia tidak senang tidur bersama anaknya. Tapi penolakan Renata yang menggores hatinya.


Renata membantu Fabian untuk naik keatas tempat tidur. Untuk sesaat Fabian dapat mengamati wajah istrinya dari jarak yang begitu dekat, dapat mencium aroma tubuh istrinya yang selalu jadi candu baginya.


Nalurinya sebagai laki laki normal ingin sekali menggeluti tubuh Renata dibawah kendalinya. Tapi melihat raut wajah Renata saja nyalinya sudah ciut.


"Terimakasih sayang, maaf menyusahkan mu," ucap Fabian.


"Iya tidak apa-apa. Oh iya mulai besok akan ada perawat yang akan membantu mu. Mami yang menyiapkan, tapi perawatnya seorang laki-laki," ucap Renata.


"Tapi kalau kamu pengen perawat seorang perempuan bisa aku bilangin sama mami nanti." lanjut Renata.


"Cukup Renata ! Aku hanya mau kamu !" Jawab Fabian dengan suara sedikit meninggi. Sudah mulai terpancing emosi.


"Aku belum tentu bisa merawat luka lukamu Fabian, makanya mami sediakan seorang perawat yang berpengalaman," jawab Renata seperti tak ada dosa.


"Perawat laki laki saja. Sudah cukup !  Aku gak mau bahas ini lagi," ucap Fabian ketus.


Tanpa mereka sadari putri mereka Celia melihat perdebatan kecil kedua orangtuanya.


"Apa mommy  dan daddy marahan?" Tanya celia.


"Oh no princess, tidak. Ayo mana buku dongengnya daddy bacakan,"  jawab Fabian seraya mengalihkan perhatian Celia. 


Renata berjalan memutar menaiki tempat tidur yang berada di sebelah Fabian.


Kini mereka terbaring bertiga dengan Celia diantara keduanya. Renata tidur meringkuk memeluk erat Celia. Sedangkan Fabian membacakan buku dongeng sebelum tidur untuk Celia.


Mata Fabian tertuju pada wajah Renata yang memejamkan matanya. "Apa yang harus aku lakukan padamu Renata," lirihnya dalam hati.


Melihat Celia yang sudah tertidur Fabian mengehentikan bacaannya dan seketika itu juga Renata memutar tubuhnya tidur memunggungi Fabian dan Celia.


Fabian kembali menyadari, satu lagi penolakan dari Renata.


***


Pagi itu seseorang yang ditunjuk untuk merawat Fabian telah datang. Seorang pria bernama Andi, meski baru berusia 25 tahun tapi Andi seseorang yang berpengalaman.


"Tekanan darah pak Fabian agak tinggi pagi ini, sebaiknya bapak jangan terlalu banyak pikiran. Bapak pasti sembuh kok, saya yakin bapak bisa berjalan lagi," ucap perawat itu pada Fabian.

__ADS_1


Sebenernya Fabian bukan memikirkan perihal cedera di kakinya, tapi ia memikirkan Renata dan sikap dinginnya. Sungguh menyiksa.


Biasanya Renata bersikap lembut kini tidak lagi.


Biasanya begitu manja tapi kini malah menghindarinya.


Fabian menarik nafasnya dalam.


"Bagaimana keadaan bapak hari ini ?" Tiba tiba Renata muncul dari balik pintu.


"Tekanan darahnya agak tinggi bu, sepertinya bapak banyak beban pikiran. Sudah saya katakan jangan terlalu khawatir, saya yakin bapak dapat berjalan lagi seperti biasa," ucap perawat itu pada Renata.


Renata berjalan mendekati Fabian dengan nampan berisi kan sarapan dan beberapa obat untuk diminum.


"Apakah tekanan darah dapat mempengaruhi terapi nanti ?" Tanya Renata.


"Iya tentu saja," jawab Andi.


Renata nampak berfikir sambil mengangguk anggukan kepalanya.


"Sayang, kamu jangan terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak. Seperti yang kamu dengar itu sangat berpengaruh pada kesehatan mu," ucap Renata pada Fabian.


Fabian terkejut dengan kata sayang yang keluar dari mulut Renata.


Fabian mendongakan kepalanya melihat ke arah Renata. Meskipun Fabian tahu Renata  mengucapkannya dengan tidak tulus tapi hatinya sedikit berbunga.


"Baiklah saya akan keluar, bila anda memerlukan saya panggil saja," ucap perawat itu.


" Ayo sarapan Fabian dan minum obatnya. Kamu mau cepat sembuh bukan?" Tanya Renata pada Fabian.


"Kalau aku sembuh, apa kamu akan pergi ninggalin aku ?" Fabian balik bertanya pada Renata dengan nada suara yang dingin.


Renata dan Fabian saling terdiam dalam hening dengan mata saling menatap.


"Suapi aku," titah Fabian.


"Tunggu aku akan.." belum juga Renata menyelesaikan kalimatnya Fabian sudah kembali bicara.


"Suapi aku, atau aku mogok makan Renata. Aku akan dengan senang hati berlama-lama sakit agar kamu tak pergi dari sisiku," ucap Fabian dengan nada ketus.


Suasana menjadi hening dan sedikit tegang.


"Mommy dan daddy marahan lagi ?" Tanya Celia yang tanpa mereka sadari sudah hadir diantara mereka. Terlihat sekali wajahnya begitu sendu karena melihat perdebatan kedua orangtuanya.


"No, sayang. Tentu saja tidak. Daddy gak mau makan. Mommy lagi bujuk daddy supaya mau makan," ucap Renata bohong.


Tanpa Renata sangka, Fabian menarik dagu Renata, menghampirinya kemudian membenamkan bibirnya diatas bibir Renata.


Renata membulatkan matanya tak percaya Fabian akan se-nekad itu.

__ADS_1


Fabian melepaskan tautan bibirnya setelah beberapa saat menikmati bibir ranum istrinya.


"See.. daddy dan mommy tidak marahan," ucap Fabian pada Celia.


Celia melengkung kan bibirnya tersenyum.


"Aku sedih kalau mommy daddy marahan. Tapi aku juga gak mau lihat daddy cium mommy,  it' so gross daddy ( itu sangat menjijikkan ayah)," ucap Celia tertawa geli.


Tak lama Celia meninggalkan kedua orangtuanya dengan tertawa tawa seolah telah melihat hal yang menyenangkan.


"Kamu gila Fabian !" geram Renata tertahan dengan wajah memerah karena menahan amarahnya.


"Aku hanya tak ingin Celia curiga. That's all," jawab Fabian seolah tanpa dosa.


"Ayo suapi aku, atau aku cium kamu lagi sayang," ucap Fabian dengan wajah tersenyum.


Dengan penuh emosi Renata menyuapi suaminya yang menyebalkan.


Dan dalam hati Fabian merasakan sakit yang teramat sangat menyadari Renata tak lagi sudi disentuh olehnya. Seolah Fabian virus yang menjijikkan.


Sejak insiden ciuman tadi pagi, kini Renata bersikap manis pada Fabian di hadapan Celia, bahkan kembali memanggil Fabian dengan panggilan sayang. Meskipun terasa mual ketika ia mengucapkan nya.


***


Sore itu ibu mertuanya datang untuk melihat kondisi Fabian dengan membawa berbagai makanan kesukaan anaknya itu.


"Bagaimana keadaan mu sekarang Fabian ?"


"Baik mami, aku rasa aku akan cepat sembuh," jawab Fabian.


"Tentu saja daddy akan cepat sembuh oma, daddy sangat manja sama mommy," ucap Celia menimpali sambil terkekeh.


"Ah syukurlah kalau begitu," ucap mami Fabian.


"Kapan terapi itu dimulai Fabian" lanjutnya lagi.


"Mungkin lusa mami, Jamie masih di Bandung dan baru kembali besok pagi," kali ini Renata yang menjawab pertanyaan ibu mertuanya.


"Darimana kamu tahu Jamie masih di Bandung, Renata ? Apa kamu bertukar pesan atau berhubungan dengannya? Dan sejak kapan kamu memanggil nya dengan sebutan nama saja ?" Tanya Fabian beruntun dengan nada gusar, tak bisa menutupi kemarahannya.


Seketika semua mata tertuju pada Renata seolah meminta jawaban.


TBC


Aku usahakan untuk update gak tengah malam ya ka insyaallah


Terimakasih sudah baca 😘😘😘


Moga gak bosen ya.. 😁😁😁

__ADS_1


Thank you for reading ❤️


Much love ❤️❤️❤️


__ADS_2