Terikat Dusta

Terikat Dusta
Masa Lalu Lea


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai di Rumah Sakit yang aku tuju. Om Johan sudah menunggu di ruang tunggu UGD.


Dengan langkah tergesa dan perasaan cemas aku segera menghampiri nya.


"Om," sapaku dengan nada gemetar.


"Ah Bian, syukurlah kamu sudah datang. Bisakah kita bicara dulu berdua?" Tanya om Johan yang membuat aku semakin cemas.


"Ya tentu, Om. Dimana ?"


Om Johan langsung berdiri dan meminta ku untuk mengikuti nya.


Disinilah kami duduk berdua di lorong sepi Rumah sakit.


"Apa sebelumnya kamu mengenal wanita itu ?" Tanya om Johan langsung tanpa basa basi kepadaku.


"Nggak Om, gak pernah ketemu gak pernah kenal. Hanya di pesta Alex saja. Itu pun aku bertemu ketika mabuk berat Om," ucapku tertunduk menahan malu dan sesal bersamaan.


"Tahu kah kamu Bi ? Wanita itu,  Lea berusaha menyayat pergelangan tangannya" ucap om Johan.


Jantungku bagai diremas begitu nyeri dan sesak. Apa karena perbuatan bejat ku sehingga membuat wanita itu nekad.


"Tapi ternyata bukan sekali ini dia melakukan percobaan bunuh diri ada bekas luka sayatan lainnya,"


Aku begitu terkejut dengan apa yang om Johan katakan.


"Sumpah demi Tuhan, aku baru mengenal nya Om," ucapku dengan nada suara bergetar.


"Tadi pagi, Om langsung menyambangi kediamannya untuk menawarkan damai. Pertama tama ia menyetujui nya tak lama wanita itu  mulai panik dan histeris melempar barang yang ada didekatnya termasuk berusaha menyayat pergelangan tangannya, kemudian tak sadarkan diri. Oleh karena itu om membawa nya kesini. Lea hidup sebatang kara Bi, di tempat pemukiman kumuh," jelas om Johan panjang lebar.


"Tadi ketika sadar ia ingin bertemu denganmu," lanjutnya.


"Ingin bertemu denganku ? Apa yang dia inginkan Om ? Apa dia ingin aku tetap bertanggung jawab? Sudah aku jelaskan pada Om sebelumnya aku benar-benar mabuk bahkan tak ingat apa yang aku lakukan. Dalam pikiranku malam itu aku tidur dengan wanita yang aku sukai Om," ucapku frustasi.


"Sebaiknya kamu temui dulu Bi, lalu kita lihat jalan apa yang bisa kita ambil untuk  langkah selanjutnya," ucap Om Johan


"Iya Om, tapi tolong dampingi Bian ya Om," ucapku memohon.


Om Johan ini pengacara keluargaku sudah sejak lama dan merupakan sahabat Papi ku. Sehingga aku pun merasa seperti pada ayahku sendiri.


"Om, mengingat kondisi kesehatan Papi, tolong jangan bilang apa-apa ya," ucapku.


Papi memiliki komplikasi Jantung dan tekanan darah tinggi yang bisa kambuh kapan saja dan ini pun salah satu alasan nya ingin mundur dari perusahaan.


"Ya tentu Bi, ayo kita kembali," ajaknya dan aku kembali mengekori langkah Om Johan.


Tibalah kami di depan pintu UGD. Jantungku sudah berdebar hebat, perut terasa mulas karena menahan gugup dan juga takut.


Kulangkahkan kakiku dengan perlahan dan hati-hati, takut bila wanita itu akan berteriak histeris.

__ADS_1


Wanita itu meringkuk seperti janin dalam kandungan begitu terlihat rapuh. Terlihat begitu menyedihkan. Ya Tuhan aku sungguh telah berdosa hingga ia begitu menderita.


"Le..Lea.. i.. ini aku Fabian. A..aku yang waktu malam itu bersama mu," ucapku terbata dan takut.


Wanita itu masih pada posisinya tak bergerak sedikit pun, membuat ku panik. Ku panggil lagi namanya.


"Le.. Lea.. ini aku," ucapku lirih.


Tak lama ia mendongakkan kepalanya ke arahku.


"Maaf, aku mohon maafkan aku," ucapku memohon.


Tanpa aku sangka wanita itu, Lea tiba tiba memelukku. Dapat ku lihat lilitan perban di tangannya.


"Ka..kamu gak benci aku ?" Tanyaku takut.


"Hanya kamu yang perlakukan aku baik. Oleh karena itu aku menyerahkan diriku padamu. Laki laki lain yang menginginkan aku selalu berlaku kasar berbeda sekali denganmu. Aku tak mau uangmu tapi tolong jangan tinggalkan aku," ucapnya dengan terisak.


Aku tersentak dengan apa yang ia ucapkan. Mencoba mencerna setiap maksud dari kata yang wanita itu ucapkan.


"Siapa namamu?" Tanya nya seraya menatap wajahku.


"Fa.. Fabian," jawabku masih tergagap ketika bicara dengan wanita ini.


"Fabian, aku mohon jangan tinggalkan aku," ucapnya dengan mata yang sendu memohon.


"Tenanglah, aku disini. Maaf tadi pagi aku kembali ke Jakarta karena aku harus bekerja,"


Aku telah menodainya, berlaku jahat padanya tapi kenapa sikapnya begini.


Semalaman aku menemaninya di Rumah Sakit karena wanita itu yang meminta, sedangkan om Johan kembali ke hotel.


Pada akhirnya aku menghubungi Sakti dan menceritakan semuanya. Sakti tak menanggapi, sepertinya dia masih merasa kecewa padaku. Aku hanya bisa pasrah menerima.


***


Keesokan harinya Lea sudah bisa keluar dari Rumah Sakit karena luka di tangannya tidak terlalu dalam.


Dokter berkata bahwa luka di tangan Lea tidak terlalu fatal, yang harus lebih di awasi adalah kesehatan mentalnya dan itu membuatku merasa semakin jatuh dalam rasa bersalahku. "Ya Tuhan ampunilah aku," batinku lirih.


Ku antar Lea kembali ke rumahnya, ternyata memang berada dikawasan pemukiman kumuh yang bagiku tak layak huni.


Rumah kontrakan dengan bangunan semi permanen berpintu setipis triplek dan tembok yang hanya sebatas beralas semen. Tirai dan kaca yang sudah terlihat lapuk. Sofa tua beserta mejanya


Hatiku begitu terenyuh dan tersiksa, Lea sudah hidup menderita dan kini aku telah menambah penderitaannya. Aahhhh aku menyugar rambutku karena frustasi.


Lea menyediakan air putih di gelas yang aku saja enggan menyentuh nya.


Lea bercerita banyak tentang dirinya. Ibunya adalah seorang pekerja *** yang telah meninggal keran over dosis obat terlarang ketika usia Lea masih 14 tahun. Sedangkan ayahnya, Lea tak pernah mengenalnya. Yang Lea tahu ayahnya adalah seorang warga negara asing. Pantas saja Lea memiliki paras wajah yang cantik has indo blasteran.


Lea sudah putus sekolah sejak ibunya meninggal dan bekerja serabutan. Demi bertahan hidup apapun ia lakukan termasuk menjadi pelayan di night club dan menjadi seorang penari dewasa. Dengan paras wajah yang cantik Lea mudah mendapatkan pekerjaan itu meskipun pendidikan nya rendah.

__ADS_1


Lea juga bercerita beberapa kali dirinya hendak dinodai laki-laki hidung belang dengan kasar dan penuh penghinaan tapi dia masih bisa menyelamatkan diri.  Sering juga dia mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari para lelaki yang menatapnya lapar.


Berbeda dengan malam itu ketika aku mabuk berat, Lea bercerita seolah aku melindunginya dari tatapan lapar para lelaki yang riuh bersorak padanya. Aku memperlakukan nya dengan sangat baik sehingga dia pun menyerahkan dirinya padaku.


Aku begitu terhenyak, rasa bersalahku semakin besar lagi. Ah betapa bodoh nya aku. Aku merutuki diriku sendiri, aku melakukan itu karena aku kira dia Renata, wanita yang sampai saat ini memenuhi hati dan kepalaku.


"Maafkan aku Lea, aku mohon maafkan. Aku bersalah padamu," ucapku penuh penyesalan.


"Aku mau memaafkan mu Fabian, asal kamu berjanji takkan tinggalkan aku," jawabnya dengan tatapan mata memohon.


Aku terdiam tak dapat berkata kata. Pikiranku langsung tertuju pada Renata. Aku seharusnya sedang mengejar cintanya saat ini, tapi lihatlah keadaanku sekarang terjebak dengan seorang wanita asing kerena kebodohan ku sendiri.


Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan..


TBC....


Thank you for reading ❤️


Mencoba jawab pertanyaan reader yang gak bisa aku jawab satu satu ya.




Kenapa POV Fabian banyak? disini menceritakan bagaimana Fabian bisa terikat pada 2 wanita. Jadi terungkap yg sebenarnya antara pov fabian, diari Lea dan apa yg dikatakan Sakti. Kalau baca nya santuy sebenarnya ada benang merahnya. Jadi kedepan nya beberapa bab masih pov Fabian. Semoga masih berkenan membaca.




Fabian dipaksakan jadi protagonis ? Manusiawi sih ya seorang yang pernah melakukan salah belum tentu selalu bersalah. Hanya mencoba mengajak melihat masalah dari sudut pandang lain.




Novel ini emang genre sad Romance jadi maaf kalau bikin esmosi makanya up malam aja biar ga ganggu puasa.




Mohon maaf sebesar-besarnya bila novel ini tidak memuaskan para reader semua 🙏🙏.


Masukan kalian sangat berarti untuk aku yang belajar nulis ini. Makasih yaaaa.




Much love for u guys ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih yang sudah baca 😘😘😘😘


__ADS_2