Terikat Dusta

Terikat Dusta
Dusta Yang Menyiksa


__ADS_3

Dusta yang kulakukan membuat luka bagi orang yang sangat ku cinta, dan membuatku tersiksa selama menjalaninya.


- Fabian -


Happy reading ❤️


Flashback off.


"Ya.. Renata Oktalia.. Aku sudah mencintaimu jauh sebelum kamu mengenalku.


Aku sudah sangat mencintaimu jauh sebelum aku menyatakan cintaku padamu di malam waktu hujan itu," ucap Fabian tegas tanpa ada kebohongan didalamnya.


Pada akhirnya Fabian menceritakan kisah kelam dalam hidupnya pada Renata. Bagaimana bisa dua wanita terikat dusta dengannya.


Renata meluruhkan badannya dan menangis hebat disana. Di atas lantai rumahnya.


"Aku memang telah melakukan kebohongan besar Renata. Dusta yang kulakukan tak kan termaafkan tapi satu hal  yang pasti bahwa aku memang mencintaimu, sangat mencintaimu," ucap Fabian lirih.


"Apa kamu tahu apa yang kulakukan pertama kali setelah tersadar Renata? Aku mencari tahu siapa ayah dari bayi yang dikandung Lea. Aku bersumpah atas nama Tuhan dan demi anakku Celia aku bukan ayah dari bayi itu. Aku bukanlah laki laki baik, tapi aku juga bukan iblis yang mengambil keuntungan dari wanita seperti Lea.  Namun ternyata tak sulit untuk mencarinya, karena seseorang selalu datang setiap hari mengunjungi makam Lea dengan membawa bunga. Setelah mengetahui Lea meninggal," ucap Fabian dingin.


"Tunggu di sini, aku akan kembali," titah Fabian sembari melangkahkan kakinya menaiki tiap undakan tangga menuju kamarnya.


Renata bangkit dan kemudian duduk di kursi yang terletak tak jauh dari tempatnya terduduk dengan kepala tertunduk diatas kedua tangannya.


Fabian kembali dengan beberapa amplop coklat ditangannya.


"Bukalah," perintah Fabian dengan nada dingin.


Dengan tangan gemetar Renata membuka satu persatu amplop itu yang berisi beberapa lembaran kertas.


"Kamu tahu Renata ? Waktu itu aku melakukan perjalanan dinas bersama Sakti juga hendrik ke Semarang. Membawa semua amplop coklat ini kehadapan orang tuamu, dan aku bersujud memohon pengampunan mereka karena telah menyakitimu. Namun aku terkejut mereka tidak tahu apa-apa, ternyata kamu telah menutup rapat aib suamimu. Terimakasih, aku benar-benar menghargai nya," ucap Fabian dengan bersungguh-sungguh.

__ADS_1


Renata tak menanggapi dirinya terlalu sibuk berjibaku dengan kertas yang ada di hadapannya.


Satu persatu ia baca...


Satu amplop coklat berisi rekam medis Lea yang memang mengidap skizofrenia, didalamnya merinci kegiatan medis yang di lakukan Lea selama kurang lebih 8 tahun terakhir ini.


Satu amplop lainnya menjelaskan terapi kejiwaan yang Fabian pernah lakukan ketika melalui masa terkelam hidupnya.


Dan satu surat pernyataan yang di bawahnya terdapat materai bertanda tangan dengan sepengatahuan pengacara keluarga yaitu om Johan.


Surat itu menyatakan bahwa dokter Bima adalah ayah biologis dari bayi yang Lea kandung.


Renata mulai menitikkan air matanya kembali. Dia terlalu bingung dengan semua yang terjadi. Dirinya seperti orang linglung.


"Maafkan aku yang telah banyak menyembunyikan dusta Renata," ucap Fabian memohon.


"Bahkan kedua orangtuaku belum mengetahui masalah ini, aku hanya terbuka pada Sakti ketika sudah tersadar dari koma ku agar sakti mau menolong ku menyelidiki siapa ayah dari bayi yang dikandung Lea. Sakti begitu marah dan kecewa karena aku telah membohongi nya selama ini,"


"Maafkan aku, dengan cara seperti ini kamu harus mengetahui semuanya. Maafkan aku bila dusta yang kulakukan membuat mu sangat terluka. Asal kamu ketahui Renata, aku pun begitu tersiksa menjalani nya,"


Renata masih diam tak menjawab tak menanggapi. Dirinya masih merasa merasa melayang di awang-awang, mencoba mencerna semua yang terjadi.


"Bila kecelakaan itu tak terjadi apa kamu akan terus menyembunyikan nya Bi ?" Tanya Renata diantara isak tangisnya.


Fabian diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab.


"Telah banyak pihak yang aku bohongi disini Renata, tak mudah bagiku untuk mengungkap semua, bahkan untuk berbicara jujur pada orangtuaku pun belum aku lakukan hingga sekarang ini, tapi percayalah aku selalu mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu, meskipun rasa takut lebih besar ku rasakan daripada rasa beraniku." jawab Fabian Frustasi.


"Apa kamu pernah mencintai wanita itu Bi ?"


"Aku merasa kasihan padanya. Aku merasa harus bertanggung jawab dan membantunya setelah keburukan yang telah aku lakukan padanya, tak mungkin aku meninggalkannya dalam keadaan seperti itu meski pada akhirnya tragedi ini terjadi dan menyebabkan kepergian Lea untuk selamanya,"  jawab Fabian lirih.

__ADS_1


"Aku terlalu mencintaimu sehingga jalan gila ini aku ambil. Tanpa memikirkan hal buruk ini akan terjadi," ucap Fabian dengan nada bergetar.


"Apa yang kamu lakukan tak dapat dibenarkan Bi, meskipun akan menyakitkan bagiku seharusnya kamu jujur dari awal. Bukan seperti ini," lirih Renata dengan air mata berhamburan.


Fabian terduduk dilantai dengan lutut sebagai tumpuan nya memohon dan mengiba pada Renata


"Aku tahu sayang, maafkan aku... Aku waktu itu tak bisa meninggalkan Lea, tapi aku pun tak bisa membendung perasaan cintaku padamu. Hampir 2 tahun aku mencintaimu dalam diam Re," ucap Fabian sembari menggenggam erat kedua tangan Renata.


"Kumohon sayang, maafkan aku... Beri aku kesempatan terakhir untuk memperbaiki diri, kita mulai dari awal sayang tanpa rahasia apapun,"


"Apa yang telah terjadi membuat perasaanku berubah Bi," lirih renata di antara isakkan tangisnya.


"Ku mohon jangan katakan itu sayang, please... Ku mohon jangan. Aku tak bisa tanpamu Renata," Fabian terus memohon.


"Bi, beri aku waktu... Ku rasa kita memerlukan waktu untuk sendiri, untuk saling berpikir secara jernih dan saling introspeksi diri,"


"Aku yang salah sayang, aku yang salah ! Kamu wanita paling sempurna dalam hidup aku. Aku yang bersalah... Ku mohon maafkan aku," Fabian mengiba.


"Biarkan aku mencintaimu seperti dulu Re, biarkan aku mencurahkan kasih sayangku seperti dulu,"


"Berikan aku waktu Bi untuk memikirkan semua, berikan aku waktu untuk sendiri," ucap Renata memohon.


Fabian mengusap air mata Renata dengan ibu jarinya, matanya menatap Renata penuh cinta seperti yang selalu ia lakukan.


"Baiklah sayang, mari kita saling berpikir dan saling introspeksi diri. Walaupun jelas dalam masalah ini aku yang sangat bersalah, gunakan waktu sebanyak mungkin untuk dirimu berpikir karena aku akan bersabar menunggu" lirih Fabian penuh sesal.


"Maafkan atas segala dusta ku Sayang.."


Lirih Fabian dengan dengan kepala tertunduk mengecupi punggung tangan Renata yang telah basah oleh air matanya.


TBC...

__ADS_1


Thank you for reading ❤️


__ADS_2